ログイン‘dr. Fahmi Ibrahim, Sp.OG’ dalam hati Fahmi membaca nama kontaknya yang tertulis di ponsel Nabila.
Senyum tersungging saat membacanya, ia sempat menyangka, nama kontaknya ditulis dengan kata yang cukup spesial, misalnya ada tambahan emoticon hati. Ternyata Nabila bukanlah sosok yang terburu-buru, Fahmi menyukai hal itu. Biarlah cinta mengalir perlahan dan bertumbuh, tak ada yang perlu dikejar.Setelah mengirimkan gambar paket makanan tersebut. Ia langsung meneruskannya padKucuran air yang mengalir dari shower, mengusir rasa kantuk Nabila. Tubuhnya seketika terasa segar dan bersih. Sisa-sisa bangun tidur sedari tadi sudah menghilang. Wajah dan penampilannya yang cukup urakan, sudah berganti berseri-seri, rambutnya dicepol ke atas menyisakan anak-anak rambut di bawahnya.Selesai sudah sesi membersihkan diri pagi ini, handuk melilit tubuhnya hingga di atas lutut. Tangan Nabila memegang handle pintu, membuka benda tersebut, dan ia melangkah keluar. Selangkah Nabila keluar dari kamar mandi, tubuhnya langsung dibopong oleh sang suami. Perempuan itu kini sudah berada dalam gendongan lelakinya. Fahmi masih memasang senyum nakal seperti tadi. Hidungnya mencium aroma sabun yang segar dan wangi, semakin membuatnya gemas pada sang istri. Nabila cukup kaget, tiba-tiba dirinya langsung digendong oleh sang suami saat baru saja melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi. “Kenapa nih, kok aku digendong?” tanyanya heran, namun tak
Pikiran-pikiran yang memenuhi kepala Nabila, kini sudah tersingkir. Sentuhan-sentuhan yang diberikan sang suami berhasil menimbulkan rasa nyaman, hingga terbitlah rasa kantuk dan membuat netranya terpejam. Fahmi membuka matanya, sosok cantik kekasih hatinya sudah terlelap tidur. Ia tersenyum hangat memandangi wajah tenang yang sudah hanyut dalam dunia mimpi. Kini, gilirannya mengistirahatkan tubuh, menyiapkan esok hari untuk sebuah perjalanan yang jauh. Pagi sudah tiba menggantikan malam, suara murattal dari masjid sudah mengalun memecah kesunyian fajar. Fahmi sudah bangun dari tidurnya, ia mengelus-elus pipi sang istri yang masih terlelap. Nabila menggeliat. “Sayang, bangun…” ucap Fahmi lembut membangunkan belahan jiwanya. Perempuan itu menggeliat lagi, tali terusan yang bertengger di bahunya terlepas, membuat Fahmi sedikit kaget dan… tergoda. Fahmi memgembuskan napasnya pelan, menahan seonggok gejolak yang berada dalam dirinya.
Cukup satu koper berukuran sedang memuat pakaian dan barang-barang pasangan pengantin baru ini. Fahmi dan Nabila akan berbulan madu menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pakaian-pakaian dan barang-barang lain disusun serapi mungkin memanfaatkan ruang pada koper. Dengan cekatan Fahmi menyusun semua barang-barang tersebut, sedangkan sang istri hanya menontonnya saja. Perempuannya itu hanya diperkenankan untuk bersantai saja. “Mas, aku bantu, ya,” ucap Nabila. Fahmi menoleh pada sang istri dengan senyum manis, lalu menggeleng. “Sayang, duduk aja, bentar lagi selesai kok,” balasnya dengan lembut. Nabila tak menjawab, ia hanya mendengus pelan. Fahmi betul-betul memanjakan dirinya, bahkan air minum pun ia yang mengambilkan untuk sang istri. Selesai. Semua barang-barang milik keduanya sudah masuk ke dalam koper dengan susunan yang rapi.Fahmi menoleh pada sang istri yang tengah duduk sambil mengayun-ayun
Gerakan tubuh Nabila yang berlari-lari kecil membuat rok terusannya berkibar dan mekar. Rambut hitam legam sedadanya turut bergoyang. Tawa kecil nan ceria bersemi di wajah cantiknya. Lari-lari kecilnya terus bergerak mengelilingi kamar, ia sengaja belum berhenti, membiarkan sang suami sampai berhasil mendapatkan dirinya. Dengan tawa-tawa kecil, senyum bahagia, Fahmi terus mengejar sang istri. Ia memang tak mempercepat larinya, karena ingin menikmati momen ini. Momen yang mungkin bagi orang lain akan terasa seperti anak kecil, tapi bagi Fahmi ini adalah sebuah kebahagiaan. Tingkah sang istri yang manja sungguh membuatnya semakin jatuh cinta dan menginginkan perempuannya itu. Nabila terus berlari-lari kecil, namun ia malah memelankan gerakannya, dengan cekatan Fahmi langsung menggendongnya. Nabila langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh sang suami. Ia tersenyum mesra menatap pria yang berhasil membawanya ke dalam relung dada bidang
"Mas, pulang yuk…” bisik Nabila tepat di sebelah telinga sang suami. Suara Nabila terdengar mengalun indah dan mesra di telinga Fahmi. Lelaki ini sampai mengedipkan matanya, ia merasa apakah salah dengar, namun suara itu terdengar jelas sekali. Fahmi menatap sang istri dengan hangat, namun sesuatu di dalam dirinya seperti memanggil-manggil. Suara sang istri sarat akan sesuatu yang membuatnya membangunkan jiwa kelelakiannya. Begitu juga dengan tatapan sang istri yang terlihat menginginkan dirinya. “Beneran? Baru sebentar loh di sini,” tanya Fahmi mencoba meyakinkan apakah istrinya memang benar-benar ingin pulang. Nabila mengangguk yakin. Tatapannya masih sama seperti tadi. Fahmi tersenyum setuju, ia ikuti saja kemauan sang istri. “Kita bayar dulu ya,” ucapnya lalu mengajak Nabila menuju kasir. Keduanya berjalan menuju kasir, Fahmi segera melakukan transaksi pembayaran non tunai atas belanjaan istrinya. Nabila yang berdiri di
Pikiran Nabila sudah berkelana ke arah sana, namun wajahnya yang telah merah padam membuatnya ketahuan sedang memikirkan hal tersebut. Sang suami tertawa renyah, ekspresi wajahnya pun terlihat jahil dan menggodanya. “Mikirin apa ayooo?” tanya Fahmi dengan nada jahil dan menggoda. Ia sudah dapat menebak ke arah mana pikiran sang istri berkelana, namun ia sangat menyukai hal itu. Nabila buru-buru menggeleng. “Nggak, nggak mikirin apa-apa,” elaknya dengan cepat. Wajahnya sudah merah padam menahan malu.Fahmi tertawa renyah, Nabila buru-buru berjalan ke arah lain. Entah ke mana, yang penting menyelamatkan kondisi muka dan jantungnya. Fahmi mengikutinya, ternyata langkah Nabila yang sembarangan itu malah mengantarkannya ke arah pakaian tidur wanita dewasa tersebut. ‘Aduh!’ Nabila menepuk keningnya. ‘Ini namanya menjebak diri sendiri,’ lanjutnya dalam hati. Fahmi yang mengikutinya, kini sudah berdiri di sampingnya. “Aku pilihin ya,” ucapnya
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







