Suamiku Duda Bisu
Di usia tiga puluh, Liora Amadea belum juga menikah. Ia memberanikan diri menyatakan perasaan pada Niro, cinta pertamanya, namun yang ia dapatkan adalah penolakan.
Ketika perjodohan menjadi jalan terakhir, Liora menikah dengan Kairan Narel Ardana, seorang duda pendiam yang dikenal sebagai Lelaki Bisu. Pernikahan mereka dimulai tanpa janji cinta, hanya kesepakatan dan jarak.
Namun dalam diam Kairan, Liora menemukan ketenangan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Perasaan pun tumbuh, pelan dan tanpa rencana.
Masalah muncul ketika Niro kembali. Kini Niro menginginkan Liora setelah ia menjadi istri Kairan. Dengan perhatian dan kata-kata manis, Niro menggoyahkan hati Liora dan mempertanyakan pernikahannya.
Terjebak di antara cinta pertama yang berisik dan suami yang mencintai tanpa kata, Liora harus memilih. Mengejar perasaan yang memanggil, atau bertahan pada lelaki yang diam-diam telah menjadikannya rumah.
Read
Chapter: Bonus Part : Kinara dan NiroBonus Part : Kinara dan NiroKinara sedang memeriksa seorang ibu hamil yang datang sendirian sore itu. Mereka duduk saling berhadapan di ruang praktik yang mulai lengang, sebab pasiennya memang sudah hampir habis.Kinara menuliskan resep obat dengan rapi di atas meja, lalu bertanya sekadar basa-basi, seperti yang biasa ia lakukan untuk mencairkan suasana.“Bunda datang sendiri? Suaminya enggak ikut?”Wanita berambut kepang itu tersipu. Bukannya menjawab biasa, ia malah terkikik pelan seolah menyimpan sesuatu yang lucu.Kinara mengangkat alis, heran.“Kenapa?”Wanita itu mendekat sedikit, lalu berbisik seperti sedang membagikan rahasia.“Suamiku malu datang ke sini, Bu Dokter.”“Malu?” Kinara tertawa kecil. “Memangnya kenapa?”Wanita itu melirik ke kiri dan kanan, memastikan tak ada orang lain, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menggeser-g
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Bonus Part : Harra dan HarriBonus Part : Harra dan HarriHarra dan Harri kini sudah berusia tujuh tahun. Usia di mana energi mereka seolah tidak pernah habis.Rumah yang dulu terasa luas kini sering terasa sempit oleh tawa, langkah kaki kecil, dan suara pertengkaran sepele yang cepat datang, cepat pula pergi.Sejak kecil, Liora menyadari keduanya mewarisi bakat menggambar darinya. Terutama Harri, yang bisa duduk lama hanya untuk menorehkan garis-garis kecil di kertas. Harra tak kalah berbakat, meski ia lebih suka menggambar bunga, rumah, dan wajah orang-orang yang ia cintai.Liora senang melihat bakat itu tumbuh. Ia bahkan menyediakan meja khusus, kotak alat gambar, dan dinding papan tulis kecil di ruang bermain mereka.Sayangnya, dua anak itu tetap menganggap tembok rumah sebagai kanvas paling menarik.Baru minggu lalu Liora mengecat ulang salah satu dinding ruang keluarga yang dipenuhi cor
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Bab 159. Hanya Tahu MencintaiKairan sedang berada di ruang kerjanya ketika ponselnya bergetar. Nama Hilda muncul di layer. Nomor pribadi yang jarang sekali digunakan kecuali dalam keadaan mendesak.Begitu ia mengangkat, suara panik langsung menyambutnya.“Pak, ketuban Ibu pecah!”Kairan seketika berdiri. Kursinya terdorong ke belakang tanpa ia pedulikan.“Bagaimana keadaan Liora sekarang?”“Ibu sudah dibawa Maya ke rumah sakit, Pak. Sepertinya Ibu mau melahirkan hari ini!”Kairan tidak menunggu lebih lama. Ia meraih kunci mobil di meja, lalu berjalan cepat keluar ruangan.Selama berbulan-bulan terakhir ia sudah mempersiapkan segalanya untuk kelahiran kedua bayi kembar mereka. Ia bahkan jarang datang ke kantor. Hari ini saja ia memaksa datang untuk menyelesaikan satu urusan penting. Dan justru hari ini pula kedua bayi itu memilih lahir.“Aku langsung ke rumah sakit,” katanya cepat melalui telepon. “Tolong siapkan tas bayi dan baju Liora. Semua yang sudah ki
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Bab 158. MengertiSudah lama Kinara tidak menginjakkan kaki di kafe tempat Niro dulu bekerja. Tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan, dan selama ini ia tak merasa perlu kembali. Namun siang tadi, sebuah telepon dari salah satu pelayan lama di sana membuatnya berubah pikiran.Pria itu mengatakan Niro ada di kafe itu.Kinara yang beberapa hari terakhir kesulitan menghubungi Niro langsung memutuskan datang. Ada kecemasan yang sejak kemarin menempel di dadanya, dan ia tahu ia tidak akan tenang sebelum melihat sendiri keadaan lelaki itu.Begitu mendorong pintu kafe, aroma kopi dan musik pelan langsung menyambutnya. Kinara berdiri sejenak di ambang pintu, matanya berkeliling mencari sosok yang ia tuju. Tidak sulit menemukannya.Niro duduk di kursi bar, menghadap ke meja bartender. Bahunya sedikit membungkuk, kepalanya tertunduk. Di depannya berdiri pria yang tadi menelepon Kinara.Kinara melangkah mendekat.Ia duduk di kursi kosong di samping Niro tanpa berka
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Bab 157. MenyayangiKairan memberi kabar bahwa pesawat pribadi yang ia tumpangi akan segera mendarat.Ia datang bersama Yann, dan Niro ikut dalam penerbangan itu. Dari udara, Niro sempat menghubungi Oma, memberi tahu bahwa mereka hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum tiba.Di bandara, Liora sudah menunggu sejak lama.Ia tidak sanggup menunggu di rumah. Duduk diam hanya membuat pikirannya berlari ke mana-mana. Maka ia memilih berdiri di dekat pintu kedatangan, mondar-mandir kecil sambil terus menatap pintu otomatis yang belum juga terbuka.Keluarga Kairan ikut berkumpul di sana. Namun Liora nyaris tidak mendengar percakapan mereka. Fokusnya hanya satu, Kairan.Rasa cemas bercampur harap membuat napasnya pendek-pendek.Rupanya mereka bukan satu-satunya yang menunggu.Beberapa paparazi sudah berjajar, kamera siap mengarah ke pintu kedatangan. Kisah Kairan yang disebut selamat dari tragedi pesawat membuat namanya kembali menjadi sorotan. Publik ingin tah
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Bab 156. Liora Harus TahuKairan sudah berada di jalanan.Dengan kedua kaki yang mulai gemetar, ia berjalan menyusuri jalan luas yang gelap dan sepi. Tidak ada lampu, tidak ada suara kendaraan, hanya angin malam yang menggesek tanah tandus.Langkah demi langkah ia paksa.Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Ia hanya tahu ia harus terus berjalan sampai menemukan seseorang. Apa saja. Siapa saja.Namun jalan itu seperti tidak berujung.Kairan semakin limbung. Tenggorokannya kering, perutnya kosong, kepalanya berdenyut hebat karena luka yang belum tertangani. Dunia terasa berputar.Akhirnya, tubuhnya menyerah.Ia ambruk di tengah jalan, terlentang di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas siang tadi.Napasnya berat.Matanya menatap langit yang luas, dipenuhi bintang yang berhamburan seperti taburan cahaya kecil.Seandainya keadaan berbeda, ia mungkin akan menikmati pemandangan itu. Mungkin ia akan mengingat malam ketika ia dan Liora berdiri
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Epilog : Satu Tahun, Satu Hidup BaruMatahari sore merambat masuk lewat jendela besar rumah Darian dan Tavira, menciptakan garis-garis keemasan di lantai marmer yang menghangatkan ruangan.Dari balik sofa, suara lembut bayi terdengar. Bukan tangisan, melainkan gumaman kecil yang seolah menciptakan melodi baru dalam rumah yang sebelumnya sunyi.Darian duduk di kursi goyang, menggendong bayi mereka di dadanya. Bayi itu tertidur pulas, kedua tangannya yang mungil menggenggam kuat jari ayahnya. Napasnya kecil-kecil, teratur, damai.Darian tidak pernah merasa hidupnya setenang ini.Ia membungkuk, mengecup ubun-ubun bayinya.“Astra,” bisiknya lembut. “Pangeran kecil Papa.”Ya, setelah melalui perdebatan panjang, atau lebih tepatnya, Tavira menangis haru ketika mendengar nama itu. Mereka menamai putra mereka Astra Darrel Haryodipura.Astra, berarti cahaya bintang. Darrel, berasal dari nama Darian. Haryodipura, berasal dari keluarga besar Darian.Nama itu seolah merangkum
Last Updated: 2025-12-24
Chapter: Bab 250. Keluarga Penuh CintaSuasana ruang rapat lantai dua puluh hari itu penuh suara kertas dibalik, denting gelas kopi, dan diskusi serius tentang ekspansi cabang baru.Darian duduk di ujung meja panjang, wajahnya setajam biasa, tatapannya fokus pada data proyeksi yang ditampilkan di layar. Tangannya menekan pena, sesekali mencatat poin penting, sementara peserta rapat menunggu keputusan finalnya.Namun baru lima menit setelah manajer pemasaran selesai mempresentasikan bab terakhir, pintu ruang rapat diketuk pelan.Eshan, yang seharusnya berada di luar menangani agenda lain, masuk dengan raut wajah pucat.“Pak,” bisik Eshan sambil membungkuk mendekati telinga Darian. “Tavira… dia sudah dibawa ke rumah sakit karena kontraksi. Dokter bilang sepertinya dia akan lahiran hari ini.”Darian langsung membeku.Pena di tangannya terlepas begitu saja, jatuh berputar di atas meja. Semua orang di ruangan menoleh, bingung.Darian berdiri, kursinya sampai bergeser keras ke b
Last Updated: 2025-12-23
Chapter: Bab 249. Masa Lalu Sudah SelesaiRestoran kecil itu dipenuhi cahaya kuning temaram yang memantul di permukaan meja kayu. Di sudut ruangan, Tavira dan Darian duduk berhadapan, menikmati makan malam pertama mereka di luar rumah setelah dokter menyatakan kehamilan Tavira memasuki trimester terakhir.Perut Tavira sudah membuncit manis, membuatnya harus duduk sedikit lebih tegak karena mudah merasa sesak jika terlalu membungkuk.Darian memastikan kursi Tavira nyaman, memesan sup yang tidak terlalu asin, bahkan menyingkirkan lilin aromaterapi karena ia khawatir bau tajamnya membuat Tavira mual.Ia memang berubah sejak Tavira hamil. Lebih perhatian, lebih berhati-hati, seakan satu gerakan kecil salah saja bisa membuat istrinya tidak nyaman.“Makan pelan-pelan,” ujar Darian, menatap Tavira dengan campuran geli dan sayang ketika melihat istrinya menikmati hidangan dengan mata berbinar.“Aku lapar,” jawab Tavira sambil tertawa kecil. “Katanya normal kalau trimester tiga begini.”“Tet
Last Updated: 2025-12-23
Chapter: Bab 248. Sebuah KeluargaTiga hari setelah kondisi Darian benar-benar stabil, dokter akhirnya mengizinkannya pulang.Tavira hampir tidak bisa berhenti tersenyum sejak mendengar kabar itu. Setelah semua bulan yang mereka lewati. Trauma, penculikan, kecelakaan. Mimpi bisa membawa Darian pulang terasa seperti hadiah besar dari Tuhan.Pagi itu, Tavira sibuk menyiapkan rumah. Ia menyusun ulang bantal-bantal di kamar utama, memastikan suhu AC tidak terlalu dingin, memilih piyama lembut untuk Darian, sampai mengecek pantry apakah ada teh herbal favorit Darian.Semua itu ia lakukan sambil menahan mual yang masih sering datang. Tubuhnya mudah lemas tapi wajahnya memancarkan sesuatu yang belum pernah muncul sebelumnya. Cahaya kecil seorang calon ibu yang baru menemukan harapan.Bunda Darian datang pagi-pagi sekali, seperti sudah tahu Tavira tidak boleh terlalu banyak kerja. Bunda membawa sekantung besar buah, roti hangat, serta sup ayam yang aromanya menyebar ke seluruh dapur.“Tavi
Last Updated: 2025-12-22
Chapter: Bab 247. Hutang BudiHari–hari setelah Darian sadar berjalan penuh lalu-lalang. Kamar VIP itu tak pernah benar-benar sepi. Para direktur, rekan bisnis, sahabat lama, bahkan beberapa keluarga jauh datang bergantian. Semuanya menanyakan keadaan Darian, memberikan bunga, buah, dan ucapan syukur.Tavira selalu berada di sisi ranjang, menerima mereka dengan senyum ramah meskipun tubuhnya kelelahan dan mualnya sering kambuh.Darian, meski belum bisa bicara banyak, selalu menggenggam tangan Tavira seakan ia ingin mengingatkan semua orang bahwa istrinya adalah jangkar hidupnya.Suatu sore yang tenang, setelah kunjungan terakhir dari kolega kantor selesai. Tavira berdiri di samping jendela sambil merapikan rangkaian bunga yang mulai memenuhi ruangan.Eshan baru saja pergi untuk makan sebentar. Leisa ke apotek rumah sakit. Darian tertidur, lega dan damai.Pintu kamar diketuk.Tavira menoleh, tersenyum kecil. “Silakan masuk.”Pintu terbuka pelan. Dan seseorang yang
Last Updated: 2025-12-22
Chapter: Bab 246. Selalu KembaliUdara pagi di ruang VIP rumah sakit masih mengandung aroma steril yang menusuk. Namun bagi Tavira, semuanya terasa berbeda hari itu. Lebih hangat, lebih berwarna, seolah dunia tiba-tiba mengembalikan denyutnya.Darian sudah bangun. Ia masih lemah, masih terbaring dengan infus menempel dan napas yang sesekali tersengal kecil, tetapi suaminya hidup. Mata itu terbuka. Menatapnya. Memanggil namanya.Sejak pelukan panjang dan isakan kegembiraan mereka, Tavira duduk hampir tanpa bergerak di kursi samping ranjang. Jemarinya masih menggenggam tangan Darian, seakan ia takut melepaskan akan membuat semua ini terbukti sekadar mimpi.Darian sesekali memejam, lelah karena tubuhnya baru melewati badai panjang. Tapi setiap kali ia membuka mata, hal pertama yang dicari adalah wajah Tavira.“Duduk saja, Sayang. Kamu pasti capek,” Darian berbisik pelan, suaranya serak, nyaris tak terdengar.Tavira menggeleng keras. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana,” katanya deng
Last Updated: 2025-12-21
Chapter: 195. My Happy Ending"Aku menunggumu datang, Nara."Aku terlena dengan desis suaranya. Seperti membuaiku dari kekalutan. Memberiku semangat sebab sempat terpuruk mendengar tangisnya.Viana memundurkan kepalanya hingga kami jadi saling bertatapan.Aku lupa, Viana memang seindah ini sebelumnya. Wajahnya, senyumnya, cara ia melirikku. Dia wanita yang punya kesempurnaan mutlak."Aku mau minta maaf, sudah merepotkanmu hari itu," sambung Viana."Merepotkan apa?""Kamu. Sampai sengaja menghiburku ke luar rumah demi membuatku gak sesak lagi berada di dalam sini."Aku belum menemukan inti dari perkataannya. Atau kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung."Waktu itu aku sangat down. Aku benar-benar gak bisa berpikir dengan tepat. Aku juga gak ingat pernah berteriak pada semua orang tentangmu ataupun tentang Riga."Mendengar nama itu disebut lagi, spontan aku seperti diingatkan, kalau Viana bukan milikku, tapi Riga. Meski Riga sudah meningg
Last Updated: 2024-05-31
Chapter: 194. Menunggumu"Aku ingin kembali pada Viana. Apa aku salah?"Yenan mendorong kerahku hingga belakang kepalaku membentur tanah."Tentu saja kamu salah, bedebah! Kamu sudah mempermainkan perasaan Seya," teriak Yenan.Yenan bangkit dari menindih badanku. Ia mengacak rambutnya, seolah kehilangan akal."Sialan! Kalau tahu akhirnya akan begini, harusnya aku gak membiarkanmu dekat dengan Seya." Yenan meracau.Aku sama sekali tak beranjak dari tanah. Langit bisa kupandangi dari posisiku. Juga dingin dari jalanan yang mulai menghasilkan embun pagi."Pergi kamu, Nara! Aku akan menghancurkanmu kalau sampai menunjukkan wajahmu lagi di depan Seya."Bagiku, itu seperti isyarat bahwa ia menyerah terhadapku. Sebab, memintaku tetap berada di sini, kembali pada Seya, hanya akan memberikan luka padanya.Yenan memilih untuk membenciku dengan caranya.Aku beranjak dari tanah. Memandangi Yenan yang sedang memunggungiku lengkap dengan kepalan tangan yang te
Last Updated: 2024-05-30
Chapter: 193. KeputusanNamun, rupanya di rumahku ada seseorang.Seya.Ia berdiri menghadapku dengan wajah cemas dan kantung mata menghitam. Kutebak, ia juga tak tidur malam kemarin.“Nara!” suaranya terdengar serak. “Aku mencemaskanmu.”Seya mendekat. “Apa yang terjadi dengan ponselmu, kenapa gak menjawab teleponku. Aku hanya ingin tahu kabarmu. Aku cemas terjadi sesuatu dengan Nara.”Aku sudah menduga Seya akan begini. Hanya saja aku tidak menyangka akan terjadi secepat ini, di rumahku, tepat setelah aku kembali.Saat di perjalanan, aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku harus memilih Seya dan Viana. Dan pilihanku jatuh pada Viana.“Seya, ada yang mau kukatakan padamu,” potongku. Mengabaikan kalimatnya barusan.Wajah Seya tegang. Ia tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Senyum yang kemarin jadi ciri khasnya seolah raib hanya lewat kalimatku barusan.“Jangan katakan! Aku tahu apa yang
Last Updated: 2024-05-29
Chapter: 192. Kembali"Viana, kamu mau pergi denganku?"Viana memandangiku dengan tatapan kuyu. Aku tahu ia masih terpengaruh obat bius. Ia juga masih lemas efek berontak siang tadi.Tapi sungguh, di dalam rumah ini terasa sangat menyesakkan. Aku ingin memberi Viana angin segar agar ia lepas dari stress yang membuatnya ingin terus berteriak.Kuraih jaket yang menggantung dekat rak. Kupakaikan pada Viana. Lalu membantunya turun dari kasur dan menggandengnya berjalan keluar kamar.Orang-orang masih terlelap tidur. Aku dan Viana leluasa jalan mengendap-endap sampai ke luar rumah. Sekilas aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 1 dini hari. Malam akan sangat dingin di luar, maka kurapatkan jaket yang dikenakan Viana.Jejeran bunga tanda berduka masih berada memenuhi jalanan. Viana menoleh ke arah itu. Sambil menahan gemetaran di bibirnya. Kupegang erat tangannya, berjalan ke arah sebaliknya yang jauh dari karangan bunga.Jalan dan jalan. Tak ada yang kami ucapkan.
Last Updated: 2024-05-28
Chapter: 191. Stres dan Trauma“Mana Nara?”Otomatis aku beringsut ke kamar Viana begitu mendengar namaku disebut. Cyan juga mengekor tak jauh dariku.Viana nampak sedang ditenangkan oleh kakak iparnya. Ia mengamuk seperti saat tadi pagi. Kali ini ia meneriakkan namaku. Seolah kehilangan akal. Itu bukan seperti Viana yang kukenal.“Nara, mana Nara? Jangan ceraikan aku. Aku gak mau cerai dari Nara,” teriak Viana.Cerai?“Nara!”Lagi, Viana berteriak. Aku yang saat itu di pintu hanya bisa menatapnya. Viana menolehku. Tatapan kami bersirobok. Dan secepat kilat, Viana berlari ke arahku. Memeluk tubuhku. Di hadapan orang-orang, ia melingkarkan tangannya di perutku, kepalanya membenam di dadaku."Kumohon, jangan ceraikan aku. Aku gak mau berpisah denganmu. Jangan pergi!"Semua membisu. Terutama aku.Aku sempat mendengar kalau orang yang memiliki stres akut, ingatannya bisa kembali pada saat trauma terberatnya.Bisa
Last Updated: 2024-05-27
Chapter: 190. HarusnyaSaat itulah, aku menghampiri Viana. Mengambil alih kanan dan kiri tubuhnya. Mencengkeram pergelangan tangannya. Dan menariknya masuk ke tubuhku.“Ssst, diamlah Viana!”Viana belum sadar benar siapa yang memeluknya ini. Ia memukuli punggungku dan masih saja berteriak. Lagi, aku memeluknya makin erat. Tidak peduli dia memukul seberapa keras, atau ia menggigit bahuku demi minta kulepaskan.“Viana, ini aku. Nara!”Saat itu, barulah Viana berhenti. Mata kami bertautan. Kupandangi kedalaman matanya yang terlihat sangat nelangsa. Ada ribuan kalimat sedih yang kutangkap dari sorot matanya.Entah sudah berapa lama Viana mengamuk seperti ini, hanya saja kulihat ia cukup lelah. Napasnya naik turun, kedua tangannya juga melemas ketika kutangkap.“Na-ra?”Viana sukses menyebutkan namaku dengan bibirnya yang bergetar. Dan tak lama, Viana kehilangan keseimbangan. Ia pingsan. Aku menangkap kepalanya sebelum jatuh k
Last Updated: 2024-05-26