Chapter: 65. Padang BungaAku duduk, mungkin entah sudah berapa lama di kursi ini. Kursi di dalam kuil di depan tiga lukisan dewa yang berdiri terpajang dengan pose yang sama. Aetherion, Terravon dan Vorthys. Setelah beberapa minggu lebih semenjak kematian Lilia, atau gadis sungguhan yang bernama Reyna. Akhirnya aku bisa menemui salah satu dari mereka lagi. Sang Game Master. Atau para dewa dalam dunia ini. Mereka penentu nasib setiap makhluk di dunia ini.Kuil lengang. Waktu doa harian sudah usai. Lilin yang ada di tanganku sudah padam. Aku memerhatikan Aetherion dengan sepasang sayap dan jubah putihnya. Persis dengan yang kulihat dalam mimpi. Aku mulai mempertanyakan yang mana yang kenyataan dan mana yang ilusi."Apa kau belum selesai berdoa?" seseorang menegurku. Suaranya familiar. Kakek Daruz. Ia sudah duduk di sampingku dengan sayap compang-campin
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: 64. KosmosLangit berubah kemerahan. Semakin lama semakin gelap. Abu hitam berterbangan di udara. Aku tak tahu aku tengah berdiri di mana. Mungkin seperti tebing di suatu tempat. Dekat Ashen Peak? Aku mengedarkan pandangan kepada seluruh bagian tempat yang bisa kujamah. Mataku terbelalak.Tubuh Felix seluruhnya berubah biru. Ia terbaring terkapar di tanah bebatuan dengan mata merah terbelalak. Ikaruz tak jauh dari sana, sayap emasnya telah hancur berkeping-keping. Ia tak bergerak. Profesor Jin juga tengkurap, tubuhnya terbelah menjadi dua entah bagaimana. Seseorang dengan tubuh hangus berlutut. Kupikir aku tahu itu siapa. Telinga anjingnya sedikit mencuat meski kulitnya sudah lumer sebagian besar. Pastilah itu Rex. Dan ... aku melihat diriku dan Aegon berbaring bersebelahan. Tubuh Aegon biru dengan mata merah. Dan aku ... sebuah belati menancap di tenggorokanku. Aku berlumuran darah.
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: 63. RahasiaLangsung kusembunyikan diriku di balik daun pintu. Rasa takut menggelayuti hati ini. Apa yang akan dia pikirkan jika aku tahu kalau dia dan Profesor Cleon diam-diam telah ....Ah! Aku harus pergi dari sini!"Ukh!"Baru saja aku melangkah pergi, namun tanganku sudah tertahan oleh sebuah cengkeraman. Saat aku berbalik, benarlah itu adalah Felix. Ia menutup pintu itu rapat-rapat. Kemejanya belum terkancing, tapi ia sudah memakai celana bermotif sisik itu."Kau lihat semuanya?" tanyanya dengan sebuah senyuman.Aku menelan ludah. Apa mungkin jawabanku berikutnya akan menentukan rantai di leher pria ini? Saat ini lehernya masih dililit oleh rantai putih yang berkedip
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: 62. Guru dan MuridMataku terbuka. Aku masih terbangun di dunia ini. Dunia aneh yang menjebakku setelah kematian. Dan lagi, hari kemarin lebih menyebalkan. Pertunanganku dengan Aegon telah batal. Setelahnya aku bercinta dengan Rex, melepaskan kemarahan dan nafsuku kepadanya. Angka di lehernya meningkat setelah kami bersetubuh. Dua puluh persen dengan rantai berkedip berwarna merah muda. Rasanya begitu aneh.Permainan ini serasa memaksaku melacurkan diri untuk menang. Brengsek.Sampai kapan aku harus melakukan hal memuakkan ini? Kupikir permainan berkencan adalah soal bagaimana aku dan yang lain memiliki rasa yang mendebar, yang menegangkan. Rasa yang bikin perutku penuh dengan kupu-kupu. Rasa menyenangkan saat jatuh cinta. Tapi seperti semua itu tak begitu penting."Nona Lysa," Hanna meman
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: 61. Pria Baik"Ki-Kita di ruang kesehatan," desisku. Tanganku menghentikan dadanya yang keras untuk menahan tubuh besar Rex dari upaya untuk menindihku. Dan dari segala upaya yang kupikir akan datang berikutnya."Justru bukankah ini salah satu fungsi ruang kesehatan?""Ha?""Birahi tidak boleh ditahan. Jika ditahan, kau menolak dirimu sebagai makhluk yang bernyawa. Dan kau bisa sakit."Belum sempat aku menanyakan sakit apa yang diderita jika nekat menahan birahi, Rex sudah kembali menciumiku.Aroma tubuhnya yang penuh dengan aroma kelaki-lakian bisa kuendus seluruhnya. Tubuhku yang terbaring di kasur ini sudah memanas. Aku menanti-nanti tangannya yang kasar untuk menjamahku.
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: 60. Bilik Kesehatan"Merasakan ... ku? Apa maksudmu?"Ia mengangkat daguku hingga aku mendongak. Wajahnya terlihat jelas. Rantai di lehernya menjadi merah muda. Angka berada di lima belas persen. Aneh. Aku bahkan tak punya banyak interaksi dengannya, tetapi mengapa bisa tiba-tiba meningkat drastis. Dan ... mengapa merah muda?Wajah kami dekat. Bibir kami bertemu. Aku terbelalak. Dia menciumku. Tunggu. Aku tidak berpakaian, dan dia tak memakai baju atasan ... dan kami berciuman di bilik ruang kesehatan!Lalu ciuman kami lepas. Mata kami bertemu. Mungkin aku memandangnya dengan penuh pertanyaan."Rasamu seperti bulan purnama."Ia membelai rambut perakku. Menggenggam sejumput yang menggantung di dekat bahu, lalu mengendusnya."Bulan. Aromamu seperti bulan.""Bulan? Aku tidak tahu kalau bulan itu punya aroma.""Punya. Ia beraroma sepertimu. Dan ... terasa sepertimu."Ia mengangkat daguku sekali lagi, dan menciumku. Jantungku berdegup kencang. Seluruh tubuhku terasa panas. Darahku bagai mendidih. Dan aku mera
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: 155. EpilogAkan ada kunjungan dari Prins Mikhail Durnovko dan Prinsessa Maria Durnovko. Kakakku bilang, mereka berdua sangat menyenangkan. Si kembar jenius. Aku memandangi diriku di depan cermin. Rambut hitam yang tersanggul rapi, mata hijau mirip punya ibu. Orang bilang aku gadis yang cantik dari kecil. Menurutku, Ibu lebih cantik. Elena si pelayan begitu sibuk menata bagian bawah gaunku. "Elena, sudah belum?" keluhku. Bibirku sudah merengut. "Sebentar lagi, Your Highness. Nah! Sudah selesai." Elena yang wajahnya berbintik dan berambut merah ikal sudah bangkit dari bawah rokku. Oh, apakah kalian bertanya siapa aku? Namaku Marisa Korzakov. Umurku enam tahun. Dan hari ini kami kedatangan tamu dari luar negeri. Ayah bilang mereka adalah sepupu kami. Kakak juga bilang mereka sangat asyik diajak main. Aku tidak sabar. Aku langsung meloncat dari panggung kayu kecil. Lalu berlari keluar dari kamar. Tak kuhiraukan teriakan Elena yang cemas dan melarangku untuk berlari-lari di dalam kasti
Last Updated: 2026-02-06
Chapter: 154. Tsar dan TsarinaEsok pagi telah tiba. Pasukan Alexey ternyata membuat kemah di sekitar pondok Madam Olga. Begitu mendadak. Yang paling terlihat kesal adalah Vadim. Sudah lama aku tak melihatnya, wajah yang kecut itu malah membuatku tertawa. Elena dan Sergei membantu mengepak semua barang-barang. Aku dan Alexey, juga Leon. Kami sudah siap untuk berangkat ke pelabuhan. Pulang ke Balazmir. Namun seseorang merasa terganjal di sini. Yuri. Kami semua sudah ada di depan pondok Madam Olga. Cuma Yuri yang terlihat tak bersemangat untuk pulang. “Yuri,” panggil Alexey. “Your Grace,” ia membungkuk hormat. “Kau sudah mengemas semua barangmu?” Ia mengangkat sebuah tas kumal yang isinya beberapa helai baju. Tas yang kulihat sewaktu kami bertemu dengannya di kapal feri pertama kali. “Kalau begitu ayo.” Namun kaki Yuri tak kunjung beranjak. Ia belum melangkah dari pagar depan rumah Madam Olga. Sedangkan wanita itu pun memandangi kami dengan sebuah rajutan menutupi bahunya. Pagi ini dingin. Ia ingin mengantar
Last Updated: 2026-02-05
Chapter: 153. Leon Korzakov"Nyonya! Dorong! Dorong!""Ngggghhhh!! Aaaakkkhh! Nghhh!"Elena terus berkomando. Sedangkan aku betul-betul susah payah untuk mengambil napas. Keringat bercucuran di sekujur tubuh. Kamar tidurku berubah menjadi kamar bersalin. Aku sudah merebahkan diriku di ranjang. Kedua kakiku mengangkang. Madam Olga dan Elena begitu berusaha keras membantuku. Rasa nyeri begitu luar biasa di bawah sana. "Apa seember ini cukup?" Sergei memotong teriakanku dengan muka bodohnya di bingkai pintu. Kami bertiga menoleh padanya. Kompak mendelik. Dia bikin aku kesal. "Taruh saja di situ! Sana pergi!" hardik Elena galak. "Ayo Nyonya! Dorong lagi!""Nghhhhh! Akkkkhhh!"Tiga puluh detik kemudian setelah aku mengejan, suara teriakan itu terdengar. Ia melengking memenuhi ruangan ini. Aku bisa mendengarnya. Rasa sakit ini, seluruh penantian ini ... terbayarkan. Ujung ekor mataku sudah dialiri air mata penuh haru."Nyonya! Bayinya laki-laki!" Elena
Last Updated: 2026-02-04
Chapter: 152. Puding CoklatAku mengamati benda itu, lama sekali. Gergaji kecil yang tak akan punya harapan untuk meloloskan siapapun dari jeruji besi tebal ini. Sofia yang tak sabaran kembali menegurku."Ada apa? Cepat potong besinya! Apa yang kau-.""Sofia, bolehkah aku bertanya sesuatu?""Apa?""Mengapa kau dulu menyiksaku? Mengapa kau dulu menyiksa ibuku?"Kami berdua bertatapan. Seakan gambaran masa lalu tengah bermunculan di antara kami. Kenangan-kenangan manis bersama. Aku masih tidak memahami mengapa aku dan dia berubah menjadi tragedi."Apa kau memang tidak pernah mencintaiku, Sofia?"Ia memegangi jeruji itu dan memandangiku nanar. Mungkin segala ingatan masa lalu berkelebat di kepalanya. Ia menggeleng."Aku mencintaimu, Alexey .... Aku pernah mencintaimu. Saat di perpustakaan itu, aku mencintaimu. Tapi ... sebelum kita menikah, aku mengetahui sesuatu yang lain.""Apa itu?""Apa kau tahu siapa yang membunuh ayah
Last Updated: 2026-02-03
Chapter: 151. GergajiAku tak tahu apa yang hendak Lenin berikan kepadaku. Namun aku diminta untuk menunggu. Aku bilang padanya, lusa atau tiga hari lagi aku akan langsung pulang ke Balazmir untuk mengatur segalanya. Jadi apapun itu, dia bisa mengirimkan kepadaku. Namun dia meyakinkanku bahwa aku akan mendapatkan benda itu sebelum pergi meninggalkan markas ini.Malam-malam saat aku baru saja terlelap, seseorang mengetuk pintu kamarku."My lord, Your Grace! Buka pintunya," seseorang mendesis dari balik pintu.Aku terpaksa bangun. Segera kupakai jubah tidur untuk membalut piyamaku. Kubuka pintu itu, kulihat Vadim berdiri di depan. "Ada apa?""Saya rasa ... mereka melakukan sesuatu.""Apa maksudmu?"Belum sempat Vadim menjawab, samar-samar kami dengar suara teriakan dari kejauhan. Aku dan Vadim saling memandang. "Ayo. Sebaiknya kita cari tahu."Kami menyusuri lorong-lorong wastu yang masih gelap. Mungkin ini tengah malam.
Last Updated: 2026-02-02
Chapter: 150. LeninSehat, bugar, bahkan terlihat lebih baik dari sebelumnya.Aku memandang dingin Sofia Romanov. Entah mimpi buruk apa yang menyertaiku akhir-akhir ini. Sudah tiga hari aku berada di tempat ini, di markas Yekatrinov bersama Lenin, anak buahnya, dan Sofia Romanov.Berbeda dari bayanganku, kukira dia akan bernasib sama dengan Tsar Nikolai dan keluarganya. Jadi tahanan rumah berbulan-bulan, makan makanan yang menyedihkan dan cuma pakai garam. Tidak. Sofia Romanov begitu hidup. Bahkan sepertinya lebih bahagia dari saat ia masih di istana Musim Dingin Santo Peterkov. Di sini, dia seperti burung yang dibiarkan begitu bebas. Bebas pergi kemana pun yang ia mau. Bebas melakukan segala hal yang ia inginkan. Bahkan ia juga dikawal oleh pengawal-pengawal amatiran milik Lenin. Kudengar juga segala yang ia inginkan dikabulkan oleh Lenin. Minta gaun-gaun cantik, perhiasan dan lainnya. Segalanya dituruti. Entah pria botak itu menjarah, merampok rumah bangsawan mana hingga i
Last Updated: 2026-02-01
Chapter: 119. Bunga Seribu TahunDitrian langsung menerobos ke dalam tenda. Ada beberapa orang di sana."Sheira! Sheira!" pekik Ditrian. Ia langsung menghampiri istrinya yang telah terbujur kaku di atas ranjang. Ditrian memeluk dan memegang tangannya. "Apa yang terjadi?! Sheira! Bangunlah! Aku disini, Sheira!"Ditrian tak bisa membendung kesedihannya. Ia menangis sambil memeluk jasad Sheira. Ia menangis begitu memilukan. Tidak pernah ada seorang pun yang melihat pria itu menangis. Tidak ada. Namun di hari itu ... Ditrian begitu merana. Ia membelai rambut emas Sheira, memanggil-manggil namanya begitu putus asa.Semua yang ada di ruangan itu sangat berduka."Apa yang telah terjadi padanya? Apa yang telah terjadi pada istriku?!" tanyanya tanpa bisa menahan air mata.Dokter pun maju, berusaha menjelaskan sebisa mereka."Y-Yang Mulia ... kami benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada Yang Mulia Ratu. Sesaat beliau hanya terlihat kelelahan. Tapi kemudian tiba-tiba beliau panas tinggi hingga kejang-kejang. Kemudian ... b
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: 118. PertarunganKeesokan harinya, setelah matahari terbit, semua orang telah bersiap di pos mereka masing-masing. Ditrian menggenggam tangan Sheira di atas bukit pegunungan, raja-raja juga berada di sana. Mereka bisa memandangi keseluruhan lembah medan perang. Pasukan masing-masing kerajaan telah siap di lembah itu.Para Dwarf entah bagaimana membawa segala peralatan dan teknologi mereka dari balik gunung. Siapa yang tahu ternyata mereka punya terowongan penguhubung ke gunung ini. Para Elf membawa kuda-kuda perang berhias mereka dengan angin. Begitu ajaib, muncul tiba-tiba di lembah berumput hijau, siap berbaris langsung. Sedangkan kerajaan manusia lain, sekaligus beberapa manusia penyihir sudah berkemah dari beberapa hari yang lalu. Sementara pasukan Direwolf tidur di kemah-kemah di pegunungan. Mudah bagi mereka untuk menuruni bebatuan pegunungan ini dengan wujud Direwolf-nya. Bukan masalah. Semuanya sudah siap di subuh ini. Nampaknya pihak kekaisaran juga pasti telah mendapat berita soal perang.Ut
Last Updated: 2026-02-09
Chapter: 117. AliansiDitrian telah menceritakan segalanya. Soal pernikahannya, soal Evelina. Ia membawa kembali Sheira ke ibukota. Sedangkan Everon, dengan berat hati ia patuh untuk tetap membangun wilayah Galdea Timur dan menetap di sana. Everon patah hati. Namun ... dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.Sementara itu, di antara kemelut dan tragedi meninggalnya Evelina von Monrad dan Duke Gidean von Monrad di dalam istana, pernikahan mereka tetap dilaksanakan. Sheira von Stallon telah dinobatkan menjadi ratu dari Kerajaan Canideus. Kemudian Fred yang telah dibebaskan menyelidiki penyebab tindakan bunuh diri dan dari mana Evelina mendapatkan ramuan sihir pencekik itu. Setelah dilakukan penyelidikan, ditemukanlah bahwa ini ada campur tangan dengan Kaisar Alfons. Termasuk ketika anak dalam kandungan Sheira gugur. Duchess Anna yang telah kehilangan kewarasannya selalu mengatakan hal itu berulang-ulang, berkali-kali dengan sumpah serapah."Apakah bagi Anda ini adalah masalah pribadi, Raja Ditrian?"Ditrian meng
Last Updated: 2024-11-29
Chapter: 116. TamanPadang rumput di sini begitu luas dan tenang. Lebih indah daripada yang ada di kerajaan Canideus. Sepuluh orang ksatria Direwolf menyertai Raja Ditrian von Canideus.Raja yang telah dengan sengaja membatalkan pernikahannya sendiri. Mereka berangkat subuh-subuh, berangkat diam-diam dari istana tanpa membuat keributan, tanpa seorang pun tahu akan kepergian mereka. Meski pun begitu, Ditrian sudah meninggalkan surat perintah pembatalan pernikahannya. Mereka kini beristirahat di tengah perjalanan menuju ke Galdea Timur.Seorang di antara mereka menghampiri Ditrian. Ia menyerahkan sebuah surat."Yang Mulia ... ada pesan dari istana."Ditrian membuka gulungan surat itu. Pastilah burung merpati dari istana terbang menyusul rombongan mereka.Sebuah kabar yang mungkin tak diduga oleh Ditrian. Sudah tiga hari ia dan rombongannya meninggalkan istana. Katanya, Evelina von Monrad, Regina istana meninggal bunuh diri meminum racun. Duke Gidean von Monrad wafat karena mengalami sakit jantung. Duchess A
Last Updated: 2024-11-28
Chapter: 115. KebahagiaanPara bangsawan sudah bersuka cita. Mereka telah membawa perasaan itu ketika berangkat dari rumah. Meskipun mendadak, kabar pernikahan Raja Ditrian dan Lady Evelina von Monrad, anak Duke Gidean von Monrad yang tersohor akan dilaksanakan. Kabar itu menyebar sangat cepat bagai lumbung gandum yang dilalap api. Mereka sudah bersiap dan duduk dengan khidmat di kursi aula. Dekorasi istana hari ini bernuansa biru tua dan emas. Juga bendera-bendera Kerajaan Canideus yang berlambang serigala menganga sudah dipasang.Di luar istana, rakyat juga tak kalah heboh. Nampaknya seluruh jalanan begitu ramai karena mereka pun ikut merayakannya. Festival-festival dan hiburan rakyat membuat hari ini kian riuh. Pontifex sudah bersiap di altar, hendak memberkati pernikahan mereka berdua.Termasuk Lady Evelina. Ia sudah cantik, mempesona luar biasa. Wajahnya dirias begitu elok. Rambut coklatnya tersanggul menawan dengan sebuah tudung transparan menutupi wajahnya. Ia menggenggam seikat bunga berwarna putih. Dia
Last Updated: 2024-11-27
Chapter: 114. SophiaBeberapa hari ini Evelina begitu bahagia. Setiap malam, setiap hari, ia selalu bisa melihat Ditrian. Evelina kian terbuai dengan kisah kasih bersama pujaan hatinya itu. Raja Ditrian von Canideus yang gagah perkasa dan rupawan. Ini semua bagaikan mimpi bagi Evelina. Dia tidak pernah mengira jika angan-angannya sejak dulu akhirnya terwujud. Apalagi, mereka selalu bercinta, hingga Ditrian menjanjikan jika suatu hari nanti mereka akan mempunya anak. Evelina pun yakin akan itu. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya. Benih-benih dari Ditrian sudah berada di dalam tubuhnya.Setiap malam mereka memadu kasih. Begitu romantis, bergairah dan bernafsu. Ini yang membuatnya semakin tidak akan pernah melepaskan Ditrian. Namun ia juga sadar, jika ini hanyalah sebuah kepalsuan. Evelina paham betul, hal yang begitu hebat mengubah hati Ditrian adalah karena setetes ramuan ini. Ramuan cinta dari Kaisar Alfons. Ia tengah memikirkannya, botol itu yang ada di kotak rahasia berlapis beludru.Botol merah
Last Updated: 2024-11-26