LOGINDi usia tiga puluh, Liora Amadea belum juga menikah. Ia memberanikan diri menyatakan perasaan pada Niro, cinta pertamanya, namun yang ia dapatkan adalah penolakan. Ketika perjodohan menjadi jalan terakhir, Liora menikah dengan Kairan Narel Ardana, seorang duda pendiam yang dikenal sebagai Lelaki Bisu. Pernikahan mereka dimulai tanpa janji cinta, hanya kesepakatan dan jarak. Namun dalam diam Kairan, Liora menemukan ketenangan yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Perasaan pun tumbuh, pelan dan tanpa rencana. Masalah muncul ketika Niro kembali. Kini Niro menginginkan Liora setelah ia menjadi istri Kairan. Dengan perhatian dan kata-kata manis, Niro menggoyahkan hati Liora dan mempertanyakan pernikahannya. Terjebak di antara cinta pertama yang berisik dan suami yang mencintai tanpa kata, Liora harus memilih. Mengejar perasaan yang memanggil, atau bertahan pada lelaki yang diam-diam telah menjadikannya rumah.
View MoreLiora menghentikan gerakan tangannya saat pisau masih menempel di bawang merah yang setengah terpotong.
“Apa?”
“Kamu mau enggak menikah dengan lelaki bisu?” ulang Tante, santai, seolah baru saja menanyakan menu makan malam.
Aroma bawang yang menyengat membuat mata Liora perih, tapi bukan itu yang membuatnya tercekat. Kalimat Tante-lah yang membuat kepalanya mendengung. Lelaki bisu?
Beberapa hari terakhir, topik pernikahan memang menjadi menu wajib percakapan mereka. Tante seakan kehabisan bahan obrolan lain selain umur Liora yang kini genap tiga puluh tahun dan statusnya yang masih melajang.
Tiga puluh tahun. Angka yang menurut Tante, sudah cukup untuk melabeli seorang perempuan sebagai “perawan tua.”
Padahal Liora bukan perempuan yang menutup diri. Ia punya banyak teman, ramah, dan mudah bergaul. Lelaki maupun perempuan. Hanya saja, dari sekian banyak pertemanan itu, tak satu pun berujung pada hubungan serius.
Teman-temannya sudah menikah. Beberapa bahkan sudah bercerai. Sementara Liora masih berdiri di titik yang sama. Melajang.
Bagi Tante, itu masalah besar.
“Kamu dengar kan, Li?” Tante menyandarkan tubuh di ambang dapur. “Tahun ini kamu berumur tiga puluh. Tante enggak mau nanti kamu menyesal.”
Liora menarik napas panjang. Ia tidak menjawab, kembali mengupas bawang dengan gerakan lebih lambat.
Bukan karena ia tidak ingin menikah. Ia ingin. Sangat ingin. Hanya saja, ia ingin menikah dengan orang yang tepat.
Dan sejauh ini, pilihan Tante selalu jauh dari kata “tepat.”
Kemarin lusa, Liora dijodohkan untuk jadi istri kedua Pak Lurah. Pekan lalu, dijodohkan dengan teman bule Tante yang depresi karena ditinggal pacar. Bulan lalu, dengan lelaki manja anak mami.
Sekarang… lelaki bisu.
“Apa bisa kita bahas nanti saja, Tante?” Liora mencoba mengulur waktu.
“Enggak,” Tante memotong cepat. “Kali ini kamu harus dengar.”
Liora mendesah, lalu menoleh. “Kali ini dengan siapa lagi?”
“Kenalan pamanmu. Tante pernah bertemu sekali. Dia lelaki yang baik.”
Baik.
Dua informasi. Lelaki bisu. Baik.
Itu saja.
“Demi Tuhan, Tante,” Liora berusaha tersenyum tipis. “Aku harus menyelesaikan masakan ini sebelum Paman berangkat kerja.”
Sejak kedua orang tuanya meninggal, Liora tinggal bersama Paman dan Tante. Mereka menjadi tempatnya bergantung. Sebagai balas budi, Liora mengambil alih urusan dapur. Karena Tante tidak begitu mahir dengan kegiatan memasak atau semacamnya.
Tante tidak bergerak. Tatapannya justru makin tajam.
“Kamu selalu begitu setiap Tante mengenalkan lelaki padamu.”
Karena Liora memang tidak ingin dijodohkan.
“Harus bagaimana lagi supaya kamu mengerti,” suara Tante meninggi, “kamu sudah pantas menikah.”
Pisau itu akhirnya diletakkan. Liora menyerah menghindar.
“Aku tahu, Tante.”
“Terus kenapa kamu belum menikah?”
“Karena belum ada yang pantas.”
Hening.
Tante menghela napas panjang. “Dari semua lelaki yang Tante kenalkan, enggak ada satu pun yang menurutmu pantas?”
Liora menggeleng pelan. Ia tidak pernah berani jujur soal penilaiannya. Ia menghormati Tante, tapi ia juga tahu tidak ada satu pun yang membuat hatinya bergerak.
“Kalau begitu, coba lelaki yang sekarang ini. Tante yakin kamu akan suka.”
Ah, yang terakhir kemarin juga nadanya begitu. Liora jadi tidak mempercayai pilihan Tante lagi. Hasil akhirnya akan selalu sama.
“Atau, kalaupun nggak menikah, setidaknya carilah pekerjaan.” Kalimat itu diucapkan sambil lalu, tapi berhasil membuat Liora mematung di tempat.
“Selama ini Tante capek menanggapi omongan para tetangga tentangmu. Enggak menikah, nggak bekerja, apalagi kuliah. Setidaknya carilah kesibukan, jangan hanya diam sambil melukis-lukis gambar nggak jelas,” ucap Tante culas.
Bukan mau Liora jadi orang menyedihkan yang hanya jadi beban Paman maupun Tante.
Setahun terakhir ini Liora sudah berusaha melamar ke banyak lowongan pekerjaan, tapi tidak ada satu pun panggilan masuk kepadanya.
Bila menyangkat pernikahan, Liora bisa saja mengelak. Tapi tentang tak punya kerja, entah kenapa itu mengusik hati terdalamnya.
Saat itu, pembicaraan mereka di dapur kedengaran Paman hingga membuatnya datang ke tempat itu. Dari gelagat Paman, nampaknya ia menyimak pembicaraan mereka dari awal. Sampai Liora kehilangan kata-kata dan menunduk menyembunyikan wajahnya.
“Jangan pikirkan omongan tetangga. Paman nggak keberatan tentang kamu nggak punya pekerjaan ataupun belum menikah.”
Di rumah ini, Paman selalu jadi pendukung Liora. Seorang yang bertindak jadi pengganti almarhum Papa.
“Huh, kamu selalu memanjakan Liora. Makanya dia bisa bersantai begitu, padahal umurnya sudah nggak muda lagi,” protes Tante dengan pipi menggembung menahan amarah.
“Pelan-pelan, Sayang. Jangan memaksa Liora begitu. Oke?”
Tante nampak tidak sependapat. Ia menghentakkan kaki dan meninggalkan dua orang itu di dapur. Tante tahu, ia tidak pernah bisa menang melawan Paman.
Hening sesaat. Membiarkan Liora menata hati dan mulai mengangkat lagi wajahnya.
Paman tersenyum pada Liora yang mencari kedalaman mata yang damai miliknya.
“Tantemu nggak bermaksud buruk,” ujarnya tenang. “Enggak ada salahnya berkenalan dulu dengan lelaki ini,” lanjut Paman lagi.
Liora terdiam. Jika Paman sudah bicara, ia hampir tak pernah membantah.
“Kalau kamu setuju, Paman akan atur pertemuan kalian.”
Liora merasa terpojok. Entah seberapa besar pesona lelaki bisu itu hingga bisa membuat Paman dan Tante begini kompaknya ingin menjodohkan dengan Liora.
“Tolong beri aku waktu untuk berpikir,” pinta Liora akhirnya.
Ia butuh waktu. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Ia masih trauma dengan lelaki yang dikenalkan Tante tempo hari. Dia berjanji dengan dirinya, tidak akan mau dipaksa berkenalan seperti itu lagi. Dia berhak memiliki lelaki idaman.
Bicara soal idaman, Liora tentu sudah menyukai seorang lelaki yang menjadi barista di salah satu cafe tak jauh dari rumahnya.
Namanya Niro.
Dia lelaki innocent yang terbilang ramah. Hampir setiap Liora melihatnya, lelaki itu selalu tersenyum dengan garis tawa yang melengkung ke atas. Setiap kata yang keluar darinya terasa tertata, menenangkan.
Selama ini ia memendam perasaannya pada Niro. Apa mungkin kalau ia menyatakan perasaannya dan bersambut, Paman dan Tante akan berhenti menjodohkan dengan Lelaki Bisu itu?
Sepertinya hal itu layak dicoba.
Tinggal memikirkan bagaimana caranya menyatakan perasaan pada Niro.
BERSAMBUNG
***
Bonus Part : Kinara dan NiroKinara sedang memeriksa seorang ibu hamil yang datang sendirian sore itu. Mereka duduk saling berhadapan di ruang praktik yang mulai lengang, sebab pasiennya memang sudah hampir habis.Kinara menuliskan resep obat dengan rapi di atas meja, lalu bertanya sekadar basa-basi, seperti yang biasa ia lakukan untuk mencairkan suasana.“Bunda datang sendiri? Suaminya enggak ikut?”Wanita berambut kepang itu tersipu. Bukannya menjawab biasa, ia malah terkikik pelan seolah menyimpan sesuatu yang lucu.Kinara mengangkat alis, heran.“Kenapa?”Wanita itu mendekat sedikit, lalu berbisik seperti sedang membagikan rahasia.“Suamiku malu datang ke sini, Bu Dokter.”“Malu?” Kinara tertawa kecil. “Memangnya kenapa?”Wanita itu melirik ke kiri dan kanan, memastikan tak ada orang lain, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menggeser-g
Bonus Part : Harra dan HarriHarra dan Harri kini sudah berusia tujuh tahun. Usia di mana energi mereka seolah tidak pernah habis.Rumah yang dulu terasa luas kini sering terasa sempit oleh tawa, langkah kaki kecil, dan suara pertengkaran sepele yang cepat datang, cepat pula pergi.Sejak kecil, Liora menyadari keduanya mewarisi bakat menggambar darinya. Terutama Harri, yang bisa duduk lama hanya untuk menorehkan garis-garis kecil di kertas. Harra tak kalah berbakat, meski ia lebih suka menggambar bunga, rumah, dan wajah orang-orang yang ia cintai.Liora senang melihat bakat itu tumbuh. Ia bahkan menyediakan meja khusus, kotak alat gambar, dan dinding papan tulis kecil di ruang bermain mereka.Sayangnya, dua anak itu tetap menganggap tembok rumah sebagai kanvas paling menarik.Baru minggu lalu Liora mengecat ulang salah satu dinding ruang keluarga yang dipenuhi cor
Kairan sedang berada di ruang kerjanya ketika ponselnya bergetar. Nama Hilda muncul di layer. Nomor pribadi yang jarang sekali digunakan kecuali dalam keadaan mendesak.Begitu ia mengangkat, suara panik langsung menyambutnya.“Pak, ketuban Ibu pecah!”Kairan seketika berdiri. Kursinya terdorong ke belakang tanpa ia pedulikan.“Bagaimana keadaan Liora sekarang?”“Ibu sudah dibawa Maya ke rumah sakit, Pak. Sepertinya Ibu mau melahirkan hari ini!”Kairan tidak menunggu lebih lama. Ia meraih kunci mobil di meja, lalu berjalan cepat keluar ruangan.Selama berbulan-bulan terakhir ia sudah mempersiapkan segalanya untuk kelahiran kedua bayi kembar mereka. Ia bahkan jarang datang ke kantor. Hari ini saja ia memaksa datang untuk menyelesaikan satu urusan penting. Dan justru hari ini pula kedua bayi itu memilih lahir.“Aku langsung ke rumah sakit,” katanya cepat melalui telepon. “Tolong siapkan tas bayi dan baju Liora. Semua yang sudah ki
Sudah lama Kinara tidak menginjakkan kaki di kafe tempat Niro dulu bekerja. Tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan, dan selama ini ia tak merasa perlu kembali. Namun siang tadi, sebuah telepon dari salah satu pelayan lama di sana membuatnya berubah pikiran.Pria itu mengatakan Niro ada di kafe itu.Kinara yang beberapa hari terakhir kesulitan menghubungi Niro langsung memutuskan datang. Ada kecemasan yang sejak kemarin menempel di dadanya, dan ia tahu ia tidak akan tenang sebelum melihat sendiri keadaan lelaki itu.Begitu mendorong pintu kafe, aroma kopi dan musik pelan langsung menyambutnya. Kinara berdiri sejenak di ambang pintu, matanya berkeliling mencari sosok yang ia tuju. Tidak sulit menemukannya.Niro duduk di kursi bar, menghadap ke meja bartender. Bahunya sedikit membungkuk, kepalanya tertunduk. Di depannya berdiri pria yang tadi menelepon Kinara.Kinara melangkah mendekat.Ia duduk di kursi kosong di samping Niro tanpa berka
Kairan memberi kabar bahwa pesawat pribadi yang ia tumpangi akan segera mendarat.Ia datang bersama Yann, dan Niro ikut dalam penerbangan itu. Dari udara, Niro sempat menghubungi Oma, memberi tahu bahwa mereka hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum tiba.Di bandara, Liora sudah m
Kairan sudah berada di jalanan.Dengan kedua kaki yang mulai gemetar, ia berjalan menyusuri jalan luas yang gelap dan sepi. Tidak ada lampu, tidak ada suara kendaraan, hanya angin malam yang menggesek tanah tandus.Langkah demi langkah ia paksa.Ia tidak tahu ke mana harus pe
Ini adalah kisah Kairan. Beberapa jam sebelum kabar buruk itu menyebar ke seluruh keluarga.Pagi itu, setelah menutup panggilan dengan Liora, Kairan segera membereskan barang-barangnya. Ia ingin pulang secepat mungkin. Suara istrinya di telepon masih terngiang di telinga, membuat dadanya h
“Niro? Ini aku… Kairan.”Tak ada yang pernah membuat Niro setercengang ini sepanjang hidupnya.Tubuhnya membeku. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan. Untuk beberapa detik, dia bahkan lupa cara bernapas.“Apa… ini benar-benar kamu, Kairan?” suaranya berg












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews