Chapter: Bab 7 Melawan TakutBukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan napas dengan lega saat mendengar jawaban Fahmi. Ini adalah jawaban yang objektif. Siapa pun korban pelecehan, tak peduli itu pasangan, anak, keluarga, maupun orang lain, semuanya harus ditolong. “Terima kasih, Dok…” ucap Nabila masih dengan suara yang serak dan lirih. “Sama-sama,” balas Fahmi singkat tapi halus. Nabila menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu kembali menegakkan tubuhnya. Kini, ia merasa cukup baikan. Aroma mobil Fahmi yang lembut terasa menenangkan jiwa dan pikirannya. Rasanya sedikit terkikis trauma dan jijik itu. Nabila menggerakkan tubuhnya ke belakang, hendak mengambil barangnya. Di saat yang bersamaan, Fahmi melakukan hal yang sam
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Bab 6 TolongSuara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat tenang, tapi sorot matanya berubah tajam mengerikan.“Lepasin gue!” bentak pria itu, mencoba menarik tangannya dari cengkeraman Fahmi.Namun Fahmi justru mencengkeram lebih kuat.“Kamu pikir saya nggak lihat?” katanya pelan.Belum sempat pria itu bersuara, pintu lift terbuka. Semua orang langsung keluar, tapi tatapannya tak lepas dari Fahmi dan pria itu.BUG!Tinju pria itu melayang, tapi Fahmi berhasil menahannya dengan cepat. Penumpang lain langsung panik.“Ya Allah … dokter Fahmi kenapa?”“Apa yang terjadi?”Suara-suara di sekitar terdengar lebih jelas di telinga Nabila, membuatnya semakin gemetar. Kepalanya me
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 5 Insiden Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu bergerak.Kepala Nabila berpikir keras, ia harus menjawab apa atas pertanyaan calon suaminya itu. Pikirnya, pasti Fahmi menganggapnya lucu atau bahkan bodoh.Ujung scurbnya ia pelintir-pelintir. “Itu …” Nabila benar-benar tak tahu harus menjawab apa.Di kepala dan hatinya jelas menjawab, ia tak membolehkan suaminya menerima pemberian perempuan lain. “Nabila,” panggil Fahmi halus dan pelan, tapi suaranya malah terdengar menyeramkan di telinga Nabila. Nabila mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Fahmi. “Jika sudah menikah, saya nggak akan menerima pemberian perempuan lain. Ada perasaan istri yang harus dijaga dan diharg
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 4 Pemberian Perempuan Lain‘Ah, apa hanya aku saja terlalu heboh? Atau mungkin dia tidak antusias?’ pikiran Nabila mulai berlebihan, namun cepat-cepat ia mengusirnya. “Gimana, Nabila?” tanya Khairul, ia ingin tahu bagaimana respon anak gadisnya. Nabila menoleh ke arah Khairul, tatapannya bingung, lalu ia mengalihkan pandangan pada ketiga tamu di hadapannya. “Maaf sebelumnya, apa nggak terlalu cepat kalau minggu depan?” tanya Nabila hati-hati, ia sedikit menunduk, tak sanggup terus-terusan bertatapan. Halimah dan Abdul tersenyum, mereka paham maksud Nabila. Begitu juga Fahmi, dengan senyum tipisnya.“Dua minggu lagi, gimana?” tawar Halimah dengan ramah. Nabila mengangkat wajahnya, ia menatap calon ibu mertuanya itu. Semula ia menebak akan diberi waktu minimal satu bulan, tapi ternyata hanya setengahnya. Ia bingung harus bereaksi apa, kenapa harus secepat itu. “Sepertinya Nabila kaget sekali, ya,” ucap Abdul dengan senyum maklum. Nab
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 3 PertemuanNabila, nanti malam keluarganya Om Abdul mau ke rumah kita, silaturahmi. Sekalian pertemukan kamu sama Fahmi. Begitulah isi pesan dari Khairul yang membuat Nabila kaget. “Malam ini?” Nabila mencoba mencerna apa yang tengah terjadi. Terasa dar der dor sekali. Sebetulnya setiap hari Nabila bertemu dengan Fahmi, namun kali ini pertemuannya beda konteks. Nabila membalas singkat pesan tersebut. Kepalanya lebih memikirkan bagaimana pertemuan itu akan berlangsung, ia harus bersikap sopan dan berpenampilan yang baik. Ponsel pintarnya kembali ia simpan di saku scrubnya, kecanggungan dari tatapan tak sengaja itu masih terasa. Mata Nabila melirik atasannya itu yang tengah sibuk dengan layar tablet, lalu seketika beralih menatapnya. Nabila buru-buru membuang lirikannya pada sudut lain. “Na–” “Dok–” Fahmi dan Nabila berbarengan saling memanggil, membuat Nabila langsung menunduk malu. Entah, Nabila s
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 2 Berdebar Dokter Fahmi?!” Nabila berseru, ia tak salah lihat nama yang tertulis di CV tersebut adalah atasannya. Khairul dan Farida saling menatap, lalu melihat ke arah anak gadisnya. “Kamu kenal?” tanya Khairul semakin antusias. Nabila mengangguk. “Iya, beliau ini atasanku di rumah sakit. Aku asistennya di poli, Pa,” jawab Nabila. Wajah kedua orang tua Nabila nampak berseri-seri, karena anaknya sudah tahu dengan si calon. “Wah, bagus dong, kalau begitu. Sudah saling kenal, berarti nggak canggung lagi, ya kan, Pa?” ujar Farida. Nabila tersenyum getir mendengar apa yang dikatakan oleh mamanya. Memang betul antara dirinya dan Fahmi sudah saling mengenal, namun mengingat suasana di ruang poli yang kaku tentu saja terasa canggung. Apalagi komunikasi antara ia dan Fahmi hanya sekadar rekan kerja saja, tak lebih dari itu. “Iya, betul itu, Ma.” Khairul sependapat dengan istrinya. Nabila bingung harus bagaimana menanggapi
Last Updated: 2026-06-02