author-banner
Founna Math
Founna Math
Author

Novels by Founna Math

Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat

Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat

​"Aku bukan lagi istrimu yang penurut, Hiroshi. Mulai malam ini, kau hanyalah narapidana di rumahmu sendiri." ​Lima tahun pernikahan bagi Aiko Tanaka hanyalah sebuah penantian panjang yang berujung pahit. Hiroshi Tanaka, sang CEO karismatik yang ia cintai, tidak hanya mengabaikannya, tetapi juga mengkhianatinya dengan rencana masa depan bersama wanita lain. ​Namun, saat bukti pengkhianatan itu terungkap dan skandal besar mengancam takhta sang CEO, Hiroshi justru berlutut memohon ampun. Ia tidak bisa kehilangan posisinya, dan ia baru menyadari bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Aiko. ​Aiko tidak memilih untuk pergi begitu saja. Ia kembali, namun bukan sebagai istri yang pemaaf. Ia membawa sebuah Kontrak Penebusan yang kejam. ​Isi Kontrak itu sederhana namun mematikan: ​Hiroshi harus tinggal kembali di bawah atap yang sama. ​Di kantor ia adalah penguasa, namun di rumah ia adalah pelayan. ​Dan yang paling merendahkan: Hiroshi harus tidur di lantai kamar utama, dilarang menyentuh Aiko tanpa izin, sementara ia dipaksa menyaksikan wanita yang ia sia-siakan itu kini menjadi penguasa atas hidupnya. ​Di bawah bayang-bayang ancaman pemerasan dari sang mantan selingkuhan dan pengawasan ketat kontrak tersebut, Hiroshi harus memilih: Mempertahankan sisa egonya atau menyerahkan seluruh martabatnya demi mendapatkan kembali cinta yang telah ia hancurkan. ​Ini bukan sekadar cerita tentang maaf. Ini adalah tentang kontrak yang mengubah ranjang pernikahan menjadi medan perang penebusan.
Read
Chapter: Bab Bonus: Tangisan di Matema-Terra
Bab Bonus: Tangisan di Matema-TerraSembilan bulan setelah abu kontrak itu terbang terbawa angin, sebuah kehidupan baru akhirnya menagih janji untuk melihat dunia.Malam itu, hujan turun dengan lebat di pinggiran kota. Suara rintik yang menghantam atap kayu rumah mereka menciptakan simfoni alam yang riuh, namun di dalam kamar utama, suasana jauh lebih intens. Aroma minyak kayu putih, keringat, dan ketegangan yang kental memenuhi ruangan. Hiroshi tidak pernah merasa sekerdil ini sepanjang hidupnya—bahkan tidak saat ia kehilangan seluruh kekayaannya. Di depan rasa sakit yang dialami Aiko, ia hanyalah seorang pria tak berdaya yang hanya bisa menawarkan tangannya untuk diremas hingga mati rasa."Tarik napas, Nyonya... sedikit lagi," suara bidan desa yang tenang kontras dengan jeritan tertahan Aiko.Hiroshi berlutut di samping ranjang—ranjang yang dulu merupakan medan perang, tempat mereka saling menyakiti, namun kini menjadi saksi bisu dari perjuangan hidup dan mati. Ia menyeka keringat y
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: Bab 100: Epilog – Pemilik Hati yang Sesungguhnya
## Bab 100: Epilog – Pemilik Hati yang SesungguhnyaSatu tahun telah berlalu sejak asap hitam dari pembakaran kontrak itu terbang dan menghilang di antara pucuk-pucuk pohon pinus.Pagi ini, distrik pinggiran kota yang sunyi itu diselimuti embun tipis yang membelai daun-daun tomat di kebun belakang. Udara segar membawa aroma tanah basah dan wangi kayu manis dari dapur. Tidak ada deru helikopter, tidak ada lampu kilat kamera yang rakus, dan tidak ada lagi suara sepatu pantofel yang beradu dengan lantai marmer yang dingin.Di teras kayu yang kini sudah mengkilap karena sering dipel, Hiroshi berdiri menatap matahari yang mulai merangkak naik. Ia tidak lagi mengenakan setelan jas tiga lapis seharga ribuan dolar. Pagi ini, ia hanya mengenakan kaos putih katun yang sedikit longgar dan celana kain nyaman. Tangannya yang dulu hanya terbiasa memegang pena emas, kini memiliki kapalan halus di telapaknya—sebuah lencana kehormatan dari kerja kerasnya merawat rumah ini."Hiroshi... bisakah kau memb
Last Updated: 2026-04-19
Chapter: Bab 99: Janji di Atas Abu Kontrak
## Bab 99: Janji di Atas Abu KontrakUdara pagi yang seharusnya murni di pinggiran kota itu kini tercemar oleh kebisingan yang mengerikan. Deru mesin helikopter berita mengepakkan udara di atas rumah kayu mereka, sementara di depan gerbang yang rapuh, puluhan lampu kilat kamera wartawan menyambar-nyambar seperti kilat badai. Sirine polisi meraung dari kejauhan, membelah kesunyian lembah yang dulu mereka anggap sebagai tempat persembunyian terakhir.Kenji telah melepaskan senjatanya yang paling mematikan: **Opini Publik.**Di layar tablet yang dipegang Mina, tajuk utama berita berkilat dengan narasi yang kejam: *"Skandal Penculikan di Balik Takhta Tanaka Group: Sang Ratu Balas Dendam Menyiksa Suaminya dalam Kontrak Ilegal."* Foto-foto curian yang menunjukkan Hiroshi sedang berlutut di lantai kamar disebarluaskan, membingkai Aiko sebagai monster yang haus kekuasaan."Nyonya, polisi akan sampai dalam tiga menit," Mina mendesak, suaranya tenggelam oleh suara baling-baling helikopter. "A
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: Bab 98: Ranjang yang Baru
## Bab 98: Ranjang yang BaruUdara di luar rumah kayu itu mendingin seiring perginya Kenji dan para petugas hukum yang membawa tumpukan dokumen ancaman. Kenji pergi dengan seringai kemenangan, yakin bahwa pilihannya akan menghancurkan pondasi cinta yang baru saja mereka bangun. Namun, di dalam rumah yang hanya diterangi oleh temaram lampu minyak dan sisa-sisa bara api di perapian, suasana justru terasa begitu sunyi—bukan kesunyian yang mencekam, melainkan keheningan yang penuh dengan kejujuran yang telanjang.Aiko berdiri di tengah kamar, menatap jendela yang menampilkan pantulan dirinya yang tampak rapuh. Di belakangnya, Hiroshi berdiri mematung. Pria itu tidak lagi memakai topeng kaisar bisnis yang tangguh. Bahunya yang lebar tampak sedikit merosot, beban satu tahun penebusan dan rahasia yang terbongkar seolah menumpuk di sana."Kau tahu apa yang dia minta, bukan?" suara Aiko hampir menyerupai bisikan angin."Ya," jawab Hiroshi rendah. "Dia ingin aku pergi. Dia ingin aku menjadi or
Last Updated: 2026-04-16
Chapter: Bab 97: Kencan Pertama yang Sebenarnya
Bab 97: Kencan Pertama yang SebenarnyaDunia di luar sana sedang meledak. Berita tentang pengunduran diri Aiko dan hilangnya sang mantan kaisar bisnis, Hiroshi Tanaka, memenuhi setiap kanal berita ekonomi. Pengacara keluarga berdiri di halaman depan mereka seperti malaikat maut yang membawa surat sitaan. Namun, di dalam rumah kayu yang remang itu, Hiroshi melakukan sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal.Ia mengabaikan ketukan pintu sang pengacara. Ia mengabaikan getar ponsel yang berisi ancaman pidana. Hiroshi justru berdiri di depan cermin kecil yang retak, merapikan kerah kaos murahnya, lalu berbalik menatap Aiko yang masih syok setelah mendengar kebenaran dari Elena."Aiko," suara Hiroshi lembut, membelah ketegangan yang menyesakkan. "Pinjamkan aku waktu dua puluh empat jam. Lupakan pengacara itu, lupakan Tanaka Group, dan lupakan semua beban di pundakmu."Aiko mengerutkan kening, jemarinya masih gemetar. "Apa maksudmu, Hiroshi? Kita akan kehilangan segalanya! Mereka akan menyi
Last Updated: 2026-04-15
Chapter: Bab 96: Bayang-bayang Masa Lalu
## Bab 96: Bayang-bayang Masa LaluDingin. Itu adalah kesan pertama yang menyergap kulit Aiko saat melangkah masuk ke ruang kunjungan Lembaga Pemasyarakatan Tokyo. Bau disinfektan murahan yang menusuk hidung berebut ruang dengan aroma apak dari beton-beton tua yang lembap. Suara derit pintu besi yang tertutup di belakangnya terdengar seperti vonis—sebuah pengingat bahwa di tempat inilah Elena, wanita yang pernah menjadi duri paling beracun dalam hidupnya, kini menghabiskan hari-harinya.Aiko duduk di balik kaca pembatas yang buram dan penuh goresan. Jantungnya bertalu-talu di balik mantel wolnya yang hangat. Ia belum memberi tahu Hiroshi tentang kunjungannya ini. Pagi tadi, ia membiarkan suaminya itu sibuk dengan cangkul dan tanah di kebun belakang, sementara ia melarikan diri untuk mencari kebenaran yang dikubur.Lalu, sosok itu muncul.Elena tampak mengenakan seragam penjara yang longgar dan kusam. Rambutnya yang dulu selalu tertata sempurna di salon-salon elit, kini hanya diikat as
Last Updated: 2026-04-13
Napas Terakhir untuk Sang Ratu

Napas Terakhir untuk Sang Ratu

​"Jika memelukmu berarti mati, aku akan tetap melakukannya hingga napas terakhirku." . . ​Seo Haneul berubah menjadi monster yang harus memangsa energi kehidupan manusia. Sialnya, satu-satunya "makanan" yang bisa menenangkan dahaganya hanyalah Panglima Hamin—pria yang paling ia cintai. ​Hamin diberikan tugas untuk mengeksekusi Haneul, namun ia justru memilih mengkhianati negara demi menjadi tumbal hidup bagi sang kekasih. Di tengah kejaran militer dan kutukan yang perlahan menghapus ingatan Haneul, sanggupkah mereka bertahan? Atau Haneul akan benar-benar melahap nyawa Hamin sebelum ia sempat mengucapkan selamat tinggal?
Read
Chapter: Bab 96: Pecahan di Balik Pintu Baja
Bab 96: Pecahan di Balik Pintu Baja Lantai pangkalan Unit 7 yang dingin menyentuh telapak kakiku. Dingin yang jujur. Bukan dingin buatan laboratarium Malakai yang selalu terasa seperti kematian yang dibekukan. Aku duduk di pinggir dipan besi, membiarkan Jiran mengotak-atik sirkuit di tengkukku. Suara obeng bioniknya beradu dengan desis uap dari tabung oksigen di pojok ruangan. "Sakit?" tanya Jiran. Tangannya yang kasar sedikit gemetar. Bau tembakau murah dan alkohol medis menguar dari bajunya yang kumal. Aku cuma menggeleng. Bohong, sebenarnya. Rasanya seperti ada kabel yang dipelintir paksa tepat di pangkal sarafku. Tapi kalau aku mengeluh, Jiran cuma bakal makin panik, dan kita nggak punya waktu buat drama medis. "Haneul... dia sudah sampai di zona inti?" suaraku serak, kayak suara mesin tua yang dipaksa nyala tanpa oli. Vanya, yang dari tadi berdiri di dekat layar monitor raksasa, menoleh. Matanya merah, tanda dia belum tidur entah berapa hari. "Sinyalnya hilang-timbul, Min. Ma
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: Bab 95: Puing yang Berserakan
Bab 95: Puing yang BerserakanLangit Seowon sudah tidak punya warna selain merah darah. Aku terbatuk, merasakan debu semen dan bau mesiu menyerang paru-paruku yang sudah setengah mesin. Rasanya seperti menghirup amplas. Kasar, kering, dan bikin perih sampai ke kerongkongan.Aku mencoba menggerakkan jemariku. Krek. Bunyi sambungan bionik yang dipaksa bekerja di tengah keausan. Aku melihat ke bawah, ke arah dadaku yang baru saja dilepaskan dari kabel-kabel maut oleh Jiran. Port jantungku masih berasap, mengeluarkan aroma gosong kabel yang bikin mual."Hamin, jangan dipaksa!" Jiran berteriak, suaranya parau gara-gara ledakan tadi. Dia lagi sibuk membalut lukanya sendiri dengan kain kotor yang entah dapat dari mana.Aku nggak peduli. Mataku cuma terpaku pada jejak cahaya ungu yang baru saja membelah awan merah, menjauh menuju pusat menara. Haneul baru saja pergi demi menyelamatkanku, atau lebih tepatnya, menjauh supaya kehadirannya nggak bikin aku meledak jadi debu."Haneul..." bisikku. S
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: Bab 94: Retakan yang Terbuka
Bab 94: Retakan yang TerbukaDuniaku mendadak melambat, serasa terperangkap di dalam cairan kental yang mencekik napas. Bau anyir logam terbakar dan ozon tajam menyerang hidungku, membuat perutku mual bukan main. Aku merangkak di atas aspal yang sudah hancur, merasakan kerikil tajam menyayat sisa kulit di telapak tanganku yang bergetar."Sial," umpatku lirih. Suaraku payah, nyaris kalah oleh raungan mesin Aegis di langit.Di depanku, Haneul mematung. Cahaya ungu dari tubuhnya berdenyut liar, menyambar-nyambar kabel listrik yang menjuntai di sekitar kami hingga menimbulkan percikan api yang berisik. Wajahnya... tuhan, aku hampir tidak mengenalinya lagi. Matanya yang ungu pekat itu menatapku, tapi bukan dengan kehangatan yang dulu biasa menenangkan debar jantungku. Ada kengerian di sana. Kengerian seorang ratu yang baru menyadari kalau setiap jengkal kekuatannya adalah racun buat orang yang paling dia sayang.Tiiiiiiit.Peringatan merah di sudut mataku berkedip makin gila. Jantung bioni
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: Bab 93: Resonansi yang Terkoyak
Bab 93: Resonansi yang TerkoyakTelingaku berdenging hebat. Suaranya seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telinga, lalu meledak jadi sunyi yang hampa. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku pingsan setelah laboratorium itu hancur. Yang aku rasakan sekarang cuma dingin. Cairan hijau regenerasi tadi sudah menguap, meninggalkan kulitku yang lengket dan perih karena beradu langsung dengan udara yang bau hangus.Aku mencoba membuka mata. Remang-rabu. Pandanganku seperti lensa kamera yang rusak, buram dan bergetar."Hamin... bangun, bodoh. Jangan mati dulu," suara itu serak, diselingi batuk yang kedengarannya menyakitkan.Jiran. Aku mengenali suara payah itu. Aku menoleh perlahan, leherku berderit seperti engsel pintu karatan. Di pojok ruangan yang sudah rata dengan tanah, Jiran terduduk sambil memegangi kakinya yang bersimbah darah. Dia kelihatan berantakan, tapi tangannya masih memegang alat suntik—entah apa isinya.Aku ingin bertanya, tapi tenggorokanku rasanya seperti habis menelan p
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Bab 92: Detak yang Menipu
Bab 92: Detak yang MenipuBau rumah sakit itu selalu sama. Dingin, anyir obat, dan bau karat yang samar. Aku benci bau ini. Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup oleh kenangan buruk.Aku terbaring di dalam tabung regenerasi ini, dikepung cairan hijau kental yang rasanya lebih mirip lendir daripada obat. Napasku pendek-pendek, tersaring masker oksigen yang bergetar setiap kali jantung bionikku berdegup.Deg. Deg. Bunyinya tidak sinkron. Ada jeda yang salah, seolah-olah mesin di dadaku sedang berdebat apakah harus terus berjalan atau meledak saja sekalian."Tahan, Hamin. Sedikit lagi," suara Jiran terdengar diredam oleh dinding kaca. Aku bisa melihat bayangannya yang gelisah, mondar-mandir di depan monitor.Tangannya gemetar. Aku tahu itu. Jiran tidak pernah gemetar kecuali dia sedang menyembunyikan berita kematian. Aku ingin bertanya, di mana Haneul? Tapi mulutku tersumpal selang. Mataku cuma bisa menatap lampu neon di langit-langit yang berkedip-kedip menyebalkan.Tiba-tiba, pintu labo
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Bab 91: Negosiasi di Atas Luka
Bab 91: Negosiasi di Atas LukaBau besi berkarat dan uap kimia menyergap lubang hidung Hamin saat ia tersadar. Matanya yang perak metalik berkedip-kedip tidak beraturan, berusaha memproses data sensorik yang kacau. Di depannya, Haneul—atau sosok yang kini lebih mirip entitas kosmik daripada manusia—berdiri kaku. Jarak mereka hanya lima meter, tapi ada dinding tak kasat mata yang membuat udara di antara mereka terasa seperti rawa yang mencekik.Hamin mencoba mengulurkan tangan. Seketika, zirah di lengannya meletup, mengeluarkan percikan api yang membakar sisa kulit organiknya."Jangan!" Jiran berteriak, suaranya parau karena debu mesiu. Ia menahan dada Hamin dengan tangan yang gemetar. "Satu inci lagi kau mendekat, frekuensi Kantara dari tubuh Haneul akan merobek jantung bionikmu sampai jadi debu, Hamin. Kau mau mati konyol?"Hamin hanya bisa mendesis menahan perih. Ia menatap Haneul. "Sejak kapan... pelukanku jadi hukuman mati buatmu, Haneul?"Haneul tidak menjawab dengan kata-kata. I
Last Updated: 2026-05-10
Di Antara Dua Dunia

Di Antara Dua Dunia

Sinopsis "Di Antara Dua Dunia" Seo Haneul, seorang arsitek muda berbakat dari kota futuristik Seowon, menjalani hidup penuh ambisi namun tanpa arah. Ketika sebuah kecelakaan misterius membawanya ke dunia fantasi bernama Arangyeon, ia bertemu Kim Jaewon, seorang pemimpin kharismatik yang menjaga keseimbangan dunia yang indah namun rapuh itu. Di Arangyeon, Haneul menemukan kedamaian yang selama ini ia cari, tetapi juga rahasia besar yang mengancam kedua dunia. Cinta tumbuh di antara Haneul dan Jaewon, meski mereka tahu hubungan itu mustahil. Dunia modern ingin menguasai teknologi kuno Arangyeon, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan keduanya adalah dengan memisahkan mereka selamanya. Di tengah konflik dua dunia dan perasaan yang kian dalam, Haneul harus memilih: kembali ke hidupnya yang kosong di Seowon atau bertahan di Arangyeon dengan risiko menghancurkan segalanya. "Di Antara Dua Dunia" adalah kisah tentang cinta terlarang, pengorbanan, dan perjalanan menemukan tempat di mana hati benar-benar berada.
Read
Chapter: Bab 61: Kantara (Tanah yang Tidak Pernah Dijanjikan)
Bab 61: Kantara (Tanah yang Tak Pernah Dijanjikan) Udara di sekitar Retakan Timur terasa lebih tipis, seolah-olah realitas itu sendiri sedang menahan napas. Angin enggan berembus, menghormati batas yang kian memudar. Di depan mata mereka, cahaya biru elektrik berdenyut di antara dua lapisan dimensi, menciptakan gema aneh—suara yang terdengar seperti napas panjang dari entitas yang telah tertidur selama ribuan tahun. Dunia Antara bukan lagi sekadar batas. Ia telah bangun. Ia hidup, bernapas, dan mulai bereaksi terhadap keberadaan manusia. Seo Haneul berdiri di ambang jurang kegelapan. Jubah ungu tuanya berkibar, senada dengan aura sihir yang memancar dari jemarinya. Di belakangnya, para penjaga sihir dan ilmuwan Seowon bersiaga dengan artefak pelindung yang berpendar redup. Namun, di titik nadir ini, hanya satu orang yang melangkah maju ke sisinya: Hamin. "Aku tahu aku berjanji akan menunggumu," kata Hamin sambil mengeratkan sarung tangan pelindung dimensinya. Matanya menatap lu
Last Updated: 2025-06-27
Chapter: Bab 60: Gerbang yang Tak Pernah Sepi
Bab 60: Gerbang yang Tak Pernah SepiUdara di sekitar Retakan Timur menipis. Bahkan angin pun enggan menyentuh batas yang membelah kenyataan. Cahaya biru lembut bergetar di antara dua lapisan dimensi, menciptakan gema aneh seperti napas panjang dari makhluk yang belum terlihat. Dunia Antara… tidak lagi sekadar batas. Ia hidup. Ia merespons.Seo Haneul berdiri di tepi celah itu, jubah ungu-kelamnya berkibar pelan. Di belakangnya, para penjaga sihir dan ilmuwan dari Seowon menunggu dengan perangkat pemantau dan artefak pelindung. Namun hanya satu yang melangkah bersamanya: Hamin.“Aku tahu aku berjanji akan menunggumu,” kata Hamin sambil memeriksa sarung tangannya yang berlapis pembungkus dimensi. “Tapi aku tak bisa diam saja jika kau masuk ke tempat yang bahkan waktu pun enggan menyentuhnya.”Haneul menatapnya, tersenyum kecil. “Dan aku tahu aku tak bisa mencegahmu.”Jaewon mendekat, menyer
Last Updated: 2025-06-09
Chapter: Bab 59: Saat Batas Menyatu
Bab 59: Saat Batas Menyatu Langit Aeloria kini terbentang tanpa batas: tidak lagi terbelah oleh sihir dan teknologi, tidak lagi dipagari oleh dogma atau dendam. Setelah penyatuan Menara Ketiga, udara di antara dunia terasa berbeda—lebih berat, lebih hidup. Tapi juga rapuh, seperti benang cahaya yang masih menunggu untuk dijalin agar tak tercerai kembali.Di puncak menara, Seo Haneul berdiri membisu. Angin baru menyapu rambutnya, membawa aroma tanah Arangyeon dan logam dingin dari kota Seowon. Dunia telah berubah. Namun dirinya… belum sepenuhnya utuh.“Kau terlihat seperti orang yang baru dilahirkan kembali,” ujar Jaewon dari belakang, suaranya rendah.Haneul menoleh, senyum tipis menghiasi wajah letihnya. “Aku merasa seperti itu. Tapi juga seperti... seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.”Jaewon berjalan mendekat, menatap hamparan langit yang kini bersih dari pet
Last Updated: 2025-06-08
Chapter: Bab 58: Dua Jiwa di Satu Langit
Bab 58: Dua Jiwa di Satu LangitLangit Aeloria terbuka perlahan seperti kelopak bunga yang kehilangan warna. Di tengah pusaran cahaya dan bayangan, Haneul berdiri berdampingan dengan Hamin—jiwa kembar yang terpisah dunia, namun menyatu oleh takdir. Di antara mereka, seberkas cahaya berdenyut perlahan, seolah menjadi jembatan dari seluruh kemungkinan masa depan yang belum dipilih.Bayangan dari dunia yang gagal masih menggantung di udara. Ia tak memiliki bentuk tetap, matanya kosong namun memancarkan rasa kehilangan yang mendalam. Sosok itu bukan sekadar musuh—ia adalah sisa dari harapan yang gagal, jiwa yang terlambat memilih.“Kalian datang terlalu jauh,” suara itu bergema, retak dan tajam. “Kalian berpikir cinta dan pengorbanan bisa menebus dunia? Tidak ada yang bisa menghapus apa yang telah hancur.”Hamin melangkah maju. Suaranya rendah, tetapi mengandung kekuatan yang baru ia temukan dalam dirinya.
Last Updated: 2025-06-07
Chapter: Bab 57: Cermin dari Dunia yang Gagal
Bab 57: Cermin dari Dunia yang Gagal“Setiap pilihan yang tidak diambil tetap hidup, sebagai bayangan dari keputusan yang telah dibuat. Dan di dalam bayangan itu, dunia terus bernapas—dalam kehancuran yang tak pernah terjadi.”Gelap. Bukan malam, bukan kehampaan, tapi kegelapan yang basah, padat, dan berat. Ketika Haneul membuka matanya, ia tahu bahwa ini bukan Aeloria. Udara terasa pahit. Tanah yang dipijaknya seperti abu. Langit di atasnya retak, memancarkan kilatan merah dari celahnya, seolah langit sendiri menahan tangis yang tak bisa ditumpahkan.Ia berdiri di tengah kota. Atau yang dulunya kota.Gedung-gedung runtuh, ditelan akar logam dan api. Jalan-jalan penuh puing dan potongan peradaban: buku-buku terbakar setengah, robot penjaga yang membeku dalam posisi seperti berdoa, dan... sumpah-sumpah yang tertulis pada kelopak pohon kini berubah menjadi abu hitam.Di tengah reruntuhan, berdiri s
Last Updated: 2025-06-06
Chapter: Bab 56: Tanda dari Langit Merah
Bab 56: Tanda dari Langit Merah“Kebebasan adalah cahaya pertama yang dibutuhkan dunia. Tapi yang kedua adalah ujian: apakah cahaya itu cukup untuk bertahan di tengah kegelapan yang datang tanpa alasan.”Langit Aeloria pagi itu tidak seperti biasanya. Bukan karena warnanya—tetap biru lembut dengan semburat keemasan—melainkan karena keheningan yang turun begitu pekat, seolah alam sedang menahan napas. Di barat, kabut menggantung di antara pepohonan tinggi hutan Qairan, dan di tengahnya… berdiri sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun.Kristal merah gelap.Menancap di tengah padang, tertanam dalam tanah, dan berdenyut perlahan seolah memiliki detak jantungnya sendiri.“Dari langit semalam,” gumam Mira, saat ia berdiri bersama Haneul, Hamin, dan Jaewon di perbatasan hutan. “Itu bukan bintang. Bukan benda langit. Rasanya… seperti pesan.”“Bukan hany
Last Updated: 2025-06-05
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status