ANMELDENSatu atap, dua istri, dan seribu luka. Noah Prakasa Wibisono bersumpah tidak akan pernah menyentuh Icha, gadis yatim piatu yang dipaksakan ayahnya masuk ke dalam rumah tangganya yang sempurna bersama Vivian. Baginya, Icha adalah "noda" yang harus disingkirkan. Namun, paras cantik Icha yang murni dan keberanian gadis itu melawan setiap hinaannya perlahan mulai mengusik pertahanan Noah. Di sisi lain, Icha bersumpah tidak akan pernah membiarkan benih keluarga Wibisono tumbuh di rahimnya. Sebuah permainan hati yang berbahaya dimulai: antara benci yang mendalam dan gairah yang terlarang.
Mehr anzeigenWaktu seolah merangkak lambat di lorong-lorong rumah sakit yang dingin. Bagi Icha, setiap detak jantung yang masih ia rasakan adalah sebuah keajaiban sekaligus kutukan. Setelah melewati operasi darurat dan pengurasan darah paksa yang dilakukan Noah, tubuhnya kini kurus dan pucat, kontras dengan seprai rumah sakit yang membungkusnya.Bik Ira tak henti-hentinya berusaha mencari pendonor darah yang cocok untuk menggantikan cairan kehidupan Icha yang diambil paksa malam itu. Wanita tua itu berkeliling, menghubungi kerabat jauh, hingga mencari komunitas donor darah langka demi menyelamatkan nyawa Icha yang masih rapuh.Selama dua hari itu, Icha belum pernah lagi melihat sosok Noah. Ada rasa lega yang amat sangat di palung hatinya. Setiap kali pintu kamar rawatnya terbuka, jantungnya bertalu kencang karena takut bahwa iblis itu kembali untuk menyiksanya. Icha berharap, ia tidak akan pernah lagi bertemu dengan pria yang telah mengoyak harga diri dan fisiknya tanpa ampun."Non Icha harus maka
Suasana di dalam ruang UGD berubah menjadi medan tempur antara hidup dan mati. Bunyi flatline dari monitor jantung yang melengking panjang seolah menjadi melodi pencabut nyawa yang menggetarkan dinding ruangan. Para perawat berlarian, sementara seorang dokter senior naik ke atas brankar, memberikan kompresi dada atau CPR dengan ritme yang cepat dan bertenaga pada tubuh Icha yang ringkih."Satu ... dua ... tiga ... shock!"Tubuh Icha terlonjak saat alat defibrilator ditempelkan ke dadanya. Namun, garis di monitor itu tetap lurus, sedatar harapan yang tersisa.Di luar pintu kaca, Bik Ira sudah jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Ia meraung, suaranya pecah memanggil nama Icha di sela-sela untaian doa yang ia rapalkan dengan bibir bergetar. "Ya Allah, selamatkan anak itu ... dia anak baik, Ya Allah ... jangan ambil dia sekarang."Berbeda dengan Bik Ira, Noah justru berdiri tegak seperti patung es. Matanya yang dingin menatap nanar melalui celah kaca. Tidak ada air mata, tida
Malam yang semula hanya berisi kebencian, kini berubah menjadi mencekam. Bau karat di gudang tua itu seketika tertutup oleh aroma anyir darah yang semakin menyeruak. Noah terpaku, menatap noda merah yang merembes di kemeja mahalnya, lalu beralih pada wajah Icha yang pucat pasi. Gadis itu tampak seperti boneka porselen yang retak, tak lagi memiliki sisa kehidupan di matanya yang terpejam rapat."Tu-tuan ... Anda membunuhnya?"Suara gemetar itu memecah kesunyian. Noah tersentak dan menoleh ke arah pintu. Di sana, di balik bayang-bayang pintu gudang yang miring, Bik Ira berdiri dengan tubuh yang menggigil hebat. Wajah asisten rumah tangga tua itu tampak pias, tangannya menangkup mulut, menahan jeritan yang hampir lolos.Noah tidak menjawab. Ia meraup wajahnya dengan kasar, mencoba mengenyahkan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya. Ia memang ingin menyiksa Icha, ia ingin gadis itu menderita, tapi melihat tubuh ringkih itu tergeletak tak berdaya di atas genangan darahnya sendiri ..
Malam semakin larut, namun gemuruh di dada Icha tak kunjung reda. Setelah mengganti pakaiannya yang basah kuyup dengan piyama usang, ia meringkuk di atas ranjang kecilnya di paviliun. Tubuhnya menggigil, bukan lagi karena dinginnya air hujan, melainkan karena demam yang mulai menyerang akibat syok dan kelelahan fisik yang luar biasa.Ia baru saja memejamkan mata, mencoba mencari pelarian sejenak ke alam mimpi di mana Om Alif mungkin masih tersenyum padanya, ketika sebuah dentuman keras menghancurkan keheningan.BRAKK!Pintu kayu kamarnya terbuka paksa, menabrak dinding hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Icha terjingkat, jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Di ambang pintu, siluet tubuh tinggi besar berdiri tegak. Cahaya dari lorong menyinari punggung pria itu, membuat wajahnya tampak gelap dan menyeramkan.Itu Noah. Matanya yang tajam seperti elang berkilat penuh amarah, memburu sosok Icha yang gemetar di sudut tempat tidur.Tanpa sepatah kata pun, Noah melangkah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.