Terjebak Cinta Brondong Posesif

Terjebak Cinta Brondong Posesif

last updateLast Updated : 2026-10-05
By:  Matcha LatteUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
5Chapters
14views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Rinai hanya menganggap pengakuan cinta muridnya sekedar cinta monyet belaka. Namun, saat Havian kembali datang lima tahun kemudian, ia sadar pria itu bersungguh-sungguh. Saat Rinai mengetahui penghianatan pacarnya, Varen, ia berniat membuat Varen menerima karmanya. Di tengah rencana balas dendam, Havian justru datang dan membuat Rinai mengerti bagaimana rasanya dicintai dengan tulus.

View More

Chapter 1

Bab 1. Aku Masih Menyukaimu

“Bu Rinai, saya suka sama Ibu. Kalau Ibu belum punya pacar, mau coba pacaran sama brondong?”

Rinai hampir tersedak sepotong mangga yang baru saja dia masukkan ke mulutnya. Tatapannya segera berpindah pada pria muda berbalut seragam putih abu-abu di depannya. “Kamu pikir dulu sebelum bicara!”

“Saya sudah berpikir matang, Bu. Serius.” Havian mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. Seolah apa yang dia ungkapkan barusan benar-benar hal yang keluar dari hatinya.

Rinai menggeleng pelan, senyumnya terukir lembut menyiratkan kesabaran. “Kamu itu masih sekolah, pikirkan saja ujianmu.”

Selanjutnya, pandangan Rinai beralih ke sesuatu dalam genggaman Havian. Setangkai mawar merah dengan pita kecil. Polos dan belia.

Mawar yang seharusnya menjadi lambang cinta antara dua orang dewasa, di tangan pria muda itu, seperti sebuah pengakuan yang belum waktunya diucapkan.

“Havian, dari mana kamu mendapatkan mawar itu? Jangan bilang dari taman belakang sekolah!” ucap Rinai disertai tawa kecil. Walaupun tidak berniat menerima pengakuan cinta muridnya, ia tidak ingin melukai pria itu juga.

“Astaga ini saya beli, Bu. Jangan kira anak SMA tidak punya uang. Bahkan jika Ibu ingin lebih dari sekedar mawar pun bakal saya usahain. Tapi, kalau yang agak mahal, tolong sabar sedikit, ya, Bu. Biar saya menabung dulu.”

“Kamu menabung?” Rinai mengangkat kedua alisnya, merasa agak lucu mendengar ucapan pria muda itu.

Havian mengangguk tegas.

Rinai menatap muridnya lebih seksama. Entah mengapa, penampilan murid pintar selalu terlihat seperti itu. Tubuh tinggi kurus dan sedikit bungkuk, kacamata bulat bertengger di hidungnya yang mancung. Serta kulit putih dan poni yang menutupi dahi.

“Ian… daripada membeli bunga, sebaiknya kamu menabung untuk pendidikanmu dulu. Kelak, jika sudah punya pekerjaan dan bisa cari uang sendiri, barulah mengurusi percintaan.” Saran yang sangat tepat dari seorang guru untuk muridnya yang sedang mabuk cinta.

“Jadi maksud Ibu, nanti, jika saya sudah besar dan bisa cari uang sendiri, Ibu mau menerima saya? Begitu?” serang Harvian kemudian, dengan sedikit senyum yang nyaris tertarik di ujung bibirnya.

Rinai kehilangan kata-kata, siapa sangka pertanyaan seperti itu akan dia terima dari siswa yang lima tahun lebih muda darinya.

“Kita lihat nanti saja. Sekarang, kembalilah ke kelasmu. Jam pelajaran akan segera dimulai,” titah Rinai mengusir halus muridnya tersebut.

Havian hanya mengangguk kecil sambil tersenyum puas, lalu meletakkan setangkai mawar di atas meja Rinai sebelum kembali ke kelas.

Sejak hari itu, Rinai pikir, Havian akan menuruti anjurannya. tapi yang terjadi justru anak itu semakin gencar mendekatinya.

Kadang Havian membawa potongan mangga untuk Rinai, membantunya membawa dokumen, atau sengaja datang ke ruang tata usaha hanya untuk mencari alasan berbicara dengannya.

Namun, Rinai tetap menjaga batas. Bagaimanapun, Havian masih muridnya, sementara perasaan yang dimiliki pemuda itu belum tentu akan bertahan lama. Belum lagi dia takut guru-guru dan staf-staf lain berpikir macam-macam perihal mereka berdua.

Yang pasti, Rinai tidak pernah memberikan harapan lebih dari sekedar jawaban-jawaban ringan untuk meredam kegigihan Havian. Sampai akhirnya hari kelulusan tiba dan Havian pergi melanjutkan hidupnya.

Lima tahun berlalu.

Rinai sendiri tetap bekerja di sekolah yang sama. Setelah masa magangnya selesai, ia mendapat tawaran untuk menjadi staf tata usaha dan memutuskan bertahan hingga sekarang.

Pagi itu, Rinai berjalan tergesa-gesa menaiki tangga dengan beberapa map dan dokumen di tangannya. Tanpa sengaja, ia menabrak seseorang.

“Maaf,” ucapnya tanpa sempat memperhatikan wajah di hadapannya.

“Tidak masalah,” jawab orang itu.

Rinai mengangkat wajahnya, saat tatapan mereka bertemu, mata coklatnya terbuka lebar.

Havian, tidak lagi menggunakan kacamata bulatnya. Ia tampak lebih gagah dari terakhir Rinai melihatnya.

“Havian?” Suara Rinai terdengar pelan. Ia tidak percaya dengan yang dilihatnya.

“Masih ingat saya?” tanya sosok yang tengah mengenakan kemeja berwarna navy itu. Rambutnya kini tertata rapi. anak itu benar-benar berbeda dengan yang ada di ingatan Rinai lima tahun silam.

“Tentu, Havian. Ada keperluan apa di sini?”

“Saya mendaftarkan diri sebagai guru olahraga di sekolah ini,” jawab Havian singkat. sukses membuat kedua mata Rinai makin melotot.

Pria yang kini terlihat lebih tinggi itu, menyerahkan dokumen dan map yang sudah ditumpuk rapi.

“Oh wow. Itu bagus, tapi Ibu tidak tahu kalau kamu bercita-cita jadi guru,” komentar Rinai basa basi. dia tidak bisa menemukan kata yang lebih tepat.

“Rinai…” panggil Havian pelan. Suaranya rendah dan dalam. Tidak ada kesan dibuat-buat agar terdengar lebih dewasa seperti lima tahun yang lalu. “Banyak hal yang tidak kamu tahu tentangku.

Mendengar itu, Rinai terdiam, lebih tepatnya tercengang. ‘Rinai? Hanya Rinai?’ suara dalam hatinya berteriak penuh tanda tanya. Dia tahu Harvian sudah dewasa. Tapi mendengar anak itu memanggilnya Rinai, bukan Ibu Rinai lagi, membuat gadis itu sedikit syok. Belum lagi bagaimana Havian menyebutnya dengan kamu, kamu, kamu, seolah-olah mereka seumuran, tidak luput dari rasa kagetnya.

Havian maju dua langkah, jarak mereka semakin dekat. Rinai bahkan bisa merasakan hembusan napas pria itu di wajahnya, dan mau tidak mau membuatnya reflek mundur selangkah.

“Sekarang aku bukan anak kecil lagi. Aku juga sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk menolakku. Rinai, aku masih menyukaimu,” ucap pria itu pelan namun tegas.

DEG!

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

rainonthelotus
rainonthelotus
baru baca dah asik ey
2026-10-08 16:22:16
0
0
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status