LOGIN"Satu aturan mutlak: Jatuh cinta = Denda 10 Miliar Rupiah." Citra Melati bukan pelayan biasa. Dia adalah Crisis Manager, spesialis membereskan kekacauan domestik orang super kaya. Otaknya adalah kalkulator berjalan. Baginya, emosi adalah pemborosan dan cinta adalah defisit anggaran. Tugasnya sederhana: Mengasuh empat CEO paling disfungsi di Penthouse Arcadia demi melunasi utang ibunya. Tapi, bagaimana dia bisa bekerja profesional jika kliennya segila ini? Elang Soerya: Konglomerat ningrat yang alergi debu dan rakyat jelata, tapi anehnya bergairah saat punggungnya dikerok uang receh oleh tangan kasar Citra. Bastian: Influencer narsis yang menjadikan Citra konten hidup. Raka & Damar: Duo jenius yang melihat cinta sebagai bug sistem dan ancaman keamanan. Bagi Citra, mereka hanyalah bayi raksasa berdompet tebal. Bagi mereka, Citra adalah anomali yang mematikan. Ketika insiden "hemat listrik" berakhir dengan posisi tindihan di kamar mandi, dan sesi terapi punggung berubah menjadi desahan ambigu, Citra sadar dia dalam bahaya. Bukan bahaya jatuh cinta. Tapi bahaya didenda 10 Miliar karena tubuh para CEO itu mulai bereaksi pada sentuhannya. Sanggupkah Citra menjaga hatinya (dan dompetnya) tetap utuh di sarang penyamun elit ini?
View MoreTit. Tit. Tit.
Suara mesin ATM itu terdengar seperti vonis hakim. Layar biru di hadapan Citra berkedip sekali, lalu memuntahkan angka yang membuat ulu hatinya nyeri.
Saldo: Rp32.500.
Citra tidak berkedip. Otaknya langsung bekerja lebih cepat dari kalkulator pedagang pasar induk. Ongkos angkot pulang pergi ke Petamburan sepuluh ribu. Sisa dua puluh dua ribu lima ratus.
Krukk.
Lambungnya protes. Dia belum makan sejak sore kemarin. Roti sobek di minimarket harganya dua belas ribu. Kalau dia beli roti, sisa uangnya tidak cukup untuk beli token listrik.
Citra menekan tombol Batal.
Kartu ATM keluar. Dia memasukkannya kembali ke dompet yang kulit sintetisnya sudah mengelupas.
"Tahan lapar dulu," gumamnya pada perut sendiri. "Anggap saja diet ala artis Korea."
Dia berbalik badan. Lobi Apartemen Arcadia ini dinginnya tidak sopan. AC sentral disetel di suhu enam belas derajat, seolah mengejek orang-orang di luar sana yang sedang terpanggang matahari Jakarta.
Citra merogoh tas selempangnya. Dia mengeluarkan botol parfum isi ulang aroma melati.
Crut. Crut. Crut.
Lima ratus rupiah melayang ke udara. Ini investasi wajib. Bau apek lemari lembap dan asap knalpot Metro Mini yang menempel di blazernya harus hilang. Orang kaya punya hidung anjing pelacak kalau soal bau kemiskinan.
Dia berjalan menuju lift privat. Seorang satpam paruh baya dengan seragam licin tanpa kusut sudah menunggu.
"Neng Citra?"
"Siap, Pak Asep."
Pak Asep menekan tombol panggil. Panel lift itu bukan plastik, tapi kaca sentuh yang menyala elegan. Satpam itu mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik pelan.
"Saran Bapak, Neng. Nanti di atas napasnya ditahan dikit. Jangan grobogan."
Citra mengernyit. "Kenapa? Oksigen di atas kena pajak pertambahan nilai?"
"Bukan. Tuan Elang... dia bisa dengar suara napas orang kalau lagi panik. Dia nggak suka suara organik. Katanya berisik."
Citra ingin tertawa, tapi wajah Pak Asep datar seperti tembok beton. Pintu lift terbuka. Bagian dalamnya dilapisi cermin dan emas. Citra masuk, merasa seperti kuman yang menyusup ke ruang operasi steril.
Lift melesat naik. Telinganya berdengung.
Ngiiiing.
Lantai 50. Pintu terbuka.
Hal pertama yang menyambutnya bukan kemewahan, tapi suara isak tangis. Seorang pelayan wanita sedang berlutut di lantai. Di depannya, berdiri seorang pria dengan postur tegak kaku seperti tiang listrik mahal.
Elang Soerya.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu arang tiga lapis, kancing tertutup sempurna sampai leher. Tangan kanannya menjepit sebuah sendok perak kecil menggunakan saputangan sutra putih. Dia menatap sendok itu seolah benda itu baru saja mencaci maki leluhurnya.
"Ada noda," suara Elang rendah, berat, dan tanpa emosi. "Jejak air yang mengering. Membentuk pulau kalsium mikroskopis."
"Itu cuma bercak air sedikit, Tuan..."
"Bercak air adalah bukti kegagalan proses pengeringan. Kegagalan adalah sarang bakteri."
Elang membuka jepitannya.
Trang!
Sendok perak itu jatuh menghantam lantai marmer. Suaranya nyaring dan menyakitkan.
"Bakar taplak mejanya. Buang sendoknya. Kamu boleh pergi. Ambil pesangon di pos satpam. Jangan pernah injak lantai ini lagi."
Mata Citra membelalak. Memecat orang karena bercak air? Kalkulator di kepalanya mendadak error. Itu sendok perak murni. Estimasi berat lima puluh gram. Harga perak dua belas ribu per gram.
Enam ratus ribu rupiah dibuang begitu saja.
Brak!
Pintu samping terbanting terbuka. Seorang pria lain masuk sambil memegang ponsel yang dilengkapi ring light mini.
"Hellow, People of the Internet!"
Suaranya melengking, merusak suasana hening yang mencekam.
"Balik lagi sama gue, Bastian Wijaya! Dan guess what? Kakak gue yang psycho lagi kumat! Look at that drama!"
Bastian mengarahkan kamera ponselnya ke pelayan yang menangis, lalu ke Elang yang mematung, dan akhirnya lensa itu menodong wajah Citra.
"Eh? Ada karakter baru? Siapa nih? Mbak SPG panci?"
Citra tidak peduli pada kamera itu. Fokusnya terkunci pada satu objek di lantai. Sendok perak itu. Enam ratus ribu rupiah. Bisa buat bayar listrik tiga bulan. Bisa beli beras dua puluh lima kilo. Bisa beli obat darah tinggi Ibu yang generik.
Insting bertahan hidupnya mengambil alih. Rasa takut pada aura membunuh Elang kalah telak oleh rasa sakit hati melihat uang mubazir.
Citra melangkah maju. Dia berjongkok dan memungut sendok itu.
"Jangan disentuh," desis Elang.
Suaranya tajam. Elang mundur selangkah, menutupi hidungnya dengan saputangan sutra seolah Citra adalah wabah penyakit menular.
Terlambat. Tangan Citra sudah menggenggam gagang perak itu. Dingin. Logam itu terasa solid. Tanpa pikir panjang, Citra menarik ujung blazernya. Kain poliester murah yang teksturnya kasar seperti amplas halus.
Dia menggosok permukaan sendok itu dengan kuat.
Srek. Srek.
Bunyi gesekan kain kasar melawan logam halus terdengar ngilu di ruangan sunyi itu.
"Noda air itu cuma mineral, Pak. Bukan virus ebola," kata Citra datar.
Dia menggosoknya lagi. Memastikan kilapnya kembali sempurna. Kain kasar blazernya justru lebih efektif mengangkat noda daripada sutra halus milik Elang. Citra meletakkannya kembali ke atas meja konsol marmer di samping Elang.
Tak.
"Sudah bersih. Sayang kalau dibuang. Kalau Bapak jijik, mending diloakin. Lumayan buat beli nasi bungkus satu RT."
Hening.
Bastian menurunkan ponselnya, lupa merekam. Mulutnya sedikit terbuka.
Elang memutar kepalanya perlahan. Gerakannya patah-patah seperti robot yang engselnya karatan. Dia tidak menatap wajah Citra. Matanya terpaku pada ujung blazer Citra yang baru saja menyentuh sendok peraknya.
Ada kilatan aneh di mata pria itu. Bukan marah. Bukan jijik.
Elang menurunkan saputangan dari hidungnya, lalu menarik napas panjang.
Uap tipis mengepul malas dari cangkir porselen putih yang bertengger di atas meja marmer balkon.Aroma pahit kopi hitam yang pekat menyusup ke indra penciuman, memberikan ketenangan instan bagi saraf-saraf Citra yang masih sedikit tegang.Citra Melati menyesap kopinya perlahan. Rasa pahit yang membakar lidah itu terasa begitu jujur, jauh lebih masuk akal daripada kemewahan yang mengepungnya saat ini.Ia menyandarkan punggung ke kursi, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya yang mulai segar.Di hadapannya, Elang Soerya duduk dengan gaya santai yang jarang diperlihatkan. Kemeja putih mahalnya dibiarkan terbuka di bagian kerah, memperlihatkan garis leher yang kokoh.Pria itu meletakkan ponselnya ke meja dengan bunyi tak yang pelan."Orang-orang kita sudah kembali ke posisinya masing-masing lebih dulu," ucap Elang.Elang tidak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya diam, mengamati Citra tanpa suara. Tatapannya tidak lepas dari wajah istrinya, seolah sedang menghafal setiap lekuk dan bayangan ya
Empat tahun berlalu seperti embusan angin sore di Lebak Bulus; tenang, sejuk, dan tidak lagi membawa aroma kepanikan.Matahari pukul 16.30 WIB menggantung rendah di cakrawala, menyebarkan rona emas yang hangat di atas rumput Jepang yang terpangkas rapi.Di sudut halaman belakang rumah bergaya minimalis modern itu, terdapat sebuah pemandangan yang kontras. Di antara arsitektur beton dan kaca yang mahal, membentang kawat jemuran sederhana yang disangga tiang besi—sebuah replika kecil dari akar Petamburan yang menolak untuk dicabut.Citra Melati berdiri di depan jemuran itu. Tangannya yang kini lebih halus, namun tetap memiliki kekuatan yang sama, sedang memindahkan handuk-handuk kecil berwarna pastel ke dalam keranjang rotan.Ia tidak lagi mengenakan daster batik kusam. Citra memakai gaun rumah berbahan linen berwarna sage green yang elegan namun sangat nyaman.Rambutnya diikat asal, memperlihatkan cincin perak polos di jari manisnya yang berkilau terkena cahaya senja.Suara tawa renyah
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu dari celah tirai otomatis yang terbuka hanya satu inci.Garis emas itu jatuh tepat di atas lantai karpet sutra, membiaskan debu halus yang menari tenang di udara kamar Presidential Suite yang sunyi.Citra Melati membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah berat yang nyaman melintang di atas pinggangnya.Lengan kekar yang dipenuhi otot padat itu mengunci tubuhnya dalam dekapan posesif, seolah takut Citra akan menguap jika pegangannya melonggar sedikit saja.Ia menoleh sedikit, menatap wajah Elang Soerya dari jarak yang sangat dekat.Helai rambut hitam Elang yang biasanya klimis kini jatuh berantakan di dahi. Napas pria itu teratur, menerpa lembut puncak kepala Citra.Dalam tidurnya, wajah aristokrat yang biasanya kaku itu tampak jauh lebih manusiawi, bahkan sedikit damai.Memori semalam menyerbu tanpa ampun. Suara derit tempat tidur, desahan yang pecah, dan penyatuan yang merobek seluruh logika krisisnya. Wajah Citra merona mer
Pukul 22.15 WIB.Pintu jati ganda Presidential Suite itu tertutup dengan desis vakum yang kedap, mengunci rapat kebisingan sisa pesta dan denting selo di bawah sana.Seketika, dunia luar yang riuh mendadak mati, menyisakan keheningan yang begitu pekat hingga suara detak jantung Citra Melati terdengar seperti tabuhan genderang di telinganya sendiri.Citra merasakan tubuhnya melayang.Elang Soerya mengangkatnya dalam posisi bridal style dengan kemudahan yang mengintimidasi.Lengan kokoh Elang menyangga punggung dan lipatan lututnya, membuat Citra merasa sangat kecil dan ringkih di dalam dekapan sang raja.Elang melangkah mantap di atas karpet sutra tebal yang meredam suara langkah kakinya. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah ranjang King Size yang luas, seolah itu adalah satu-satunya tujuan hidupnya malam ini."Pak... gaun ini berat. Saya bisa jalan sendiri," cicit Citra, tangannya meremas bahu jas Elang untuk mencari keseimbangan.Elang tidak berhenti. Ia justru mempererat dekapann
Pukul 23.00 WIB. Waktu merayap lambat, seolah udara di dalam rumah petak itu telah berubah menjadi lem kental yang mencekik paru-paru.Citra Melati berjalan pelan. Lututnya kaku, matanya bengkak dan perih. Ia menyeret langkahnya menuju kamar tidur yang sempit, meninggalkan ru
Deru mesin-mesin bertenaga kuda besar itu terdengar seperti geraman hewan buas yang dipaksa mundur. Satu per satu, roda-roda lebar dari Rolls Royce, Mercedes-Benz, dan Range Rover menggilas aspal retak Petamburan untuk terakhir kalinya.Jeep Rubicon hitam doff milik Damar Lan
Pukul 08.00 WIB. Udara di dalam "Posko Cinta" terasa hampa.Biasanya, jam segini aroma bawang putih yang ditumis atau wangi kopi tubruk sudah menginvasi ruangan kaca itu, bertarung dengan dinginnya AC sentral. Pagi ini, tidak ada denting spatula yang beradu dengan wajan. Tida
Kain sutra merah itu meluncur jatuh, membentur lantai yang dingin dengan suara desir yang nyaris tak terdengar.Citra Melati berdiri mematung di depan cermin lemari plastik yang retak membelah dua pantulan wajahnya. Di bawah kakinya, gaun seharga puluhan juta itu terong


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.