Chapter: Bab 59 Pengendara ‘dr. Fahmi Ibrahim, Sp.OG’ dalam hati Fahmi membaca nama kontaknya yang tertulis di ponsel Nabila. Senyum tersungging saat membacanya, ia sempat menyangka, nama kontaknya ditulis dengan kata yang cukup spesial, misalnya ada tambahan emoticon hati. Ternyata Nabila bukanlah sosok yang terburu-buru, Fahmi menyukai hal itu. Biarlah cinta mengalir perlahan dan bertumbuh, tak ada yang perlu dikejar. Setelah mengirimkan gambar paket makanan tersebut. Ia langsung meneruskannya pada orang kepercayaannya untuk mengurus hal-hal seperti ini. Teka-teki yang diberikan akan segera terungkap, tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Fahmi sendiri masih mengikuti alur permainan dari orang tersebut. “Jadi seblaknya mau diapain?” tanya Salma, tampangnya nampak polos sekali. Nabila tak menjawab, ia sendiri bingung. Dibuang mubazir, dimakan khawatir dengan kondisi kesehatannya. “Cek lab dulu kalau mau makannya,” jawab Fahmi santai. Nabila, Anni
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Bab 58 Teka-teki MakananSekotak aneka gorengan tersaji di atas meja. Siapa yang tidak tergugah seleranya melihat cemilan favorit hampir semua orang tak berbatas kalangan mana pun, kecuali yang sedang diet dan kadar kolesterolnya tinggi. Isti yang menerima paket makanan tersebut menatap dengan heran. Bukan ia tidak suka mendapatkan rezeki seperti ini, hanya saja janggal sekali rasanya. Gadis dengan kulit kuning langsat ini menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan. Satu kalimat pendek yang membuatnya makin heran dan bingung. “Apa sih maksudnya?” gumamnya dengan dahi yang mengernyit. Kehadiran paket makanan tersebut pun tentu saja mengundang atensi rekan-rekannya. Mereka berjalan mendekati Isti, lalu mengerumuni meja–tempat di mana makanan tersebut diletakkan. “Wah, mantap banget ini! Kamu beli, ya, Is?” tanya salah satu rekannya terlihat antusias sekali saat menatap aneka gorengan tersebut.Isti menggeleng. “Bukan, dari Nabila,” jawabnya sambil
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Bab 57 Makanan MisteriusSembari mengunyah makanan yang diberikan Fahmi untuknya, kepala Nabila mengulang kata-kata permintaan maaf dan juga saat salah satu rekannya keceplosan tadi. Berkat keceplosan tadi ia jadi tahu bahwa niat mereka meminta maaf tidaklah tulus. Nabila bingung sekaligus heran, kenapa nampaknya ia seperti mainan saja, dianggap permintaan maaf itu hanya bercandaan. Apalagi yang mereka lakukan terhadap Nabila adalah bentuk kejahatan. Suara denting pesan masuk membuyarkan pikiran gadis ini, dilihat sumbernya bukan dari ponselnya sendiri, melainkan milik sang calon suami. Jari-jemari Fahmi yang panjang dan kokoh mulai bermain di atas layar ponselnya. Fahmi masih duduk di sebelah Nabila, namun beberapa saat kemudian, ia beranjak, berjalan menuju balkon. Dalam pandangan matanya, Nabila masih memperhatikan lelaki itu. Di balkon, tampak Fahmi sedang bercengkrama melalui ponselnya. Obrolannya nampak serius. Entah apa yang dibicarakan, terkadang Nabil
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Bab 56 Permintaan Maaf DitolakTelinga Nabila kembali mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Merina tadi saat datang menjenguknya. Dahinya mengernyit, Lili benar-benar berkata demikian pada rekan-rekannya. Otak Nabila pun mencerna permintaan maaf rekan-rekannya itu terdengar tidak tulus, karena semata-mata takut diberi surat peringatan dan pemecatan. “Oh, jadi, kalian minta maaf, karena takut dikasih surat peringatan atau dipecat? Berarti minta maafnya nggak tulus, ya…” ucap Fahmi dingin menusuk dengan kedua tangannya terlipat di dada. Ucapannya tersebut sukses membuat kelima bidan itu diam membisu. Mereka nampak takut, dan tak tahu harus berkata apa. Senyum-senyum yang terbit di wajah mereka langsung luruh bersamaan rasa malu. Nabila pun juga terkejut saat sang calon suami mengatakan hal demikian. Mereka berdua sepemikiran ternyata, bedanya Fahmi langsung melontarkan, sedangkan Nabila hanya dipendam dalam hati dan pikiran. “Bu—bukan
Last Updated: 2026-07-18
Chapter: Bab 55 Permintaan Maaf yang Tidak TulusTangan Fahmi meraih handle pintu, lalu menariknya dengan santai. Tepat di depan pintu, ada lima orang bidan yang bertugas di instalasi kebidanan dan kandungan—mereka adalah rekan-rekannya Nabila. Fahmi tahu dengan mereka, walaupun namanya tidak hafal. Kelima bidan itu berdiri dengan kaku dan senyum kikuk saat mendapati siapa yang membukakan pintu untuk mereka. Wajah-wajahnya persis seperti orang yang habis ketangkap basah. Tak ada wajah ramah seperti biasanya yang Fahmi tunjukkan, ia hanya memasang ekspresi datar. Entah, kali ini Fahmi tak bisa menahan emosinya, seperti berpura-pura dengan tetap tersenyum. “Ada apa?” tanya Fahmi datar. Dengan takut-takut mereka mencoba melihat Fahmi. Mereka juga saling sikut untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan atasannya barusan. “Kalian nggak kerja?” tanya Fahmi lagi sama datarnya. “A–anu, Dok, kami mau jenguk Nabila, boleh tidak, ya?” jawab salah satu dari mereka melirik Fahmi, lalu
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 54 Tawa BahagiaDalam beberapa hari kemarin Nabila menerima perlakuan yang tidak baik dari orang-orang di rumah sakit, juga dari rekan-rekan di instalasi kebidanan dan kandungan. Hingga membuatnya harus terbaring di IGD, bahkan sampai hari ini masih dirawat inap. Perlakuan yang tidak baik itu, ia dijauhi, tidak diajak berbicara, tidak diberi kesempatan untuk bekerja, dicegat, ban motornya kempes dan bocor, hingga yang paling tidak mengenakkan adalah diguyur air sampai basah kuyup. Perlakuan-perlakuan itu tentu saja membuatnya stres. Selain fisik, mentalnya juga ikut lelah. Bahkan, ada teror yang dikirim melalui pesan, sampai membuatnya ketakutan. Namun, hari ini, ia kelilingi oleh cinta dan kasih sayang. Meskipun tadi masih juga ada fitnah mengenainya. Kejadian-kejadian ini membuatnya berpikir untuk membalas, namun bukan dengan cara yang mengotori tangan dan namanya. Ia akan membalasnya dengan tampil memukau di acara pernikahannya nanti.
Last Updated: 2026-07-16