Chapter: Epilog : Satu Tahun, Satu Hidup BaruMatahari sore merambat masuk lewat jendela besar rumah Darian dan Tavira, menciptakan garis-garis keemasan di lantai marmer yang menghangatkan ruangan.Dari balik sofa, suara lembut bayi terdengar. Bukan tangisan, melainkan gumaman kecil yang seolah menciptakan melodi baru dalam rumah yang sebelumnya sunyi.Darian duduk di kursi goyang, menggendong bayi mereka di dadanya. Bayi itu tertidur pulas, kedua tangannya yang mungil menggenggam kuat jari ayahnya. Napasnya kecil-kecil, teratur, damai.Darian tidak pernah merasa hidupnya setenang ini.Ia membungkuk, mengecup ubun-ubun bayinya.“Astra,” bisiknya lembut. “Pangeran kecil Papa.”Ya, setelah melalui perdebatan panjang, atau lebih tepatnya, Tavira menangis haru ketika mendengar nama itu. Mereka menamai putra mereka Astra Darrel Haryodipura.Astra, berarti cahaya bintang. Darrel, berasal dari nama Darian. Haryodipura, berasal dari keluarga besar Darian.Nama itu seolah merangkum
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Bab 250. Keluarga Penuh CintaSuasana ruang rapat lantai dua puluh hari itu penuh suara kertas dibalik, denting gelas kopi, dan diskusi serius tentang ekspansi cabang baru.Darian duduk di ujung meja panjang, wajahnya setajam biasa, tatapannya fokus pada data proyeksi yang ditampilkan di layar. Tangannya menekan pena, sesekali mencatat poin penting, sementara peserta rapat menunggu keputusan finalnya.Namun baru lima menit setelah manajer pemasaran selesai mempresentasikan bab terakhir, pintu ruang rapat diketuk pelan.Eshan, yang seharusnya berada di luar menangani agenda lain, masuk dengan raut wajah pucat.“Pak,” bisik Eshan sambil membungkuk mendekati telinga Darian. “Tavira… dia sudah dibawa ke rumah sakit karena kontraksi. Dokter bilang sepertinya dia akan lahiran hari ini.”Darian langsung membeku.Pena di tangannya terlepas begitu saja, jatuh berputar di atas meja. Semua orang di ruangan menoleh, bingung.Darian berdiri, kursinya sampai bergeser keras ke b
Last Updated: 2025-12-23
Chapter: Bab 249. Masa Lalu Sudah SelesaiRestoran kecil itu dipenuhi cahaya kuning temaram yang memantul di permukaan meja kayu. Di sudut ruangan, Tavira dan Darian duduk berhadapan, menikmati makan malam pertama mereka di luar rumah setelah dokter menyatakan kehamilan Tavira memasuki trimester terakhir.Perut Tavira sudah membuncit manis, membuatnya harus duduk sedikit lebih tegak karena mudah merasa sesak jika terlalu membungkuk.Darian memastikan kursi Tavira nyaman, memesan sup yang tidak terlalu asin, bahkan menyingkirkan lilin aromaterapi karena ia khawatir bau tajamnya membuat Tavira mual.Ia memang berubah sejak Tavira hamil. Lebih perhatian, lebih berhati-hati, seakan satu gerakan kecil salah saja bisa membuat istrinya tidak nyaman.“Makan pelan-pelan,” ujar Darian, menatap Tavira dengan campuran geli dan sayang ketika melihat istrinya menikmati hidangan dengan mata berbinar.“Aku lapar,” jawab Tavira sambil tertawa kecil. “Katanya normal kalau trimester tiga begini.”“Tet
Last Updated: 2025-12-23
Chapter: Bab 248. Sebuah KeluargaTiga hari setelah kondisi Darian benar-benar stabil, dokter akhirnya mengizinkannya pulang.Tavira hampir tidak bisa berhenti tersenyum sejak mendengar kabar itu. Setelah semua bulan yang mereka lewati. Trauma, penculikan, kecelakaan. Mimpi bisa membawa Darian pulang terasa seperti hadiah besar dari Tuhan.Pagi itu, Tavira sibuk menyiapkan rumah. Ia menyusun ulang bantal-bantal di kamar utama, memastikan suhu AC tidak terlalu dingin, memilih piyama lembut untuk Darian, sampai mengecek pantry apakah ada teh herbal favorit Darian.Semua itu ia lakukan sambil menahan mual yang masih sering datang. Tubuhnya mudah lemas tapi wajahnya memancarkan sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya. Cahaya kecil seorang calon ibu yang baru menemukan harapan.Bunda Darian datang pagi-pagi sekali, seperti sudah tahu Tavira tidak boleh terlalu banyak kerja. Bunda membawa sekantung besar buah, roti hangat, serta sup ayam yang aromanya menyebar ke seluruh dapur.“Tavi
Last Updated: 2025-12-22
Chapter: Bab 247. Hutang BudiHari–hari setelah Darian sadar berjalan penuh lalu-lalang. Kamar VIP itu tak pernah benar-benar sepi. Para direktur, rekan bisnis, sahabat lama, bahkan beberapa keluarga jauh datang bergantian. Semuanya menanyakan keadaan Darian, memberikan bunga, buah, dan ucapan syukur.Tavira selalu berada di sisi ranjang, menerima mereka dengan senyum ramah meskipun tubuhnya kelelahan dan mualnya sering kambuh.Darian, meski belum bisa bicara banyak, selalu menggenggam tangan Tavira seakan ia ingin mengingatkan semua orang bahwa istrinya adalah jangkar hidupnya.Suatu sore yang tenang, setelah kunjungan terakhir dari kolega kantor selesai. Tavira berdiri di samping jendela sambil merapikan rangkaian bunga yang mulai memenuhi ruangan.Eshan baru saja pergi untuk makan sebentar. Leisa ke apotek rumah sakit. Darian tertidur, lega dan damai.Pintu kamar diketuk.Tavira menoleh, tersenyum kecil. “Silakan masuk.”Pintu terbuka pelan. Dan seseorang yang
Last Updated: 2025-12-22
Chapter: Bab 246. Selalu KembaliUdara pagi di ruang VIP rumah sakit masih mengandung aroma steril yang menusuk. Namun bagi Tavira, semuanya terasa berbeda hari itu. Lebih hangat, lebih berwarna, seolah dunia tiba-tiba mengembalikan denyutnya.Darian sudah bangun. Ia masih lemah, masih terbaring dengan infus menempel dan napas yang sesekali tersengal kecil, tetapi suaminya hidup. Mata itu terbuka. Menatapnya. Memanggil namanya.Sejak pelukan panjang dan isakan kegembiraan mereka, Tavira duduk hampir tanpa bergerak di kursi samping ranjang. Jemarinya masih menggenggam tangan Darian, seakan ia takut melepaskan akan membuat semua ini terbukti sekadar mimpi.Darian sesekali memejam, lelah karena tubuhnya baru melewati badai panjang. Tapi setiap kali ia membuka mata, hal pertama yang dicari adalah wajah Tavira.“Duduk saja, Sayang. Kamu pasti capek,” Darian berbisik pelan, suaranya serak, nyaris tak terdengar.Tavira menggeleng keras. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana,” katanya deng
Last Updated: 2025-12-21
Chapter: 195. My Happy Ending"Aku menunggumu datang, Nara."Aku terlena dengan desis suaranya. Seperti membuaiku dari kekalutan. Memberiku semangat sebab sempat terpuruk mendengar tangisnya.Viana memundurkan kepalanya hingga kami jadi saling bertatapan.Aku lupa, Viana memang seindah ini sebelumnya. Wajahnya, senyumnya, cara ia melirikku. Dia wanita yang punya kesempurnaan mutlak."Aku mau minta maaf, sudah merepotkanmu hari itu," sambung Viana."Merepotkan apa?""Kamu. Sampai sengaja menghiburku ke luar rumah demi membuatku gak sesak lagi berada di dalam sini."Aku belum menemukan inti dari perkataannya. Atau kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung."Waktu itu aku sangat down. Aku benar-benar gak bisa berpikir dengan tepat. Aku juga gak ingat pernah berteriak pada semua orang tentangmu ataupun tentang Riga."Mendengar nama itu disebut lagi, spontan aku seperti diingatkan, kalau Viana bukan milikku, tapi Riga. Meski Riga sudah meningg
Last Updated: 2024-05-31
Chapter: 194. Menunggumu"Aku ingin kembali pada Viana. Apa aku salah?"Yenan mendorong kerahku hingga belakang kepalaku membentur tanah."Tentu saja kamu salah, bedebah! Kamu sudah mempermainkan perasaan Seya," teriak Yenan.Yenan bangkit dari menindih badanku. Ia mengacak rambutnya, seolah kehilangan akal."Sialan! Kalau tahu akhirnya akan begini, harusnya aku gak membiarkanmu dekat dengan Seya." Yenan meracau.Aku sama sekali tak beranjak dari tanah. Langit bisa kupandangi dari posisiku. Juga dingin dari jalanan yang mulai menghasilkan embun pagi."Pergi kamu, Nara! Aku akan menghancurkanmu kalau sampai menunjukkan wajahmu lagi di depan Seya."Bagiku, itu seperti isyarat bahwa ia menyerah terhadapku. Sebab, memintaku tetap berada di sini, kembali pada Seya, hanya akan memberikan luka padanya.Yenan memilih untuk membenciku dengan caranya.Aku beranjak dari tanah. Memandangi Yenan yang sedang memunggungiku lengkap dengan kepalan tangan yang te
Last Updated: 2024-05-30
Chapter: 193. KeputusanNamun, rupanya di rumahku ada seseorang.Seya.Ia berdiri menghadapku dengan wajah cemas dan kantung mata menghitam. Kutebak, ia juga tak tidur malam kemarin.“Nara!” suaranya terdengar serak. “Aku mencemaskanmu.”Seya mendekat. “Apa yang terjadi dengan ponselmu, kenapa gak menjawab teleponku. Aku hanya ingin tahu kabarmu. Aku cemas terjadi sesuatu dengan Nara.”Aku sudah menduga Seya akan begini. Hanya saja aku tidak menyangka akan terjadi secepat ini, di rumahku, tepat setelah aku kembali.Saat di perjalanan, aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku harus memilih Seya dan Viana. Dan pilihanku jatuh pada Viana.“Seya, ada yang mau kukatakan padamu,” potongku. Mengabaikan kalimatnya barusan.Wajah Seya tegang. Ia tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Senyum yang kemarin jadi ciri khasnya seolah raib hanya lewat kalimatku barusan.“Jangan katakan! Aku tahu apa yang
Last Updated: 2024-05-29
Chapter: 192. Kembali"Viana, kamu mau pergi denganku?"Viana memandangiku dengan tatapan kuyu. Aku tahu ia masih terpengaruh obat bius. Ia juga masih lemas efek berontak siang tadi.Tapi sungguh, di dalam rumah ini terasa sangat menyesakkan. Aku ingin memberi Viana angin segar agar ia lepas dari stress yang membuatnya ingin terus berteriak.Kuraih jaket yang menggantung dekat rak. Kupakaikan pada Viana. Lalu membantunya turun dari kasur dan menggandengnya berjalan keluar kamar.Orang-orang masih terlelap tidur. Aku dan Viana leluasa jalan mengendap-endap sampai ke luar rumah. Sekilas aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 1 dini hari. Malam akan sangat dingin di luar, maka kurapatkan jaket yang dikenakan Viana.Jejeran bunga tanda berduka masih berada memenuhi jalanan. Viana menoleh ke arah itu. Sambil menahan gemetaran di bibirnya. Kupegang erat tangannya, berjalan ke arah sebaliknya yang jauh dari karangan bunga.Jalan dan jalan. Tak ada yang kami ucapkan.
Last Updated: 2024-05-28
Chapter: 191. Stres dan Trauma“Mana Nara?”Otomatis aku beringsut ke kamar Viana begitu mendengar namaku disebut. Cyan juga mengekor tak jauh dariku.Viana nampak sedang ditenangkan oleh kakak iparnya. Ia mengamuk seperti saat tadi pagi. Kali ini ia meneriakkan namaku. Seolah kehilangan akal. Itu bukan seperti Viana yang kukenal.“Nara, mana Nara? Jangan ceraikan aku. Aku gak mau cerai dari Nara,” teriak Viana.Cerai?“Nara!”Lagi, Viana berteriak. Aku yang saat itu di pintu hanya bisa menatapnya. Viana menolehku. Tatapan kami bersirobok. Dan secepat kilat, Viana berlari ke arahku. Memeluk tubuhku. Di hadapan orang-orang, ia melingkarkan tangannya di perutku, kepalanya membenam di dadaku."Kumohon, jangan ceraikan aku. Aku gak mau berpisah denganmu. Jangan pergi!"Semua membisu. Terutama aku.Aku sempat mendengar kalau orang yang memiliki stres akut, ingatannya bisa kembali pada saat trauma terberatnya.Bisa
Last Updated: 2024-05-27
Chapter: 190. HarusnyaSaat itulah, aku menghampiri Viana. Mengambil alih kanan dan kiri tubuhnya. Mencengkeram pergelangan tangannya. Dan menariknya masuk ke tubuhku.“Ssst, diamlah Viana!”Viana belum sadar benar siapa yang memeluknya ini. Ia memukuli punggungku dan masih saja berteriak. Lagi, aku memeluknya makin erat. Tidak peduli dia memukul seberapa keras, atau ia menggigit bahuku demi minta kulepaskan.“Viana, ini aku. Nara!”Saat itu, barulah Viana berhenti. Mata kami bertautan. Kupandangi kedalaman matanya yang terlihat sangat nelangsa. Ada ribuan kalimat sedih yang kutangkap dari sorot matanya.Entah sudah berapa lama Viana mengamuk seperti ini, hanya saja kulihat ia cukup lelah. Napasnya naik turun, kedua tangannya juga melemas ketika kutangkap.“Na-ra?”Viana sukses menyebutkan namaku dengan bibirnya yang bergetar. Dan tak lama, Viana kehilangan keseimbangan. Ia pingsan. Aku menangkap kepalanya sebelum jatuh k
Last Updated: 2024-05-26
Suamiku Duda Bisu
Di usia tiga puluh, Liora Amadea belum juga menikah. Ia memberanikan diri menyatakan perasaan pada Niro, cinta pertamanya, namun yang ia dapatkan adalah penolakan.
Ketika perjodohan menjadi jalan terakhir, Liora menikah dengan Kairan Narel Ardana, seorang duda pendiam yang dikenal sebagai Lelaki Bisu. Pernikahan mereka dimulai tanpa janji cinta, hanya kesepakatan dan jarak.
Namun dalam diam Kairan, Liora menemukan ketenangan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Perasaan pun tumbuh, pelan dan tanpa rencana.
Masalah muncul ketika Niro kembali. Kini Niro menginginkan Liora setelah ia menjadi istri Kairan. Dengan perhatian dan kata-kata manis, Niro menggoyahkan hati Liora dan mempertanyakan pernikahannya.
Terjebak di antara cinta pertama yang berisik dan suami yang mencintai tanpa kata, Liora harus memilih. Mengejar perasaan yang memanggil, atau bertahan pada lelaki yang diam-diam telah menjadikannya rumah.
Read
Chapter: Bab 9. Ruang KerjaSemakin dipikirkan, semakin Liora merasa mantan istri Kairan terlalu cantik untuk sekadar disebut manusia biasa.Wajah perempuan dalam foto itu terus menghantuinya sejak kemarin. Bahkan saat ini, ketika tangannya sibuk mengiris bawang dan mengaduk masakan di dapur, bayangan perempuan itu tetap melekat di kepalanya.Mata terang yang teduh, hidung mancung sempurna, bibir tipis kemerahan yang tampak selalu tersenyum meski hanya dalam foto. Rambut panjang hitam berkilau, jatuh rapi di bahu. Kulit putih susu tanpa cela.Sempurna.Liora menelan ludah, dadanya terasa sedikit sesak.Ia membandingkan wajah itu dengan bayangannya sendiri di pantulan microwave dapur. Matanya memang besar dan bulat, bibirnya ranum dan merekah alami, rambutnya tipis dengan semburat kemerahan. Cantik, kata sebagian orang. Tapi di hadapan perempuan dalam foto itu, Liora merasa seperti sketsa yang belum selesai.Desis minyak panas dari wajan menyadarkannya.“Eh
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: Bab 8. Nama yang Tak DiketahuiRumah itu tetap sunyi.Tidak ada perubahan berarti sejak Liora resmi menjadi istri Kairan. Dialog masih jarang terjadi, bahkan bisa dibilang nyaris tidak ada.Bedanya, kini Liora lebih bisa menerima kenyataan. Bahwa suaminya memang seperti itu. Pendiam, tertutup, dan hidup dengan dunianya sendiri.Pernah suatu kali Liora mencoba berbicara lebih banyak. Menceritakan hal-hal kecil, mulai dari menu masakan, acara televisi, hingga cerita tetangga. Ia berharap suara-suara itu bisa memancing Kairan untuk ikut masuk ke dalam percakapan. Namun hasilnya nihil. Kairan tetap diam, tidak terganggu. Hanya anggukan kepala tanda ia telah mendengar.Saat itu Liora merasa konyol. Suaranya sendiri terdengar asing di rumah yang terlalu besar dan terlalu hening.Sejak hari itu, ia berhenti memaksa. Bukan karena menyerah, melainkan karena memilih menyesuaikan diri. Jika rumah ini sunyi, maka ia akan belajar hidup di dalam kesunyian itu.Namun ada satu hal sederhana yang tetap Liora harapkan dari Kairan.I
Last Updated: 2026-01-07
Chapter: Bab 7. Masalah KomunikasiDalam sehari, hampir bisa dihitung berapa kali Kairan mengeluarkan suara. Itu pun sebatas kata singkat. Ya, tidak, atau Hmm. Kadang hanya anggukan atau gelengan kepala. Selebihnya diam.Sudah seminggu Liora menjalani peran sebagai istri di rumah itu. Dan selama seminggu pula, dialah yang paling sering membuka percakapan. Bukan karena ia cerewet, melainkan karena ia takut rumah itu terlalu tenggelam dalam sunyi.Liora berusaha memaklumi. Ia tidak memaksa Kairan bicara jika memang tidak suka. Ia belajar menyesuaikan diri, meski kadang lelah menghadapi rumah yang terasa sunyi bukan karena luasnya, melainkan karena pemiliknya hampir tidak meninggalkan suara.Seperti siang ini.Kairan duduk di ruang tengah, tenggelam dalam buku. Liora dari dapur memanggil namanya, hendak bertanya ingin dimasakkan sesuatu yang manis atau asin.Tidak ada jawaban.Liora keluar dari dapur, mendekat sedikit. Memanggil lagi, kali ini lebih keras.Tetap tidak ada respons.Ia mengerucutkan bibir. Kairan dijuluki l
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 6. Hari Pertama Sebagai IstriLiora resmi menjadi istri Kairan Narel Ardana.Kesadaran itu datang perlahan, tidak dalam bentuk letupan bahagia yang riuh, melainkan seperti embun yang jatuh diam-diam. Dingin, nyata, dan menetap di dada. Tidak mengagetkan, tapi membuatnya sadar bahwa hidupnya kini benar-benar berubah.Rumah yang kini ia tempati adalah rumah Kairan. Bangunan tiga lantai dengan dinding berwarna netral dan lorong-lorong sunyi yang membuat langkah kaki terdengar lebih jelas dari seharusnya. Terlalu besar untuk dua orang, pikir Liora. Namun ia tahu, cepat atau lambat, rumah ini akan menemukan iramanya sendiri.Ia sempat berkeliling seorang diri ketika pertama kali tiba. Menyentuh gagang pintu satu per satu, memperhatikan jendela-jendela besar, dan cahaya sore yang menyelinap masuk melalui sela tirai. Tidak ada larangan. Tidak ada ruang terkunci. Tidak ada batasan yang ditetapkan Kairan.Dan justru itu yang membuat Liora sedikit gugup.Ia sempat membayangkan rumah seorang duda akan dipenuhi jejak masa lal
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 5. Sebuah Kata Dari KairanDua minggu sebelum hari pernikahan, Liora kembali berdiri berhadapan dengan cermin besar di sebuah butik pengantin.Kali ini ia tidak sendirian. Paman dan Tante ikut menemani, duduk di sofa empuk dengan wajah penuh ekspektasi, sementara beberapa staf butik mondar-mandir menyesuaikan detail terakhir.Gaun itu jatuh sempurna di tubuh Liora.Gaun berwarna pink.Bukan pink pucat, bukan pula pink kekanakan. Warna lembut tapi berani seperti mimpi yang tidak ingin disembunyikan.Gaun itu mengembang indah, dengan detail renda halus dan potongan klasik seperti putri dalam dongeng. Sejak kecil, Liora membayangkan hari pernikahannya seperti ini. Dan hari itu semakin dekat.“Ih…” Tante mengernyitkan dahi, menatap Liora dari atas ke bawah. “Apa nggak terlalu mencolok? Pink begitu. Kenapa nggak putih saja? Lebih netral.”Liora menatap bayangannya di cermin. Senyum di wajahnya meredup sedikit.Entah kenapa, komentar Tante selalu berhasil menemukan celah paling lunak di hatinya.Padahal Tante bukan t
Last Updated: 2026-01-05
Chapter: Bab 4. Tentang KairanLiora tidak langsung pulang ke kamarnya setelah pertemuan itu berakhir.Ia pulang dengan kepala penuh, langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya, dan dada yang terasa hangat. Bukan berdebar, bukan pula gelisah. Lebih seperti perasaan seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang tidak ia cari, tapi ternyata ia butuhkan.Paman masih duduk di ruang keluarga, menyaksikan acara berita malam sambil menyeruput minuman buatan Tante.“Paman,” panggil Liora, lalu duduk di sebelahnya tanpa basa-basi. “Kenapa Paman bohong padaku?”Paman menoleh, alisnya terangkat. “Bohong apa?”“Kairan,” kata Liora cepat. “Paman bilang dia bisu. Tapi dia bisa bicara. Dan suaranya—” Liora berhenti sejenak, lalu menghela napas. “Dia jelas bukan lelaki bisu.”Paman tertawa kecil, lalu menggeleng. “Paman nggak pernah bilang dia bisu.”Liora terdiam. Ia mengingat-ingat kembali. Benar. Tidak ada kalimat pasti dari Paman. Yang ia ingat hanyalah istilah lelaki bisu yang terlanjur melekat di kepalanya.“Tante?” teb
Last Updated: 2026-01-05