Chapter: 15. Shava-sadhanaBrajawuni mengerutkan dahi sejenak, lalu mendengkus kasar hingga darah memercik dari bibirnya."Rudha?" Brajawuni menatap lelah Sudamani. "Kau menanyakan nama itu padaku? Sudamani, ada berapa ribu prajurit dan perwira di Jawadwipa ini dengan nama itu? Rudha yang mana?! Apakah maksudmu Rudhapala si pandai besi dari timur? Rudhantara senopati tua yang diasingkan itu? Atau sekadar kawan seperguruanmu yang bernama Rudhaksa?" Brajawuni terbatuk-batuk, namun matanya memancarkan ejekan yang tajam. "Itu nama pasaran, Bangkai! Telik sandiku tidak mengurusi nama prajurit kroco!"Brajawuni menatap sepasang mata kelam Sudamani yang juga tampak bingung. Sang Senopati Wangsa Merah tiba-tiba menyadari sesuatu yang sangat ironis, dan tawanya kembali menggema."Kau bahkan tidak tahu Rudha yang kau cari itu yang mana, kan?" Brajawuni menyeringai lebar, menatap sang senopati mayat dengan binar meremehkan. "Dulu kau dikenal sebagai senopati dengan siasat paling tajam di Hastangkara. Akalmu lebih berbah
Last Updated: 2026-11-01
Chapter: 14. Teluh Braja"Sepakat.” Sudamani sedikit melonggarkan tekanan ujung pedangnya, memberi ruang pada jakun musuhnya untuk bergerak. "Sekarang katakan.”Brajawuni tersenyum getir, menahan nyeri di rusuknya yang melesak."Janji seorang senopati yang raganya sudah membusuk tak ada harganya, Sudamani," Brajawuni mendengkus. Ia melirik sisa pecahan guci tanah liat tak jauh dari kepalanya yang masih menampung genangan minyak Teluh Geni. "Siram aku dengan lengo pati itu sekarang. Basahi tubuhku, baru aku akan bersuara. Aku tak sudi mati lalu membuka mata sebagai anjingmu."Sudamani menatapnya jengkel tapi tidak membantah. Dia memutar langkah, menendang guci tanah liat yang retak itu dengan ujung terompahnya.Guci itu melayang dan menghantam telak dada Brajawuni. Prak!Tanah liat itu hancur berkeping-keping. Minyak lengo pati kental berwarna pekat tumpah seketika, memercik ke leher, wajah, dan mengguyur dada sang Senapati. Cairan berbau tajam belerang itu mengalir deras, meresap menembus celah zirah peru
Last Updated: 2026-10-27
Chapter: 13. KesepakatanBrajawuni menyeringai. Darah kental menetes dari sela bibirnya saat ia memaksakan sebuah tawa mengejek, lalu meludah tepat ke pergelangan kaki Sudamani."Setidaknya aku bertarung sebagai laki-laki yang hidup, Bangkai. Aku belum mati sepertimu. Dan yang paling menghinakan, bahkan kematian menolakmu." Brajawuni terkekeh sengau, dadanya berderit ngilu di bawah tekanan kaki musuhnya. Alih-alih terpancing amarah, raut wajah Sudamani tetap tenang. Dia justru mencondongkan tubuhnya ke bawah, menindih dada musuhnya semakin kuat."Katakan padaku, Brajawuni. Siapa yang membunuhku? Siapa yang menggantung leher empat ribu pasukanku di dahan randu dan beringin Lembah Rawa malam itu?"Brajawuni mengerutkan dahi. Ringisan perih di wajahnya seketika tergantikan oleh tatapan bingung."Kau ... tidak ingat bagaimana caramu mati?" Tawa sengau Brajawuni kembali menggema.Sudamani menekan ujung Bilah Jagal sedikit lebih dalam ke urat leher lawannya. "Jika aku ingat, pedang ini sudah memutus napasmu seja
Last Updated: 2026-10-24
Chapter: 12. Resi Beraliran SesatDengan raungan panjang, Brajawuni melompat dari ketinggian dua tombak. Berat zirah perunggu dan gaya tolaknya menyatu dalam satu tebasan api vertikal yang mematikan.Sadar raga matinya akan hancur menjadi abu jika tersentuh api belerang, Sudamani tidak menangkis serangan itu secara langsung. Ia bergeser ke samping dengan kecepatan yang mustahil dicapai oleh manusia hidup bernapas.BRAAAK!Bilah pedang api Brajawuni menghantam pelataran cadas hingga retak. Pecahan batu dan percikan minyak menyala terlempar ke udara. Menerangi pelataran batu itu dengan beberapa titik nyala api kecil.Belum sempat Sudamani menyeimbangkan posisi, Brajawuni memutar tubuhnya dengan buas. Pedangnya menyapu mendatar setinggi leher. Sudamani menunduk cepat, hawa panas menyengat berbau gosong.Trang!Sudamani mengangkat Bilah Jagal, menahan tebasan susulan Brajawuni. Bunga api meledak di udara.Benturan keras dari pusaka itu menyentak lengo pati yang menempel lengket pada pedang Brajawuni. Titik-titik gumpa
Last Updated: 2026-10-22
Chapter: 11. Pasukan Berbau BusukMereka tidak tahu bahwa di luar sana, dalam kegelapan yang tak tersentuh cahaya api, sepasukan algojo telah menunggu dengan sabar.Kraaak!Kuda terdepan yang dipacu kencang mendadak menghantam dadung rami—tambang tebal yang sengaja dibentangkan oleh para mayat setinggi dada kuda.Kuda-kuda terjungkal, melemparkan penunggangnya hingga menghantam bebatuan cadas. Barisan pelarian itu jatuh bergulingan, bertumpuk menjadi erangan kesakitan di tengah jalan setapak.Sebelum mereka sanggup merangkak bangun sembari memegangi tulang rusuk yang memar, bayangan-bayangan hitam muncul dari balik semak belukar.Tangan-tangan dingin mencengkeram rahang dan ubun-ubun para prajurit yang terjatuh itu dari arah belakang.Krak. Krak. Krak.Bunyi tulang leher yang dipatahkan terdengar beruntun, rapi, dan mematikan di sepanjang jalur pelarian itu. Sudamani berdiri tenang, menghitung tumpukan mayat musuh yang terus bertambah di kiri-kanannya. Tangan kirinya membelai surai kuda bangkainya, lalu ia mulai me
Last Updated: 2026-10-21
Chapter: 10. Taktik SudamaniMenepi ke lereng jurang. Mengendap di jalur turun. Tunggu mereka membukakan jalan.Titah batin itu ditujukan ke Bala Suwung yang berdiri menanti di batas bayang-bayang asap.Barisan itu membelah diri. Mereka menyebar layaknya kabut hitam, merayap menuruni lereng-lereng tebing di sekitar jalan setapak, bersembunyi sempurna di balik semak belukar dan pepohonan jati yang tak tersentuh api.Sudamani menurunkan Bilah Jagal dari bibirnya. Matanya menatap lekat ke arah gerbang kayu jati raksasa Benteng Watu Ireng.Dari tempatnya berdiri, ia bisa mendengar dengan jelas teriakan histeris yang bersahut-sahutan dari dalam pelataran benteng. Kepanikan tak terkendali.Dalam seni perang yang ia pelajari semasa hidupnya, Sudamani sangat memahami satu hukum mutlak: sepasukan prajurit yang terpojok di ruang sempit akan bertarung layaknya harimau luka—mati-matian dan membabi buta.Jika ia memerintahkan pasukannya mendobrak masuk sekarang, akan terjadi baku hantam yang kacau di pelataran dalam benteng.
Last Updated: 2026-10-17

Ibu Susu untuk Bayi Gaib
Sebuah kisah gelap tentang keputusasaan, kengerian, dan harga sebuah keibuan
Tini, ibu muda berusia 19 tahun, terpaksa menerima tawaran menjadi ibu susu di rumah Joglo mewah milik Nyonya Arini. Keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Di balik kemegahan ukiran kayu jati dan aroma melati yang memabukkan, tersimpan rahasia kelam tentang keluarga ningrat yang terobsesi memiliki keturunan. Saat Tini menyadari bahwa bayi yang harus disusuinya tak seperti bayi pada umumnya, ia sudah terlanjur terikat kontrak mistis yang tak bisa dibatalkan.
Kisah horor Jawa ini akan membawa pembaca menyusuri lorong-lorong gelap rumah Joglo, menghadapi pertanyaan mengganggu tentang makna keibuan, dan harga yang harus dibayar untuk memenuhi tuntutan masyarakat akan kehadiran seorang anak.
---
"Setiap wanita memiliki lukanya sendiri. Jangan tambah dalam dengan pertanyaan yang tak perlu."
Sebuah pengingat bahwa di balik senyum sopan dan jawaban klise "belum rejeki" dari mereka yang belum dikaruniai anak, mungkin tersimpan kepedihan dan pergulatan batin yang tak pernah kita pahami. Novel ini mengajak kita merefleksikan kembali sensitivitas dalam berinteraksi dengan sesama, terutama terkait isu kesuburan dan keibuan yang begitu personal.
Dilarang menjiplak, mengambil sebagian scene ataupun membuatnya dalam bentuk tulisan lain ataupun video tanpa izin penulis. Jika melihat novel ini diplagiat, tolong lapor ke Ig/fb: @hayisaaaroon. Terima kasih, selamat membaca, semoga menghibur dan bermanfaat.
Read
Chapter: 54. TamatEsok hari, matahari baru saja naik setinggi tombak saat Nyonya Arini, Tuan Ario yang semakin sehat, dan Mbah Kiai berangkat ke rumah sakit kota. Mereka menggunakan mobil sedan hitam yang dikemudikan sopir. Ario duduk di jok belakang bersama istrinya, tangannya menggenggam tangan Arini. Sesekali ia melirik wajah istrinya yang diam—Arini sejak pagi tampak gelisah, seperti ada yang mengganggunya.Bayi setan itu, pikir Ario. Dia meninggalkannya di rumah. Pasti berat.Tapi ia tidak bertanya. Ia hanya menggenggam tangan istrinya lebih erat, memberikan kekuatan tanpa kata.Sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang perawatan di lantai dua. Perawat membimbing mereka melalui koridor panjang yang dindingnya dicat hijau muda, lantai teraso yang mengkilap memantulkan cahaya lampu neon.Di ruang perawatan nomor 207, Ibu Tuan Ario terbaring di tempat tidur besi dengan seprei putih bersih. Tapi pemandangan yang menyambut mereka membuat Arini miris, memberinya gambaran tentang akhir hidup
Last Updated: 2025-11-03
Chapter: 53. Bayi Gaib Nyonya AriniArini mengusap air mata dengan sapu tangan, lalu menarik napas dalam. Ia berjalan anggun ke arah gerbang, langkah tegap, punggung tegak, kepala sedikit terangkat. Sesekali ia tersenyum saat berpapasan dengan warga, senyuman tipis yang sopan.Ario memperhatikan istrinya dari kursinya. Bagi orang lain, Arini tampak seperti orang wajar, tuan rumah yang ramah, perempuan anggun yang sedang memastikan tamu-tamunya nyaman.Tapi Ario yang sudah bertahun-tahun hidup dengan Arini, yang melihat perempuan itu di saat-saat tergelapnya, tahu betul. Ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan di bahu Arini. Ada kepalsuan dalam senyuman itu.Arini berjalan ke seberang jalan … melintasi jalan tanah yang berdebu, menuju pohon asam besar yang rindang.Ia tidak bisa membiarkan bayi itu di sana sendiri. Bagaimanapun juga, sosok lain dari dunia sana bisa mengambilnya, makhluk halus yang mencari mangsa lemah. Dan mungkin mereka akan melakukan hal buruk pada bayi itu.Bagaimanapun ... itu anaknya.Sekali lagi i
Last Updated: 2025-11-02
Chapter: 52. Menggoda Keteguhan AriniTini terbangun, terdiam, bingung. Matanya berkedip perlahan—satu kali, dua kali—mencoba menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Pandangannya berputar. Tubuhnya lemas sekali. Setiap otot terasa berat, setiap napas terasa seperti membutuhkan usaha besar.Rasanya seperti baru bangun dari mimpi yang sangat melelahkan, mimpi yang terasa terlalu nyata.Telinganya mulai menangkap suara-suara di sekitar. Suara Sari masih menangis, tapi tidak lagi tangisan keras yang memilukan, hanya sesenggukan di bahu Anthony sebelah kanan. Tini berkedip lagi, pelan. Hidungnya mulai mencium—aroma parfum khas Anthony, parfum Paris yang mewah dan maskulin, yang dulu sering ia cium saat bekerja di rumah keluarga Anthony. Dan ada aroma lain—bau bunga melati, bau masakan, bau-bau khas orang hajatan.Hajatan?Otaknya berusaha memproses, tapi terlalu lelah.Anthony yang pertama menyadari. Ia merasakan tubuh di pelukannya bergerak—sedikit saja, tapi cukup membuatnya bukan main senang. Napas yang
Last Updated: 2025-11-01
Chapter: 51. Jalan PulangSementara itu, di dunia lain—dunia yang temaram meski siang hari—Tini berjalan bergandengan tangan dengan Ario di jalanan yang diapit pepohonan tinggi dan lebat. Pohon-pohon itu tidak bergerak, seperti lukisan yang diam. Tak ada angin.Tiba-tiba, ia mendengarnya—samar tapi jelas. Suara gending. Kaki Tini berhenti. Ia menoleh ke belakang, mencari sumber suara."Siapa yang menikah?" tanyanya pada Ario.Ario tersenyum—senyuman yang tenang, yang meyakinkan. "Warga kampung sebelah. Ayo kita lanjut. Sedikit lagi sudah sampai."Ia menunjuk ke depan. Di sana, suasana semakin suram seperti siang dengan matahari terhalang mendung tebal. Di depan mereka, sebuah gapura tua berdiri megah, gapura batu yang ditumbuhi lumut, dengan ukiran naga dan makhluk-makhluk aneh di sisi kanan kirinya. Gapura itu seperti pintu menuju dunia lain.Tapi sebelum mereka sampai ke gapura, Tini terkejut.Ibu Tuan Ario berjalan keluar dari balik gapura, menggandeng dua cucu laki-lakinya di kanan dan kiri, yang bayi dig
Last Updated: 2025-10-31
Chapter: 50. Seseorang yang Lebih Berhak Menyebut IstriMbah Kiai menatap ibu Tini yang masih menangis di samping tempat tidur. "Bu Tumirah, saya minta izin. Karena Tini sudah menggantikan Arini sebagai istri, dia harus punya seseorang yang lebih berhak menyebutnya istri."Tumirah menatap Mbah Kiai dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya pada Mbah Kiai."Apa saja, Mbah," ucapnya pelan dengan suara parau. "Asal Tini bisa kembali. Asal dia bisa hidup."Mbah Kiai mengangguk. "Insya Allah."Fajar itu, semua orang tidak lagi tidur. Semuanya sibuk menyiapkan upacara pernikahan yang sederhana tapi sakral—sesuai syariat Islam, tapi juga adat Jawa tidak ketinggalan.Istri Mbah Kiai dan anak-anak perempuannya memandikan tubuh Tini yang masih tidak sadarkan diri dengan air mawar dan melati. Mereka memakaikan kebaya pengantin berwarna putih gading, kebaya milik anak perempuan Mbah Kiai yang baru saja menikah beberapa bulan lalu.Kain batik motif khusus untuk pengantin dililitkan dengan rapi. Sanggul tinggi dibentuk den
Last Updated: 2025-10-30
Chapter: 49. Menggantikan AriniTuan Ario melangkah mendekat. Setiap langkahnya lambat, tatapan menghipnotis.Tini ingin mundur. Seharusnya ia mundur, menutup pintu, berteriak memanggil ibunya. Tapi tubuhnya tidak menurut. Ia hanya berdiri di sana, terpaku, menatap sosok yang semakin mendekat.Ario berhenti tepat di depannya, begitu dekat sampai Tini bisa mencium wangi tubuhnya yang memabukkan. Bukan bau obat-obatan atau perban seperti pasien biasa, tapi aroma manis yang membuat kepala Tini mulai berkabut.Jemarinya terangkat perlahan, menyentuh bibir bawah Tini dengan sangat lembut, sentuhan yang membuat seluruh tubuh Tini bergetar. "Kau mau ikut denganku, Tini?"Tini tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Ia hanya bisa menatap mata kelam itu—mata yang seperti jurang tanpa dasar, yang menariknya masuk, menjanjikan kedalaman yang menakutkan sekaligus penuh rasa penasaran."Ikut denganku, Tini, " bisik Ario, tangannya turun dari bibir, menelusuri garis rahang dengan sentuhan sehalus bulu. "Ke tempat di mana tidak ada y
Last Updated: 2025-10-29