LOGINElliete adalah seorang bibliofil sejati. Baginya, ribuan buku yang ia lahap sejak kecil adalah dunia yang jauh lebih aman daripada kenyataan. Namun, sebuah anomali menariknya masuk ke dalam lembaran cerita—ia terbangun di tubuh orang lain. Panik melanda saat Elliete menyadari dirinya bertransmigrasi ke dunia antah-berantah. Tanpa petunjuk judul buku, tanpa Raja Iblis, dan tanpa peperangan. Sebagai seorang penyendiri yang mengincar peran NPC (karakter pendamping), dunia damai ini awalnya terasa seperti berkah. Namun, ketenangan itu hancur saat ia menyadari genre asli dunia tersebut: Romance 21+. Di dunia di mana nafsu menjadi penggerak utama alur cerita, setiap gerak-gerik polos Elliete justru menjadi magnet bagi para 'predator' yang lapar akan mangsa baru. Di tengah kepungan pria-pria berbahaya, mampukah Elliete menjaga martabatnya, atau ia justru akan tenggelam dalam narasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya?
View More"Argh, apa-apaan ini?!"
Elliete meraung frustrasi di depan cermin. Sosok yang membalas tatapannya adalah orang asing. Tak ada lagi kantung mata gelap khas pejuang lembur yang biasa ia temui setiap pagi. Sebagai gantinya, sepasang mata almond dengan iris cokelat terang menatapnya balik, dibingkai bulu mata lentik yang begitu tebal hingga sanggup menyapu debu dengan sekali kedip. "Muka siapa ini? Jangan bilang..." Ia menggantung kalimatnya, jemarinya gemetar menyentuh pipi yang merona alami. "Wajahku tidak mungkin secantik ini. Aku masih tahu diri." Kebingungan itu berubah menjadi inspeksi tubuh yang intens. Elliete meraba perutnya; gumpalan lemak yang dulu mengganggunya telah sirna, berpindah menjadi kurva di bagian dada. Paha yang biasanya lecet karena saling bergesekan kini memiliki celah yang sempurna. Bahkan jemarinya kini ramping dan lentik, serupa milik pianis maestro. Ia berpaling dari cermin, memindai seisi ruangan. Kamar itu bernuansa vintage yang nyaman. Jendela besar berbentuk setengah lingkaran dengan tirai putih tipis bersisian dengan ranjang. Di langit-langit, hiasan lampu bintang berpijar lembut, sementara karpet bulu berbentuk daun hijau di lantai memberikan kesan manis yang kontras dengan kekacauan di kepalanya. Elliete luruh ke lantai, tenaganya menguap. Kemarin, dunianya masih normal—desak-desakan di kereta, obrolan basa-basi kantor, dan ritual membaca buku saat akhir pekan. Tidak ada kecelakaan tragis. Tidak ada kematian mendadak. Syarat transmigrasi yang biasa ia baca di novel sama sekali tidak terpenuhi. "Kenapa harus aku? Aku hanya penikmat cerita, bukan orang yang ingin masuk ke dalamnya!" Ia mencoba berdiri, namun gravitasi mendadak terasa berkali-kali lipat lebih berat. "Wajah secantik ini... kemungkinannya hanya dua: protagonis atau antagonis." Tepat saat ia bertumpu pada meja rias agar tidak jatuh, gelombang ingatan asing menghantam kesadarannya. Fragmen memori pemilik tubuh asli berputar silih berganti, memaksa Elliete mendekap kepalanya yang mendadak pening luar biasa. "Dua puluh lima tahun, pekerja kantoran... persis sepertiku." Elliete bergumam, mencoba menyusun kepingan memori yang asing. Namun, ada satu celah besar: ia tidak bisa menemukan nama pemilik tubuh ini. Aneh. Padahal ingatan kesehariannya begitu jernih. "Dengan paras secantik ini dan lekuk tubuh yang sesempurna ini, mana mungkin dia bukan tokoh utama atau setidaknya villainess?" Elliete mengedikkan bahu, mencoba bersikap pragmatis. "Ah, sudahlah. Apa pun perannya, yang penting ini bukan dunia fantasi dengan Raja Iblis atau peperangan berdarah." Merasa situasi sudah terkendali, Elliete memutuskan untuk melakukan 'inspeksi' di kediaman barunya. Perutnya mulai bergejolak, menuntut asupan setelah guncangan batin yang luar biasa. Ia terpukau; rumah ini adalah perpaduan sempurna antara gaya vintage dan kenyamanan modern—tipe hunian yang sering ia idamkan saat membaca manhwa bertema kerajaan. Rumah mungil ini terdiri dari lima ruang dasar: ruang tamu, dapur, kamar mandi, kamar tidur, dan ruang santai, lengkap dengan halaman belakang yang asri meski tak seberapa luas. "Untung saja pemilik tubuh ini tinggal sendiri," gumamnya saat teringat fragmen memori bahwa ia adalah seorang yatim piatu tanpa sanak saudara. Namun, di tengah kelegaan itu, bayangan kehidupannya yang lama melintas tanpa permisi. Wajah ayah, ibu, dan adik laki-lakinya yang menyebalkan mendadak memenuhi benak. "Apa kabar tubuhku di sana?" bisiknya lirih, binar matanya meredup. "Semoga ayah dan ibu tidak terlalu terpukul. Aku... aku jadi merindukan mereka." Elliete terdiam sejenak, membiarkan rasa sesak itu menyapa hatinya. Namun, ia segera menepuk kedua pipinya dengan tegas. Ia harus bertahan. Ia harus menjalani hidup ini, demi dirinya yang lama dan demi pemilik tubuh yang ia tempati sekarang. Ia mengembuskan napas perlahan, sebuah senyum terukir di wajahnya. "Hidup damai dan nyaman adalah prioritas utama!" Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, Elliete mulai menggeledah dapur untuk mengisi perutnya yang kian sering melayangkan protes. Sambil memanaskan air, tangannya bergerak mencari petunjuk mengenai identitas pemilik tubuh di laci meja makan—mungkin selembar tagihan atau kartu identitas yang tercecer. Elliete belum menyadari bahwa "kenormalan" ini hanyalah dekorasi panggung yang rapuh. Ia lupa bahwa dalam sebuah cerita, karakter tanpa nama yang memiliki fisik terlalu sempurna biasanya hanya memiliki satu tujuan: menjadi pemuas narasi. Di balik pintu rumah yang terkunci rapat, dunia yang lebih liar sedang menanti untuk menerkamnya.Denting lift yang berdenting halus di lantai teratas gedung itu terdengar seperti dentang lonceng kematian di telinga Elliete.Pintu baja mengkilap itu bergeser terbuka tanpa suara, menyingkap koridor sunyi dengan pencahayaan remang yang elegan—sebuah teritori yang tidak tersentuh hiruk-pikuk kantor di bawahnya.Ini adalah wilayah kekuasaan Killian, tempat di mana aturan moral seringkali tunduk pada kehendak satu orang.Elliete melangkah keluar dengan tungkai yang terasa seringkih jeli. Tangannya refleks menyentuh simpul syal sutra di lehernya, memastikan kain itu masih setia menyembunyikan aib yang ia bawa. Setiap langkahnya di atas karpet tebal itu terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Di depan pintu mahogani yang menjulang, ia berhenti. Menarik napas panjang yang terasa mencekik sebelum mengetuk pelan. Tok... tok...“Masuk.”Suara bariton itu rendah, dingin, dan memiliki frekuensi yang sanggup menggetarkan rusuk Elliete. Ia mematung sejenak, menggigit bibir bawahnya k
Akhirnya, Elliete tidak tidur sama sekali malam itu.Ketika alarm ponselnya berbunyi tepat pukul lima pagi, suara itu terasa seperti gangguan dari dunia yang tak memberinya belas kasihan. Ia mematikannya tanpa ragu, lalu tetap duduk dalam diam, seolah bergerak saja akan membuat kenyataan itu semakin nyata. Beberapa menit berlalu sebelum ia akhirnya memaksa dirinya bangkit dan masuk ke kamar mandi.Cahaya pagi merembes masuk lewat celah jendela, terlalu terang, terlalu jujur. Seolah sengaja mempermalukannya.Elliete berdiri di depan cermin. Pantulan dirinya bukan lagi sekadar lelah—ia tampak seperti seseorang yang telah kehilangan sebagian dirinya sendiri. Matanya sembap, kosong, dan di lehernya… tanda itu masih ada.Ungu gelap. Menyakitkan. Seperti cap yang tidak bisa ia hapus, seolah dunia telah menandainya sebagai milik sesuatu yang tidak pernah ia setujui.Dengan tangan gemetar, ia mulai menutupi bekas itu dengan concealer. Lapisan demi lapisan, seperti mencoba mengubur ingatan ya
Killian kembali menancapkan taringnya, merobek ketenangan Elliete dalam satu sentakan. Saat gigi-gigi itu menembus kulit lehernya, akal sehat Elliete menjeritkan peringatan untuk memberontak. Namun, tubuhnya justru mengkhianatinya. Sensasi perih itu melebur menjadi gelombang panas yang mematikan—seperti candu terlarang yang seketika membangkitkan hasrat yang seharusnya tidak ada."Mmmhm..." Killian menggeram rendah, menyesap darah manis yang telah lama menghantuinya. Tangannya mencengkeram pinggang Elliete begitu erat, sementara tangan lainnya mengunci kedua pergelangan tangan wanita itu di atas kepala, mematoknya pada pintu kayu yang dingin."Ti-tidak, Killian... kau sudah bertunangan..." rintih Elliete. Suaranya pecah, ia berjuang mempertahankan sisa kewarasannya di tengah kabut hasrat yang mulai menenggelamkannya.Killian menarik diri, melepaskan gigitannya perlahan. Ia menatap Elliete dengan sorot mata gelap yang sulit diartikan—campuran antara lapar yang belum tuntas dan amarah
Pip pip!Suara klakson pendek itu mengejutkan Elliete. "Itu... itu Shane," bisiknya dengan napas tersenggal. "Dia kembali."Killian membeku. Rahangnya mengeras, kemarahan berkilat di matanya karena interupsi tersebut. Namun, ia tidak langsung melepaskan Elliete. Sebaliknya, ia justru semakin menekan tubuhnya, seolah ingin menegaskan bahwa Elliete adalah miliknya sebelum pria lain datang."Buka pintunya, El! Ponselmu tertinggal di mobilku!" seru Shane dari luar, diikuti suara langkah kaki yang mendekat ke pintu depan.Jantung Elliete seakan mau melompat keluar. Di depannya ada Killian yang siap menghisap darahnya, dan di balik pintu ada Shane yang bisa masuk kapan saja. "Killian, pergilah... kumohon," rintih Elliete. Killian hanya mendengus dingin, menatap pintu dengan tatapan predator yang merasa wilayahnya diganggu."Baiklah, tapi ini belum selesai," desis Killian. Suaranya serendah geraman, sarat dengan rasa tidak rela saat ia melepaskan kunciannya.Dengan gerakan cepat yang hampir












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews