author-banner
Narpendyah Kahurangi
Narpendyah Kahurangi
Author

Novels by Narpendyah Kahurangi

Dendam Kuntilanak Merah

Dendam Kuntilanak Merah

Penampakan sesosok kuntilanak merah sering terlihat menghantui warga semenjak menghilangnya seorang gadis di Desa Kumpeh, Menur. Tak lama berselang, teror terus berlanjut. Desa Kumpeh kembali geger sebab ditemukannya mayat seorang pria yang terbunuh secara brutal di kawasan pohon beringin yang dianggap wingit dan sebagai tempat tinggal Makhluk Merah si penguasa tempat itu. Di desa lainnya, lima orang pria mati dengan keadaan serupa, sadis dan tidak manusiawi. Apakah kematian mereka ada hubungannya dengan kematian pria sebelumnya? Apakah kematian mereka disebabkan oleh sosok kuntilanak merah atau pun si Makhluk Merah penunggu pohon beringin keramat? Mampukah Sanusi, si kepala kampung, memecahkan misteri yang terjadi di desa tempat tinggalnya?
Read
Chapter: 56. Sebuah Amanat
Senyum Pakdo Ramli mengembang penuh wibawa. "Pakdo ingin berpamitan padamu, Nak. Entah kapan kita bisa berjumpa lagi. Rasanya belum puas jika Pakdo tidak berpesan padamu.""Apa itu, Pakdo?" Gadis penasaran."Kau gadis istimewa. Teruslah menebar welas asih. Bantulah sesama makhluk yang membutuhkan bantuanmu, Nak. Kelebihan yang kau punya, jadikan ladang amal bagimu sendiri." Pakdo Ramli menepuk-nepuk pundak Gadis yang terdiam mendengarkan amanat dari dukun sakti itu.Pakdo Ramli lantas berbalik badan, mulai melangkah meninggalkan kebun. Sanusi dan Ujang turut mengantarkan kepergiannya."Sebelum pergi, ada baiknya Pakdo mampir ke warung bakso saya dulu, Pakdo. Saya kasih secara cuma-cuma." Ujang menawarkan."Bagaimana denganku?" Sanusi bersuara. "Perutku juga lapar, Ujang. Tak kasihankah kau padaku, bekas bosmu ini? Setelah ini aku masih akan menempuh perjalanan jauh hingga sampai ke rumah.""Boleh, Pak, boleh. Apa, sih, yang tidak buat Bapak."Percakapan mereka terus berlanjut hingga t
Last Updated: 2022-10-13
Chapter: 55. Pemakaman
Gerimis membasahi sebuah tempat pemakamam umum di Desa Kumpeh kala senja hari. Para pelayat sejak tadi telah pulang menuju rumah mereka masing-masing. Yang tersisa hanya beberapa orang yang mana wajah mereka terbalut duka lara: Pakdo Ramli, Sanusi, Teh Reni, Nopi, Gadis, serta Ujang yang setia mendekap istrinya yang masih menangis pilu.Tiada yang menyangka sedikit pun, Hasnah meninggalkan dunia selepas jasad Menur diketemukan. Ternyata selama ini dia terus menunggu, hingga pada akhirnya benar-benar pergi setelah mendapatkan kabar yang dinanti-nantikan.Hasnah pun seperti ingin dikebumikan satu liang lahat bersama putrinya, Menur. Hal itu akhirnya terjadi pada hari ini.Gadis yang berdiri di sebelah Nopi, mendekatkan kepalanya ke sepupunya itu lantas berbisik, "Baru sekarang aku melihat cinta seorang ibu yang benar-benar besar untuk anaknya, Nop," ucap Gadis lirih. "Tiba-tiba aja aku jadi pengin pulang dan peluk Ibu," katanya lagi.Nopi tidak bisa berkata-kata. Ucapan Gadis benar adan
Last Updated: 2022-10-13
Chapter: 54. Mendung di Langit Desa Kumpeh
Teh Reni, Gadis, juga Nopi pun tak mau ketinggalan. Mereka terlanjur ikut campur dan tidak ingin melewatkan perkembangan masalah itu. Kini mereka juga sudah berada di kebun Teh Reni, turut menyaksikan penggalian, meski tubuh dan mata mereka lelah karena menahan kantuk sepanjang malam.Oleh karena ada kejadian yang memancing penasaran, beberapa warga yang lewat menjadi mampir dan ikut menonton. Alhasil kebun Teh Reni kini dikelilingi oleh banyak warga.Wati dan Hasnah baru saja tiba. Tertatih-tatih wanita tua itu berusaha menyeruak kerumunan warga. Kedatangannya disambut Sanusi yang langsung ikut memapahnya.Hasnah menatap heran Sanusi sebentar. Dia agak susah mengenali postur Sanusi yang tak lagi sama."Mak Hasnah.""Ini kau, si kepala kampung, Sanusi?""Ya, Mak. Mari ikuti saya."Mereka kembali melangkah mendekati sebuah lubang bekas galian. Di sebelah lubang, tergelar selembar tikar yang di atasnya terdapat tengkorak dan tulang belulang manusia. Tak jauh dari tulang belulang itu, ad
Last Updated: 2022-10-13
Chapter: 53. Penemuan Tulang Belulang
Mentari pagi bersinar hangat, berhasil mengusir kabut, lalu mengenyahkan hawa dingin yang menusuk kulit kala subuh hari. Tunas pisang bermunculan, kuncup bunga mulai bermekaran, menandakan kehidupan baru telah datang. Sisa-sisa embun pun masih menempel pada daun dan rerumputan, tetapi siapa pun tahu, mereka akan menguap seiringnya waktu yang terus berjalan.Di ranjang besinya, Hasnah mengerjap-ngerjap. Sinar mentari yang masuk melalui celah-celah jendela, menyilaukan matanya yang dulu berbulu lentik, tetapi kini mulai rabun. Dia bangkit dari rebah, lalu duduk menjuntai kaki di tepian tempat tidur. Lama dipandanginya ubin kamar yang bolong-bolong di sebagian permukaannya itu.Gorden kamarnya disibak Wati yang baru saja melangkah masuk. "Emak sudah bangun?" Wati tersenyum ramah, memperlakukan Hasnah semanis biasanya, tapi mata wanita itu kali ini terlihat bengkak dan sembab."Kenapa dengan wajahmu, Wati? Apa kau habis menangis?"Lagi-lagi Wati hanya tersenyum sebagai jawaban. "Emak mau
Last Updated: 2022-10-13
Chapter: 52. Jiwa yang Terbebas
Ujang lantas memeluk Pakdo Ramli. "Terima kasih, Pakdo, terima kasih." Suara Ujang bergetar, terselubung rasa haru dan juga rasa syukur. Rasanya beban yang ikut diembannya selama ini, telah menguap bersama asap dari sisa api yang menghanguskan si makhluk merah."Kau juga harus berterima kasih pada bosmu, Ujang. Dia yang telah merawat dan menyimpan keris ini selama aku tak ada." Pakdo menepuk bahu Ujang yang bergetar karena menangis.Sanusi berjalan mendekati. "Kau masih saja cengeng, Ujang. Sudahlah. Malu sama umur." Sanusi dan Pakdo Ramli terbahak bersama. Ujang pun menjadi tersenyum, meski sembari menyeka air mata yang tersisa."Gadis mana, Pakdo?"Nopi yang telah turun dari mobil, menatap ke sekeliling, mencari keberadaan sepupunya.Pertanyaan Nopi membuat Pakdo Ramli teringat bahwa ada satu hal lagi yang harus dia selesaikan malam ini, yakni membebaskan jiwa Menur yang kini terkunci di dalam liontin yang tadi dibawa pergi oleh Gadis.~AA~Hari masih gelap. Waktu masih menunjukkan
Last Updated: 2022-10-13
Chapter: 51. Musnahnya Makhluk Merah
Makhluk merah sudah menghunuskan kelima kuku jarinya yang runcing nan tajam, bersiap menyerang Pakdo Ramli yang menatapnya dengan raut pasrah. Dukun itu bukan lah menyerah, hanya saja dia tidak bisa berkerlit. Gerakannya sudah terkunci, tidak bisa berpindah posisi lagi.Akan tetapi, tiba-tiba saja dari arah gerbang masuk kebun, klakson mobil yang berbunyi nyaring mengalihkan perhatian mereka berdua. Makhluk merah tersentak mundur saat lampu mobil Avanza hitam menyorot tepat ke arahnya."Pakdo Ramli!" Sanusi yang baru saja keluar dari bangku penumpang berlari menghampiri. "Ambil ini!" Sekuat tenaga pria itu melemparkan keris berlekuk tiga yang telah terbungkus kembali pada sarung kulitnya.Pakdo Ramli mengambil kesempatan. Pria itu berguling ke samping tiga kali, lalu melompat dengan bertumpu kaki kanannya. Tangan kirinya berhasil menyambar keris, lalu dengan tangan yang lain dia menarik gagang keris itu lantas merapalkan mantra yang telah dia pelajari selama bersamadi.Keris yang tela
Last Updated: 2022-10-13
Kulepas Suami Benalu Untuk Pelakor

Kulepas Suami Benalu Untuk Pelakor

Lia bekerja keras mencari nafkah sebagai pengganti suaminya yang baru saja di-PHK dari dampak covid yang melanda. Namun, apa jadinya setelah lelah bekerja seharian, dia mendapati suaminya itu sedang asyik masyuk di rumah bersama wanita lain. Lebih membuat syok, wanita itu tak lain adalah sepupunya
Read
Chapter: 55. Aku Tidak Ingin Berjuang Lagi
Malam itu, setelah panggilan telepon berakhir, Lia masih duduk seorang diri di teras rumah. Ponselnya telah lama padam. Namun suara Kevin masih tertinggal jelas di kepalanya."Aku mau ketemu kamu."Kalimat sederhana itu terus berputar-putar, membuat dadanya terasa sesak.Langit Desa Dewi tampak cerah malam ini. Bintang-bintang bertaburan tanpa tertutup gedung tinggi atau cahaya kota. Angin berembus pelan membawa aroma rumput dan tanah yang lembap.Pemandangan yang biasanya menenangkan. Namun tidak malam ini. Lia memeluk kedua lututnya. Air matanya kembali jatuh tanpa suara. Ia sungguh lelah.Bukan karena Kevin. Bukan karena Siska. Bukan karena Mami Kevin semata. Melainkan karena hidupnya yang sejak dulu seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk beristirahat.Dulu ia berjuang mempertahankan rumah tangga dengan Arman. Ia bertahan meski sering menangis diam-diam. Ia bertahan meski perlahan kehilangan dirinya sendiri. Lalu kemudian pengkhianatan itu datang menghancurkan semuanya.Keti
Last Updated: 2026-06-19
Chapter: 54. Jalan yang Berbeda
Desa Dewi menyambut pagi dengan udara yang dingin dan aroma tanah basah sehabis hujan semalam.Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang membentang sejauh mata memandang. Burung-burung kecil beterbangan rendah di antara pematang. Dari kejauhan terdengar suara petani yang mulai berangkat ke ladang.Namun keindahan pagi itu tak mampu mengusir kegelisahan yang masih bercokol di hati Lia.Perempuan itu berdiri di teras rumah sambil menyapu halaman. Gerakannya teratur, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana.Sudah hampir seminggu ia berada di Desa Dewi. Seminggu yang terasa jauh lebih damai dibanding tahun-tahun terakhir yang ia jalani di Jakarta.Di sini tidak ada kemacetan. Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada tatapan merendahkan. Tidak ada keluarga Kevin. Dan justru itulah yang membuat Lia semakin takut. Karena semakin lama berada di desa, semakin besar keinginannya untuk tidak kembali."Lia."Suara Purwari membuat Lia menoleh."Iya, Mak?""Kok dari tadi nyapunya bagian i
Last Updated: 2026-06-18
Chapter: 53. Perpisahan yang Sesungguhnya
Malam setelah pertengkaran besar itu, rumah keluarga Kevin terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.Tidak ada lagi suara televisi yang menyala dari ruang keluarga. Tidak ada obrolan santai saat makan malam. Bahkan para asisten rumah tangga tampak berjalan lebih pelan, seolah memahami bahwa penghuni rumah sedang berada dalam suasana yang tidak baik.Kevin berdiri di balkon kamar lantai dua. Kedua tangannya bertumpu pada pagar besi. Matanya menatap langit yang mulai gelap. Namun pikirannya tidak berada di sana. Pikirannya melayang jauh menuju Desa Dewi. Menuju rumah sederhana milik orang tua Lia. Menuju perempuan yang beberapa hari terakhir selalu tampak berusaha kuat, padahal hatinya sedang terluka.Dadanya kembali terasa sesak. Baru sekarang Kevin menyadari satu hal. Selama ini Lia selalu berjuang sendirian. Saat menghadapi rumah tangganya bersama Arman. Saat membesarkan Nurul tanpa sosok ayah. Saat berusaha bangkit dari pengkhianatan dan luka masa lalu. Dan kini, ketika perempuan itu a
Last Updated: 2026-06-18
Chapter: 52. Harga yang Harus Dibayar
Mobil yang dikendarai Kevin melaju meninggalkan Desa Dewi dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari biasanya.Di depan sana, mobil milik Mami Kevin terlihat beberapa kali. Namun jarak di antara mereka sengaja dipertahankan. Kevin tidak berusaha menyusul. Maminya pun tidak pernah menunggu.Seperti hubungan mereka saat ini.Mereka masih satu tujuan, masih satu jalan, tetapi terasa begitu jauh.Kedua tangan Kevin mencengkeram setir kuat-kuat. Bayangan wajah Lia terus muncul di pelupuk matanya.Tatapan perempuan itu. Air mata yang ditahan mati-matian. Sorot kecewa yang bahkan tidak disertai kemarahan. Itulah yang paling menyakitkan.Andai Lia marah, mungkin Kevin masih bisa membela diri. Andai Lia berteriak, mungkin Kevin masih punya kesempatan menjelaskan. Namun Lia tidak melakukan apa-apa.Perempuan itu hanya diam. Justru diam itulah yang menghancurkan Kevin.***Hari mulai sore ketika mereka tiba di rumah keluarga Kevin. Begitu masuk ke halaman, Mami Kevin turun lebih dulu dari mobi
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: 51. Kebenaran Yang Terlambat
Lia menyandarkan sepeda di samping rumah dengan tangan yang terasa lebih berat dari biasanya. Padahal yang akan dia hadapi hanyalah satu percakapan. Namun entah kenapa, rasanya seperti sedang berdiri di depan pintu yang akan menentukan arah hidupnya.Kevin masih menunggu di teras. Pria itu berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Tatapannya mengikuti setiap langkah Lia yang semakin mendekat.Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan ringan seperti biasanya.Keduanya sama-sama tahu bahwa kali ini mereka tidak bisa lagi berpura-pura semuanya baik-baik saja."Ayo ke belakang rumah aja," ucap Lia pelan.Kevin mengangguk.Mereka berjalan melewati halaman samping hingga tiba di bawah pohon mangga tua yang tumbuh tak jauh dari kandang ayam milik Tarjo.Tempat itu cukup sepi. Jauh dari telinga orang-orang di dalam rumah.Lia memilih duduk di bangku bambu. Kevin tetap berdiri beberapa saat sebelum akhirnya ikut duduk di sampingnya. Jarak mereka tidak terlalu dekat.Namun cukup untuk membuat
Last Updated: 2026-06-17
Chapter: 50. Di Antara Restu dan Kenyataan
Malam itu berlalu lebih lambat dari biasanya.Lia terbaring di atas ranjang kayu yang dulu menemaninya tumbuh dewasa. Di sebelahnya, Nurul tidur nyenyak memeluk guling kecil bergambar kelinci yang sudah mulai pudar warnanya.Angin malam masuk melalui celah jendela yang terbuka sedikit. Suara jangkrik bersahutan dari luar rumah. Semuanya begitu akrab. Begitu menenangkan.Namun anehnya, hati Lia justru tidak menemukan ketenangan yang sama. Matanya terbuka menatap langit-langit kamar. Pikirannya masih tertinggal pada percakapan ayahnya dengan Kevin di teras tadi malam.Terlebih lagi, ucapan ibunya."Kalau dia berani berdiri di depan dan memperjuangkanmu, pikirkan lagi."Kalimat itu terus terngiang. Lia memejamkan mata. Tetapi wajah Mami Kevin kembali muncul di benaknya.Tatapan datar itu. Senyum yang terasa berjarak. Cara wanita itu memperkenalkannya hanya sebagai karyawan. Cara wanita itu menyambut Siska dengan penuh kehangatan.Lia menghela napas panjang. Ia lelah. Sungguh lelah. Selam
Last Updated: 2026-06-17
Wanita Simpanan Suamiku

Wanita Simpanan Suamiku

Benak Gauri dipenuhi tanda tanya semenjak merebaknya kabar bahwa Freya—janda kembang sekaligus wanita masa lalu suaminya—telah kembali ke kota tempat tinggal mereka. Apalagi suaminya—Abdu—mulai menunjukkan sikap mencurigakan. Dia menghabiskan lebih lama di depan layar ponsel, bahkan pernah Gauri menangkap basah Abdu sedang tersenyum-senyum sendiri. Suatu hari, Gauri mengambil tindakan cepat untuk membuktikan rasa curiga. Dengan ditemani Niko—adiknya—Gauri memata-matai Abdu di kantor. Benar saja. Gauri mendapati suaminya mampir ke butik dan juga toko bunga, sebelum pergi menemui kekasih gelapnya itu.
Read
Chapter: 51. Menua Bersama
Suasana bandara ramai seperti biasa. Di antara orang-orang yang berlalu lalang mengejar waktu keberangkatan pesawat mereka, ada sepasang pengantin baru yang berjalan santai ke arah konter check-in keberangkatan.Akan tetapi, ada yang berbeda pada wajah Freya. Dia tidak semringah seperti ketika hendak jalan-jalan atau ke tempat-tempat baru seperti sebelum-sebelumnya. Bibirnya mencebik, raut wajahnya masam, berulang kali dia menggerutu sejak tadi."Mereka yang kasih tiket perjalanan ini sebagai kado pernikahan, eh, malah mereka gak ada kabar. Gimana, sih, padahal gak ada salahnya, kan, cuma nganterin ke bandara doang?"Abdu tersenyum geli sekaligus geleng-geleng kepala mendengarkan gerutuan istrinya. Dia mengecup pelan kepala Freya sembari menepuk-nepuk pundaknya berbalut gemas."Mungkin mereka sibuk, Yank. Kan Gauri lagi ngidam, lagi mabuk-mabuknya. Bisa jadi Ali juga lagi sibuk urus pekerjaan di kantor. Jadi mereka gak sempat antar kita hari ini."
Last Updated: 2021-12-26
Chapter: 50. Pesta Pernikahan
Puluhan unit tenda terbentang luas memenuhi halaman rumah Freya. Bunga-bunga nan harum dan berwarna-warni ditata sedemikian rupa di tiap sudut: tenda, meja prasmanan, ruang tamu sebagai tempat ijab kabul. Kain-kain serta hiasan yang tergelar bernuansa nilakandi dan abu-abu, warna kesukaan Freya, menjadi tema utama.Di kamarnya, teman dan kerabat terdekat berkerumun, mengobrol bahkan memerhatikan gadis itu yang sedang dihiasi jari-jarinya menggunakan inai instans.Gauri juga berada di sana. Freya memintanya untuk datang, sebab malam ini akan diadakan doa selamat agar acara yang berlangsung esok hari berjalan dengan lancar."Kamu deg-deg'an, gak?" Gauri berbisik di dekatnya.Freya tersipu. "Ya, jelas dong. Duh!" Dia mengembuskan napas panjang. Sebenarnya bukan sejak itu saja, tetapi sedari ketika Freya menerima lamaran Abdu, kekasihnya itu."Santai aja, kan, bukan yang pertama." Gauri terkikik."Ya, kan, beda, Gauri." Freya memutar bola matany
Last Updated: 2021-12-19
Chapter: 49. Kabar yang Ditunggu-Tunggu
Ali mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia sedang mengejar waktu sebab waktu yang dia punya, sungguh terbatas.Berulang kali dia mengerutu atau menekan klakson tak henti-henti ketika ada pengendara lain yang menghalangi jalannya.Ali sangat menyesali keputusannya yang datang terlambat. Andai saja sedari awal dia tidak plin-plan dan menolak semua ajakan-ajakan Lena. Setelah dia berbincang cukup lama dengan Abdu, barulah Ali menyadari, perasaan ragu yang sempat datang ketika bertemu Lena ialah bersifat sementara."Itu cuma rasa penasaranmu aja, Li. Karena kamu dulu menyukai Lena dan gak pernah menjalin hubungan dengannya. Kamu akan sadar mencintai siapa bila orang tersebut pergi meninggalkanmu. Kamu akan merasa baik-baik aja atau nelangsa."Sekarang, itu lah yang Ali rasakan, nelangsa. Ketika Freya datang ke kantornya membawa kabar bahwa Gauri akan pergi meninggalkannya, pikirannya seketika kalut. Hatinya gelisah. Ali sedang tidak baik-baik saja.
Last Updated: 2021-12-17
Chapter: 48. Aksi Freya
Freya menurunkan standar motor metic-nya di parkiran sebuah kantor berlantai tiga. Gadis berkulit putih itu menyimpan jaket dan helm ke jok motor, sebelum melangkah ke lobi untuk bertanya ke meja resepsionis.Kakinya tanpa ragu melangkah, terbalut rasa geram dan amarah. Sejak mengetahui bahwa Gauri hamil, Freya tidak bisa untuk diam saja. Rasanya merupakan perbuatan zholim jika mengetahui kebenaran tetapi malah tidak melakukan tindakan apa-apa.Freya pun kali ini tidak peduli jika aksinya bakal berujung dengan kemarahan Abdu. Itu urusan nanti saja, yang penting saat ini dia harus segera menemui Ali dan menyampaikan fakta yang sebenarnya.Berdasarkan keterangan dari resepsionis, Ali sedang berada di kantornya. Kebetulan pula dia baru selesai menghadiri rapat. Sebelum petugas resepsionis melarangnya ke kantor Ali, Freya setengah berlari menuju lift yang hendak tertutup.Gadis itu berhasil masuk, meski mendapat sorot tatapan tajam dari beberapa orang yang te
Last Updated: 2021-12-16
Chapter: 47. Kehamilan Gauri
Ali pulang ke rumah tepat ketika jam dinding menunjuk ke angka tengah malam. Gauri sengaja menunggunya di ruang tengah sembari menonton televisi."Kamu belum tidur?" Ali hendak melangkah ke kamar, tetapi ucapan Gauri menghentikan langkahnya."Bisa bicara sebentar, Mas?" Suaranya datar, tetapi senyuman tipis tak lepas dari bibir Gauri.Ali menurut saja tanpa berkomentar apa-apa. Wajahnya kelihatan kusam dan letih, seperti habis bepergian seharian penuh."Mas seharian bersama Lena, kan?" Gauri tidak ingin basa-basi yang menurutnya sangat membuang-buang waktu dan itu memuakkan jika dilakukan di saat hatinya sedang remuk redam."Ya, maaf, aku gak kasih tau." Ali menghela napas. "Tadi dia memintaku mengantarkannya membeli sesuatu. Barang yang dia cari, susah ditemui. Itu sebabnya sampai malam aku baru pulang."Gauri manggut-manggut, mencoba memahami. "Saking sibuknya, sampai-sampai Mas gak bisa lagi kasih kabar via chat atau telepon ke aku, ya? P
Last Updated: 2021-12-11
Chapter: 46. Keputusan Gauri
Suasana vila menjadi aneh. Sebab perubahan sikap Gauri dan juga Ali terjadi secara bersamaan. Seharusnya masalah yang menerpa mereka, dibicarakan berdua, tetapi didiamkan saja tanpa adanya jalan keluar.Di sisi Gauri, dia ingin kejelasan, tentang apa hubungan yang terjadi antara suaminya dengan Lena. Mengapa sikapnya tunduk saja ketika ditarik kala di pesta itu, bukankah seharusnya saat itu Ali menemani Gauri, bukannya malah menghilang, malah kepergok tengah berciuman. Meski saat itu Ali tidak tahu, bahwa aksinya sedang dilihat oleh istrinya sendiri.Di sisi Ali, pikirannya dipenuhi peristiwa itu, tentang Lena yang menciumnya secara tiba-tiba. Rasa yang dulu telah terkubur dalam, kini seperti berontak dan menggelitik dadanya. Ali sebenarnya sadar diri bahwa Gauri mencurigai sesuatu, tetapi pria itu lebih memilih untuk diam. Dia kehabisan tenaga untuk berdebat. Dia sedang tidak ingin bertengkar dan malah nanti Lena menjadi pelariannya saja.Sehabis sarapan, merek
Last Updated: 2021-12-10
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status