Chapter: 108. Menampik FaktaKeheningan di ruang sidang itu begitu pekat hingga suara detak jarum jam terdengar seperti dentang lonceng kematian. William Castellvain masih mematung dengan lutut yang terasa melonggar, sementara di sampingnya, Felicia berdiri dengan wajah yang telah kehilangan seluruh rona merahnya. Mereka pucat pasi, menatap Zander seolah-olah pria itu adalah malaikat maut yang baru saja bangkit dari kegelapan. "Kau ... bagaimana mungkin ...." suara William tercekat di tenggorokan, bergetar hebat saat Zander melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka. "Bagaimana mungkin aku selamat dari rem mobil yang kau sabotase, Paman William?" potong Zander dingin, setiap kata yang keluar dari bibirnya bagai belati yang menusuk langsung ke ulu hati pamannya itu. Seluruh ruang sidang mendadak riuh oleh bisik-bisik jurnalis yang langsung menangkap aroma skandal besar. Zander menyunggingkan senyum sinis yang mematikan. "Sabotase mobil, rekayasa kecelakaan, hingga menyuap hakim hari ini ... kau be
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: 107. Kehadiran Si HantuRuang sidang utama hari ini dipenuhi oleh ketegangan yang nyaris kasat mata. Kursi penonton di barisan belakang disesaki oleh para jurnalis bisnis dan beberapa perwakilan pemegang saham Castellvain Group yang ingin menyaksikan akhir dari drama perebutan kekuasaan ini. Di sisi kanan ruangan, William Castellvain duduk dengan punggung tegak dan dagu terangkat tinggi. Di sampingnya, Felicia dan Alenka duduk sembari melipat tangan, menatap ke arah pintu masuk dengan senyum sinis yang tak disembunyikan. Tak jauh dari mereka, beberapa petinggi direksi Castellvain yang sudah lama membelot tampak berbisik-bisik sembari sesekali melempar tatapan meremehkan ke arah meja seberang. Tepat di barisan belakang kelompok William, Rajendra Mahesvara duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi. Wajahnya sedatar biasanya, misterius dan tak tersentuh, seolah ia hanya seorang penonton yang kebetulan lewat. Pintu besar ruang sidang terbuka. Selina melangkah masuk bersama Natasya di sisi kirinya yang be
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: 106. Menuju Akhir PerangMalam itu, hujan mengguyur ibu kota dengan deras, seolah ikut meratapi nasib Castellvain Group yang berada di ujung tanduk. Di dalam ruang kerjanya yang sunyi, Selina duduk sendirian. Ia sengaja mematikan lampu utama, membiarkan ruangan itu hanya diterangi oleh pendar redup dari layar televisi di dinding. Di layar kaca, wajahnya terpampang jelas di berbagai stasiun berita bisnis. “...Kejatuhan Castellvain Group di depan mata. CEO Muda, Selina, diduga melakukan wanprestasi berat dalam megaproyek bersama Mahesvara Group. Besok pagi, sidang arbiter akan menentukan nasib kepemimpinannya...” Selina mematikan televisi dengan remote di tangannya, lalu bersandar pada kursi kerjanya dengan lelah. Kilatan lampu kilat wartawan yang mengepung lobi gedung tadi sore masih menyisakan pening di kepalanya. Tanpa Zander, malam-malam seperti ini terasa seribu kali lebih dingin. Sementara itu, di sebuah restoran privat bintang lima yang mewah, denting gelas kristal saling beradu. William Castell
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: 105. Belum Selesai!Kekalahan di ruang rapat Mahesvara Group sore itu menyisakan badai yang enggan reda di kepala Selina. Malamnya, ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Pagi berganti dengan cepat, membawa atmosfer yang semakin mencekik di kantor Castellvain Group. "Selin, ini gawat," Lumi masuk ke ruang kerja Selina tanpa mengetuk pintu, wajahnya panik. "Berita tentang draf revisi yang kita tolak kemarin sengaja dibocorkan ke media oleh pihak William. Saham Castellvain Group anjlok tujuh persen pagi ini karena rumor wanprestasi dengan Mahesvara!" Selina memijat pelipisnya yang berdentang kaku. Belum sempat ia merespons Lumi, pintu ruangannya kembali terbuka. Kali ini, Felicia dan Alenka melangkah masuk dengan santai, dikawal oleh dua orang pria bersetelan jas dari divisi hukum Mahesvara Group. "Selamat pagi, Kakak angkatku yang malang," sapa Alenka dengan nada manis yang teramat beracun. Ia meletakkan sebuah surat resmi berkop Mahesvara Group di atas meja kerja Selina. "Tidak perlu repot-r
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: 104. Tak Ada Jalan KeluarKehadiran Rajendra Mahesvara di dalam ruangan itu layaknya badai senyap yang mematikan. Pria paruh baya itu berjalan dengan langkah konstan, lalu berhenti tepat di ujung meja. Aura kepemimpinannya begitu pekat, membuat Felicia yang tadinya berteriak pongah langsung memasang wajah manis yang dibuat-buat. "Tuan Rajendra," sapa Felicia dengan nada manja, beralih berdiri di dekat Rajendra. "Tuan datang di waktu yang tepat. Wanita-wanita dari Castellvain ini sama sekali tidak tahu diri. Mereka sudah membuat draf proyek yang bobrok, tapi sekarang malah menuduhku menyabotase kerja sama kita." "Benar, Tuan Rajendra," timpal Alenka, ikut melangkah maju dengan senyum manis yang dipaksakan agar terlihat kompeten di depan penguasa Mahesvara Group. "Selina ini selalu menggunakan cara yang sama sejak dulu. Dia sengaja memutarbalikkan fakta untuk menutupi ketidakmampuannya dalam mengelola proyek besar ini." Rajendra tidak merespons ucapan Alenka sedikit pun, bahkan tidak meliriknya sama seka
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: 103: Mendatangi Mahesvara GroupGedung pencakar langit Mahesvara Group berdiri dengan megah di pusat ibu kota, dilapisi kaca gelap yang memantulkan langit sore yang mulai mendung. Bagi Selina, melangkah masuk ke dalam gedung ini selalu memicu desir tidak nyaman di dadanya. Ada aura dominasi yang terlalu pekat, aura milik seorang pria misterius yang paling dihindari oleh ibunya: Rajendra Mahesvara. "Selin," bisik Lumi saat mereka berjalan melewati lobi marmer yang luas, mengekor di belakang seorang staf yang mengantar mereka. Suara langkah kaki mereka menggema halus. "Suasananya terlalu mencekik ya. Seandainya Aswin di sini." Selina melirik Lumi sekilas, lalu memberikan anggukan menenangkan. "Aku tahu, Lumi. Aswin adalah benteng kita dalam membaca taktik kotor mereka. Tapi saat ini, dia harus fokus pada pemulihannya. Kita bisa menghadapi ini sendiri." Sejak kecelakaan maut yang menimpa Zander, Aswin terluka parah dan harus menggunakan kursi roda. Tanpa asisten kepercayaan Zander yang terkenal cerdas dan jeli i
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Ending...Langit berwarna jingga keemasan, angin sepoi menyapu lembut pekarangan tempat keluarga besar berkumpul sore itu. Setelah semua kekacauan dan luka masa lalu, akhirnya hari ini adalah hari tenang pertama bagi keluarga Bimantara. Keyra berdiri di balkon lantai dua, menatap matahari yang perlahan turun, membawa damai setelah badai panjang dalam hidupnya. Tanpa ia sadari, Abizar datang dari belakang, memeluknya dari belakang, erat dan penuh rasa. “Kamu yakin... masih ingin bersamaku?” bisik Keyra pelan, suaranya bergetar. “Aku sudah menyetujui cerai... aku pikir kamu akan pergi.” Abizar menggeleng. “Kamu pikir hatiku bisa diubah seperti itu, Ra?” “Kamu pikir setelah semua luka yang kita lewati, aku bisa begitu saja membiarkanmu pergi?” Keyra mulai menangis pelan. Namun pelukan Abizar justru semakin erat. “Aku tetap memilihmu, meski dunia bilang aku bodoh. Hatiku terkunci untukmu, Keyra. Dari dulu, sekarang, sampai nanti. Kamu satu-satunya rumahku.” Abizar menarik wajah Keyr
Last Updated: 2025-06-02
Chapter: KeputusanLangit mendung, seolah mencerminkan hati Kinara yang belum tenang. Sejak kepulangannya, dia terus mencoba mendekati Keyla, menyampaikan penyesalan dan keinginannya untuk memperbaiki segalanya. Namun selama berhari-hari, Keyla tak banyak bicara. Dia mengurung diri di kamar tamu, menghindari siapa pun, bahkan Keyra dan Abizar. Hari ini, Kinara kembali berdiri di depan pintu kamar itu. Dengan tangan menggenggam secangkir teh hangat, dia mengetuk perlahan. “Keyla… boleh Ibu masuk?” Tak ada sahutan. Setelah lama menunggu, pintu akhirnya terbuka sedikit. Keyla menatap ibunya tanpa ekspresi. Kinara melangkah masuk. “Ibu hanya ingin bicara… bukan untuk memaksa.” Keyla duduk di tepi ranjang. “Kau sudah bilang itu tiga hari lalu, dua hari lalu, dan kemarin.” Kinara tersenyum pahit, lalu duduk di sisi ranjang. “Ibu tahu tak akan mudah… Tapi kamu harus tahu, Ibu pulang bukan hanya untuk membongkar kejahatan keluarga Sanjaya, tapi juga… untuk menebus kesalahan pada kamu Keyla menatap
Last Updated: 2025-06-01
Chapter: Menuju akhirRiuh rendah suasana sekolah hari itu berbeda dari biasanya. Bisik-bisik terdengar di lorong kelas, sebagian besar membicarakan satu hal yakni kejatuhan keluarga Sanjaya.Di balik berita viral itu, nama Keyla ikut terseret, bahkan menjadi sorotan utama. Wajahnya yang dulu selalu penuh percaya diri kini terlihat pucat dan penuh tekanan. Beberapa teman dekatnya mencoba bersikap netral, tapi lebih banyak yang mulai menjauh secara halus."Keyla, sabar ya. Pasti kamu juga nggak tahu mengenai kasus keluargamu, kan? Kamu tenang aja, kita masih ada dipihakmu, kok!" hibur salah satu teman Keyla. "Iya. Maaf ya, karena aku tidak tahu tentang kejahatan Papa dan Kakekku. Seandainya aku tahu, aku pasti mengehentikan mereka," balas Keyla dengan ekspresi sedih. Namun berbanding terbalik dengan batin Keyla yang mendumel kesal. 'Sialan! Banyak yang menertawakan ku karena sudah jatuh. Aku tak bisa begini terus. Citraku benar-benar rusak karena rencana Papa gagal! ARRGHHH!' Saat itu, rombongan Keyra le
Last Updated: 2025-06-01
Chapter: Senjata Makan Tuan!Hari Minggu menjadi hari istirahat para remaja SMA yang baru menyelesaikan ujian sekolah. Keyra duduk di ruang tamu bersama Tante Sandra, tak sabar menantikan kepulangan Ibunya. Satu Minggu yang lalu, Kinara dengan kondisi belum stabil memaksa ikut ke tempat lelang. Katanya agar bisa memberi kejutan pada Keluarga Sanjaya.Sejak hari itu, Keyra hanya sesekali menghubungi ibunya karena kendala Ujian. Jika dia tidak salah, seharusnya hari ini acara lelang itu berakhir. Apakah rencana mereka berhasil?"Tenanglah..," ujar Tante Sandra dengan lembut."Keyra! Mama!" Abizar tiba-tiba berteriak heboh sambil berlari menuruni tangga."Ada apa?" tanya Keyra yang heran."Kita berhasil! Keluarga kita memenangkan lelangnya!" ungkap Abizar.Keyra ikut terperangah, "Benarkah? Aaah, syukurlah."Keyra ikut senang dengan kabar itu. Sangking senangnya dia melompat memeluk Abizar, meluapkan rasa lega. Abizar membalas dengan senang hati. Akhirnya, rasa lelah mereka saat menyelematkan Kinara terbayarkan.Tan
Last Updated: 2025-05-31
Chapter: Game Over?Lokasi Lelang Tambang Batu Bara - Aula Sementara Dekat Lokasi TambangDeretan kursi VIP tampak dipenuhi oleh para pengusaha tambang dari berbagai daerah. Di bagian depan, dua kubu besar menempati baris utama, perwakilan Sanjaya Corp dan perwakilan dari Bimantara Corp.Di sisi kanan, Wira Sanjaya duduk dengan senyum percaya diri. Di sebelahnya, Kakek Wijaya tampak tenang, meski sorot matanya menyiratkan keinginan menguasai penuh aset tambang tersebut. Mereka sangat percaya diri bisa memenangkan lelang dengan proposal bisnis buatan Kinara, serta bantuan surat wasiat palsu untuk membujuk Tuan Hanafiah.“Lelang ini formalitas saja,” bisik Wira pada Ayahnya. “Dengan surat wasiat ini, mereka tak punya celah untuk menang.”“Pastikan kamu tetap tenang. Setelah ini, tambang itu milik kita,” sahut Kakek Wijaya pelan.Sementara di sisi lain, Om Rudi dan Kak Rangga dari Bimantara Corp duduk dengan tenang. Mereka tampak menunggu dengan senyuman tipis. Dapat mereka lihat raut kesombongan dari sisi
Last Updated: 2025-05-30
Chapter: Detik-Detik...Lorong-lorong sekolah dipenuhi wajah-wajah lega para siswa yang baru saja melewati minggu berat. Suara tawa dan desahan napas lega terdengar di mana-mana. Keyra melangkah keluar dari kelasnya dengan wajah letih, tapi ada sedikit senyum di sana. Ujian itu seperti mimpi buruk yang akhirnya lewat juga.“Keyra!” panggil seseorang dari belakang.Keyra menoleh. Kevin sedang berlari kecil mendekatinya sambil membawa selembar kertas bekas cakaran. Dia meremat kertas itu menjadi bola kecil, lalu melemparnya ke dalam tong sampah. Menandakan akhir dari perjuangan di semester satu.“Eh, Kevin. Udah selesai?” tanya Keyra.“Udah. Gila sih, tadi nomor terakhir bikin nyaris nangis,” Kevin menyodorkan wajah dramatis. “Kamu sendiri gimana?”Keyra mengangkat bahu sambil tersenyum tipis. “Lumayan. Kupikir bakal parah, soalnya ini ujian pertamaku di Nusa Bangsa. Tapi ternyata nggak seseram yang aku bayangin.”Kevin mengangguk kagum. “Kamu keren sih, Ra. Bisa ngimbangin materi yang telat dikejar dalam wakt
Last Updated: 2025-05-27