
Di Antara Dua Dunia
Sinopsis "Di Antara Dua Dunia"
Seo Haneul, seorang arsitek muda berbakat dari kota futuristik Seowon, menjalani hidup penuh ambisi namun tanpa arah. Ketika sebuah kecelakaan misterius membawanya ke dunia fantasi bernama Arangyeon, ia bertemu Kim Jaewon, seorang pemimpin kharismatik yang menjaga keseimbangan dunia yang indah namun rapuh itu.
Di Arangyeon, Haneul menemukan kedamaian yang selama ini ia cari, tetapi juga rahasia besar yang mengancam kedua dunia. Cinta tumbuh di antara Haneul dan Jaewon, meski mereka tahu hubungan itu mustahil. Dunia modern ingin menguasai teknologi kuno Arangyeon, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan keduanya adalah dengan memisahkan mereka selamanya.
Di tengah konflik dua dunia dan perasaan yang kian dalam, Haneul harus memilih: kembali ke hidupnya yang kosong di Seowon atau bertahan di Arangyeon dengan risiko menghancurkan segalanya.
"Di Antara Dua Dunia" adalah kisah tentang cinta terlarang, pengorbanan, dan perjalanan menemukan tempat di mana hati benar-benar berada.
Baca
Chapter: Bab 61: Kantara (Tanah yang Tidak Pernah Dijanjikan)Bab 61: Kantara (Tanah yang Tak Pernah Dijanjikan) Udara di sekitar Retakan Timur terasa lebih tipis, seolah-olah realitas itu sendiri sedang menahan napas. Angin enggan berembus, menghormati batas yang kian memudar. Di depan mata mereka, cahaya biru elektrik berdenyut di antara dua lapisan dimensi, menciptakan gema aneh—suara yang terdengar seperti napas panjang dari entitas yang telah tertidur selama ribuan tahun. Dunia Antara bukan lagi sekadar batas. Ia telah bangun. Ia hidup, bernapas, dan mulai bereaksi terhadap keberadaan manusia. Seo Haneul berdiri di ambang jurang kegelapan. Jubah ungu tuanya berkibar, senada dengan aura sihir yang memancar dari jemarinya. Di belakangnya, para penjaga sihir dan ilmuwan Seowon bersiaga dengan artefak pelindung yang berpendar redup. Namun, di titik nadir ini, hanya satu orang yang melangkah maju ke sisinya: Hamin. "Aku tahu aku berjanji akan menunggumu," kata Hamin sambil mengeratkan sarung tangan pelindung dimensinya. Matanya menatap lu
Terakhir Diperbarui: 2025-06-27
Chapter: Bab 60: Gerbang yang Tak Pernah SepiBab 60: Gerbang yang Tak Pernah SepiUdara di sekitar Retakan Timur menipis. Bahkan angin pun enggan menyentuh batas yang membelah kenyataan. Cahaya biru lembut bergetar di antara dua lapisan dimensi, menciptakan gema aneh seperti napas panjang dari makhluk yang belum terlihat. Dunia Antara… tidak lagi sekadar batas. Ia hidup. Ia merespons.Seo Haneul berdiri di tepi celah itu, jubah ungu-kelamnya berkibar pelan. Di belakangnya, para penjaga sihir dan ilmuwan dari Seowon menunggu dengan perangkat pemantau dan artefak pelindung. Namun hanya satu yang melangkah bersamanya: Hamin.“Aku tahu aku berjanji akan menunggumu,” kata Hamin sambil memeriksa sarung tangannya yang berlapis pembungkus dimensi. “Tapi aku tak bisa diam saja jika kau masuk ke tempat yang bahkan waktu pun enggan menyentuhnya.”Haneul menatapnya, tersenyum kecil. “Dan aku tahu aku tak bisa mencegahmu.”Jaewon mendekat, menyer
Terakhir Diperbarui: 2025-06-09
Chapter: Bab 59: Saat Batas MenyatuBab 59: Saat Batas Menyatu Langit Aeloria kini terbentang tanpa batas: tidak lagi terbelah oleh sihir dan teknologi, tidak lagi dipagari oleh dogma atau dendam. Setelah penyatuan Menara Ketiga, udara di antara dunia terasa berbeda—lebih berat, lebih hidup. Tapi juga rapuh, seperti benang cahaya yang masih menunggu untuk dijalin agar tak tercerai kembali.Di puncak menara, Seo Haneul berdiri membisu. Angin baru menyapu rambutnya, membawa aroma tanah Arangyeon dan logam dingin dari kota Seowon. Dunia telah berubah. Namun dirinya… belum sepenuhnya utuh.“Kau terlihat seperti orang yang baru dilahirkan kembali,” ujar Jaewon dari belakang, suaranya rendah.Haneul menoleh, senyum tipis menghiasi wajah letihnya. “Aku merasa seperti itu. Tapi juga seperti... seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.”Jaewon berjalan mendekat, menatap hamparan langit yang kini bersih dari pet
Terakhir Diperbarui: 2025-06-08
Chapter: Bab 58: Dua Jiwa di Satu LangitBab 58: Dua Jiwa di Satu LangitLangit Aeloria terbuka perlahan seperti kelopak bunga yang kehilangan warna. Di tengah pusaran cahaya dan bayangan, Haneul berdiri berdampingan dengan Hamin—jiwa kembar yang terpisah dunia, namun menyatu oleh takdir. Di antara mereka, seberkas cahaya berdenyut perlahan, seolah menjadi jembatan dari seluruh kemungkinan masa depan yang belum dipilih.Bayangan dari dunia yang gagal masih menggantung di udara. Ia tak memiliki bentuk tetap, matanya kosong namun memancarkan rasa kehilangan yang mendalam. Sosok itu bukan sekadar musuh—ia adalah sisa dari harapan yang gagal, jiwa yang terlambat memilih.“Kalian datang terlalu jauh,” suara itu bergema, retak dan tajam. “Kalian berpikir cinta dan pengorbanan bisa menebus dunia? Tidak ada yang bisa menghapus apa yang telah hancur.”Hamin melangkah maju. Suaranya rendah, tetapi mengandung kekuatan yang baru ia temukan dalam dirinya.
Terakhir Diperbarui: 2025-06-07
Chapter: Bab 57: Cermin dari Dunia yang GagalBab 57: Cermin dari Dunia yang Gagal“Setiap pilihan yang tidak diambil tetap hidup, sebagai bayangan dari keputusan yang telah dibuat. Dan di dalam bayangan itu, dunia terus bernapas—dalam kehancuran yang tak pernah terjadi.”Gelap. Bukan malam, bukan kehampaan, tapi kegelapan yang basah, padat, dan berat. Ketika Haneul membuka matanya, ia tahu bahwa ini bukan Aeloria. Udara terasa pahit. Tanah yang dipijaknya seperti abu. Langit di atasnya retak, memancarkan kilatan merah dari celahnya, seolah langit sendiri menahan tangis yang tak bisa ditumpahkan.Ia berdiri di tengah kota. Atau yang dulunya kota.Gedung-gedung runtuh, ditelan akar logam dan api. Jalan-jalan penuh puing dan potongan peradaban: buku-buku terbakar setengah, robot penjaga yang membeku dalam posisi seperti berdoa, dan... sumpah-sumpah yang tertulis pada kelopak pohon kini berubah menjadi abu hitam.Di tengah reruntuhan, berdiri s
Terakhir Diperbarui: 2025-06-06
Chapter: Bab 56: Tanda dari Langit MerahBab 56: Tanda dari Langit Merah“Kebebasan adalah cahaya pertama yang dibutuhkan dunia. Tapi yang kedua adalah ujian: apakah cahaya itu cukup untuk bertahan di tengah kegelapan yang datang tanpa alasan.”Langit Aeloria pagi itu tidak seperti biasanya. Bukan karena warnanya—tetap biru lembut dengan semburat keemasan—melainkan karena keheningan yang turun begitu pekat, seolah alam sedang menahan napas. Di barat, kabut menggantung di antara pepohonan tinggi hutan Qairan, dan di tengahnya… berdiri sesuatu yang belum pernah dilihat siapa pun.Kristal merah gelap.Menancap di tengah padang, tertanam dalam tanah, dan berdenyut perlahan seolah memiliki detak jantungnya sendiri.“Dari langit semalam,” gumam Mira, saat ia berdiri bersama Haneul, Hamin, dan Jaewon di perbatasan hutan. “Itu bukan bintang. Bukan benda langit. Rasanya… seperti pesan.”“Bukan hany
Terakhir Diperbarui: 2025-06-05

Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat
"Aku bukan lagi istrimu yang penurut, Hiroshi. Mulai malam ini, kau hanyalah narapidana di rumahmu sendiri."
Lima tahun pernikahan bagi Aiko Tanaka hanyalah sebuah penantian panjang yang berujung pahit. Hiroshi Tanaka, sang CEO karismatik yang ia cintai, tidak hanya mengabaikannya, tetapi juga mengkhianatinya dengan rencana masa depan bersama wanita lain.
Namun, saat bukti pengkhianatan itu terungkap dan skandal besar mengancam takhta sang CEO, Hiroshi justru berlutut memohon ampun. Ia tidak bisa kehilangan posisinya, dan ia baru menyadari bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Aiko.
Aiko tidak memilih untuk pergi begitu saja. Ia kembali, namun bukan sebagai istri yang pemaaf. Ia membawa sebuah Kontrak Penebusan yang kejam.
Isi Kontrak itu sederhana namun mematikan:
Hiroshi harus tinggal kembali di bawah atap yang sama.
Di kantor ia adalah penguasa, namun di rumah ia adalah pelayan.
Dan yang paling merendahkan: Hiroshi harus tidur di lantai kamar utama, dilarang menyentuh Aiko tanpa izin, sementara ia dipaksa menyaksikan wanita yang ia sia-siakan itu kini menjadi penguasa atas hidupnya.
Di bawah bayang-bayang ancaman pemerasan dari sang mantan selingkuhan dan pengawasan ketat kontrak tersebut, Hiroshi harus memilih: Mempertahankan sisa egonya atau menyerahkan seluruh martabatnya demi mendapatkan kembali cinta yang telah ia hancurkan.
Ini bukan sekadar cerita tentang maaf. Ini adalah tentang kontrak yang mengubah ranjang pernikahan menjadi medan perang penebusan.
Baca
Chapter: Bab 54: Sintesis Kematian (Jiro-Gaia)Tentakel hitam yang keluar dari inti Jantung Gaia itu bukan sekadar energi murni; ia memiliki tekstur yang menyerupai serat otot yang terbuat dari merkuri cair. Saat tentakel itu membelit kaki kanan Hiroshi, baju penyelam Mk-IV miliknya mengerang keras. Sensor tekanan pada kakinya langsung melonjak ke zona merah, menandakan bahwa "tangan" Jiro yang baru ini memiliki kekuatan untuk meremukkan baja dalam sekejap. Hiroshi terpaksa melepaskan gendongannya pada Aiko, merebahkannya di atas tonjolan kristal yang relatif stabil sebelum ia sendiri ditarik menuju lubang inti yang menganga."Kau merasakannya, Hiroshi? Berat dari masa lalu yang akhirnya mengejarmu?"
Terakhir Diperbarui: 2026-02-13
Chapter: Bab 53: Resonansi yang RetakHiroshi terhempas ke dinding organik piramida yang terasa kenyal namun kokoh, seperti otot raksasa yang sedang menegang. Rasa sakit menjalar dari bahu kanannya yang menghantam tonjolan kristal, tetapi rasa perih di dadanya jauh lebih hebat saat ia menatap pemandangan di depannya. Aiko—istri yang ia cari hingga ke ujung dunia—kini berdiri melayang beberapa inci di atas lantai kristal yang berpendar. Cahaya ungu yang memancar dari mata Aiko begitu intens, mematikan pupil dan irisnya, hingga fitur wajahnya yang biasanya lembut tampak seperti topeng porselen yang dingin. Tidak ada tanda-tanda pengenalan di sana; yang ada hanyalah kekosongan dari sebuah entitas yang jiwanya telah dikesampingkan oleh program harmoni purba."Aiko, dengarkan aku! Kau harus melawan frekuensi ini!" Hiroshi berteriak, suaranya bergema di dalam ruangan kedap air yang dipenuhi aroma bunga teratai yang manis namun memuakkan. Ia bisa merasakan tekanan udara di dalam ruangan ini berubah-ubah, mengikuti irama napas pi
Terakhir Diperbarui: 2026-02-12
Chapter: Bab 51: Di Dasar Jurang KeputusasaanRasa sakit adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Hiroshi. Itu bukan rasa sakit yang tajam, melainkan denyutan tumpul yang merambat dari tulang punggung hingga ke dasar tengkoraknya. Ia mencoba membuka mata, namun kelopak matanya terasa berat, tertutup oleh lapisan debu radioaktif dan darah yang mengering. Hiroshi tidak jatuh ke tanah keras; ia mendarat di atas tumpukan kabel industri dan jaring baja yang menggantung di sela-sela dinding reaktor nomor empat yang runtuh.Ia terengah-engah, setiap tarikan napasnya terasa perih akibat filter udara helmnya yang retak. Di atasnya, siluet helikopter evakuasi menjauh, menghilang di balik awan kelabu Fukushima. Hiroshi teringat kilatan pisau perunggu itu—pengkhianatan oleh Takeshi, komandan unit bayangannya sendiri yang telah ia percayai selama sepuluh tahun. "Kehidupan abadi..." bisik Hiroshi parau, suaranya teredam oleh kesunyian reruntuhan. "Mereka bahkan bisa membeli kesetiaan dengan janji yang tak masuk akal."Dengan susah payah, Hi
Terakhir Diperbarui: 2026-02-11
Chapter: Bab 50: Debu di Zona MerahKapal tanker Tanaka-Goliath berhenti di batas zona navigasi terlarang, beberapa mil dari pesisir pantai Fukushima. Di cakrawala, silinder-silinder beton reaktor yang retak berdiri seperti nisan raksasa di bawah langit yang kelabu. Laut di sini tampak berbeda; lebih tenang, namun dengan warna hijau pekat yang tidak alami akibat endapan isotop selama bertahun-tahun. Hiroshi berdiri di dek, mengenakan setelan proteksi biokimia yang berat, sementara helm kedap udaranya memantulkan bayangan reruntuhan di kejauhan."Tuan Hiroshi, tingkat radiasi di daratan masih jauh di atas ambang batas aman untuk manusia biasa," suara Nyonya Sato terdengar melalui radio internal helm, penuh dengan kekhawatiran yang tertahan. "Mengirim Anda ke sana tanpa tim pembersih adalah tindakan yang sangat berisiko. Biarkan unit bayangan kami yang turun terlebih dahulu."
Terakhir Diperbarui: 2026-02-10
Chapter: Bab 49: Horizon yang HilangKeheningan yang menyusul hilangnya kapal selam misterius itu terasa lebih menyakitkan daripada ledakan satelit Icarus. Hiroshi berdiri di tepi dek kapal tanker Tanaka-Goliath, jemarinya mencengkeram pagar besi hingga buku jarinya memutih. Di kejauhan, sisa-sisa uap panas dari modul inti yang jatuh masih mengepul di atas permukaan air yang tenang, namun modul itu sendiri—bersama dengan kesadaran Aiko yang masih terperangkap di dalamnya—telah lenyap ditelan kegelapan samudra."Tuan Hiroshi, kita harus bergerak! Radar menunjukkan kapal selam itu menyelam melebihi kemampuan sensor kita!" Suara Nyonya Sato terdengar parau dari arah belakang
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: Bab 48: Singgasana di Atas AwanDi dalam ruang kendali Tanaka-Goliath yang remang-remang, hanya cahaya indikator dari kursi antarmuka saraf yang menerangi wajah pucat Aiko. Tubuhnya terikat pada kursi baja, namun kesadarannya telah melesat jauh ke atas, menembus lapisan atmosfer menuju orbit rendah bumi. Di sana, di tengah kehampaan ruang angkasa, Satelit Icarus menggantung seperti dewa logam yang haus darah. Namun, bagi Aiko yang kini berada dalam wujud Lumen murni, satelit itu tampak sebagai labirin data yang sangat luas, sebuah benteng yang dibangun dari triliunan baris kode enkripsi yang berdenyut dengan warna merah peringatan."Aiko! Dengarkan suaraku!" Suara Hiroshi terdengar bergema di dalam pikiran Aiko, jauh dan terdistorsi. Di dunia nyata, Hiroshi sedang berjuang menahan tubuh Aiko y
Terakhir Diperbarui: 2026-02-08