Se connecterEleanor yang telah menikah selama tiga tahun difitnah menyebabkan kematian anak Jeremy. Sang suami lalu memaksanya minum obat aborsi di saat dirinya tengah hamil delapan bulan. Akibatnya, Eleanor tidak hanya harus melahirkan bayinya secara prematur, tetapi juga ditendang dari Keluarga Adrian. Lima tahun kemudian, Eleanor berubah menjadi dokter hebat yang disukai banyak pria. "Apa kedua anak itu darah dagingku?" tanya Jeremy sambil menyudutkannya. Eleanor menyahut sambil tersenyum, "Bukan, anakmu sudah kamu bunuh dengan tanganmu sendiri." Jeremy melempar laporan tes DNA ke hadapan Eleanor dan mengeluarkan selembar kartu keluarga. "Mau apa kamu?" tanya Eleanor. "Kita nikah ulang," jawab Jeremy.
Voir plus“Benedict!”
Sipir penjara itu berulang kali mengetukkan tongkat jaganya ke jeruji penjara, sembari matanya tidak berhenti mengedar, menatap satu per satu narapidana yang sedang berada di lapangan penjara Blackford.
“Benedict Cerg!” ulangnya. “Pengacaramu datang,” lanjutnya, saat seorang pria dengan jenggot tak terurus mendekat padanya.
“Aku tidak ada jadwal bertemu dengannya.”
“Bukan urusanku. Tapi pengacaramu ada di ruang tunggu.”
Benedict menghela napas sebelum akhirnya mengikuti langkar sipir penjara. Di sana, di tengah ruang tunggu, Nyonya Cassie Frost, pengacaranya yang berumur lebih dari setengah abad, tersenyum menyambutnya.
“Aku ada kabar baik untukmu. Duduklah!”
Nyonya Cassie membuka tas kerjanya, kemudian mengeluarkan sebuah map dan mendorongnya ke depan tubuh Ben.
“Itu adalah keputusan pengadilan yang memberimu remisi 15 tahun, karena sikap baikmu selama di sini. Kau tahu artinya?”
“Besok aku akan keluar dari penjara ini,” lirih Ben dengan tatapan yang masih fokus pada map di hadapannya.
“Benar. Tapi sepertinya kau tidak senang mendengarnya?”
“Apa selama menjadi pengacaraku, dirimu tidak sedikit pun memahamiku?” tanya Ben dengan senyum kecilnya.
“Jangan bertindak bodoh, Ben. Jangan sampai kau kembali ke penjara lagi. Setelah keluar dari sini, carilah pekerjaan dan hiduplah dengan baik.”
“Statusku sebagai mantan narapidana tidak akan mengizinkan itu.”
Nyonya Cassie mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan kiri Ben. Menepuknya pelan di sana, mencoba menyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja setelah keluar dari penjara.
“Aku akan membantumu mencari pekerjaan yang cocok.”
“Tidak perlu—”
“Aku memaksa,” potong Nyonya Cassie. “Baiklah, aku harus pergi, masih banyak kasus yang harus aku urus. Ini, hubungi aku kapan saja.” ujarnya lagi seraya memberikan kartu namanya.
“Anda baik sekali padaku.”
“Ben, aku tahu kau adalah pemuda yang baik.”
***
“Jangan kembali ke sini, dirimu terlalu baik untuk tinggal di tempat seperti Blackford ini.”
Ben tersenyum pada sipir yang mengantarnya hingga ke pintu keluar penjara. “Aku tidak janji,” sahut Ben, kemudian melangkah pergi meninggalkan penjara Blackford yang sudah memerangkapnya selama 15 tahun.
15 tahun adalah waktu yang lama untuk Ben menghabiskan masa mudanya di sana, untuk satu kesalahan yang dilakukannya demi membela sang Ayah. Ben tidak akan pernah menyesali apa yang telah dilakukannya pada para bajingan itu. Bajingan yang datang ke rumahnya di saat dirinya terlelap, kemudian menyeret ayahnya keluar rumah dan beberapa hari kemudian, Ben menemui ayahnya di penjara. Seolah kenyataan itu belum cukup buruk, dua minggu kemudian, Ben mendapat kabar bahwa sang Ayah meninggal bunuh diri.
Langkah Ben berakhir di depan sebuah rumah sederhana yang sudah lama tidak terurus. Rumput liar sudah hampir setengah tinggi tubuh Ben, juga tanaman liar yang merambat di tembok dan pagar. Ben sedikit mendorong paksa pagar itu, kemudian melangkah menuju bagian samping rumahnya dan menemukan sebuah kotak kayu yang sudah lapuk. Dibukanya kotak itu dan Ben mengambil sebuah anak kunci pintu untuk masuk ke rumah.
Masih seperti dulu, seperti saat terakhir dia melihatnya.
Ben menarik kain-kain putih yang menutupi perabot rumahnya dan langsung duduk di salah satu sofa. Pandangannya jatuh pada sebuah bingkai foto berdebu yang kain penutupnya terjatuh. Di foto itu, Ben tersenyum di samping sang Ayah dan memamerkan ikan hasil pancingannya dari danau—itu adalah foto terakhirnya bersama Ayah. Betapa kerasnya Ben berusaha mengenyahkan semua kenangan bersama sang Ayah, kenangan itu justru semakin menyeruak masuk ke dalam alam pikirannya. Betapa keras pun Ben menuruti nasihat Nyonya Cassie, tapi hatinya masih menyimpan dendam pada semua orang yang menyebabkan hidupnya berakhir seperti sekarang.
Ben segera bangkit, dia tidak ingin berlama-lama merenungi nasibnya. Benar kata Nyonya Cassie, dia harus segera mencari pekerjaan yang layak. Namun, masalahnya Ben tidak memiliki keahlian apapun selain bela diri. Itupun dia dapatkan dengan berlatih bersama tahanan lainnya. Ben bergegas membersihkan rumah dan dirinya, lalu dia pergi ke sebuah kedai yang tak jauh dari rumahnya.
Pak Tua pemilik kedai itu masih terlihat sama, hanya sedikit penambahan warna putih di jenggot dan rambutnya. Saat tatap keduanya bertemu, Ben bisa melihat keterkejutan di mata sayu itu, ditambah sedikit air mata di pelupuknya. Pak Tua itu segera meninggalkan meja kasir, menyambut, dan memeluk Ben erat.
“Bagaimana kau bisa di sini? Apa—”
“Aku sudah bebas, Vernon.”
Vernon masih menatap tak percaya pada Ben—anak sahabatnya yang bertahun-tahun menolak kunjungan penjarannya. Kini, pemuda yang dulu sering bermain bersama putranya sudah kembali berdiri di hadapannya. Vernon tak kuasa menahan haru dan kembali memeluk Ben.
“Aku akan buatkan makanan favoritmu.”
“Dirimu masih ingat?”
“Tentu saja, makanan favoritmu adalah makanan favoritku dan ayahmu juga. Spageti.”
Ben tertawa mendengar kalimat Vernon dan langsung mengikutinya untuk duduk di kursi yang berada di depan meja bar.
“Bagaimana bisnis kedaimu?”
“Semakin ramai.”
“Peter?”
“Dia sudah menikah dan sekarang tinggal bersama istrinya, empat jam perjalanan dari sini.” Vernon memutar matanya malas. “Membuatku malas untuk ke rumahnya. Beruntung dua cucuku sangat manis, itu yang membuatku rela pergi ke sana setiap akhir pekan.”
Tak berselang lama, sepiring spageti yang masih mengepulkan asap dan segelas bir tersaji di depan Ben. Tanpa menunggu, Ben langsung melahapnya habis.
“Kau sudah menjenguk ayahmu?”
“Aku belum berani ke sana.”
“Kenapa?”
Ben mengambil gelas bir dan langsung menandaskannya. “Aku belum menjadi anak baik seperti yang diinginkannya. Pergi ke kampus, bekerja dengan memakai jas dan dasi, membelikannya mobil bekas atau ratusan kaleng bir.”
“Ben, ayahmu pasti mengerti dengan keadaanmu. Sekarang, fokuslah untuk masa depanmu.”
Ben mengangguk lemah dengan nasihat Vernon.
Suasana kedai sore itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa keluarga yang menikmati spageti buatan Vernon dan tiga orang supir truk yang kebetulan adalah teman Vernon. Ben masih tidak percaya dirinya berada di sini. Jika biasanya di jam yang sama dia akan berada di lapangan penjara Blackford bersama narapidana lainnya, bermain bola, kartu, atau sekedar duduk-duduk meratapi nasib. Kini, dia sudah selesai menyantap sepiring spageti lezat, bir dingin, dan menikmati ocehan anak-anak tentang sekolah mereka.
“Di mana toiletmu? Cepat! Beritahu aku di mana toiletmu!”
Ben menoleh dan mendapati seorang wanita dengan napas terengah, membentak Vernon.
“Di sana,” jawab Vernon. “Di sebelah kiri lorong.”
Tanpa sepatah kata, wanita itu berjalan tergesa menuju arah yang ditunjuk Vernon. Meninggalkan Vernon dan Ben yang saling menatap bingung melihat tingkah wanita asing berambut brunet itu.
“Mungkin dia ingin menangis, karena patah hati. Makanya dia butuh toilet,” celetuk Vernon.
Baru saja Ben akan menanggapi, pintu kedai Vernon terbuka keras hingga menimbulkan suara yang membuat semua pengunjung termasuk Ben menoleh cepat. Dua orang pria dengan tubuh besar langsung menghampiri Vernon dengan menggebrak meja.
“Di mana gadis yang memakai baju biru? Dia ke sini, kan?”
Vernon melirik sekilas pada Ben yang menggeleng. Ben tahu, bahwa gadis yang dimaksud dua pria ini adalah gadis yang baru saja selesai mebentak Vernon dan sekarang sedang berada di toilet.
“Sedari tadi aku berdiri di sini, tidak melihat gadis yang kau maksud,” jawab Vernon tenang.
Dua pria itu membalikkan tubuh untuk menatap satu per satu pelanggan Vernon yang ketakutan. Kemudian salah satunya berjalan menuju lorong toilet. Ben langsung melompat turun dari kursinya dan mendahului langkah pria itu.
“Hei!” protesnya.
“Maaf, aku sudah tidak tahan,” sahut Ben sambil kedua tangannya menutupi bagian selakangannya. “Aku punya masalah dengan—” Ben melirik selakangannya.
“Aku tidak peduli urusanmu!” kesal pria itu, dan membiarkan Ben untuk berlalu.
Ben bergegas. Ketika sampai di depan toilet, pintunya terbuka. Ben buru-buru mendorong gadis itu dan membekapnya sebelum kalimat protes berhasil keluar dari mulutnya. Dengan sebelah tangannya, Ben langsung memutar kenop pintu dan menguncinya.
“Ada dua pria bertubuh besar di luar sedang mencarimu,” bisik Ben.
Mata gadis itu melebar.
“Kau sedang menghindari mereka, kan?”
Gadis itu mengangguk.
“Kalau begitu diamlah sampai Vernon menyuruh kita keluar.”
“Hei! Apa yang kau lakukan di dalam! Kau sedang berbicara dengan siapa?” bentak si Pria asing itu sambil menendang pintu kamar mandi.
“Apa kau lupa? Aku punya masalah dengan katung kemihku! Aku berbicara dengan diriku sendiri. Aku takut ruang sempit, makanya aku berbicara dengan diriku sendiri agar tidak takut!” balas Ben dari dalam kamar mandi, masih dengan posisi yang sama bersama gadis itu.
Suara pria itu tidak lagi terdengar. Sepertinya dia puas dengan jawaban Ben. Tak berapa lama kemudian, suara Vernon menggantikannya dan mengabarkan bahwa keadaan sudah aman.
“Ayo keluar!” ajak Ben.
“Terima kasih,” ujar gadis berbaju biru itu pada Ben yang sudah kembali duduk menikmati segelas bir yang telah diisi Vernon lagi. “Hei, aku bilang terima kasih padamu!” ulangnya kesal.
Ben masih tak acuh dan menikmati birnya.
“Nona, dia sudah menerima ucapan terima kasihmu. Lebih baik tinggalkan dia sekarang, sebelum dua pria tadi kembali mencarimu di sini.”
“Namaku Radella! Kau bisa memanggilku dengan Ella,” ucap Ella sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat, tapi—lagi-lagi—tak diacuhkan oleh Ben. “Kau adalah orang paling aneh yang pernah aku temui! Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dan berkenalan!”
“Nona—”
“Kalau kau seperti ini, kenapa tadi menolongku, hah?! Kenapa ikut campur masalahku?”
Ben meletakkan gelas birnya, kemudian bangkit menuju pintu keluar.
“Hei! Kau mau ke mana?! Hei!”
“Memanggil kembali dua pria tadi,” sahut Ben sambil lalu.
“Tunggu!” cegah Ella sambil menahan lengan Ben. “Baiklah, aku tidak akan menganggumu lagi!”
Ella menghempaskan lengan Ben, kemudian dengan hentakan kaki keras dia berjalan keluar kedai.
“Dasar pria berengsek!”
Ben masih mendengar makian Ella dari parkiran.
“Dia hanya ingin berterima kasih, Ben.”
“Aku tidak perlu terima kasihnya.”
“Lalu kenapa kau menolongnya?”
“Dia terlihat seperti anak anjing yang butuh pertolongan.”
“Anak anjing? Apa gadis itu selucu itu?”
Ben tersenyum mendengar sindiran Vernon. “Dia menakutkan.”
***
Bella menggigit bibirnya dengan agak getir. "Hmm.""Semua ini ditulis oleh Jeremy. Awalnya, dia nggak percaya pada hal-hal seperti ini. Tapi karena kamu, setiap malam saat dia nggak bisa tidur, dia berlutut di depan altar dan berdoa. Totalnya ada 248 halaman, dia melakukannya selama 62 hari berturut-turut."Eleanor menatap buku tebal itu. Setiap halaman ditulis dengan rapi, semuanya adalah tulisan tangan Jeremy. Hatinya sedikit bergetar.Eleanor tidak tahu apakah Jeremy benar-benar percaya pada dewa, tetapi yang jelas, dia menulis ini sambil berdoa, sambil menyesali perbuatannya, sambil menyalahkan diri sendiri, sambil merasakan sakit.Melihat tulisan-tulisan itu, Eleanor bisa membayangkan sosok seorang pria yang menunduk sambil mencatat setiap tulisan dengan penuh ketulusan."Jeremy memang pernah menyakitimu. Selama kamu menghilang, dia hidup dalam penderitaan setiap hari, bahkan gangguan tidurnya semakin parah sampai nggak ada obat yang berkhasiat.""Dia sama sekali nggak bisa tidur.
Eleanor mengernyitkan alisnya. "Nggak ada."Semua barang milik Eleanor sudah disimpan oleh Jovita, tidak ada yang tersisa lagi.Jovita menatap mata Eleanor, seolah-olah ingin memastikan yang dikatakan Eleanor memang benar. "Eleanor, coba pikirkan lagi baik-baik, benaran nggak ada benda lain?""Nggak ada," jawab Eleanor dengan tegas sambil menggelengkan kepala. Semua barang peninggalan ibunya untuknya berada di Keluarga Haningrat karena saat itu dia masih berusia puluhan tahun. Dia yang tidak memiliki persiapan apa pun tidak mungkin bisa melawan kelicikan dari Robert dan Felicia, sehingga semua barang itu tidak pernah sampai ke tangannya.Ekspresi Jovita berubah dan menganggukkan kepalanya, seolah-olah merasa lega."Nenek, kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti ini? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Eleanor.Jovita langsung menggelengkan kepalanya. "Nggak ada apa-apa. Hanya saja tiba-tiba teringat, jadi aku coba bertanya padamu."Eleanor yang cemberut pun menganggukkan kepala dengan
"Di mana Nenek?" Eleanor tidak ingin membuang waktu berbicara dengan Tiara.Meskipun Eleanor tahu Tiara hanyalah alat yang dimanfaatkan oleh Yoana untuk menanggung kesalahannya, Tiara tetap memiliki niat buruk terhadap anak-anaknya dan bersedia dimanfaatkan secara sukarela.Saat ini, Eleanor tidak punya waktu untuk berurusan dengannya. Selama Tiara tidak menimbulkan masalah lagi, Eleanor akan menganggapnya tidak ada.Tiara tertegun sejenak sebelum menunjuk ke lantai atas. "Nenek ada di atas."Eleanor langsung menaiki tangga. Begitu dia pergi, Tiara buru-buru menelepon ayah dan ibunya. "Ayah, Eleanor masih hidup ...!"Eleanor tiba di depan kamar Jovita dan mengetuk pintu dengan pelan. Sesaat kemudian, terdengar suara dari dalam. "Masuk."Eleanor membuka pintu dan melangkah masuk. Jovita yang memakai kacamata rabun tua sedang duduk di kursi malas dekat jendela besar sambil merajut sesuatu. Cahaya matahari menyelimuti tubuhnya, memberikan kesan hangat dan damai.Ketika dia mengangkat kepa
"Kukembalikan kepadamu," ujar Jeremy.Charlie mengangkat alis. "Kamu menyelidikiku?"Jeremy menatapnya dengan tenang. "Aku cuma menebak."Selama dua bulan terakhir, kecurigaan Jeremy terhadap Charlie tidak pernah surut. Dia terus mengawasi Charlie dan akhirnya menemukan sejumlah besar uang yang keluar dari rekeningnya.Empat triliun. Bukan jumlah kecil, cukup untuk membeli sebuah kediaman mewah atau barang berharga lainnya. Anehnya, Charlie hanya mengeluarkan uang tanpa membeli aset apa pun.Lebih mencurigakan lagi, transaksi itu terjadi tepat tiga hari setelah Eleanor menghilang. Ditambah dengan pengakuan Eleanor bahwa dia terkena racun yang sangat langka, Jeremy menyimpulkan bahwa uang itu kemungkinan besar telah digunakan untuk menyelamatkan Eleanor.Jika itu memang untuk Eleanor, Jeremy merasa sudah seharusnya dia kembalikan.Charlie tertawa kecil, meletakkan cek itu di atas meja dengan santai. "Kamu ini siapa? Berani sekali kamu menggantikan dia membayar utangnya?"Jeremy menyahut
Mendengar perkataan Eleanor, wajah Yoana langsung memerah karena marah.Kerumunan orang di sekelilingnya mulai bergumam. Awalnya mereka masih bersimpati pada Yoana, tetapi setelah mendengar perkataan Yoana tadi, mereka merasa wanita itu benar-benar tidak tahu malu.Jelas-jelas dia sendiri yang menye
Sekarang Eleanor berhasil membawanya pergi, Papa pasti tidak akan setuju dan akan mengejar Mama. Itu semua salahnya hingga Mama berada dalam bahaya."Anak bodoh, kamu ngomong apaan? Kamu nggak salah. Ini semua urusan antara Mama dan Jeremy. Kamu dan Harry nggak seharusnya ikut terlibat. Kalau ada yan
!!!Dewa? Sepertinya para wanita ini harus mengunjungi dokter mata. Pria di hadapan mereka jelas-jelas adalah malaikat pencabut nyawa!Ketika Eleanor berpikir demikian, Jeremy kebetulan mengalihkan pandangan ke arahnya. Keempat mata itu bertemu pandang.Seketika, Eleanor mematung di tempat. Dia seperti
Eleanor memang berpikir demikian. Dia harus mencari kesempatan untuk menemui anak itu dulu."Ya.""Beri tahu saja aku kalau butuh bantuan.""Terima kasih, Vivi."Setelah mengakhiri panggilan, Eleanor merenung. Dia berniat mencari pengacara untuk menanyakan tentang pengembalian hak asuh anak.Setelah memb
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Notes
commentairesPlus