LOGINLia bekerja keras mencari nafkah sebagai pengganti suaminya yang baru saja di-PHK dari dampak covid yang melanda. Namun, apa jadinya setelah lelah bekerja seharian, dia mendapati suaminya itu sedang asyik masyuk di rumah bersama wanita lain. Lebih membuat syok, wanita itu tak lain adalah sepupunya
View MoreAku melambai ke arah Siti yang pergi menjauh di atas boncengan motor hitam suaminya. Setelah sosoknya menghilang, kualihkan pandangan, memanjangkan leher melihat angkutan kota jurusan ke rumah. Aku mengembuskan napas, lelah karena telah bekerja seharian.
Energiku telah banyak terkuras. Beragam watak dan keinginan pelanggan hari ini, membuatku bekerja tidak seperti biasanya. Entah apa mimpiku semalam, apa yang mereka inginkan tidak sesuai dengan apa yang mereka tuturkan.
Semisalnya saja saat tadi di waktu lima menit sebelum aku beristirahat hendak makan, seorang ibu-ibu setengah baya datang ke toko untuk membeli alat pengocok kue alias mixer, tapi sedari awal kedatangannya, dia ngotot minta diambilkan blender. Setelah barangnya kuperlihakan, dengan tersipu malu ibu itu bilang bahwa dia butuh mixer bukan blender.
Aku maklumi saja, wanita seusia beliau terkadang keliru menamai benda-benda tertentu. Seperti ibuku yang kadang bilang warna biru adalah warna hijau. Tipe emak-emak jaman dulu.
Sekali lagi kutolehkan kepala ke ujung jalan. Belum ada tanda-tanda kendaraan merah itu akan muncul. Padahal biasanya aku tak begitu sulit menemukan benda beroda empat itu.
Namaku Lia. Aku seorang ibu rumah tangga berusia 25 tahun yang memiliki seorang putri. Nurul namanya. Aku baru saja selesai bekerja. Pekerjaanku sebagai karyawan toko sejak pukul 08.00 pagi hingga 17.00 sore.
Suamiku? Mas Arman baru saja di-PHK dan masih menganggur di rumah. Di masa pandemi ini, tentulah sulit mencari pekerjaan lagi. Itu sebabnya sembari menunggu Mas Arman mendapat pekerjaan, aku untuk sementara menggantikannya bekerja. Gaji yang kudapat? Ya ... lumayan lah. Bisa untuk membayar kontrakan rumah dan makan sehari-hari. Aku harus lebih bersyukur, bukan, sebab yang lebih kesusahan dariku lebih banyak lagi.
Angkot yang kutunggu akhirnya datang. Tanpa menunggu lama, aku segera naik ke kendaraan umum itu. Aku mengambil bangku paling ujung dan mengenyakan diri. Ah, akhirnya aku bisa mengistirahatkan kaki setelah berdiri lumayan lama sejak tadi. Tak sabar ingin segera tiba di rumah dan bertemu anakku.
Kebetulan penumpang di angkot itu cuma aku sendiri. Secara leluasa aku buka lebar kaca di sisi. Kubiarkan angin meriap-riapkan rambutku yang hitam, yang hari ini kubiarkan bebas tergerai. Angin yang masuk cukup menenangkan pikiranku dari kekalutan hidup yang mendera.
Bagaimana tidak, sebelum bekerja aku selalu bersama putriku selama 24 jam. Ke mana pun dia pergi; ke sekolah atau pun mengaji, selalu aku yang antar. Kini, putriku harus menjadi mandiri, seperti ibunya yang telah berubah menjadi tulang punggung keluarga.
Lamunan-lamunan menyedihkan sepanjang perjalanan ini cukup menyita waktu. Tanpa sadar gapura lorong ke arah rumah sudah terlihat dari kejauhan. Kuberi aba-aba pada Pak Sopir untuk menghentikan angkotnya di situ. Sesudah mobil berhenti secara sempurna, aku lekas turun dan membayar ongkos.
Butuh lima menit lagi bagiku berjalan kaki untuk tiba di rumah. Aku melangkah santai sembari menikmati angin sore. Ketika melewati beberapa bedeng, kubalas satu-satu sapaan orang-orang yang kukenal, menyapa mereka dengan ramah.
Ya, kawasan tempat aku tinggal ini banyak bedeng dan rumah kos-kosan. Harganya masih terbilang murah. Itu sebabnya daerah ini ramai, orang-orang selalu berebut masuk jika ada salah satu warga yang pindah. Selain dekat dengan pasar, di sini juga dekat dengan stasiun kereta api. Mudah bagi penghuni kawasan ini untuk pergi ke mana pun.
Aku menjejakkan kaki di halaman rumah kontrakan. Rumah minimalis dengan dua kamar. Teras sederhana berpilar dua, bercat putih. Kami memilih rumah ini sebab kamar mandi berada di dalam. Tidak seperti bedeng-bedeng yang kulewati tadi, yang hanya punya satu kamar mandi dan digunakan secara bersama-sama. Memang harga per bulannya lebih murah, tapi untuk perempuan pekerja seperti aku, tentu tidak bisa mengantre berlama-lama di kamar mandi. Bisa-bisa aku terlambat pergi bekerja.
Yah ... kekurangannya hanya itu, menurutku. Tapi, tinggal di daerah ini cukup aman. Warganya juga ramah dan bersahabat.
Kulihat pintu depan rumahku terbuka. Ada sepasang sendal jepit asing berada di lantai teras. Itu bukan milikku apalagi milik Mas Arman. Penuh rasa penasaran aku mempercepat langkah.
Malam itu, setelah panggilan telepon berakhir, Lia masih duduk seorang diri di teras rumah. Ponselnya telah lama padam. Namun suara Kevin masih tertinggal jelas di kepalanya."Aku mau ketemu kamu."Kalimat sederhana itu terus berputar-putar, membuat dadanya terasa sesak.Langit Desa Dewi tampak cerah malam ini. Bintang-bintang bertaburan tanpa tertutup gedung tinggi atau cahaya kota. Angin berembus pelan membawa aroma rumput dan tanah yang lembap.Pemandangan yang biasanya menenangkan. Namun tidak malam ini. Lia memeluk kedua lututnya. Air matanya kembali jatuh tanpa suara. Ia sungguh lelah.Bukan karena Kevin. Bukan karena Siska. Bukan karena Mami Kevin semata. Melainkan karena hidupnya yang sejak dulu seolah tak pernah memberinya kesempatan untuk beristirahat.Dulu ia berjuang mempertahankan rumah tangga dengan Arman. Ia bertahan meski sering menangis diam-diam. Ia bertahan meski perlahan kehilangan dirinya sendiri. Lalu kemudian pengkhianatan itu datang menghancurkan semuanya.Keti
Desa Dewi menyambut pagi dengan udara yang dingin dan aroma tanah basah sehabis hujan semalam.Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang membentang sejauh mata memandang. Burung-burung kecil beterbangan rendah di antara pematang. Dari kejauhan terdengar suara petani yang mulai berangkat ke ladang.Namun keindahan pagi itu tak mampu mengusir kegelisahan yang masih bercokol di hati Lia.Perempuan itu berdiri di teras rumah sambil menyapu halaman. Gerakannya teratur, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana.Sudah hampir seminggu ia berada di Desa Dewi. Seminggu yang terasa jauh lebih damai dibanding tahun-tahun terakhir yang ia jalani di Jakarta.Di sini tidak ada kemacetan. Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada tatapan merendahkan. Tidak ada keluarga Kevin. Dan justru itulah yang membuat Lia semakin takut. Karena semakin lama berada di desa, semakin besar keinginannya untuk tidak kembali."Lia."Suara Purwari membuat Lia menoleh."Iya, Mak?""Kok dari tadi nyapunya bagian i
Malam setelah pertengkaran besar itu, rumah keluarga Kevin terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.Tidak ada lagi suara televisi yang menyala dari ruang keluarga. Tidak ada obrolan santai saat makan malam. Bahkan para asisten rumah tangga tampak berjalan lebih pelan, seolah memahami bahwa penghuni rumah sedang berada dalam suasana yang tidak baik.Kevin berdiri di balkon kamar lantai dua. Kedua tangannya bertumpu pada pagar besi. Matanya menatap langit yang mulai gelap. Namun pikirannya tidak berada di sana. Pikirannya melayang jauh menuju Desa Dewi. Menuju rumah sederhana milik orang tua Lia. Menuju perempuan yang beberapa hari terakhir selalu tampak berusaha kuat, padahal hatinya sedang terluka.Dadanya kembali terasa sesak. Baru sekarang Kevin menyadari satu hal. Selama ini Lia selalu berjuang sendirian. Saat menghadapi rumah tangganya bersama Arman. Saat membesarkan Nurul tanpa sosok ayah. Saat berusaha bangkit dari pengkhianatan dan luka masa lalu. Dan kini, ketika perempuan itu a
Mobil yang dikendarai Kevin melaju meninggalkan Desa Dewi dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari biasanya.Di depan sana, mobil milik Mami Kevin terlihat beberapa kali. Namun jarak di antara mereka sengaja dipertahankan. Kevin tidak berusaha menyusul. Maminya pun tidak pernah menunggu.Seperti hubungan mereka saat ini.Mereka masih satu tujuan, masih satu jalan, tetapi terasa begitu jauh.Kedua tangan Kevin mencengkeram setir kuat-kuat. Bayangan wajah Lia terus muncul di pelupuk matanya.Tatapan perempuan itu. Air mata yang ditahan mati-matian. Sorot kecewa yang bahkan tidak disertai kemarahan. Itulah yang paling menyakitkan.Andai Lia marah, mungkin Kevin masih bisa membela diri. Andai Lia berteriak, mungkin Kevin masih punya kesempatan menjelaskan. Namun Lia tidak melakukan apa-apa.Perempuan itu hanya diam. Justru diam itulah yang menghancurkan Kevin.***Hari mulai sore ketika mereka tiba di rumah keluarga Kevin. Begitu masuk ke halaman, Mami Kevin turun lebih dulu dari mobi
Angin sore berembus perlahan, menggerakkan ujung-ujung daun padi yang mulai menguning. Langit di atas Desa Dewi terlihat cerah, tetapi hati Lia justru terasa semakin berat. Ia duduk di bangku bambu di bawah pohon mangga, sementara Kevin masih berada di sampingnya. Kalimat terakhir yang diucapkan pr
Lia dan Radi masih duduk berdampingan di bawah pohon besar yang berdiri kokoh di tengah hamparan sawah. Angin siang berembus pelan, menggerakkan ujung dedaunan yang menaungi mereka. Matahari tidak terlalu terik. Langit biru membentang luas tanpa banyak awan. Namun di dalam hati Lia, cuaca sedang t
Malam di Desa Dewi selalu terasa berbeda dibandingkan malam-malam di Jakarta.Tidak ada deru kendaraan yang bersahut-sahutan. Tidak ada suara klakson yang saling berebut jalan. Hanya ada desir angin yang berembus pelan dari hamparan sawah, sesekali diselingi suara jangkrik yang seolah tak pernah le
Bus yang membawa Lia, Lita dan Nurul melaju menembus pekatnya malam. Mereka membutuhkan waktu lima jam lagi hingga tiba di kampung halaman. Waktu menunjuk ke jam sebelas, tapi mata Lia belum bisa terpejam sedari tadi.Di sebelahnya, Nurul dan Lita telah tertidur pulas tertutup selimut kotak-kotak yan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.