เข้าสู่ระบบSelina dipaksa menggantikan adiknya untuk menikah dengan CEO kejam buruk rupa. Masa lalunya yang kelam berusaha disembunyikan. Tapi, rupanya Zander menyimpan lebih banyak rahasia dari yang pernah ia bayangkan.
ดูเพิ่มเติม" Sayang sekali Aswin..., Zander telah tiada. " Mata Aswin terbelalak dengan pernyataan yang baru saja dia dengar. Mendadak tenaganya hilang, seketika lutut Aswin lemas menghantam lantai. Suara gedebum tumpul membuat semua orang menoleh. "Aswin!" pekik Selina. Dokter dan perawat pun ikut terkejut. Mereka segera membantu Aswin yang masih pucat pasi karena syok berlebihan. "Ti-tidak mungkin! Itu tidak mungkin!" Aswin menggeleng keras. Satu tangannya yang tak patah menarik rambutnya dengan kasar. Kecelakaan itu..., dia sangat yakin telah meminimalisir cedera untuk Zander. Bahkan dia mengorbankan dirinya sendiri dengan membanting setir ke sisi kemudi agar dia yang terhantam pembatas jalan. Lantas, bagaimana bisa Zander yang meninggal dunia? Aswin menggeleng tak percaya. Dia merasa sangat gagal sebagai sekretaris dan pengawal Zander. "Aku yang membunuhnya! Aku membunuhnya!" racau Aswin mulai menampar dirinya sendiri. William yang menyaksikan kejadian itu diam-diam me
Selina melangkah keluar dari ruangan rapat diikuti Lumi. Wanita itu tak lagi menoleh ke belakang, tempat para eksekutif yang dia tebak tengah menyeringai ke arahnya. Jebakan mereka sudah termakan umpannya. Tanpa bisa dihindari maupun ditolak. Untuk membuktikan kemampuannya dalam memimpin, Selina harus menyelesaikan kontrak dengan perusahaan Rajendra. "Sial!" decak Selina kesal seraya membanting pintu mobil yang sudah siap menjemputnya di pintu keluar perusahaan. "Sabar, Lin..., liat urat-urat di kepalamu itu. Duh, kek cacing Alaska tauk!" goda Lumi yang juga ikut masuk ke dalam mobil. Sengaja dia lontarkan sedikit candaan agar pikiran sahabatnya tak terpaku pada masalah. Dan caranya tentu saja berhasil. Selina sedikit terkekeh mendengar cibiran Lumi. Lantas dia menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat bagi Lumi duduk. "Iya-iya Lu..., Aku terlalu emosi berhadapan dengan mereka. Kau lihat sendiri, kan? Mereka sengaja mendorongku ke jalan buntu," keluh Selina. Lumi m
Di kursi bagian kepala meja, Selina duduk dengan tak fokus. Pembicaraan dalam rapat dengan para petinggi perusahaan itu hanya sekedar dengungan nyaring di telinganya. Dia sadar rapat ini hanyalah cara mereka untuk menampilkan kecacatan dirinya dalam memimpin. Namun Selina belum bisa membalas semua serangan itu, lantaran harus bertanding dengan mempertahankan kesadarannya sendiri. Lingkaran hitam di matanya menunjukkan betapa kerasnya Selina melawan rasa kantuknya. ‘Apa perlu mereka berputar-putar seperti itu? Kenapa tidak langsung ke intinya saja?’ geramnya dalam hati.Kepalanya semakin sakit dengan perdebatan panjang di antara petinggi yang sebenarnya hanya ingin menjatuhkannya. Selina mendesis pelan ketika denyutan di pelipisnya semakin terasa.Tadi malam, ketika dia hendak tidur, ada telepon dari Rumah Sakit yang memberitahukan kondisi Aswin yang mendadak kritis. Terpaksa Selina harus ke sana meski jarak kediaman Madam itu ke Rumah Sakit memakan waktu 3 jam. Zander sampai turun t
Matahari sudah tenggelam sepenuhnya ketika mobil Selina berhenti di depan rumah dua lantai di ujung kota. Salah satu kediaman milik Madam Natasya yang jauh dari hiruk pikuk kota. Tempat yang paling dibutuhkan Selina untuk menenangkan kekacauan dalam pikiran.Suara langkahnya bergema di lantai marmer, jernih dan lambat, seolah setiap denting tumit sedang menghitung berapa banyak masalah yang dia hadapi hari ini. Udara di dalam rumah tenang, tapi keheningannya seperti dinding es yang membungkam, menekan, memantulkan pikirannya sendiri.Ia meletakkan tas di kursi, lalu menjatuhkan tubuh di sofa. Bahunya berat, matanya separuh tertutup. Entah berapa lama ia hanya duduk begitu, mendengarkan jam dinding berdetak dan napasnya sendiri yang terasa terlalu nyata.Sepasang tangan tiba-tiba menyentuh kepalanya pelan. Hangat. Ragu di awal, lalu beralih jadi pijatan lembut di pelipis. Selina tak perlu menoleh. Aroma sabun kayu cendana itu tak bisa salah.Senyum kecil muncul di bibirnya. “Terima kas
Zander menghadiri undangan pertemuan privat dengan seorang klien lama di ruang eksklusif sebuah hotel ternama. Lampu kristal berpendar lembut, memantulkan cahaya ke meja panjang yang dipenuhi sajian mahal. Tawa dan denting gelas beradu memenuhi udara. Beberapa klien telah berkumpul mengelilingi Za
Aswin mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya masih dingin, tapi kali ini ada bayangan letih di sana. Matanya lurus ke Zander."Maaf Tuan. Saya memang ada di sana," akunya. Suara Aswin terdengar serak, layaknya batu yang digerus waktu.Lumi sampai melongo tak percaya. Benarkah semua kecurigaan S
“Jadi aku dipaksa jadi partner kamu sekarang?” desis Lumi, suaranya setengah geram. Aswin menoleh sekilas, tenangnya hampir menyebalkan. "Kau bisa marah sesukamu, tapi tetap harus bekerja.” “Dasar robot tanpa hati,” gumam Lumi, meski pipinya merah sendiri ketika Aswin tiba-tiba berdiri terlalu d
Selina mengintip keluar taksi, memperhatikan halaman Klinik yang saat ini masih ramai. Banyak kendaraan masih terparkir rapi di sana. Namun matanya bergerak liar berharap di antara deretan kendaraan itu, tak ada mobil suaminya."Mas Zander belum datang, kan?" guman Selina sambil memicingkan ke arah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม