LOGINSatu atap, dua istri, dan seribu luka. Noah Prakasa Wibisono bersumpah tidak akan pernah menyentuh Icha, gadis yatim piatu yang dipaksakan ayahnya masuk ke dalam rumah tangganya yang sempurna bersama Vivian. Baginya, Icha adalah "noda" yang harus disingkirkan. Namun, paras cantik Icha yang murni dan keberanian gadis itu melawan setiap hinaannya perlahan mulai mengusik pertahanan Noah. Di sisi lain, Icha bersumpah tidak akan pernah membiarkan benih keluarga Wibisono tumbuh di rahimnya. Sebuah permainan hati yang berbahaya dimulai: antara benci yang mendalam dan gairah yang terlarang.
View More'Ssshh ...'Noah memejamkan matanya seketika saat sensasi hangat dari kain waslap itu menyentuh kulit dadanya yang kaku. Hawa hangat itu seolah mengalirkan getaran magis yang meruntuhkan kekakuan saraf-saraf motoriknya yang sempat lumpuh akibat racun. Namun, basuhan telaten dari tangan Icha justru mendatangkan siksaan batin yang jauh lebih hebat bagi Noah daripada rasa sakit fisiknya.Icha mengusap dada bidang Noah dengan gerakan memutar yang lembut namun bertenaga, membersihkan sisa keringat dingin yang menempel sejak semalam. Tidak ada kelembutan cinta dalam gerakan itu, murni hanya profesionalisme seorang perawat dadakan yang ingin tugasnya cepat selesai.Namun, bagi Noah, setiap gesekan kain hangat yang digerakkan oleh tangan Icha justru kian mengorek luka penyesalan yang amat pekat di lubuk hatinya. Pikiran Noah kembali berhamburan ke masa lalu, ke setiap momen di mana ia pernah memperlakukan wanita di depannya ini bagai sampah yang berharga murah."Tangan ini ... tangan yang sek
Kini, giliran mata Icha yang melotot sempurna karena terkejut. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya, menatap Noah dengan pandangan tidak percaya sekaligus dongkol setengah mati. "Apa Anda bilang, Tuan?" cecar Icha, suaranya meninggi satu oktaf. "Saya tidak salah dengar? Anda menyuruh saya yang mengelap tubuh Anda?" Perawat wanita yang berdiri di antara mereka nampak kebingungan melihat perang saraf yang mendadak pecah di subuh hari ini. Ia menatap Icha, lalu beralih menatap Noah yang menatap istrinya dengan pandangan mata yang mengunci rapat, menuntut kepatuhan yang mutlak dari atas ranjangnya. Akhirnya, perawat itu hanya bisa mengedikkan kedua bahunya secara pasrah. "Well ... jika Tuan Wibisono lebih nyaman dibersihkan oleh istrinya sendiri, itu jauh lebih baik untuk privasi pasien," ucap perawat itu dengan senyuman canggung. "Kalau begitu, saya akan segera menyiapkan kain waslap bersih dan membawakan pergantian baskom berisi air hangat ke sini. Permisi, No
Mama Angel kembali mempererat rangkulannya di bahu Vivian, mengulas senyuman meremehkan. "Nggak apa-apa, Vivian. Biarkan saja kalau saat ini Noah sedang sibuk mengurus Icha yang sekarat. Toh, sebentar lagi madumu itu akan segera mati dan lenyap dari kehidupan kalian untuk selamanya. Anggap saja itu sentuhan terakhir Noah sebelum mengantar jasadnya ke liang kubur. Yang penting posisi ratumu di mansion Wibisono tidak akan ada yang mengganggu lagi."Mama Angel berbicara dengan begitu penuh keyakinan dan kesombongan, sama sekali tidak menyadari sebuah fakta medis yang mengerikan di seberang samudra: bahwa racun mematikan di dalam omelet itu justru masuk ke dalam tubuh menantu kesayangannya sendiri, Noah Prakarsa Wibisono.***Tanpa sepengetahuan Vivian dan Mama Angel, hanya berjarak sepuluh meter di belakang mereka, seorang pria bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam nampak sedang berjalan dengan sangat santai, berpura-pura sibuk menatap layar ponselnya. Pria itu adalah salah satu ajudan
Noah memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca yang menampilkan kegelapan malam Maldives, menolak untuk menatap mata Icha yang penuh dengan kobaran dendam. Tanpa ia sadari, rahangnya mengetat menahan rasa sesak yang kian menghimpit dadanya.Melihat reaksi Noah yang memilih untuk bungkam dan memalingkan wajah, Icha menarik napas panjang untuk menenangkan gemuruh di dalam dadanya sendiri. Jujur saja, debaran jantungnya belum sepenuhnya kembali normal. Sentuhan fisik yang tidak direncanakan tadi telah mengoyak sedikit demi sedikit dinding kebencian yang ia bangun, memunculkan sebuah ketakutan baru di dalam hatinya—ketakutan bahwa ia mungkin saja mulai terpengaruh oleh pesona pria yang seharusnya ia hancurkan."Makan malam Anda pun nampaknya sudah cukup sampai di sini," ucap Icha dengan nada suara yang kembali datar dan formal, memutus segala ketegangan emosional di antara mereka. "Saya akan merapikan pakaian saya di sofa. Jika Anda butuh bantuan pelayan, silakan gerakkan jemari Anda untu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews