Sang Penata Rias

Sang Penata Rias

last updateTerakhir Diperbarui : 2022-05-08
Oleh:  Juni SariOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
7 Peringkat. 7 Ulasan-ulasan
55Bab
4.1KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Sinopsis

Kisah ini bermulai dari pertemuan seorang gadis bernama Jaeryn Salim yang sedang mengejar impiannya menjadi seorang penata rias, dan seorang solois terkenal bersuara emas serta berpenampilan nyaris sempurna bernama Geraldy Pratama di agensi Horas Entertaiment. Saat itu agensi sedang sangat membutuhkan seorang penata rias untuk Geraldy, karena penata rias sebelumnya mendadak resign. Hal seperti ini tidaklah asing, telah banyak penata rias sebelumnya yang resign karena merasa diteror hal mistis saat berdekatan dengan Geraldy. Geraldy sendiri memang memiliki kemampuan gaib seperti telekinesis yang ia dapat dari almarhum ayah kandungnya. Karena kepepet, Jaeryn yang belum punya pengalaman pun berhasil diterima karena mengajukan lamaran di saat yang tepat. Setelah bekerja sama dengan Geraldy, Jaeryn juga memiliki pikiran untuk resign. Alasannya pun dikarenakan Jaeryn terus dihantui berbagai hal mistis. Ditambah lagi, sikap Geraldy yang kerap kali membuat Jaeryn binggung. Terkadang Geraldy dingin dan aneh, tetapi ia juga perhatian. Hal ini membuat Jaeryn kehabisan akal ketika menghadapi sikap Geraldy yang berubah-ubah. Namun demi mimpinya, Jaeryn tetap berusaha melanjutkan karirnya. Apalagi Jaeryn turut kecipratan ketenaran seorang Geraldy. Selama bekerja sama dengan Geraldy, Jaeryn perlahan-lahan mengetahui rahasia di balik keanehan Geraldy. Bahkan aib keluarganya yang tidak Jaeryn ketahui seutuhnya turut terkuak.

Lihat lebih banyak

Bab 1

BAB 1 - BERAWAL DARI MIMPI

Gavin Lysandros, mematikan mesin mobilnya di garasi rumah mewahnya yang berada di kawasan elit Menteng. Jam tangan mahalnya menunjukkan pukul 10 malam. Seharusnya, saat ini ia masih berada di Singapura menghadiri rapat direksi. Tapi, kejutan ulang tahun untuk sang istri lebih penting dari apapun.

Dengan kue ulang tahun di tangannya, ia melangkah tanpa suara, memasuki rumah, menaiki tangga hingga ke lantai dua. Saat tiba di depan pintu kamar utama, ia mematung. Samar-samar terdengar desahan dari dalam.

"Ah ... Daniel ... Kamu begitu gagah perkasa. Gavin tidak pernah bisa memuaskanku seperti ini." Suara Bella terdengar dengan jelas.

Lima tahun menikah, Gavin memang terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

"Di ranjang pun dia payah ... loyo ... tidak bisa membuatku puas," lanjut Bella di sela-sela desahan.

"Nyonya Bella memang butuh pria jantan seperti saya ...." Suara Daniel, sopir pribadi yang sudah ia percaya selama tiga tahun, membuat darah Gavin mendidih.

"Mmhh ... ya ... Gavin terlalu lembut. Aku butuh yang kasar ... yang bisa mendominasi." Bella terdengar mendesah. "Aahhh ... begitu Daniel ... lebih keras, Sayang ... Ah ... Ah ...."

BRAKK!

Gavin menendang pintu kamar hingga terbuka. Kue ulang tahun di tangannya kini sudah terhempas ke lantai. Pemandangan di depannya membuat matanya gelap oleh amarah. Bella dan Daniel tersentak kaget, buru-buru menarik selimut menutupi tubuh polos mereka.

"Ga-Gavin?" Wajah Bella pucat pasi. "Sayang ... ini tidak—"

"DIAM!" Gavin mengaum, matanya menatap nyalang. "Jadi ini kelakuanmu dibelakangku? BERCINTA DENGAN SOPIR DI RANJANG KITA?!"

Daniel bergerak panik. Tangannya gemetar ketakutan, buru-buru mengambil pakaiannya. "Ma-maaf, Pak ... saya—"

"KELUAR!" Gavin menyambar vas bunga dan melemparnya ke arah Daniel. Vas itu pecah berkeping-keping di dinding. "KELUAR SEBELUM KUHABISI KAU!"

Daniel langsung kabur dengan celana setengah terpasang.

"Gavin ... dengarkan aku ...." Bella yang masih berbalut selimut mencoba meraih tangan suaminya. "Aku begini karena kesepian. Kamu selalu sibuk."

"Kesepian?" Gavin tertawa dingin. "Kamu bilang aku loyo? Tidak bisa memuaskanmu?" Ia mencengkeram rahang Bella. "Katakan di depan wajahku, Bella. KATAKAN!"

"Lepaskan!" Bella menjerit ketakutan. "Kau menyakitiku!"

"Menyakitimu?" Gavin melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Bagaimana dengan hatiku yang kau hancurkan? Lima tahun, aku selalu setia padamu, berusaha pengobatan agar kau bisa segera hamil. Tapi, ternyata bukan anak yang kau butuhkan ... hanya NAFSU!"

"Ya! Aku butuh nafsu! Aku butuh gairah!" Bella balas berteriak. "Kau terlalu sibuk dengan perusahaanmu! Bahkan saat kita bercinta, pikiranmu entah kemana!"

Gavin terdiam. Matanya menyorot tajam penuh kebencian. "Kau ingin nafsu? Gairah?" Dia membuka dasi dengan gerakan kasar. "Baik. Malam ini aku akan mencari wanita yang bisa kuhancurkan seperti kau menghancurkan kepercayaanku."

"Gavin! Kau mau kemana?" Bella mencoba mengejar, tapi Gavin sudah menuruni tangga dengan langkah menghentak.

"Jika kau berselingkuh, aku juga akan melakukan hal yang sama!" Gavin berhenti sejenak tanpa menoleh. "Kau harus merasakan apa yang aku rasakan!"

"Ti-tidak, Gavin! Kau tidak boleh mencari wanita lain!" Bella berteriak di ambang pintu. Namun, Gavin tak memedulikan teriakan istrinya itu. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menembus malam Jakarta.

Setengah jam kemudian, ia sudah duduk di sudut Platinum Bar, bar paling eksklusif di kawasan jakarta. Gelas ketiga wiski di tangannya masih belum bisa menghapus pemandangan menjijikkan di kamarnya.

"Malam yang berat, Tuan Gavin?" Sebuah suara anggun menyapa. Madam Rose, mucikari terkenal di kalangan elit Jakarta, duduk di sebelahnya dengan senyum menggoda.

"Aku butuh wanita malam ini." Gavin meneguk wiskinya. "Yang masih perawan. Yang bisa kuhancurkan!"

"Kebetulan sekali, Tuan ...." Madam Rose mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto seorang gadis muda yang polos. "Saya punya barang baru. Masih murni. Dijamin bisa membuat Tuan melupakan masalah."

Gavin menatap foto itu dengan mata berkabut alkohol. "Kirim ke kamar 1808 Grand Hyatt. Satu jam lagi."

Madam Rose tersenyum penuh kemenangan. "Baik, Tuan. Tapi, tentu saja tidak murah."

"Gampang! Aku akan bayar berapapun yang kau mau, asalkan benar dia masih perawan!"

Satu jam kemudian ....

Livia, gadis cantik bermata hazel, berdiri gemetar di depan pintu kamar sebuah hotel. Ia mengenakan gaun hitam pendek, pilihan Madam Rose. Riasan wajahnya tidak bisa menyembunyikan sorot ketakutan di matanya.

"Masuk!"

Suara berat itu membuatnya terlonjak. Gavin Lysandros, duduk di sofa dengan segelas wiski di tangan. Jasnya tersampir sembarangan, dua kancing teratas kemejanya terbuka. Matanya yang merah karena alkohol menatap Livia dengan tajam.

"Berapa umurmu?" tanya Gavin dingin.

"Du-dua puluh tiga, Tuan." Livia menjawab lirih.

"Jangan panggil aku Tuan." Gavin meneguk wiskinya. "Apa kau benar-benar masih perawan?"

Livia mengangguk pelan, tangannya meremas ujung gaunnya.

"Mendekatlah."

Dengan langkah ragu, Livia mendekat. Aroma parfum mahal bercampur wiski langsung menguar dari tubuh Gavin. Tanpa peringatan, pria itu menarik tangan Livia hingga jatuh ke pangkuannya.

"Tu-tuan ...." Livia mencoba memberontak.

"Kubilang jangan panggil aku Tuan!" Gavin mencengkeram dagunya. "Panggil aku, Gavin!"

Mata mereka bertemu. Tanpa bicara, Gavin mendekatkan wajahnya, mencium Livia dengan kasar. Rasa wiski langsung memenuhi mulut Livia.

"Mmhh ...." Livia mengerang tertahan saat bibir Gavin turun ke lehernya yang jenjang. Tangannya yang kuat meremas pinggul Livia.

"Kau cantik." gumam Gavin di antara ciumannya. "Terlalu cantik untuk dijual."

Air mata Livia mulai menetes. "Sa-saya butuh uang untuk—"

"Sshh ...." Gavin menghentikan kata-katanya dengan ciuman lagi. "Aku tidak ingin dengar alasanmu. Malam ini ... kau milikku."

Gavin mengangkat tubuh mungil Livia dengan mudah, membawanya ke ranjang king size. Gaun hitam itu segera terlepas, menyisakan tubuh polos yang gemetar.

"Jangan takut." bisik Gavin, untuk pertama kalinya suaranya terdengar lebih lembut. Tangannya mengusap air mata di pipi Livia. "Aku akan pelan-pelan ...."

"Ta-tapi, Tuan. Bisakah Anda memakai pengaman terlebih dahulu?"

"Aku mandul. Kau tidak akan hamil!"

Tanpa ba-bi-bu, Gavin langsung melancarkan aksinya. Tangan wanita berparas cantik itu meremas sprei dengan kuat saat ia merasakan sesuatu yang mendesak masuk ke area intinya. Gavin memperlakukannya dengan campuran kasar dan lembut yang membingungkan.

Malam itu, di kamar 1808, Livia memberikan segalanya pada Gavin.

Saat akhirnya selesai, Livia berbaring memunggungi Gavin, air matanya mengalir tanpa suara. Rasa sakit dan perih yang ia rasakan tidak seberapa dibanding rasa sesak di dadanya. Kesucian yang selama ini ia jaga, telah rusak oleh pria yang bahkan tidak ia kenal sama sekali.

"Kau menangis?" Gavin bertanya dengan suara serak.

Livia menggeleng pelan, tapi bahunya yang bergetar menunjukkan kebohongannya.

Gavin menghela nafas panjang. Tangannya terulur, menarik Livia ke dalam pelukannya. "Maaf," bisiknya. "Aku terlalu kasar."

"Tidak apa-apa." Livia menjawab lirih. "Ini ... ini memang sudah tugas saya."

"Tugas?" Gavin tertawa getir. "Kau terlalu polos untuk pekerjaan ini."

Mereka terdiam beberapa saat. Deru AC menjadi satu-satunya suara yang terdengar di kamar tersebut.

"Di laci nakas ada amplop untukmu," ujar Gavin akhirnya. "Itu hanya bonus."

Livia mengangguk pelan, masih dalam pelukan Gavin.

"Setelah ini ...." Gavin melanjutkan, "carilah pekerjaan yang lebih baik. Kau ... kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari ini."

Tak lama kemudian, Gavin tertidur karena pengaruh alkohol. Livia perlahan melepaskan diri dari pelukannya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil amplop dari laci nakas.

Sepuluh juta. Livia segera memasukkan uang tersebut ke dalam tasnya.

Air matanya menetes lagi saat mengambil gaunnya yang tercecer di lantai. Sambil menahan rasa sakit, ia berpakaian dan berjalan tertatih ke pintu.

Sebelum keluar, Livia menoleh sekali lagi pada sosok Gavin yang tertidur. Baru saja tangannya meraih gagang pintu, suara Gavin kembali terdengar, "tunggu ... siapa namamu?

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasanLebih banyak

X-b1gz
X-b1gz
hebaaaaattt
2022-05-26 23:05:58
0
0
X-b1gz
X-b1gz
mantaaappp
2022-05-26 23:05:52
0
0
X-b1gz
X-b1gz
good novel
2022-04-30 03:25:06
0
0
X-b1gz
X-b1gz
sangat bagus walaupun ga pernah baca
2022-04-30 03:25:00
0
0
X-b1gz
X-b1gz
hebat sekali
2022-04-30 03:24:45
0
0
55 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status