Chapter: Bab 6. Pernikahan di Atas LukaRuang rawat Icha yang semula sunyi kini terasa seperti ruang interogasi yang menyesakkan. Kata "menikah" yang keluar dari bibir Noah menggantung di udara, menciptakan suasana yang lebih dingin daripada mesin pendingin ruangan di sana.Icha mencengkeram pinggiran seprai rumah sakit hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang pucat pasi kian memias. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya diseret, bagaimana rasanya punggungnya dihantam benda tajam di gudang gelap itu, dan bagaimana Noah dengan keji menguras darahnya seolah ia hanyalah dispenser nyawa bagi ayahnya."Menikah?" suara Icha keluar dengan getaran hebat, hampir berupa bisikan yang pecah. "Tuan ... Tuan bercanda, kan? Tuan sudah punya istri. Dan Tuan ... Tuan sangat membenci saya."Noah tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan santai mengitari ranjang Icha, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai vinil. Ia berhenti tepat di sisi kepala Icha, lalu membungkuk, menumpukan kedua tangannya di pagar ranjang, mengu
Last Updated: 2026-04-24
Chapter: Bab 5. Kebenaran yang Terlambat dan Ambisi Sang AyahWaktu seolah merangkak lambat di lorong-lorong rumah sakit yang dingin. Bagi Icha, setiap detak jantung yang masih ia rasakan adalah sebuah keajaiban sekaligus kutukan. Setelah melewati operasi darurat dan pengurasan darah paksa yang dilakukan Noah, tubuhnya kini kurus dan pucat, kontras dengan seprai rumah sakit yang membungkusnya.Bik Ira tak henti-hentinya berusaha mencari pendonor darah yang cocok untuk menggantikan cairan kehidupan Icha yang diambil paksa malam itu. Wanita tua itu berkeliling, menghubungi kerabat jauh, hingga mencari komunitas donor darah langka demi menyelamatkan nyawa Icha yang masih rapuh.Selama dua hari itu, Icha belum pernah lagi melihat sosok Noah. Ada rasa lega yang amat sangat di palung hatinya. Setiap kali pintu kamar rawatnya terbuka, jantungnya bertalu kencang karena takut bahwa iblis itu kembali untuk menyiksanya. Icha berharap, ia tidak akan pernah lagi bertemu dengan pria yang telah mengoyak harga diri dan fisiknya tanpa ampun."Non Icha harus maka
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 4. Transaksi di Ambang MautSuasana di dalam ruang UGD berubah menjadi medan tempur antara hidup dan mati. Bunyi flatline dari monitor jantung yang melengking panjang seolah menjadi melodi pencabut nyawa yang menggetarkan dinding ruangan. Para perawat berlarian, sementara seorang dokter senior naik ke atas brankar, memberikan kompresi dada atau CPR dengan ritme yang cepat dan bertenaga pada tubuh Icha yang ringkih."Satu ... dua ... tiga ... shock!"Tubuh Icha terlonjak saat alat defibrilator ditempelkan ke dadanya. Namun, garis di monitor itu tetap lurus, sedatar harapan yang tersisa.Di luar pintu kaca, Bik Ira sudah jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Ia meraung, suaranya pecah memanggil nama Icha di sela-sela untaian doa yang ia rapalkan dengan bibir bergetar. "Ya Allah, selamatkan anak itu ... dia anak baik, Ya Allah ... jangan ambil dia sekarang."Berbeda dengan Bik Ira, Noah justru berdiri tegak seperti patung es. Matanya yang dingin menatap nanar melalui celah kaca. Tidak ada air mata, tida
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 3. Antara Dendam, Darah, dan RahasiaMalam yang semula hanya berisi kebencian, kini berubah menjadi mencekam. Bau karat di gudang tua itu seketika tertutup oleh aroma anyir darah yang semakin menyeruak. Noah terpaku, menatap noda merah yang merembes di kemeja mahalnya, lalu beralih pada wajah Icha yang pucat pasi. Gadis itu tampak seperti boneka porselen yang retak, tak lagi memiliki sisa kehidupan di matanya yang terpejam rapat."Tu-tuan ... Anda membunuhnya?"Suara gemetar itu memecah kesunyian. Noah tersentak dan menoleh ke arah pintu. Di sana, di balik bayang-bayang pintu gudang yang miring, Bik Ira berdiri dengan tubuh yang menggigil hebat. Wajah asisten rumah tangga tua itu tampak pias, tangannya menangkup mulut, menahan jeritan yang hampir lolos.Noah tidak menjawab. Ia meraup wajahnya dengan kasar, mencoba mengenyahkan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Ia memang ingin menyiksa Icha, ia ingin gadis itu menderita, tapi melihat tubuh ringkih itu tergeletak tak berdaya di atas genangan darahnya sendiri ..
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 2. Sangkar Gelap di Balik DukaMalam semakin larut, namun gemuruh di dada Icha tak kunjung reda. Setelah mengganti pakaiannya yang basah kuyup dengan piyama usang, ia meringkuk di atas ranjang kecilnya di paviliun. Tubuhnya menggigil, bukan lagi karena dinginnya air hujan, melainkan karena demam yang mulai menyerang akibat syok dan kelelahan fisik yang luar biasa.Ia baru saja memejamkan mata, mencoba mencari pelarian sejenak ke alam mimpi di mana Om Alif mungkin masih tersenyum padanya, ketika sebuah dentuman keras menghancurkan keheningan.BRAKK!Pintu kayu kamarnya terbuka paksa, menabrak dinding hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Icha terjingkat, jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Di ambang pintu, siluet tubuh tinggi besar berdiri tegak. Cahaya dari lorong menyinari punggung pria itu, membuat wajahnya tampak gelap dan menyeramkan.Itu Noah. Matanya yang tajam seperti elang berkilat penuh amarah, memburu sosok Icha yang gemetar di sudut tempat tidur.Tanpa sepatah kata pun, Noah melangkah
Last Updated: 2026-04-22
Chapter: Bab 1. Sisa Abu dan Angkuh yang MembatuGundukan tanah itu masih basah, menyebarkan aroma tanah merah yang pekat dan menusuk indra penciuman. Di atasnya, taburan bunga mawar dan melati mulai layu, seolah ikut kehilangan nyawa bersama raga yang kini terbaring dua meter di bawah sana.Icha masih bersimpuh. Gadis berusia sembilan belas tahun itu tidak peduli pada butiran tanah yang mengotori gamis hitamnya. Matanya yang sembap menatap nanar nisan kayu bertuliskan nama Alif Prasetyo."Om ... Icha sendirian sekarang. Udah nggak punya siapa-siapa," bisiknya parau. Suaranya hilang ditelan angin sore yang mulai mendingin.Bagi dunia, Alif mungkin hanya seorang sopir setia keluarga Wibisono. Namun bagi Icha, laki-laki itu adalah segalanya. Alif adalah jangkar tempatnya bersandar sejak ibunya berpulang sepuluh tahun lalu. Alif adalah orang yang memastikan Icha tetap kuliah, yang selalu membawa buah tangan setiap pulang kerja, dan yang selalu meyakinkannya bahwa dunia tidak sekejam kelihatannya.Tapi kini, jangkar itu patah."Non Icha
Last Updated: 2026-04-22