로그인Kafe sedang berada di jam paling sibuk. Niro kewalahan melayani tamu di setiap meja. Belum lagi pesanan minuman terutama kopi membludak tanpa henti malam itu.
Namun alih-alih merasa lelah, Niro justru menikmati suasana tersebut. Setiap kali kafe ramai, ia selalu menyukai tiap detiknya, seolah mendapat energi tambahan dari hiruk-pikuk manusia yang datang dan pergi. Begitulah dirinya, tipikal ekstrovert yang hidup dari interaksi.
Saat itu Niro sedang berkutat dengan mesin grinder.
“Liora! Liora! Apa yang terjadi? Hei!”Kairan bangkit begitu cepat sampai kursi di belakangnya terjungkal. Tangannya gemetar saat menggenggam ponsel.“Liora?” panggilnya lagi, memastikan sambungan itu masih ada.Tak ada jawaban. Hanya sunyi.Kairan tak menunggu satu detik pun. Ia menyambar kunci mobil dan berlari keluar dari ruangan, menerobos lorong kantor seperti orang kehilangan arah. Tidak ada yang ia pikirkan selain sampai ke rumah secepat mungkin.Nyatanya, Kairan harus berjibaku di jalanan beraspal. Dia mengemudi begitu cepatnya. Tidak peduli dia akan dikejar polisi karena menyalahi aturan kecepatan di jalanan. Dia ingin sampai ke tempat Liora. Hanya ingin cepat sampai.Begitu tiba di rumah, Kairan bahkan tak sempat mematikan mesin mobil dengan benar. Pintu terbuka begitu saja ketika ia melompat turun.“LIORA!”Tak ada sahutan. Namun entah mengapa, langkah kakinya langsung tertarik ke arah dapur. Seolah ada sesuatu yang
Usia kandungan Liora sudah menginjak sembilan bulan. Masa kelahiran kian dekat, membuat setiap hari terasa lebih berharga sekaligus menegangkan.Siang itu, Liora dan Kairan sedang menata kamar yang akan menjadi kamar bayi mereka, tepat di samping kamar utama. Kairan sibuk merakit kayu-kayu untuk tempat tidur bayi.Beberapa waktu lalu, ia telah menyelesaikan pemasangan lemari kecil untuk baju dan perlengkapan si kecil.Sementara itu, Liora menyusun dan menggantung pakaian-pakaian mungil dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap helainya adalah doa.Menurut hasil USG terakhir, bayi mereka kemungkinan besar laki-laki. Kairan tampak begitu bergembira mendengar kabar itu.Namun bagi Liora, apa pun jenis kelaminnya, ia akan mencintai anak itu dengan sepenuh hati.Setelah hampir setengah jam berdiri, Liora menyudahi kegiatannya. Tubuhnya cepat lelah akhir-akhir ini. Ia melangkah menuju sofa dan duduk perlahan, menjulurkan kakinya yang mulai membeng
Kairan sedang menghadiri pertemuan di luar kantornya bersama pemilik perusahaan Tacenda. Ke depannya, mereka akan menjalankan proyek besar di bidang teknologi global.Sejauh ini, kesepakatan antara Kairan dan CEO Tacenda, Yann Dhananjaya, berjalan sangat menjanjikan. Hanya tinggal detail kecil untuk meresmikan kerja sama tersebut.Di tengah pembahasan, ponsel Kairan bergetar.Nama istrinya tertera di layar.Pertemuan ini memang penting. Bertemu dengan Pak Yann bukan perkara mudah. Namun, sebesar apa pun nilai sebuah kerja sama, tetap tidak bisa mengalahkan Liora. Terlebih, istrinya sedang hamil besar.Seingat Kairan, pagi tadi Liora meminta izin untuk berbelanja. Mungkinkah ia menelepon untuk meminta dijemput? Ia tidak akan tahu sebelum mendengarnya langsung.“Maaf, Pak. Istri saya menelepon. Saya izin mengangkatnya sebentar,” ucap Kairan sopan sambil berdiri dan sedikit membungkuk.Pak Yann mengangguk ramah, mempersilakannya keluar d
Kafe sedang berada di jam paling sibuk. Niro kewalahan melayani tamu di setiap meja. Belum lagi pesanan minuman terutama kopi membludak tanpa henti malam itu.Namun alih-alih merasa lelah, Niro justru menikmati suasana tersebut. Setiap kali kafe ramai, ia selalu menyukai tiap detiknya, seolah mendapat energi tambahan dari hiruk-pikuk manusia yang datang dan pergi. Begitulah dirinya, tipikal ekstrovert yang hidup dari interaksi.Saat itu Niro sedang berkutat dengan mesin grinder. Biji kopi digiling dengan takaran yang tepat, menghasilkan aroma yang kuat dan menggoda. Sedetik kemudian ia bergeser ke mesin espresso, mengoperasikannya dengan cekatan sesuai pesanan yang tertera di lembar order.Sambil menunggu proses ekstraksi, matanya menyapu sekeliling kafe yang dipenuhi tamu. Pintu depan terbuka, membawa dua pengunjung baru.Niro bisa dibilang hafal hampir semua pelanggan. Mudah baginya membedakan mana wajah lama, mana wajah baru.Wanita pertama yang
Tanpa sadar, bibir Liora melengkung ke bawah. Ia sendiri tidak mengerti kenapa, reaksi itu muncul begitu saja. Padahal beberapa saat lalu, dialah yang menyuruh Niro mencoba membuka hati pada perempuan yang mirip Anais itu.“Dia cantik. Dia dokter. Katamu dia juga baik dan ramah. Apalagi yang diinginkan seorang lelaki? Semuanya ada di dokter itu,” ucap Liora, sambil membuang wajah.Niro menangkap perubahan ekspresi itu dengan mudah. Ia menyeringai kecil. Liora terlalu transparan untuk menyembunyikan perasaannya.Ia sedang cemburu. Pada perempuan yang wajahnya menyerupai Anais.“Enggak. Aku nggak akan pernah menyukainya,” tegas Niro sekali lagi. Ia mendekat, mencondongkan tubuhnya ke arah Liora. “Aku sudah bilang, kan? Aku nggak suka gadis. Aku suka perempuan yang sudah bersuami.”Mata mereka bertaut cukup lama.Yang satu diliputi kecemasan,yang satu lagi seolah sengaja menegaskan kalimat itu agar terasa personal.Tepat saat sua
Liora tidak berbohong ketika mengatakan bahwa ia bisa memotong rambut. Kini, ia bersiap unjuk kebolehan dengan peralatan seadanya di rumah Oma.Awalnya ia sempat ragu. Namun ia berpikir ulang. Toh, ia tidak sendirian. Ada Oma dan Bibi di rumah. Lagi pula, Niro tidak mungkin melakukan hal-hal aneh saat rambutnya sedang dipotong. Semua dilakukan di tempat terbuka.Kegiatan itu berlangsung di ruang tengah, tepat di depan kaca besar yang dipasang Oma dari ujung kaki hingga kepala. Tempat itu memang biasa dipakai Oma untuk memotong rambut anak-anak lelakinya, meski hasilnya sering kali sekadar “asal pendek”.Oma mengawasi sejak awal, sejak Niro duduk di kursi bundar hingga Liora memasangkan jubah agar potongan rambut tidak mengotori bajunya.Sejauh ini, Niro cukup sopan. Tidak ada keusilan, tidak ada candaan berlebihan. Liora pun merasa aman memotong helai demi helai rambutnya.Ia mempraktikkan apa yang dulu ia pelajari di tempat kursus. Tangannya berge







