Chapter: Bab 21. Di Bawah Kuasa MerahDenting lift yang berdenting halus di lantai teratas gedung itu terdengar seperti dentang lonceng kematian di telinga Elliete.Pintu baja mengkilap itu bergeser terbuka tanpa suara, menyingkap koridor sunyi dengan pencahayaan remang yang elegan—sebuah teritori yang tidak tersentuh hiruk-pikuk kantor di bawahnya.Ini adalah wilayah kekuasaan Killian, tempat di mana aturan moral seringkali tunduk pada kehendak satu orang.Elliete melangkah keluar dengan tungkai yang terasa seringkih jeli. Tangannya refleks menyentuh simpul syal sutra di lehernya, memastikan kain itu masih setia menyembunyikan aib yang ia bawa. Setiap langkahnya di atas karpet tebal itu terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Di depan pintu mahogani yang menjulang, ia berhenti. Menarik napas panjang yang terasa mencekik sebelum mengetuk pelan. Tok... tok...“Masuk.”Suara bariton itu rendah, dingin, dan memiliki frekuensi yang sanggup menggetarkan rusuk Elliete. Ia mematung sejenak, menggigit bibir bawahnya k
Terakhir Diperbarui: 2026-05-10
Chapter: Bab 20. Pagi yang MenginterogasiAkhirnya, Elliete tidak tidur sama sekali malam itu.Ketika alarm ponselnya berbunyi tepat pukul lima pagi, suara itu terasa seperti gangguan dari dunia yang tak memberinya belas kasihan. Ia mematikannya tanpa ragu, lalu tetap duduk dalam diam, seolah bergerak saja akan membuat kenyataan itu semakin nyata. Beberapa menit berlalu sebelum ia akhirnya memaksa dirinya bangkit dan masuk ke kamar mandi.Cahaya pagi merembes masuk lewat celah jendela, terlalu terang, terlalu jujur. Seolah sengaja mempermalukannya.Elliete berdiri di depan cermin. Pantulan dirinya bukan lagi sekadar lelah—ia tampak seperti seseorang yang telah kehilangan sebagian dirinya sendiri. Matanya sembap, kosong, dan di lehernya… tanda itu masih ada.Ungu gelap. Menyakitkan. Seperti cap yang tidak bisa ia hapus, seolah dunia telah menandainya sebagai milik sesuatu yang tidak pernah ia setujui.Dengan tangan gemetar, ia mulai menutupi bekas itu dengan concealer. Lapisan demi lapisan, seperti mencoba mengubur ingatan ya
Terakhir Diperbarui: 2026-05-10
Chapter: Bab 19. Sebuah KebencianKillian kembali menancapkan taringnya, merobek ketenangan Elliete dalam satu sentakan. Saat gigi-gigi itu menembus kulit lehernya, akal sehat Elliete menjeritkan peringatan untuk memberontak. Namun, tubuhnya justru mengkhianatinya. Sensasi perih itu melebur menjadi gelombang panas yang mematikan—seperti candu terlarang yang seketika membangkitkan hasrat yang seharusnya tidak ada."Mmmhm..." Killian menggeram rendah, menyesap darah manis yang telah lama menghantuinya. Tangannya mencengkeram pinggang Elliete begitu erat, sementara tangan lainnya mengunci kedua pergelangan tangan wanita itu di atas kepala, mematoknya pada pintu kayu yang dingin."Ti-tidak, Killian... kau sudah bertunangan..." rintih Elliete. Suaranya pecah, ia berjuang mempertahankan sisa kewarasannya di tengah kabut hasrat yang mulai menenggelamkannya.Killian menarik diri, melepaskan gigitannya perlahan. Ia menatap Elliete dengan sorot mata gelap yang sulit diartikan—campuran antara lapar yang belum tuntas dan amarah
Terakhir Diperbarui: 2026-05-08
Chapter: Bab 18. Sebuah InterupsiPip pip!Suara klakson pendek itu mengejutkan Elliete. "Itu... itu Shane," bisiknya dengan napas tersenggal. "Dia kembali."Killian membeku. Rahangnya mengeras, kemarahan berkilat di matanya karena interupsi tersebut. Namun, ia tidak langsung melepaskan Elliete. Sebaliknya, ia justru semakin menekan tubuhnya, seolah ingin menegaskan bahwa Elliete adalah miliknya sebelum pria lain datang."Buka pintunya, El! Ponselmu tertinggal di mobilku!" seru Shane dari luar, diikuti suara langkah kaki yang mendekat ke pintu depan.Jantung Elliete seakan mau melompat keluar. Di depannya ada Killian yang siap menghisap darahnya, dan di balik pintu ada Shane yang bisa masuk kapan saja. "Killian, pergilah... kumohon," rintih Elliete. Killian hanya mendengus dingin, menatap pintu dengan tatapan predator yang merasa wilayahnya diganggu."Baiklah, tapi ini belum selesai," desis Killian. Suaranya serendah geraman, sarat dengan rasa tidak rela saat ia melepaskan kunciannya.Dengan gerakan cepat yang hampir
Terakhir Diperbarui: 2026-05-08
Chapter: Bab 17. Kebenaran Malam Itu"Lepaskan! Kau gila, Killian!"Elliete meronta sekuat tenaga. Rasa sesak akibat dominasi pria itu memicu insting bertahan hidupnya. Ia memukul dada bidang Killian dengan tangan terkepal, mencoba menciptakan jarak di antara mereka. Namun, setiap gerakannya justru dibalas dengan cengkeraman yang lebih erat. Killian mengunci kedua pergelangan tangan Elliete di atas kepala, menekannya ke pintu hingga Elliete tak lagi punya ruang untuk menghindar."Diam, Elliete!" geram Killian, napasnya memburu tepat di depan wajah Elliete.Gesekan kulit yang kasar dan tekanan tubuh yang intens itu tiba-tiba memicu deja vu yang hebat. Saat pergelangan tangannya terasa panas dalam kuncian Killian, sebuah kilatan memori menghantam kepala Elliete seperti hantaman keras.Belum sempat Elliete mengingat jelas, Killian sudah sudah menyingkap rambut Elliete dan membenamkan kepalanya sendiri ke leher Elliete lalu menghirup aroma melati dan manis yang keluar karna emosi Elliete yang bergejolak.Tak pakai waktu lam
Terakhir Diperbarui: 2026-04-23
Chapter: Bab 16. Kejutan Setelah Makan MalamSetelah menghabiskan malam dengan perbincangan yang hangat, Shane akhirnya mengantar Elliete sampai ke depan rumah."Sampai jumpa besok, El. Aku akan segera mengabarimu begitu hasilnya keluar," ujar Shane dari balik kemudi, matanya menatap Elliete dengan binar yang lebih lembut dari biasanya."Terima kasih, Shane. Untuk semuanya... hari ini aku benar-benar senang," sahut Elliete. Ia memberikan senyum lebar yang membuat wajah mungilnya tampak begitu menggemaskan—sebuah pemandangan yang lagi-lagi membuat jantung Shane berdesir aneh.Shane melambaikan tangan sebelum memacu mobilnya menjauh. Elliete berdiri mematung, menunggu hingga lampu belakang mobil itu hilang di telan kegelapan malam. Entah mengapa, ia merasa jauh lebih dekat dengan Shane sekarang. Rasanya asing namun menyenangkan; ia tidak menyangka bisa berteman sedekat itu dengan lawan jenis tanpa merasa canggung.Dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, Elliete melangkah menuju pintu rumah. Ia mengeluarkan kunci dari tas, memu
Terakhir Diperbarui: 2026-04-19