LOGINRinai hanya menganggap pengakuan cinta muridnya sekedar cinta monyet belaka. Namun, saat Havian kembali datang lima tahun kemudian, ia sadar pria itu bersungguh-sungguh. Saat Rinai mengetahui penghianatan pacarnya, Varen, ia berniat membuat Varen menerima karmanya. Di tengah rencana balas dendam, Havian justru datang dan membuat Rinai mengerti bagaimana rasanya dicintai dengan tulus.
View More“Bu Rinai, saya suka sama Ibu. Kalau Ibu belum punya pacar, mau coba pacaran sama brondong?”
Rinai hampir tersedak sepotong mangga yang baru saja dia masukkan ke mulutnya. Tatapannya segera berpindah pada pria muda berbalut seragam putih abu-abu di depannya. “Kamu pikir dulu sebelum bicara!” “Saya sudah berpikir matang, Bu. Serius.” Havian mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. Seolah apa yang dia ungkapkan barusan benar-benar hal yang keluar dari hatinya. Rinai menggeleng pelan, senyumnya terukir lembut menyiratkan kesabaran. “Kamu itu masih sekolah, pikirkan saja ujianmu.” Selanjutnya, pandangan Rinai beralih ke sesuatu dalam genggaman Havian. Setangkai mawar merah dengan pita kecil. Polos dan belia. Mawar yang seharusnya menjadi lambang cinta antara dua orang dewasa, di tangan pria muda itu, seperti sebuah pengakuan yang belum waktunya diucapkan. “Havian, dari mana kamu mendapatkan mawar itu? Jangan bilang dari taman belakang sekolah!” ucap Rinai disertai tawa kecil. Walaupun tidak berniat menerima pengakuan cinta muridnya, ia tidak ingin melukai pria itu juga. “Astaga ini saya beli, Bu. Jangan kira anak SMA tidak punya uang. Bahkan jika Ibu ingin lebih dari sekedar mawar pun bakal saya usahain. Tapi, kalau yang agak mahal, tolong sabar sedikit, ya, Bu. Biar saya menabung dulu.” “Kamu menabung?” Rinai mengangkat kedua alisnya, merasa agak lucu mendengar ucapan pria muda itu. Havian mengangguk tegas. Rinai menatap muridnya lebih seksama. Entah mengapa, penampilan murid pintar selalu terlihat seperti itu. Tubuh tinggi kurus dan sedikit bungkuk, kacamata bulat bertengger di hidungnya yang mancung. Serta kulit putih dan poni yang menutupi dahi. “Ian… daripada membeli bunga, sebaiknya kamu menabung untuk pendidikanmu dulu. Kelak, jika sudah punya pekerjaan dan bisa cari uang sendiri, barulah mengurusi percintaan.” Saran yang sangat tepat dari seorang guru untuk muridnya yang sedang mabuk cinta. “Jadi maksud Ibu, nanti, jika saya sudah besar dan bisa cari uang sendiri, Ibu mau menerima saya? Begitu?” serang Harvian kemudian, dengan sedikit senyum yang nyaris tertarik di ujung bibirnya. Rinai kehilangan kata-kata, siapa sangka pertanyaan seperti itu akan dia terima dari siswa yang lima tahun lebih muda darinya. “Kita lihat nanti saja. Sekarang, kembalilah ke kelasmu. Jam pelajaran akan segera dimulai,” titah Rinai mengusir halus muridnya tersebut. Havian hanya mengangguk kecil sambil tersenyum puas, lalu meletakkan setangkai mawar di atas meja Rinai sebelum kembali ke kelas. Sejak hari itu, Rinai pikir, Havian akan menuruti anjurannya. tapi yang terjadi justru anak itu semakin gencar mendekatinya. Kadang Havian membawa potongan mangga untuk Rinai, membantunya membawa dokumen, atau sengaja datang ke ruang tata usaha hanya untuk mencari alasan berbicara dengannya. Namun, Rinai tetap menjaga batas. Bagaimanapun, Havian masih muridnya, sementara perasaan yang dimiliki pemuda itu belum tentu akan bertahan lama. Belum lagi dia takut guru-guru dan staf-staf lain berpikir macam-macam perihal mereka berdua. Yang pasti, Rinai tidak pernah memberikan harapan lebih dari sekedar jawaban-jawaban ringan untuk meredam kegigihan Havian. Sampai akhirnya hari kelulusan tiba dan Havian pergi melanjutkan hidupnya. Lima tahun berlalu. Rinai sendiri tetap bekerja di sekolah yang sama. Setelah masa magangnya selesai, ia mendapat tawaran untuk menjadi staf tata usaha dan memutuskan bertahan hingga sekarang. Pagi itu, Rinai berjalan tergesa-gesa menaiki tangga dengan beberapa map dan dokumen di tangannya. Tanpa sengaja, ia menabrak seseorang. “Maaf,” ucapnya tanpa sempat memperhatikan wajah di hadapannya. “Tidak masalah,” jawab orang itu. Rinai mengangkat wajahnya, saat tatapan mereka bertemu, mata coklatnya terbuka lebar. Havian, tidak lagi menggunakan kacamata bulatnya. Ia tampak lebih gagah dari terakhir Rinai melihatnya. “Havian?” Suara Rinai terdengar pelan. Ia tidak percaya dengan yang dilihatnya. “Masih ingat saya?” tanya sosok yang tengah mengenakan kemeja berwarna navy itu. Rambutnya kini tertata rapi. anak itu benar-benar berbeda dengan yang ada di ingatan Rinai lima tahun silam. “Tentu, Havian. Ada keperluan apa di sini?” “Saya mendaftarkan diri sebagai guru olahraga di sekolah ini,” jawab Havian singkat. sukses membuat kedua mata Rinai makin melotot. Pria yang kini terlihat lebih tinggi itu, menyerahkan dokumen dan map yang sudah ditumpuk rapi. “Oh wow. Itu bagus, tapi Ibu tidak tahu kalau kamu bercita-cita jadi guru,” komentar Rinai basa basi. dia tidak bisa menemukan kata yang lebih tepat. “Rinai…” panggil Havian pelan. Suaranya rendah dan dalam. Tidak ada kesan dibuat-buat agar terdengar lebih dewasa seperti lima tahun yang lalu. “Banyak hal yang tidak kamu tahu tentangku. Mendengar itu, Rinai terdiam, lebih tepatnya tercengang. ‘Rinai? Hanya Rinai?’ suara dalam hatinya berteriak penuh tanda tanya. Dia tahu Harvian sudah dewasa. Tapi mendengar anak itu memanggilnya Rinai, bukan Ibu Rinai lagi, membuat gadis itu sedikit syok. Belum lagi bagaimana Havian menyebutnya dengan kamu, kamu, kamu, seolah-olah mereka seumuran, tidak luput dari rasa kagetnya. Havian maju dua langkah, jarak mereka semakin dekat. Rinai bahkan bisa merasakan hembusan napas pria itu di wajahnya, dan mau tidak mau membuatnya reflek mundur selangkah. “Sekarang aku bukan anak kecil lagi. Aku juga sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk menolakku. Rinai, aku masih menyukaimu,” ucap pria itu pelan namun tegas. DEG!“Ren, hentikan!” Tamparan keras mendarat di pipi Varen. Pria itu tersentak kaget, tidak menduga gadis yang selama ini ia kenal cukup sabar dan lembut ternyata punya tenaga sebesar itu. Walaupun begitu, genggamannya justru semakin kuat. “Kau yang memintanya, kan? Jangan salahkan aku jika berbuat nekat. Sadari saja kelakuanmu!” Rinai mulai panik. Ia menarik paksa tangannya sekuat tenaga. Namun, tetap saja tenaga pria itu jauh lebih besar dari gadis sepertinya “Ren! Lepas atau aku akan teriak!” Varen menyadari ia akan sangat dirugikan jika Rinai sungguh berteriak. Mengingat daerah itu cukup padat dan Rinai sudah lama tinggal di sana. Pria itu melepas tangan kekasihnya dengan sedikit hentakan. Rinai sedikit terdorong ke belakang. Tanpa mengatakan apapun, ia segera pergi meninggalkan Varen yang masih menatapnya dengan sisa amarah. Rinai menatap tangan kanannya yang memerah begitu sampai kamar. Ini bukan kali pertama Varen berbuat kasar padanya. Alasannya hampir selalu sama, kare
“Varen!” Havian menoleh cepat, mengikuti arah pandangan Rinai. Pipinya masih mengembung berisi daging yang tertahan dan lupa ia kunyah. “Dia bilang sedang demam dan tidak bisa menjemputku. Untuk apa dia di sini?” Rinai berdiri dengan tergesa-gesa, pikirannya kacau dan sangat butuh penjelasan pacarnya. Havian segera meletakkan sendoknya, mengabaikan potongan daging terakhir di piringnya. “Aku akan mengantarmu.” pria itu menyambar jaketnya dan mengikuti Rinai menuruni tangga. “Tetap tenang, oke?” ucapnya saat menyadari Rinai sedikit terengah-engah. Mereka keluar dengan cepat, Rinai bahkan sedikit berlari, sementara Havian masih mengikutinya. “Ren!” seru gadis itu saat pria yang ia kejar mulai berjalan menjauh. Varen menoleh, keterkejutan nampak jelas di wajahnya. “Rinai?” panggilannya dengan suara seperti orang bangun tidur. “Kamu bilang sedang demam. Kenapa ada di sini?” Rinai kesulitan mengontrol suaranya, terlanjur kesal sekaligus sedikit curiga. Pria bercelana pend
“Ian, jangan suka ngomong macam-macam!” Jari telunjuk Rinai tepat di depan wajah pria yang tengah tertawa puas itu. “Loh, bukan aku yang macam-macam. Tapi pikiranmu.” Havian membela diri. “Hayo kamu mikirin apa?” “M-mikirin apa? Nggak! Aku nggak mikirin apa-apa!” Rinai tidak bisa menyembunyikan ekspresi panik dari suaranya. Havian menghentikan tawanya, matanya tertuju pada bibir Rinai yang berkilau tertimpa lampu mobil yang hangat. Tangan kanannya terangkat dan mengusap bibir gadis itu pelan, “Apapun yang kamu pikirin tadi, mungkin secepatnya akan terjadi.” Rinai mematung, mengerti dengan jelas apa maksud Havian. Ia segera menepis tangan pria itu begitu kesadarannya kembali. “Jaga sikapmu, Havian! Aku lebih tua lima tahun darimu.” “Apa salahnya? Kita sudah sama-sama dewasa, kan? Jangan menganggapku anak kecil seperti lima tahun lalu.” Havian berhenti sejenak, namun matanya tetap menatap Rinai lekat. “Seperti yang kubilang, perasaanku padamu masih sama, tidak berkurang sedikitp
“Maaf harus mengatakan ini. Aku sudah punya kekasih,” jawab Rinai dengan suara pelan. Jemarinya mencengkram erat bagian bawah kemeja saat emosi aneh memenuhi dadanya. Havian menghembuskan napas pelan, “Aku sudah menduga kemungkinan ini. Lagipula aneh juga kalo cewek secantik kamu masih jomblo. Iya kan?” Rinai memandang pria di depannya dengan ekspresi datar. Seolah tidak ingin terpengaruh ucapan tengil pria itu. “Jangan kebanyakan membual, Ian.” Pria bertubuh besar itu tertawa kecil. “Tapi masih pacar, kan?” Pertanyaan Havian membuat kedua alis Rinai bertaut. “Maksudnya?“ “Aku pernah dengar orang dulu sering bilang, ‘Selama janur kuning belum melengkung, berarti masih bisa ditikung.’ Kali ini aku benar-benar setuju dengan kalimat itu.” Kedua mata Rinai membulat seketika, “Ian, jangan bicara aneh-aneh. Sebagai murid, bukankah seharusnya kamu mendoakan hubungan gurumu langgeng?” Havian mengangkat bahu tak acuh, “Nggak mau, ah! Kenapa juga aku doain kamu langgeng sama yang lain.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews