LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!

LEPASKAN AKU, TUAN NOAH!

last updateZuletzt aktualisiert : 22.04.2026
Von:  Mommy GhinaGerade aktualisiert
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Nicht genügend Bewertungen
5Kapitel
14Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Satu atap, dua istri, dan seribu luka. Noah Prakasa Wibisono bersumpah tidak akan pernah menyentuh Icha, gadis yatim piatu yang dipaksakan ayahnya masuk ke dalam rumah tangganya yang sempurna bersama Vivian. Baginya, Icha adalah "noda" yang harus disingkirkan. Namun, paras cantik Icha yang murni dan keberanian gadis itu melawan setiap hinaannya perlahan mulai mengusik pertahanan Noah. Di sisi lain, Icha bersumpah tidak akan pernah membiarkan benih keluarga Wibisono tumbuh di rahimnya. Sebuah permainan hati yang berbahaya dimulai: antara benci yang mendalam dan gairah yang terlarang.

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Bab 1. Sisa Abu dan Angkuh yang Membatu

Gundukan tanah itu masih basah, menyebarkan aroma tanah merah yang pekat dan menusuk indra penciuman. Di atasnya, taburan bunga mawar dan melati mulai layu, seolah ikut kehilangan nyawa bersama raga yang kini terbaring dua meter di bawah sana.

Icha masih bersimpuh. Gadis berusia sembilan belas tahun itu tidak peduli pada butiran tanah yang mengotori gamis hitamnya. Matanya yang sembap menatap nanar nisan kayu bertuliskan nama Alif Prasetyo.

"Om ... Icha sendirian sekarang. Udah nggak punya siapa-siapa," bisiknya parau. Suaranya hilang ditelan angin sore yang mulai mendingin.

Bagi dunia, Alif mungkin hanya seorang sopir setia keluarga Wibisono. Namun bagi Icha, laki-laki itu adalah segalanya. Alif adalah jangkar tempatnya bersandar sejak ibunya berpulang sepuluh tahun lalu. Alif adalah orang yang memastikan Icha tetap kuliah, yang selalu membawa buah tangan setiap pulang kerja, dan yang selalu meyakinkannya bahwa dunia tidak sekejam kelihatannya.

Tapi kini, jangkar itu patah.

"Non Icha .. ayo pulang, Nak. Mendung sudah gelap sekali. Sebentar lagi hujan turun," suara lembut Bik Ira memecah keheningan. Asisten rumah tangga di mansion Wibisono itu mengusap bahu Icha dengan penuh empati.

Icha mendongak pelan. Langit Jakarta memang sedang tidak bersahabat, segelap hatinya saat ini. "Pulang ke mana, Bik?" tanyanya lirih, nyaris tak terdengar. "Icha sudah tak punya tempat tinggal. Om Alif sudah tiada ... mana mungkin Icha tetap tinggal di mansion?"

Kalimat itu terasa pahit di lidah. Selama ini mereka tinggal di paviliun belakang mansion mewah itu karena kemurahan hati Tuan Besar Wibisono. Sekarang, setelah kecelakaan maut itu merenggut nyawa Om-nya—dan membuat sang majikan terluka parah—Icha merasa dirinya tak lebih dari parasit yang kehilangan inangnya.

"Tuan Muda Noah sudah berpesan, Non. Katanya keponakan Pak Alif harus tetap kembali ke rumah. Mari, Non, jangan buat Tuan Muda menunggu."

Icha tersenyum pahit, sebuah senyum yang lebih menyakitkan daripada tangisan. Ia bangkit dengan kaki yang lemas, membiarkan Bik Ira menuntunnya menuju mobil. Dalam hatinya, ia merasa seperti sehelai daun kering yang ditiup angin, tak tahu di mana ia akan mendarat

***

Hujan turun dengan derasnya saat mobil jemputan tiba di pelataran mansion. Icha turun dengan langkah gontai. Ia tidak membawa payung, membiarkan butiran air hujan yang dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia berharap air hujan bisa menyamarkan air mata yang terus mengalir tanpa henti.

Tubuhnya gemetar hebat saat memasuki lobi utama yang megah. Marmer mengkilap itu terasa seperti es di bawah kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit tipis.

"Non Icha, langsung ke ruang kerja Tuan Muda di lantai dua," sebuah suara berat menghentikan langkahnya.

Icha menoleh, menemukan Endra, asisten pribadi Noah, berdiri dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Tapi ... baju saya basah kuyup, Mas. Saya ganti baju dulu sebentar di paviliun—"

"Tuan Noah tidak suka menunggu," potong Endra tegas, melirik jam tangan mewahnya. "Beliau baru saja dari rumah sakit, suasana hatinya sedang buruk. Ikut saya sekarang."

Icha tidak punya pilihan. Dengan pakaian yang menempel di kulit dan air yang menetes dari ujung rambutnya, ia mengikuti Endra menaiki tangga melingkar yang seolah membawanya menuju lubang singa. Setiap langkah terasa berat, jantungnya bertalu kencang karena duka dan ketakutan yang berbaur menjadi satu.

Pintu kayu jati besar itu terbuka. Ruang kerja tersebut temaram, hanya diterangi lampu meja yang menyorot ke tumpukan berkas. Di sana, duduk seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Noah Prakasa Wibisono.

Pria itu tampak angkuh, punggungnya tegak, dan auranya begitu mendominasi hingga oksigen di ruangan itu seolah tersedot habis. Begitu Icha masuk, Noah tidak langsung mendongak. Ia membiarkan Icha berdiri mematung di tengah ruangan selama beberapa menit, menggigil dan menciptakan genangan air di karpet mahal miliknya.

"Duduk," perintah Noah dingin.

Icha duduk di tepi kursi kulit yang terasa sangat asing. Ia menunduk, tak berani menatap wajah pria berusia tiga puluh tiga tahun itu.

"Tahu kenapa kamu di sini?" Suara Noah berat, mengandung vibrasi kemarahan yang tertahan.

"Maaf ... Tuan Noah ... “Icha... Icha turut berduka cita atas musibah yang menimpa Tuan Besar," suara Icha bergetar hebat.

Brak!

Noah menggebrak meja kerja, membuat Icha terlonjak kaget. Pria itu kini berdiri, berjalan perlahan mengitari meja dan berhenti tepat di depan Icha. Aroma parfum woodberry yang mahal bercampur dengan aroma rumah sakit tercium tajam.

"Berduka?" Noah terkekeh sinis, sebuah tawa yang tidak sampai ke mata.

"Papaku mengalami patah tulang rusuk, pendarahan internal, dan sekarang masih koma di ICU. Dan itu semua karena siapa? Karena Om-mu yang tidak becus itu!"

"Om Alif tidak sengaja, Tuan ... jalanan mungkin saat itu licin—"

"Diam!" bentak Noah. Ia mencengkeram dagu Icha, memaksa gadis itu menatap matanya yang tajam seperti belati.

"Jangan berani-berani membela pembunuh itu. Dia sopir yang sudah dibayar mahal untuk menjaga keselamatan Papaku, tapi dia malah hampir membunuhnya. Dan sekarang, dia mati dengan mudahnya, meninggalkan sampahnya di rumahku."

Kata 'sampah' menghunjam jantung Icha lebih dalam daripada kabar kematian Om-nya. Icha bukanlah gadis penakut. Di kampusnya, ia dikenal sebagai aktivis yang berani bersuara. Namun saat ini, jiwanya sudah hancur. Kehilangan Om Alif membuatnya merasa kehilangan tulang punggung. Ia merasa telanjang, rapuh, dan tak berdaya.

"Maafkan Om saya, Tuan ... saya mohon ...." Icha terisak. Air matanya jatuh mengenai tangan Noah yang mencengkeram dagunya.

Noah melepaskan cengkeramannya dengan kasar, seolah merasa jijik terkena air mata Icha. Ia mengambil sapu tangan dan menyeka tangannya.

"Permintaan maafmu tidak akan membuat Papaku sadar," ujar Noah dingin sembari menatap Icha yang basah kuyup dari kepala hingga kaki. Gadis itu tampak sangat menyedihkan—bibirnya membiru karena kedinginan, matanya bengkak, dan bahunya terguncang hebat karena tangisan.

Noah mendekat, membisikkan kalimat yang membuat darah Icha seolah berhenti mengalir.

"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah kekacauan ini? Tidak, Icha. Kamu akan tetap di sini. Bukan sebagai tamu, tapi sebagai penebus dosa. Selama Papaku belum bangun, hidupmu adalah milikku. Kamu akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan kebebasan, sama seperti Papaku yang kehilangan kesadarannya di ranjang rumah sakit."

Icha hanya bisa menunduk, pasrah ditindas oleh pria yang hatinya tampaknya sudah membatu. Ia ingin berteriak bahwa ini tidak adil, bahwa kecelakaan adalah takdir, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan.

"Tuan Noah ... saya hanya punya Om Alif ...," bisik Icha di sela isakannya yang menyayat hati.

"Dan sekarang kamu punya aku," potong Noah tanpa belas kasihan. "Sebagai tuanmu yang baru. Sekarang keluar. Sebelum aku berubah pikiran dan menyeretmu ke kantor polisi atas kelalaian wali sahmu."

Icha berdiri dengan kaki lemas. Ia berjalan keluar dari ruangan itu dengan sisa-sisa harga diri yang hancur. Di luar, hujan masih turun dengan deras, seolah langit ikut menangisi nasib malang gadis muda yang kini terjebak dalam sangkar emas seorang pria yang penuh dendam.

Malam itu, di paviliun yang sepi, Icha meringkuk di lantai. Ia merindukan pelukan hangat Om Alif, namun yang ia rasakan hanyalah dingin yang membeku dan bayang-bayang wajah Noah yang penuh kebencian. Ia tahu, mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Keine Kommentare
5 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status