Mag-log inEleanor yang telah menikah selama tiga tahun difitnah menyebabkan kematian anak Jeremy. Sang suami lalu memaksanya minum obat aborsi di saat dirinya tengah hamil delapan bulan. Akibatnya, Eleanor tidak hanya harus melahirkan bayinya secara prematur, tetapi juga ditendang dari Keluarga Adrian. Lima tahun kemudian, Eleanor berubah menjadi dokter hebat yang disukai banyak pria. "Apa kedua anak itu darah dagingku?" tanya Jeremy sambil menyudutkannya. Eleanor menyahut sambil tersenyum, "Bukan, anakmu sudah kamu bunuh dengan tanganmu sendiri." Jeremy melempar laporan tes DNA ke hadapan Eleanor dan mengeluarkan selembar kartu keluarga. "Mau apa kamu?" tanya Eleanor. "Kita nikah ulang," jawab Jeremy.
view more“Aaah, mmmpht! Uuuuhhh … aaahhh.” Terdengar samar suara desahan itu berasal dari kamar utama. Jantung Leonel seakan berhenti berdetak. Wajahnya memucat, ia membatu di tempat. Ia baru saja kembali dari bekerja, tapi langsung disambut dengan desahan-desahan penuh nikmat yang jelas sekali bunyian itu berasal dari mulut istrinya.
Gegas Leonel berlari menuju kamar, ia lempar tas kerjanya secara sembarang. Pintu kamar tidak terkunci sama sekali ketika ia memutar gagang.“Bajingan!” Leonel memaki dengan emosi yang menguasai. Wajahnya memerah dengan rahang yang mengeras. Napasnya terdengar ngos-ngosan karena menahan amarah.“Mas ….” Airin menoleh menatap suaminya. Wajah wanita itu tampak memerah menahan kenikmatan. Suaranya terdengar parau, serak, dan bergetar. Tubuhnya setengah telanjang dengan keringat yang membasahi badan.Leonel menatap sekitar, mencari seseorang.“Di mana keparat itu?!” Leonel mencari menuju kamar mandi, tapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan lelaki lain di sana. Ia kembali menuju ranjang, merunduk untuk mengecek kolong ranjang. Namun, tetap saja tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada Airin seorang diri dengan televisi yang tengah menyala. Layar kaca itu menayangkan pasangan yang tengah bercinta. Desahan, erangan, dan juga decakan terdengar berasal dari tayangan itu.“Mas nyari siapa?” Airin bangkit berdiri. Dipeluknya tubuh sang suami dari belakang, berusaha menenangkan sekaligus melepas kerinduan.Namun, emosi Leonel masih belum mereda. Ia lepas pelukan istrinya dengan kasar, kemudian beranjak menuju jendela yang tampak terkunci dengan gorden yang tertutup sempurna. Ia bahkan tidak mencium ada aroma parfum lelaki lain di sana.“Dengan siapa kau bercinta?” Leonel menyorot istrinya dengan tajam. Manik matanya seakan hendak menikam. Pikirannya tengah dikuasai oleh banyak hal.Airin tersenyum lebar. Ia sama sekali tidak tersinggung ketika pelukannya dilepas secara paksa oleh suaminya. Ia terus berusaha agar bersikap lembut, sebab ia sangat mencintai lelaki yang tengah berdiri di hadapannya. Apa pun yang lelaki itu lakukan, tidak akan mampu mengurangi sedikit pun kadar cintanya.“Aku tidak bercinta dengan siapa pun.” Airin menjawab dengan lembut disertai senyum manis di bibirnya.“Jangan berpikir kau bisa membohongiku. Aku mendengar desahanmu dari ruang depan, lalu dengan tampilanmu yang sekarang, kau yakin aku masih bisa percaya dengan kata-kata yang kau lontarkan?” Leonel berucap dengan tajam.Senyum Airin semakin lebar menatap wajah marah suaminya. Sebab, itu menandakan bahwa Leonel masih mencintainya. Lelaki itu tidak akan marah jika ia tidak punya rasa.“Aku mencari kenikmatan dengan tanganku sendiri. Kau tidak ingin memuaskanku, jadi aku cari kepuasan sendiri tanpa harus memaksamu untuk melakukan apa yang tidak kau inginkan.”“Kau masturbasi?” Leonel bertanya memastikan.Airin mengangguk. Matanya tampak menyipit ketika ia tersenyum menatap lelaki itu. Ia beranjak meraih remote control, lalu mematikan televisi yang tengah menayangkan film dewasa.“Aku terlalu menikmatinya, jadi aku tidak sadar jika kau sudah pulang.” Airin membenarkan dan merapikan pakaiannya.Leonel menghela napas dengan dalam, tidak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan oleh Airin. Bisa-bisanya wanita itu masturbasi di jam seperti sekarang. Namun, ia merasa sangat lega. Sebab, tidak ada lelaki lain di dalam kamarnya.Airin mendekat. Ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Leonel. Sorot matanya seakan meminta agar lelaki itu menuntaskan hasrat yang tengah memuncak. Ia merasa sangat tanggung, sebab Leonel menghentikan aksinya sebelum ia meraih kepuasan.Airin mendekatkan wajahnya, hendak melumat bibir Leonel yang sudah sangat ia rindukan. Bibir itu sangat basah dan kenyal, rasanya juga begitu manis dan membuat candu. Sudah tiga hari ia tidak merasakan kekenyalan bibir itu.“Aku capek.” Leonel membuang muka sebelum bibir mereka saling beradu. Ia selalu saja mencari cara dan alasan untuk menolak setiap adegan romantis yang Airin harapkan.Airin menghela napas kecewa. Namun, ia tetap tersenyum dengan wajah ceria. Wanita berambut bergelombang itu melepas lingkaran tangannya di leher Leonel. Menyembunyikan tumpukan kekecewaan di balik manisnya senyum yang ia miliki.“Mau mandi sekarang atau mau aku buatin minum dulu?” Airin bertanya dengan begitu lembut. Tatapannya penuh cinta menyorot sang suami.“Aku mau istirahat. Aku sedang pusing karena proyegku gagal lagi, kau jangan ganggu aku” Leonel mengempaskan tubuhnya ke ranjang dengan cukup kasar. Terdengar helaan napas berat berasal dari lelaki itu. Jemarinya memijit pelipis atas untuk mengurangi rasa pusing di kepala. Ia memejamkan mata.Airin mendekat. Ia lepas sepatu dan kaus kaki yang membungkus kaki Leonel. Setelahnya ia ikut naik ke atas ranjang. Duduk di samping tubuh suaminya yang tengah berbaring kelelahan.“Mau aku pijitin?” Airin langsung memijit ubun-ubun suaminya sebelum mendapat jawaban.Leonel tidak melarang. Ia tampak menikmati setiap pijitan yang Airin berikan.“Lain kali kalau mau begitu lagi, pintu kamar sama pintu depan jangan lupa dikunci.” Leonel memberi peringatan.Airin menghela napas. Awalnya ia berpikir jika Leonel akan berubah karena merasa tertampar dan tersadarkan ketika menyaksikan dirinya tengah masturbasi. Namun, nyatanya tidak sama sekali.“Mas, apa aku tidak menarik sehingga kau tidak ingin bercinta denganku?” Airin akhirnya melontarkan pertanyaan yang telah menguasai otaknya selama enam bulan terakhir. Mereka sudah dua tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Kualitas bercinta mereka juga makin ke sini makin menurun. Leonel seakan bosan terhadap tubuh indah milik istrinya sehingga enggan untuk melakukan hubungan suami istri sesering biasanya. Airin tidak ingat kapan terakhir kali mereka bercinta. Yang ia tahu, bulan ini sang suami belum pernah menjamahnya. Sementara bulan akan segera berganti.Leonel hanya akan mencium bibirnya sesekali. Itu juga karena Airin yang sudah memaksa dan mendesak.“Aku capek.” Leonel memberi jawaban yang serupa. Entah sudah berapa kali jawaban itu ia lontarkan untuk menanggapi pertanyaan dari Airin.“Bukan karena cara bercintaku yang tidak sesuai dengan keinginanmu? Aku akan upgrade cara bermainku jika kau merasa tidak puas dengan cara mainku.”Leonel menoleh menatap istrinya. Ia sorot manik mata indah itu dengan dalam.“Bukankah kita sudah pernah berdiskusi jika rumah tangga itu bukan hanya masalah selangkangan? Tapi masalah komitmen.” Lelaki itu berucap dengan lembut.“Tapi nafkah batin itu juga bagian dari komitmen yang pernah kita bicarakan.”“Aku tidak bernafsu, Airin. Aku sangat lelah, tenagaku juga sudah habis di tempat kerja.”“Lalu, bagaimana denganku? Aku selalu bernafsu ketika melihatmu.”“Kau lakukan saja seperti tadi. Kau bisa mencari kepuasan sendiri bukan? Kau tidak membutuhkanku untuk mendapatkan kepuasanmu. Aku akan membelikanmu mainan seks untuk menambah imajinasimu.” Leonel berucap dengan enteng. Seakan tidak ada beban sama sekali.Lagi, Airin menghela napas dengan kasar. Ia tidak lagi mampu berkata-kata setelah mendengar kalimat yang terlontar dari mulut suaminya. Jika terus begini, apa arti dari pernikahan mereka? Apa arti Leonel dalam hidupnya jika lelaki itu tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang suami? Jika hanya nafkah berupa uang, ia tidak perlu menikah untuk mendapatkan itu. Sebab, orangtuanya juga orang kaya. Mereka akan memenuhi semua kebutuhannya tanpa diminta.Tak sadarkah Leonel bahwa yang Airin butuhkan hanya pria itu?
Bella menggigit bibirnya dengan agak getir. "Hmm.""Semua ini ditulis oleh Jeremy. Awalnya, dia nggak percaya pada hal-hal seperti ini. Tapi karena kamu, setiap malam saat dia nggak bisa tidur, dia berlutut di depan altar dan berdoa. Totalnya ada 248 halaman, dia melakukannya selama 62 hari berturut-turut."Eleanor menatap buku tebal itu. Setiap halaman ditulis dengan rapi, semuanya adalah tulisan tangan Jeremy. Hatinya sedikit bergetar.Eleanor tidak tahu apakah Jeremy benar-benar percaya pada dewa, tetapi yang jelas, dia menulis ini sambil berdoa, sambil menyesali perbuatannya, sambil menyalahkan diri sendiri, sambil merasakan sakit.Melihat tulisan-tulisan itu, Eleanor bisa membayangkan sosok seorang pria yang menunduk sambil mencatat setiap tulisan dengan penuh ketulusan."Jeremy memang pernah menyakitimu. Selama kamu menghilang, dia hidup dalam penderitaan setiap hari, bahkan gangguan tidurnya semakin parah sampai nggak ada obat yang berkhasiat.""Dia sama sekali nggak bisa tidur.
Eleanor mengernyitkan alisnya. "Nggak ada."Semua barang milik Eleanor sudah disimpan oleh Jovita, tidak ada yang tersisa lagi.Jovita menatap mata Eleanor, seolah-olah ingin memastikan yang dikatakan Eleanor memang benar. "Eleanor, coba pikirkan lagi baik-baik, benaran nggak ada benda lain?""Nggak ada," jawab Eleanor dengan tegas sambil menggelengkan kepala. Semua barang peninggalan ibunya untuknya berada di Keluarga Haningrat karena saat itu dia masih berusia puluhan tahun. Dia yang tidak memiliki persiapan apa pun tidak mungkin bisa melawan kelicikan dari Robert dan Felicia, sehingga semua barang itu tidak pernah sampai ke tangannya.Ekspresi Jovita berubah dan menganggukkan kepalanya, seolah-olah merasa lega."Nenek, kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti ini? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Eleanor.Jovita langsung menggelengkan kepalanya. "Nggak ada apa-apa. Hanya saja tiba-tiba teringat, jadi aku coba bertanya padamu."Eleanor yang cemberut pun menganggukkan kepala dengan
"Di mana Nenek?" Eleanor tidak ingin membuang waktu berbicara dengan Tiara.Meskipun Eleanor tahu Tiara hanyalah alat yang dimanfaatkan oleh Yoana untuk menanggung kesalahannya, Tiara tetap memiliki niat buruk terhadap anak-anaknya dan bersedia dimanfaatkan secara sukarela.Saat ini, Eleanor tidak punya waktu untuk berurusan dengannya. Selama Tiara tidak menimbulkan masalah lagi, Eleanor akan menganggapnya tidak ada.Tiara tertegun sejenak sebelum menunjuk ke lantai atas. "Nenek ada di atas."Eleanor langsung menaiki tangga. Begitu dia pergi, Tiara buru-buru menelepon ayah dan ibunya. "Ayah, Eleanor masih hidup ...!"Eleanor tiba di depan kamar Jovita dan mengetuk pintu dengan pelan. Sesaat kemudian, terdengar suara dari dalam. "Masuk."Eleanor membuka pintu dan melangkah masuk. Jovita yang memakai kacamata rabun tua sedang duduk di kursi malas dekat jendela besar sambil merajut sesuatu. Cahaya matahari menyelimuti tubuhnya, memberikan kesan hangat dan damai.Ketika dia mengangkat kepa
"Kukembalikan kepadamu," ujar Jeremy.Charlie mengangkat alis. "Kamu menyelidikiku?"Jeremy menatapnya dengan tenang. "Aku cuma menebak."Selama dua bulan terakhir, kecurigaan Jeremy terhadap Charlie tidak pernah surut. Dia terus mengawasi Charlie dan akhirnya menemukan sejumlah besar uang yang keluar dari rekeningnya.Empat triliun. Bukan jumlah kecil, cukup untuk membeli sebuah kediaman mewah atau barang berharga lainnya. Anehnya, Charlie hanya mengeluarkan uang tanpa membeli aset apa pun.Lebih mencurigakan lagi, transaksi itu terjadi tepat tiga hari setelah Eleanor menghilang. Ditambah dengan pengakuan Eleanor bahwa dia terkena racun yang sangat langka, Jeremy menyimpulkan bahwa uang itu kemungkinan besar telah digunakan untuk menyelamatkan Eleanor.Jika itu memang untuk Eleanor, Jeremy merasa sudah seharusnya dia kembalikan.Charlie tertawa kecil, meletakkan cek itu di atas meja dengan santai. "Kamu ini siapa? Berani sekali kamu menggantikan dia membayar utangnya?"Jeremy menyahut
Yoana tahu Jeremy benar-benar marah kali ini. Dia ketakutan hingga kakinya melemas. Tanpa sempat peduli pada cederanya lagi, dia berlutut."Aku ... Remy ... aku sudah tahu salah. Daniel nggak menyukaiku. Dia sering melawanku. Aku melukainya karena terlalu marah. Tapi, aku benaran nggak sengaja. Kamu
Mendengar perkataan Eleanor, wajah Yoana langsung memerah karena marah.Kerumunan orang di sekelilingnya mulai bergumam. Awalnya mereka masih bersimpati pada Yoana, tetapi setelah mendengar perkataan Yoana tadi, mereka merasa wanita itu benar-benar tidak tahu malu.Jelas-jelas dia sendiri yang menye
Sekarang Eleanor berhasil membawanya pergi, Papa pasti tidak akan setuju dan akan mengejar Mama. Itu semua salahnya hingga Mama berada dalam bahaya."Anak bodoh, kamu ngomong apaan? Kamu nggak salah. Ini semua urusan antara Mama dan Jeremy. Kamu dan Harry nggak seharusnya ikut terlibat. Kalau ada yan
!!!Dewa? Sepertinya para wanita ini harus mengunjungi dokter mata. Pria di hadapan mereka jelas-jelas adalah malaikat pencabut nyawa!Ketika Eleanor berpikir demikian, Jeremy kebetulan mengalihkan pandangan ke arahnya. Keempat mata itu bertemu pandang.Seketika, Eleanor mematung di tempat. Dia seperti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore