Chapter: Bab 69. Hanya Bisa PasrahMalam hari Fadhil pulang ke rumah setelah beberapa waktu dihabiskan untuk mengenali tempat kerja dan peralatan yang telah lama tak disentuh. Tangannya agak kaku memainkan alat musik yang dulu sangat digandrunginya, Namun kepiawaiannya kembali setelah mencoba beberapa kali. Sanga pemilik kafe pun sangat puas dan memintanya segera memulai pekerjaan yang telah disepakati.“Abang pulang malam amat sih?” tanya Zubaidah yang sedang duduk santai sambil memegang toples camilan.Fadhil melirik kanan dan kiri memastikan bahwa putra mereka benar-benar tidak kelihatan di dekat ibunya. Dahi lelaki yang sudah mengerut lelah bertambah dalam saja kerutannya tanda heran. Saat itu belumlah jam sembilan malam seperti jadwal Arjuna tidur, Seharusnya dia masih bermain di karpet bulu merangkak kesana kemari.“Cepat amat Arjuna bobok?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaan istrinya.“Belum kuambil, masih di Bu Siti. Aku lelah seharian ngajar, lagian sudah dibayar kan?”Fadhil tertegun sejenak lalu memutar bada
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: Bab 68. Demi ApapunFadhil berjibaku dengan urusan rumah dan dapur. Seperti hari biasa untuk menghindari keributan dengan istrinya, lelaki tiga puluh lima tahun itu rela melakukan semua hal pekerjaan rumah. Dari membersihkan dan merapikan juga mengisi meja makan dengan hidangan yang tak terlalu buruk rasanya di lidah meski tak terbilang enak.“Bu Siti, saya pergi dulu ya, nanti kalau Arjuna mau disuapi sudah ada bening di rumah tinggal ambil aja,” kata Fadhil saat kembali mengintip putranya yang telah tertidur Sehabis mandi.“Wah nyenyak banget Arjuna.”“Iya, Pak. Ini anak sama sekali tak rewel apalagi bikin repot. Assalamualaikum kenyang dan tubuhnya bersih, tidurnya gampang dan anteng tidak rewel.”“Alhamdulillah. Terima kasih, Bu. Saya pergi dulu.”“Ya Pak. Kalau ibu pulang saya mesti bilang apa, Pak?”“Bilang aja begitu, saya ada perlu.”“Baik, Pak.Hari ini ada panggilan wawancara pekerjaan di sebuah kafe. Saat muda Fadhil sangat gemar bernyanyi dan sempat memiliki kelompok bandnya sendiri. Tapi se
Last Updated: 2026-03-15
Chapter: Bab 67. Mata Hati yang TertutupSeharusnya ini bukan tentang harta, tapi Sarah memang unggul dalam hal apapun sebagai pasangan. Baik perannya sebaga istri maupun sebagai menantu dan ibu bagi anak-anak. Untuk Yang terakhir ini, dia adalah yang terbaik. Tak heran anak-anak sangat menyayangi juga menghormatinya. Begitupun dengan apa yang dikatakan ibunya., anak-anak bahkan tak berani terang-terangan melawan ayah yang mereka tahu sudah zalim padanya dan ibu mereka.Sekarang Fadhil benar-benar merasa sadar diri, selain soal harta Sarah juga sangat unggul sebagai pendidik meski tak berprofesi guru seperti Zubaidah. Istri keduanya itu bukanlah seorang yang bodoh hanya saja nuraninya tak sejalan dengan ilmu yang dimilikinya, sehingga tidak digunakan dalam kehidupannya sehari-hari. Ego menguasainya dengan telak.Pletak!!“Aduh!” pekik Fadhil sambil meraba kepalanya yang terbentur sesuatu. Begitu melihat ke belakang, alangkah kagetnya ternyata sekarang masih membawa penumpang.Wanita yang kini masih duduk di jok motornya da
Last Updated: 2026-03-13
Chapter: Bab 66. Bukan di Level yang SamaKeluarga kecil Fadhil Zubaidah sekarang ini hanyalah sepasang suami istri dengan satu putra yang masih kecil. Seorang suami pekerja serabutan dan istri seorang guru dengan gaji UMR kota tempatnya tinggal. Secara pemasukan keluarga, keuangan mereka tidaklah kurang untuk kebutuhan sebulan. Terkadang saat Fadhil mendapatkan job yang lumayan, ada tambahan penghasilan untuk biaya tak terduga atau tabungan. Hanya saja seringkali tabungan mereka kembali terkuras saat ada kebutuhan mendadak semisal ada yang harus ke dokter untuk berobat, karena tunjangan kesehatan hanya dimiliki Zubaidah dari yayasan sekolah tempatnya bekerja. Dan sayangnya itu tidak menanggung seluruh keluarga hanya dirinya saja. Siang itu, Fadhil berkeliling mencari penumpang yang posisinya agak ke dalam gang. Mantan pegawai kantoran yang dulu cukup bergengsi itu kini juga menjadi pengemudi ojek online selain segala pekerjaan kasar lain yang kini mau tak mau harus dikerjakannya dengan ikhlas. “Rita Sanjaya, Bang?” teriaka
Last Updated: 2026-03-12
Chapter: Bab 65. Satu Bibit Beda WadahSepeninggal anak-anaknya dari Sarah, Fadhil berjalan gontai ke dalam kamar yang disediakan Dian kerabat Bu Syarifah yang dulu sempat dibantu oleh Fadhil saat masih menjadi suami Sarah. Sebagai sepupu yang tidak akur, wanita yang berusia lebih muda dari Sarah itu sangat senang sepupu yang sempat membuatnya iri bermasalah dan bercerai. Jelas bukan Sarah yang notabene adalah keluarga yang didukung tapi malah Fadhil sang mantan saudara. “Anak-anakmu sudah pulang, Bang?” “Iya. Ibunya datang menjemput mereka,” jawab Fadhil sambil menghela napas panjang. “Kenapa?” “Tak apa-apa.” Ayah empat anak dari dua istri itu mengambil Bayi Arjuna yang mengulurkan tangan padanya. “Jagoan ayah udah bangun?” Fadhil berusaha berkomunikasi dengan Arjuna meski bayi enam bulan itu belum bisa mengerti ucapannya. Hanya saja Fadhil yakin anak itu pasti mengerti karena selalu menghinggapi dengan celoteh bayinya saat diajak bicara. Fadhil menatap putranya intens, kulit merah gelap, mata bulat, rambut pirang t
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Bab 64. Wajah Polos Itu“Maaf, Bun, tadi Rayyan tak sempat pamitan soalnya Bunda kelihatan sibuk,” kata Rayyan dengan rasa bersalah. “Iya Bunda mengerti kok.…” jawab Sarah sambil mengelus rambut putranya yang basah oleh keringat. “Apa Bunda mencari kami? Kata Ayah hanya sebentar saja kok karena sebentar lagi Ayah sama Ibu Zubaidah harus segera kembali ke kota. “Ya. Bunda khawatir kalian main terlalu jauh, takutnya ada orang yang tak bertanggung jawab membawa kalian menjauh dari Bunda.” Sarah tersenyum misterius. Sementara Fadhil merasa tersindir. Sebenarnya Sarah sangat ingin marah pada mantan suaminya yang tak ada habisnya membuat suasana menjadi tegang. Lagipula cara Fadhil mendekatkan anak-anaknya dengan sang istri tetap membuatnya sakit hati. Namun dipikir lagi, Dulu dirinya lah yang mengajarkannya pada mereka lebih dulu agar bisa menerima ibu yang lain sebelum ayahnya. Mata polos anak-anak memang sebaiknya tidak dikotori oleh segala inri berkepentingan para orang tua. “Aku akan membawa anak-anak pu
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: Bab 128. Musibah atau Berkah?Prosesi pemakaman papa berjalan lancar dihadiri segelintir tetangga yang mengenal keluarga mama. Rumah yang ditinggali sekarang memang rumah warisan nenek untuk anak perempuannya itu dan keluarga nenek dulu termasuk orang baik di lingkungan. Kak Dio dan keluarga besar Pratama juga hadir termasuk Azka dan … Enjang. Aku mengabari Kak Dio berharap mendapatkan simpatinya tak menyangka mereka datang rombongan termasuk wanita itu. Mama Salma memelukku dengan tangis lirih. Aku tahu beliaulah yang paling menerimaku dalam keluarga itu. Ayah mertua yang dulu juga sangat mendukung aku dan putranya menjadi keluarga utuh monogami, sekarang acuh tak acuh karena kepercayaannya telah ternodai oleh perbuatan jahat orang tuaku di masa lalu. “Mama … ayo pulang.” Mama masih bergeming menatap kosong pada gundukan tanah merah di mana jasad papa beristirahat untuk selamanya. Wanita itu seperti punya naluri bahwa keluarganya tengah berkabung. Meski tidak menangis tapi terus-terusan berwajag sendu. S
Last Updated: 2022-12-24
Chapter: Bab 127. Sah sebagai JandaHari sudah malam ketika aku berjalan lunglai menuju pintu rumah. Lampu ruang tamu masih menyala seperti saat kutinggalkan mengikuti Kak Dio tadi. Dari balik kaca aku masih bisa melihat dengan jelas tubuh kurus Papa yang terduduk membisu di depan TV. Aku tahu beliau tidak sedang menonton karena layar datar di depannya terlihat gelap. Apakah yang sedang dipikirkannya? Kalah oleh tubuh ringkihnya pikiran papa masih normal untuk memahami banyak hal. Tentu itu penyiksaan tersendiri bagi beliau. Beda dengan mama yang sekarang bahkan tak mengingat aku sebagai putrinya. “Papa ….” Rupanya papa duduk sambil memejamkan mata. Mungkin tertidur saat menungguku pulang karena sejak aku datang lelaki yang dulu selalu lembut pada keluarga itu tak melepas pandangan dari putri kesayangannya ini. Bagaimanapun jahatnya papa di luar sana dia tetap seorang suami dan ayah terbaik. Aku tersentak mendapati tubuh papa yang sangat panas. Kuraba dahi untuk memastikan dan ternyata benar kalau papa demam ti
Last Updated: 2022-12-24
Chapter: Bab 126. Mengalah untuk MenangTelah satu jam lebih, lamanya kami tetap duduk berhadapan terhalang sebuah meja kecil dan saling membisu. Di meja itu terdapat dua gelas minuman dingin yang es batunya telah mencair juga sebuah map yang tergeletak begitu saja. Setelah ketegangan di rumah mama dan papa tadi kami sepakat untuk bicara berdua secara pribadi. Café inilah yang dipilih Kak Dio. Lelaki yang kulihat semakin tampan diusia matang itu setia menekuri lantai dibawahnya. Wajah cantik istrinya ini yang telah lima tahun berpisah pun bahkan tak menarik minatnya. Justru lembaran berkas perceraian yang disodorkan di depanku. Keterlaluan! “Sampai kapan kau akan bersikap begitu, Rindi?” tanya, Kak Dio menatapku lelah. Haruskah aku mengalah? “Pikirkan baik-baik. Uang dan waktumu bisa kau gunakan untuk mengurus keluargamu yang sekarang keadaannya memprihatinkan. Juga adik yang perlu perhatianmu. Aku tak mungkin terus mengurus mereka apalagi kau sudah kembali.” Uraian panjang itu justru membuat emosiku menanjak. “S
Last Updated: 2022-12-22
Chapter: Bab 125. Keluargaku yang Berharga“Benar, Pak. Bu Rindi datang ke rumah lama Pak Amir lalu pergi lagi setelah mendapati rumah berpindah pemilik.” “Apa kau tahu ke mana lagi dia pergi setelahnya?” “Ya. Pak. Kami terus mengikutinya dan perkiraan kita tepat sekali. Bu Rindi kemudian mengunjungi rumah lama orang tuanya. Seperti perintah Pak Dio, pengurus rumah tidak bekerja di hari sebelumnya hingga keadaan mereka menjadi sangat menyedihkan.” “Baik. Terus awasi dia! Saya meluncur ke sana,” kataku mengakhiri panggilan telephon orang suruhan yang bekerja mengikuti pergerakan Rindi. Aku tak boleh kembali kecolongan. Sikap polos istri pertamaku itu telah melenceng jauh dari harapan agar menjadi wanita yang pantas untuk Azka putra pertamaku bersamanya. Rindi merusak semuanya. Menyakiti anaknya sendiri demi ego, juga bertindak keterlaluan pada Enjang yang nota bene seseorang yang telah menolongnya bertahun-tahun mengasuh seorang anak dari suami dengan wanita lain meski itu adalah istri pertama suaminya. Aku memiliki an
Last Updated: 2022-12-18
Chapter: Bab 124. Perjuangan RindiRindi melesat membelah jalanan bersama limousine hitam yang kendarainya. Bentuknya yang panjang sebenarnya sedikit merepotkan mengingat di Indonesia begitu banyak daerah macet lalu lintas dan juga sangat repot ketika mendatangi wilayah padat penduduk dengan gang-gang sempit seperti kota J. “Aku harus segera ganti mobil,” gerutu Rindi sambil berjuang keras mengendalikan kendaraannya. Limousine itu dibelinya menghabiskan tabungan nafkah yang selalu dikirimkan oleh sang suami tetapi tidak terpakai. Dengan harapan menaikkan status social di depan Enjang ketika kembali dari luar negeri. Sayangnya mencari sopir pribadi untuk layaknya pemilik sebuah limousine tidaklah mudah apa lagi dulu Rindi selalu tergantung suami, mama atau papanya untuk segala urusan hidup. Bahkan ketika dirinya telah berstatus istri Dio, peran orang tuanya tetap besar menyetir hidup Rindi. Rindi kesulitan hidup mandiri di Negara ini yang memang armada umum tak sebaik kota terakhir dirinya tinggal di luar sana. S
Last Updated: 2022-12-17
Chapter: Bab 123Dio melajukan mobil dengan kecepatan sedang ke arah timur kota. Melewati pemukiman yang cukup padat kemudian lurus naik mengarah ke tanah luas berbukit. Suasana asri segera terpampang memanjakan penglihatan. Pepohonan rindang berjejer rapi di kanan kiri jalan. Hingga sampailah pada sebuah gerbang yang lengkap dengan post penjagaan.Bimm!!!Seorang lelaki berseragam biru tua dengan topi di kepala bergegas keluar memeriksa. Setelah dipastikan mengenal mobil dan pengendaranya, kemudian dia bergegas membuka gerbang.Dio melesat masuk bersama kendaraannya menyusuri taman yang cukup luas untuk mencapai rumahnya bersama Rindi.Tampak di kejauhan petugas yang membuka gerbang tengah bicara dengan seseorang.“Benar, Pak Amir. Pak Dio datang sendirian.”“....”“Baik, Pak.”🍀“Ada apa, Pak?” tanya Bu Amir melihat ketegangan di wajah suaminya.“ Den Dio datang sendirian tanpa memberi kabar terlebih dahulu.”“Kita tidak pernah membuat masalah, Pak ... Kenapa harus khawatir?” tanya istrinya lagi de
Last Updated: 2022-05-31
Chapter: Bab.84 Buah Dari Perbuatan Masa LaluFadhil nanar menatap sekumpulan keluarga besar yang sedang tertawa bahagia di taman sebuah rumah yang telah disulap menjadi aula pesta kebun yang semarak. Semesta seakan merestui hari bahagia itu dengan cuaca cerah langit memamerkan gemerlap bintang bermunculan ketika hari telah beranjak semakin malam. “Seharusnya aku yang ada di sana,” gumamnya sambil tak lepas memandang seorang wanita cantik yang bergelayut manja pada seorang pria tampan berkulit putih dengan anak perempuan mungil dalam gendongan. Itu adalah hari bahagia Sarah pada acara resepsi pernikahannya bersama Dokter Wan. “Sudahlah, Bang tak usah dilihat terus! Apa, Abang tak sadar itu sudah jadi masa lalu? Sekarang lihat kenyataan bahwa Sarah sudah bahagia dan kita juga harus melanjutkan hidup berusaha bahagia dengan keadaan yang ada,” kata Zubaidah sambil menggoyangkan lengan sang suami untuk menyadarkannya. SETAHUN YANG LALU Pada hari Zubaidah melahirkan seorang putra, Sarah sang madu juga tersadar dari baby b
Last Updated: 2023-01-28
Chapter: Bab 83. Tak ingin KehilanganLaras berlari cepat ke parkiran rumah sakit di mana Sarah dirawat. Ketika Dokter Wan mengabarkan bahwa Zubaidah melahirkan di rumah sakit yang sama, dirinya segera menghubungi sang suami. Anton sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit membawa bayi Putri dan neneknya juga Bibi sebagai pengasuh. Mereka harus segera dihentikan agar jangan sampai bertemu Fadhil ataupun Zubaidah yang mungkin saja keluar ruang rawat menjenguk bayinya yang konon dirawat khusus di NICU karena lahir premature. “Ayo dong, Bi … angkat,” gumam Laras sambil terus menekan-nekan keypad gawainya lalu menempelkan ke telinga. Karena panggilan terus saja gagal wanita berjilbab panjang itu berinisiatif menunggu di loby. Benar saja tak berapa lama kendaraan dengan nomor polisi yang dikenalnya memasuki loby utama. Laras mengetuk kaca bagian pengemudi ketika mobil melambat. Jelas Anton jadi mengerutkan dahi melihat istrinya tampak panik . “Buka saja kuncinya biar aku masuk dulu.” Laras segera masuk ke jok tengah ken
Last Updated: 2022-12-24
Chapter: Bab 82. Misteri Lantai TeratasZubaidah telah berbaring kembali di ranjang pasien dengan selimut yang kurapikan menutupi tubuhnya hingga ke dada. Meski matanya terpejam, aku tahu kalau dirinya sama sekali tidak tidur. Dia sepertinya masih marah karena kutinggalkan cukup lama hingga kehausan. Luka di perutnya masih basah hingga belum bisa bangun atau duduk apa lagi beranjak mengambil minum di meja samping temat tidur sendiri. Jaraknya cukup jauh dari jangkauan tangan.Alih-alih mencemaskan kemarahan istri, ingatanku justru kembali pada Laras di lorong rumah sakit tadi.“Siapa yang dia jenguk?” gumamku tanpa sadar.“Siapa, Bang?”Aku menoleh dan mendapati Zubaidah telah membuka matanya kembali. Tatapannya mengisyaratkan tanya. Mungkin dia telah menatapku dari tadi tetapi aku yang tidak menyadarinya karena asyik melamun. Aku bergerak dalam dudukku seolah mencari posisi yang baik tapi sebenarnya aku sedang memilah kata untuk kusampaikan padanya tentang hal-hal aneh yang kutemukan di rumah sakit ini. Wanita ini baru sa
Last Updated: 2022-12-23
Chapter: Bab 81. Suasana yang AnehKebahagian ini rasanya ada yang kurang entah apa itu. Kelahiran bayi yang dilahirkan Zubaidah adalah hal istimewa karena sejak awal pernikahan tak pernah terpikir akan mendapatkan anak darinya. Perjalan hampir tiga tahun bersamanya aku lebih banyak merasa mendapat jekpot dalam hidup ini. Biaya hidup keluarga yang tak perlu kupikirkan sampai hadiah-hadiah special juga pelayanan istimewa yang kudapatkan dari istri keduaku ini sungguh membuatku senang. Keadaan yang jauh berbeda dari kehidupan pernikahanku bersama Sarah. Begitupun cintaku tetap lebih besar pada wanita mungil yang mendampingiku lebih dulu. Sampai akhirnya hadir Arjuna di Rahim Zubaidah. Semua seperti terbalik. Rasa ingin membalas kebaikan yang kudapatkan darinya membuatku membantunya untuk mendapatkan kebahagiaan juga. Agar dia juga merasa beruntung memilikiku maka selalu kubantu dia untuk menggapai apa yang diinginkannya sampai hal dia ingin lebih lama bersama atau lebih aku perioritaskan kehidupannya dari Sarah dan anak
Last Updated: 2022-12-22
Chapter: Bab 80. Ingin MenjaganyaAku seorang dokter yang dituntut profesional menghadapi pasien bagaimanapun keadaannya. Hanya saja aku sungguh tak bisa mengendalikan diri jika menghadapi lelaki yang telah menyakiti hati seorang wanita. Yah, khusus wanita itu. Sarah. Datanya kusimpan secara khusus ketika hati ini tak bisa berhenti memikirkannya. Semula aku mengira mungkin ini karena rasa kasihan mengetahui dirinya yang telah disakiti seorang suami sedemian rupa. Namun rasa ini sungguh terlalu dalam. Wajah sayunya selalu membayang di pelupuk membuatku sulit memejamkan mata sebelum memastikan keadaannya. Apakah baik-baik saja? Apakah nyaman dalam menerima setiap tindakan medis juga perawatannya? Apakah obatnya sudah diminum? Apakah cukup menerima asupan? Juga apakah-apakah yang lain. Kekhawatiranku semakin bertambah sejak hari ini. Biang yang telah membuatnya sakit tengah berkeliaran di rumah sakit tempatnya dirawat. Istri lelaki yang sama sekali tak pantas disebut suami itu sedang melahirkan. Kandung
Last Updated: 2022-12-20
Chapter: Bab 79. Kelahiran ArjunaKularikan mobil dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit. Sebelumnya telah kuhubungi dokter Wan yang bertanggung jawab pada istriku sejak awal kehamilan. Aku sendiri tak berani asal masuk ke rumah sakit lain karena kondisi kehamilan Zubaidah yang cukup menghawatirkan. Dokter Wan lebih tahu kondisi pasien karena memiliki catatan medisnya sejak awal. “Bapak tunggu di luar saja biar Dokter focus bekerja! Bapak bantu doa saja,” kata perawat menahan langkahku memasuki ruang periksa. Perasaanku sangat kacau. Tak seperti kelahiran anak-anakku bersama Sarah yang bisa kuhadapi dengan tenang karena kondisi ibunya yang sehat dan normal juga bantuan keluarganya yang ikut siaga baik moril maupun materil. Sekarang aku bingung sendirian. “Pak Fadhil!” “Ya!” Entah mengapa aku seperti mendapatkan tatapan yang kurang menyenangkan dari semua orang di rumah sakit ini. Bahkan ketika aku sedang kesulitan seperti sekarang wanita berseragam putih-putih itu tetap bicara dengan nada tinggi seperti kesal
Last Updated: 2022-12-18