Chapter: Bab 5. Kau Yang Memintanya, Kan?“Ren, hentikan!” Tamparan keras mendarat di pipi Varen. Pria itu tersentak kaget, tidak menduga gadis yang selama ini ia kenal cukup sabar dan lembut ternyata punya tenaga sebesar itu. Walaupun begitu, genggamannya justru semakin kuat. “Kau yang memintanya, kan? Jangan salahkan aku jika berbuat nekat. Sadari saja kelakuanmu!” Rinai mulai panik. Ia menarik paksa tangannya sekuat tenaga. Namun, tetap saja tenaga pria itu jauh lebih besar dari gadis sepertinya “Ren! Lepas atau aku akan teriak!” Varen menyadari ia akan sangat dirugikan jika Rinai sungguh berteriak. Mengingat daerah itu cukup padat dan Rinai sudah lama tinggal di sana. Pria itu melepas tangan kekasihnya dengan sedikit hentakan. Rinai sedikit terdorong ke belakang. Tanpa mengatakan apapun, ia segera pergi meninggalkan Varen yang masih menatapnya dengan sisa amarah. Rinai menatap tangan kanannya yang memerah begitu sampai kamar. Ini bukan kali pertama Varen berbuat kasar padanya. Alasannya hampir selalu sama, kare
Última actualización: 2026-10-05
Chapter: Bab 4. Apa Kau Mencintaiku?“Varen!” Havian menoleh cepat, mengikuti arah pandangan Rinai. Pipinya masih mengembung berisi daging yang tertahan dan lupa ia kunyah. “Dia bilang sedang demam dan tidak bisa menjemputku. Untuk apa dia di sini?” Rinai berdiri dengan tergesa-gesa, pikirannya kacau dan sangat butuh penjelasan pacarnya. Havian segera meletakkan sendoknya, mengabaikan potongan daging terakhir di piringnya. “Aku akan mengantarmu.” pria itu menyambar jaketnya dan mengikuti Rinai menuruni tangga. “Tetap tenang, oke?” ucapnya saat menyadari Rinai sedikit terengah-engah. Mereka keluar dengan cepat, Rinai bahkan sedikit berlari, sementara Havian masih mengikutinya. “Ren!” seru gadis itu saat pria yang ia kejar mulai berjalan menjauh. Varen menoleh, keterkejutan nampak jelas di wajahnya. “Rinai?” panggilannya dengan suara seperti orang bangun tidur. “Kamu bilang sedang demam. Kenapa ada di sini?” Rinai kesulitan mengontrol suaranya, terlanjur kesal sekaligus sedikit curiga. Pria bercelana pend
Última actualización: 2026-10-05
Chapter: Bab 3. Begini Caraku Mencintai“Ian, jangan suka ngomong macam-macam!” Jari telunjuk Rinai tepat di depan wajah pria yang tengah tertawa puas itu. “Loh, bukan aku yang macam-macam. Tapi pikiranmu.” Havian membela diri. “Hayo kamu mikirin apa?” “M-mikirin apa? Nggak! Aku nggak mikirin apa-apa!” Rinai tidak bisa menyembunyikan ekspresi panik dari suaranya. Havian menghentikan tawanya, matanya tertuju pada bibir Rinai yang berkilau tertimpa lampu mobil yang hangat. Tangan kanannya terangkat dan mengusap bibir gadis itu pelan, “Apapun yang kamu pikirin tadi, mungkin secepatnya akan terjadi.” Rinai mematung, mengerti dengan jelas apa maksud Havian. Ia segera menepis tangan pria itu begitu kesadarannya kembali. “Jaga sikapmu, Havian! Aku lebih tua lima tahun darimu.” “Apa salahnya? Kita sudah sama-sama dewasa, kan? Jangan menganggapku anak kecil seperti lima tahun lalu.” Havian berhenti sejenak, namun matanya tetap menatap Rinai lekat. “Seperti yang kubilang, perasaanku padamu masih sama, tidak berkurang sedikitp
Última actualización: 2026-10-05
Chapter: Bab 2. Aku Sudah Dewasa“Maaf harus mengatakan ini. Aku sudah punya kekasih,” jawab Rinai dengan suara pelan. Jemarinya mencengkram erat bagian bawah kemeja saat emosi aneh memenuhi dadanya. Havian menghembuskan napas pelan, “Aku sudah menduga kemungkinan ini. Lagipula aneh juga kalo cewek secantik kamu masih jomblo. Iya kan?” Rinai memandang pria di depannya dengan ekspresi datar. Seolah tidak ingin terpengaruh ucapan tengil pria itu. “Jangan kebanyakan membual, Ian.” Pria bertubuh besar itu tertawa kecil. “Tapi masih pacar, kan?” Pertanyaan Havian membuat kedua alis Rinai bertaut. “Maksudnya?“ “Aku pernah dengar orang dulu sering bilang, ‘Selama janur kuning belum melengkung, berarti masih bisa ditikung.’ Kali ini aku benar-benar setuju dengan kalimat itu.” Kedua mata Rinai membulat seketika, “Ian, jangan bicara aneh-aneh. Sebagai murid, bukankah seharusnya kamu mendoakan hubungan gurumu langgeng?” Havian mengangkat bahu tak acuh, “Nggak mau, ah! Kenapa juga aku doain kamu langgeng sama yang lain.
Última actualización: 2026-10-05
Chapter: Bab 1. Aku Masih Menyukaimu“Bu Rinai, saya suka sama Ibu. Kalau Ibu belum punya pacar, mau coba pacaran sama brondong?” Rinai hampir tersedak sepotong mangga yang baru saja dia masukkan ke mulutnya. Tatapannya segera berpindah pada pria muda berbalut seragam putih abu-abu di depannya. “Kamu pikir dulu sebelum bicara!” “Saya sudah berpikir matang, Bu. Serius.” Havian mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. Seolah apa yang dia ungkapkan barusan benar-benar hal yang keluar dari hatinya. Rinai menggeleng pelan, senyumnya terukir lembut menyiratkan kesabaran. “Kamu itu masih sekolah, pikirkan saja ujianmu.” Selanjutnya, pandangan Rinai beralih ke sesuatu dalam genggaman Havian. Setangkai mawar merah dengan pita kecil. Polos dan belia. Mawar yang seharusnya menjadi lambang cinta antara dua orang dewasa, di tangan pria muda itu, seperti sebuah pengakuan yang belum waktunya diucapkan. “Havian, dari mana kamu mendapatkan mawar itu? Jangan bilang dari taman belakang sekolah!” ucap Rinai disertai tawa kecil. Wal
Última actualización: 2026-10-05