author-banner
VILNOCTE
VILNOCTE
Author

Novels by VILNOCTE

Terjerat Cinta Majikan Seksi

Terjerat Cinta Majikan Seksi

Dunia Diego runtuh saat mendapatkan penolakan yang tak terduga dari wanita yang ia cintai, “Aku bersamamu karena aku hanya tertarik dengan ketampananmu. Aku tidak pernah berpikir untuk menjalin hubungan serius denganmu bahkan sampai ke jenjang pernikahan, kamu tak punya masa depan, Diego!” Menghanyutkan dirinya dengan pekerjaan di kota baru, mempertemukan Diego dengan majikan perempuannya yang begitu sempurna-Ariana. Pertemuan yang akan mengubah nasib Diego, ke tingkat yang tidak pernah ia bisa bayangkan sebelumnya. Bagaimanakah takdir antara Diego dan majikan seksinya itu?
Read
Chapter: Bab 93. Warisan Hati Untuk Masa Depan [TAMAT]
Lima tahun kemudian.Matahari sore di Sevilla tidak pernah berubah, ia tetap menggantung rendah di ufuk barat, menumpahkan cahaya oranye keemasan yang memeluk kota tua itu dengan hangat. Namun, wajah kota di bawahnya telah berubah drastis.Di antara bangunan-bangunan klasik bergaya Moor dan Gotik, kini menyembul sabuk hijau yang membelah kota. Panel surya berkilauan di atap-atap gedung baru, taman-taman vertikal menghiasi dinding beton yang dulunya kusam, dan distrik industri yang dulu kumuh kini telah bertransformasi menjadi pusat inovasi ramah lingkungan.Di lantai teratas Gedung OBC, di balik dinding kaca yang menjulang dari lantai ke langit-langit, seorang pria berdiri diam menikmati pemandangan itu.Diego Martin tidak lagi mengenakan seragam cleaning service yang lusuh atau kemeja yang sedikit kebesaran. Tubuhnya kini dibalut setelan jas navy blue tiga bagian, dijahit khusus oleh penjahit terbaik di Madrid.Potongan rambutnya rapi, menampakkan uban tipis yang mulai muncul di peli
Last Updated: 2026-01-15
Chapter: Bab 92. Janji di Antara Desah Napas [21+]
Pintu ganda kamar utama Mansion Ortiz terbuka lebar dengan satu dorongan bahu yang kuat.Diego melangkah masuk sambil menggendong Ariana dalam dekapannya. Tawa Ariana meledak, renyah dan bebas, memantul di dinding-dinding kamar yang tinggi. Ekor gaun pengantinnya yang panjang dan berlapis-lapis menyapu lantai, memenuhi ambang pintu seperti ombak putih yang berbuih.“Diego! Hati-hati, gaun ini berat!” seru Ariana di sela tawanya, melingkarkan lengan di leher suaminya.“Bagiku kamu seringan kapas, Nyonya Martin,” balas Diego sambil menyeringai.Ia membawa Ariana ke tengah ruangan, lalu perlahan menurunkannya. Kaki Ariana menyentuh karpet tebal yang empuk, namun tubuhnya masih menempel rapat pada Diego.Suasana di dalam kamar itu telah berubah total. Andrew dan tim rumah tangga rupanya telah bekerja dalam diam saat pesta berlangsung.Cahaya lampu utama dimatikan, digantikan oleh puluhan lilin aroma terapi yang diletakkan di setiap sudut, menciptakan pendar keemasan yang hangat dan romant
Last Updated: 2026-01-15
Chapter: Bab 91. Ikatan Abadi Para Pemenang
Dua bulan kemudian...Udara di ruang ganti pria terasa padat, bukan karena sempit, melainkan karena ketegangan dua pria yang biasanya tak kenal takut menghadapi preman atau rapat direksi, kini justru gemetar menghadapi cermin.Diego berdiri kaku, jemarinya yang biasanya cekatan menandatangani kontrak miliaran kini kesulitan menyimpul dasi kupu-kupu sederhana."Sial," gumamnya pelan, menarik ujung kain sutra itu untuk ketiga kalinya.Di sebelahnya, Jorge tidak lebih baik. Pria kekar itu mondar-mandir di ruang terbatas, mengusap telapak tangannya yang berkeringat ke celana bahan mahalnya. Wajahnya pucat, seolah darahnya tersedot habis ke kaki."Bro... aku mau muntah," keluh Jorge, menyandarkan keningnya ke dinding yang dingin. "Serius. Perutku mulas. Apa aku bisa kabur lewat jendela?"Diego menoleh, menahan tawa melihat sahabatnya yang tampak seperti narapidana menjelang eksekusi mati."Kalau kamu kabur, Adele akan mengejarmu sampai ke ujung dunia dan mematahkan kakimu, Jorge. Dan aku a
Last Updated: 2026-01-15
Chapter: Bab 90. Di Tempat Semuanya Bermula
Mobil Rolls-Royce itu meluncur masuk ke halaman Mansion Ortiz. Bukan ke lobi utama yang megah, melainkan memutar ke jalan samping yang mengarah ke taman belakang.Ariana turun dari mobil dengan wajah bertanya-tanya. "Taman belakang? Diego, ada apa?"Diego tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, mengajak Ariana berjalan. Ia melepaskan jasnya, menyampirkannya di lengan, membiarkan kemeja putihnya terkena angin sore yang hangat.Mereka berjalan menyusuri jalan setapak berbatu yang diapit oleh tanaman perdu yang rapi. Aroma rumput yang baru dipotong memenuhi udara, aroma yang sangat familiar bagi Diego."Kamu ingat tempat ini?" tanya Diego sambil memandang sekeliling.Ariana tertawa kecil. "Tentu saja. Ini rumahku.""Bukan itu maksudku," Diego tersenyum, matanya menerawang."Maksudku... ingat saat pertama kali kita bertemu di sini?"Langkah Ariana melambat. Ia melihat ke sekeliling, dan memori itu kembali."Ah..." Ariana menutup mulutnya, terkekeh geli."Waktu itu... kamu dan Jorge.
Last Updated: 2026-01-15
Chapter: Bab 89. Janji di Atas Marmer Hitam
Dua minggu telah berlalu sejak konfrontasi Diego dengan Javier. Waktu seolah berjalan dengan ritme yang lebih lambat, lebih tenang, memberikan ruang bagi kota itu untuk bernapas kembali.Mesin Rolls-Royce Phantom hitam itu menderu halus saat memasuki gerbang besi tempa Cementerio de San Fernando. Ini bukan kunjungan bisnis, bukan pula pamer kekuatan.Hari ini, Diego menyetir sendiri, tanpa sopir, tanpa pengawalan ketat. Hanya dia dan Ariana. Roda mobil melindas jalanan berkerikil dengan bunyi krak yang ritmis, memecah keheningan kompleks pemakaman elit yang dipenuhi pepohonan cypress tua yang menjulang tinggi.Sinar matahari pagi menyelinap di antara dedaunan, menciptakan pola cahaya yang menari di atas kap mobil.Ariana duduk di kursi penumpang, memandang ke luar jendela. Wajahnya tenang, tidak ada lagi gurat kecemasan yang selama berbulan-bulan menjadi topeng sehari-harinya. Ia mengenakan gaun hitam sederhana namun elegan, senada dengan setelan jas hitam Diego yang tanpa dasi.Mobil
Last Updated: 2026-01-15
Chapter: Bab 88. Budak Bayang-Bayang [21+]
Valentina menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan isak tangis yang masih tersisa di tenggorokannya. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu dengan langkah gemetar namun penuh harap, ia mendekati pria yang duduk membelakangi pintu itu.Punggung tegap itu. Bahu lebar itu. Kemeja putih yang sedikit kusut itu. Semuanya seakan meneriakkan nama Diego."Diego..." panggilnya lirih, suaranya bergetar antara rindu dan putus asa. "Aku... aku tahu kamu masih-"Pria itu berhenti bergerak. Perlahan, ia memutar tubuhnya.Valentina menahan napas, senyum manis sudah ia siapkan di bibirnya.Namun, saat wajah pria itu sepenuhnya terlihat, dunia Valentina runtuh untuk kedua kalinya malam ini.Itu bukan Diego.Wajah pria itu biasa saja. Hidungnya sedikit bengkok, matanya sayu, dan ada bekas jerawat di pipinya. Sama sekali tidak memiliki ketajaman dan karisma yang dimiliki Diego saat ini. Pria itu menatap Valentina dengan kening berkerut bingung, mulutnya sedikit terbuka konyol."Maaf? Non
Last Updated: 2026-01-15
Nona Hemat di Sarang Konglomerat

Nona Hemat di Sarang Konglomerat

"Satu aturan mutlak: Jatuh cinta = Denda 10 Miliar Rupiah." Citra Melati bukan pelayan biasa. Dia adalah Crisis Manager, spesialis membereskan kekacauan domestik orang super kaya. Otaknya adalah kalkulator berjalan. Baginya, emosi adalah pemborosan dan cinta adalah defisit anggaran. Tugasnya sederhana: Mengasuh empat CEO paling disfungsi di Penthouse Arcadia demi melunasi utang ibunya. Tapi, bagaimana dia bisa bekerja profesional jika kliennya segila ini? Elang Soerya: Konglomerat ningrat yang alergi debu dan rakyat jelata, tapi anehnya bergairah saat punggungnya dikerok uang receh oleh tangan kasar Citra. Bastian: Influencer narsis yang menjadikan Citra konten hidup. Raka & Damar: Duo jenius yang melihat cinta sebagai bug sistem dan ancaman keamanan. Bagi Citra, mereka hanyalah bayi raksasa berdompet tebal. Bagi mereka, Citra adalah anomali yang mematikan. Ketika insiden "hemat listrik" berakhir dengan posisi tindihan di kamar mandi, dan sesi terapi punggung berubah menjadi desahan ambigu, Citra sadar dia dalam bahaya. Bukan bahaya jatuh cinta. Tapi bahaya didenda 10 Miliar karena tubuh para CEO itu mulai bereaksi pada sentuhannya. Sanggupkah Citra menjaga hatinya (dan dompetnya) tetap utuh di sarang penyamun elit ini?
Read
Chapter: Bab 109: Ijab Kabul di Bawah Tenda Biru
Sisa tawa dari meja gaple semalam telah menguap, digantikan oleh ketegangan sakral yang menggantung pekat di udara pagi Petamburan.Pukul 09.00 WIB. Udara lembap terperangkap rapat di bawah tenda terpal biru yang membentang menutupi sepanjang gang. Kipas angin blower yang diletakkan di sudut-sudut strategis menyemburkan uap air tanpa henti, menciptakan hawa gerah yang menabrak kulit dan membuat siapa pun yang berada di bawahnya merasa seperti sedang direbus perlahan dalam panci raksasa.Namun, keluarga besar Soerya yang duduk berjajar di atas kursi lipat besi seolah kebal terhadap cuaca ekstrem tersebut.Mereka mengenakan seragam batik sutra tulis premium yang membalut tubuh dengan elegan. Postur mereka tegak khidmat, menatap lurus ke depan.Tidak ada satu pun dari para konglomerat itu yang menunjukkan gestur menutup hidung, mengipasi diri secara berlebihan, atau risih dengan lingkungan padat yang mengelilingi mereka.Di baris terdepan, Rano Soerya—ayah kandung Elang—duduk dengan kete
Last Updated: 2026-04-14
Chapter: 108. H-1 Akad.
Pukul 17.30 WIB. Senja mulai merayap turun di langit ibu kota, mengubah warna awan menjadi semburat jingga keemasan yang memantul di atas aspal baru.Rolls Royce Phantom perak meluncur tanpa suara, berhenti dengan anggun tepat di mulut gang Petamburan. Roda-roda besarnya tidak lagi menggilas paving block yang retak atau genangan air comberan.Jalanan sempit itu kini telah disulap menjadi karpet aspal hitam yang mulus mengkilap.Elang Soerya melangkah turun dari kabin mobil yang berpendingin udara. Sepatu kulit pantofelnya menapak mantap.Ia berdiri sejenak, mengedarkan pandangan ke sepanjang lorong gang. Deretan fasad rumah warga yang dulunya kusam dan penuh coretan liar, kini telah dicat seragam dengan warna krem yang hangat dan bersih.Sudut bibir Elang tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum tipis yang penuh kepuasan. Uangnya telah bekerja dengan baik, menciptakan kelayakan visual yang bisa diterima oleh standar aristokratnya.Namun, bukan aspal atau cat baru yang membuat tempat
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: 107. Kompromi Mutlak
"Tarik napas, Citra. Pelan-pelan."Suara bariton itu terasa dekat, hangat, dan menjadi satu-satunya jangkar yang menahan Citra agar tidak hanyut dalam kegelapan.Elang Soerya membimbing tubuh Citra dengan sangat hati-hati, mendudukkannya di atas kursi beludru emerald yang empuk. Tangan Elang tetap berada di bahu Citra, memberikan tekanan yang stabil dan protektif."Kamu baik-baik saja?" tanya Elang. Matanya memindai wajah Citra dengan kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan di balik topeng aristokratnya.Citra mengerjap, mencoba memfokuskan pandangan. Ia melihat wajah Elang yang hanya berjarak beberapa sentimeter, lalu mengangguk pelan. Sebuah senyum tipis yang dipaksakan muncul di bibirnya yang masih pucat."Kalkulator di kepala saya cuma korslet sebentar, Pak," bisik Citra parau.Elang tidak membalas candaan itu. Ia segera berdiri, melangkah cepat menuju salah satu karyawan butik yang berdiri mematung di sudut. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebotol air mineral dingin di tan
Last Updated: 2026-04-12
Chapter: 106. Benturan Dua Dunia
Satu bulan telah berlalu sejak Citra dan ibunya tinggal di Arcadia. Kini, medan perang telah berpindah koordinat ke sebuah butik couture di kawasan Menteng. Ruangan itu terasa begitu hening dan mengintimidasi.Lantai parket kayu ek yang dipoles hingga mengilap meredam setiap langkah kaki, sementara lilin aromaterapi berbau mawar Bulgaria yang pekat memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada bagi siapa pun yang tidak memiliki saldo rekening sembilan digit.Madam Soerya berdiri tegak di depan sebuah manekin yang mengenakan gaun pengantin berbahan lace Prancis. Jemarinya yang dihiasi cincin zamrud raksasa mengusap kain halus itu dengan gerakan yang lebih mirip seperti sedang memeriksa kualitas bahan bangunan daripada pakaian."Terlalu minimalis," suara Madam Soerya dingin, memotong kesunyian butik."Kain ini tidak memiliki bobot. Tidak mencerminkan kekuasaan Vigilantia. Saya ingin aksen mutiara air laut di sepanjang ekornya. Minimal lima meter."Di sudut ruangan, di atas
Last Updated: 2026-04-11
Chapter: 105. Jelaga, Keringat, dan Pertanyaan Polos
CUP.Elang mendaratkan ciuman di kulit leher Citra yang sensitif, memberikan hisapan kecil yang posesif. Jemarinya yang menahan pinggang Citra gemetar halus, sebuah tanda bahwa benteng kendali dirinya sedang berada di ambang keruntuhan."Ahh..." Citra melenguh pelan. Kepalanya mendongak secara insting, memberikan akses lebih luas bagi Elang.Tangan kanannya tanpa sadar merayap naik, meremas rambut belakang Elang yang biasanya tertata klimis sempurna, kini mulai berantakan oleh gairah.Elang memindahkan ciumannya ke sepanjang garis rahang, menuju telinga Citra. Napasnya yang memburu terasa menggelitik."Saya hampir gila menunggu hari ini, Citra," bisik Elang, suaranya pecah oleh keinginan yang sudah ia pendam sejak pertama kali melihat gadis itu menyikat baju di papan gilesan."Bapak... Elang... Ibu ada di sebelah," Citra mencoba mengingatkan, meski suaranya sendiri terdengar tidak yakin.Elang tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru membungkam bibir Citra dengan ciuman yang dalam d
Last Updated: 2026-04-11
Chapter: 104. Invasi Daster ke Arcadia
Srek. Srek. Srek.Suara decit nyaring kardus mi instan yang diseret paksa di atas lantai marmer Statuario terdengar seperti jeritan pilu dari dompet Elang Soerya.Citra Melati tidak peduli. Dengan napas yang sedikit tersengal, ia menarik beban berat berisi ulekan batu, wajan hitam, dan botol kecap sisa dari Petamburan itu tepat ke tengah foyer yang biasanya hanya disinggahi oleh koper-koper bermerek.Di ambang pintu lift, Ibu Ayu mematung. Kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit Swallow biru yang sudah menipis di bagian tumit tampak gemetar.Ia menatap lantai marmer yang begitu mengilap hingga mampu memantulkan bayangan daster batiknya dengan sangat jelas."Nduk, ini lantai apa kaca? Ibu takut terpeleset, nanti ganti ruginya pake apa?" bisik Ibu Ayu dengan wajah pucat.Tangannya mencengkeram ujung dasternya erat-erat, seolah kain katun pudar itu adalah satu-satunya pelindung dari kemewahan yang mengintimidasi ini.Citra tertawa renyah, suara tawanya memantul di langit-langit tinggi
Last Updated: 2026-04-10
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status