Chapter: 144. Hanya Milik Kita"Apa itu?"Shana tidak langsung menjawab.Jemarinya saling bertaut gelisah di hadapan Arion."Aku takut... setelah aku memanggilnya Ayah."Arion menunggu."Roy bilang aku jangan dulu memberi tahu Alena tentang pertemuan kami."Arion sedikit mengernyit."Kenapa?""Katanya... belum waktunya."Shana menarik napas panjang."Dia bilang ada alasan mengapa keberadaanku selama ini tidak pernah diketahui Alena."Arion terdiam.Kalimat itu mengingatkannya pada percakapan dengan Laras.Juga pada nama Alena.Serta pernikahan yang terasa dipaksakan ke dalam hidupnya.Namun malam ini ia tidak ingin membawa semua persoalan itu ke hadapan Shana.Setidaknya tidak sekarang."Roy memberimu alasan?""Belum.""Dia hanya memintamu merahasiakannya?"Shana mengangguk.Arion berjalan menuju sofa.Ia duduk, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya."Sini."Shana menurut.Ia duduk di samping Arion dengan jarak yang sangat dekat.Beberapa detik mereka hanya diam.Tidak ada suara notifikasi.Tidak ada telepon.Ti
Last Updated: 2026-08-21
Chapter: 144. Jangan Tinggalkan AkuMalam semakin larut.Apartemen itu akhirnya kembali sunyi.Lampu ruang makan masih menyala, menerangi dua piring nasi goreng yang tinggal separuh.Namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menikmati makanan itu.Arion masih berdiri kaku di dekat meja.Sementara Shana duduk di kursi, menatapnya dengan tatapan yang perlahan berubah hangat, namun dalam."Kak.""Hm?""Sejak tadi Kakak kelihatan seperti sedang memikul beban yang sangat berat."Arion terdiam sejenak.Ia menghela napas, menarik kursi di hadapan Shana, lalu duduk perlahan."Aku cuma sedang memikirkan banyak hal.""Apakah ada hubungannya dengan Ibuku?"Pertanyaan jujur itu membuat binar mata Arion berubah.Shana memperhatikan riak emosi di wajah pria itu."Aku tahu Ibu menemui Kakak tadi."Arion mengembuskan napas panjang."Tante Laras tidak bilang apa-apa yang buruk tentangmu.""Aku tidak bertanya soal itu."Shana tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana."Aku cuma ingin tahu... apa yang sebenarnya bikin Kakak
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: 143. Umpan?Arion menyusuri jalanan kota menuju kedai teh yang disebutkan Laras.Pikiran Arion melayang pada sosok ayahnya.Mahendra bukan tipe pria yang akan bertindak kasar atau menggunakan ancaman terbuka.Ayahnya adalah seorang politikus kawakan.Ia ahli dalam membentuk persepsi, menggiring opini, dan membuat orang lain tunduk tanpa merasa dipaksa.Arion mengepalkan jemarinya di atas roda kemudi.Ia tahu betul, jika ayahnya ingin memisahkan dirinya dari Shana, pria tua itu tidak akan menyerangnya secara langsung.Ayahnya akan menyasar Shana—titik paling rapuh yang ingin ia lindungi.Di sebuah sudut kedai teh yang tertutup.Laras duduk menyendiri sambil meremas saputangan di tangannya.Pintu geser terbuka pelan, memperlihatkan sosok Arion yang melangkah masuk.Arion menarik kursi di hadapan ibu tirinya tanpa suara."Tante Laras."Laras mendongak, matanya yang sembap menatap Arion dengan raut penuh kecemasan."Terima kasih sudah mau datang, Arion."Arion tidak menyentuh cangkir teh di atas meja
Last Updated: 2026-08-17
Chapter: 142. Jejak yang DitinggalkanPagi datang tanpa membawa rasa tenang.Arion sudah duduk di depan meja kerjanya sejak fajar menyingsing.Di hadapannya, tiga lembar salinan dokumen dari map cokelat itu terbentang rapi.Ia memandangi stempel bank tua yang tercetak samar di sudut kanan bawah.Jemarinya mengetuk meja mahoni secara teratur.Ada rasa pusing yang perlahan menjalar di pangkal lehernya.Semakin ia meneliti alur angka di lembaran itu, semakin banyak lubang yang ia temukan.Aliran dana tersebut terlalu rapi untuk ukuran transaksi gelap di masa lalu.Seolah ada seseorang yang dengan sengaja melukis jejak itu agar mudah ditemukan puluhan tahun kemudian.Pintu kamar mandi terbuka pelan.Shana keluar dengan rambut yang masih basah terikat asal.Ia menatap Arion yang tampak sangat sibuk dengan tumpukan kertasnya."Kak Arion belum tidur sama sekali?"Arion refleks menutupi dokumen di mejanya dengan map kosong."Sudah tadi, sebentar."Shana berjalan mendekati meja kerja itu dengan langkah perlahan.Ia menyadari gerak
Last Updated: 2026-08-17
Chapter: 141. Layaknya VirusLangkah Arion menuruni tangga rumah utama terasa dingin dan berat.Map cokelat kusam di genggamannya terasa menekan, seolah berisi tumpukan batu.Di ujung tangga, Laras masih berdiri mematung.Wanita itu memandangi Arion dengan raut wajah yang sulit diartikan.Ada cemas, ada gelisah, namun ada pula penyesalan yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat."Arion..."Suara Laras memecah keheningan koridor.Arion menghentikan langkahnya, tanpa menoleh sepenuhnya."Tante belum tidur?"Laras melangkah mendekat, matanya sempat mengerling ke arah map cokelat di tangan Arion."Ayahmu... apa yang dia katakan padamu di dalam?"Arion memutar tubuhnya perlahan, menatap ibu tiri yang selama ini selalu bersikap lembut namun berjarak itu."Ayah meminta aku menjauhi Shana."Napas Laras tertahan sejenak."Lalu... apa jawabanmu?""Tante sendiri bagaimana?" tanya Arion balik, nadanya tetap tenang namun mengintimidasi."Apakah Tante juga setuju jika aku menjauhi Shana?"Laras membisu, jemarinya saling merema
Last Updated: 2026-08-17
Chapter: 140. Berkas yang DipalsukanRoy masih menatap layar ponsel di genggamannya."Putrimu mulai bertanya."Tiga kata sederhana itu merayap lebih mengerikan daripada gertakan kematian mana pun yang pernah ia dengar.Cengkeraman jemarinya pada ponsel mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.Ia menyadari betul apa yang sedang berlangsung di balik layar.Ada tangan dingin yang sedang memainkan takdir mereka seperti bidak catur.Bukan cuma dirinya yang diseret.Bukan cuma Arion yang dijebak.Bukan cuma Shana yang diintai.Namun Laras juga sedang dijadikan umpan di tengah pusaran ini.Roy memejamkan mata rapat-rapat, mengusir denyut nyeri di kepalanya.Kilas memori kelam dari puluhan tahun lalu mendadak bangkit kembali.Malam itu.Malam ketika ia terpaksa melangkah pergi meninggalkan Laras yang sedang menggendong Shana,.Malam yang seumur hidupnya tak pernah benar-benar bisa ia maafkan.Namun sebelum penyesalan itu menariknya semakin dalam—ponselnya bergetar kembali dalam genggaman.TING!Sebuah notifikasi baru muncul.
Last Updated: 2026-08-17
Chapter: Bab 135. Bayangan TerakhirUdara malam di pelabuhan itu berat dan lembab, beraroma asin laut bercampur dengan sisa-sisa bau logam serta debu jelaga dari kapal yang baru saja berangkat. Lampu-lampu dermaga yang bergetar tertangkap kabut tipis, tampak seperti bintang yang kelelahan dan hampir tenggelam.Di atas dek kapal yang kini tinggal puing-puing, Reno mendekap tubuh Nara. Kehangatan tubuh perempuan itu terasa meresap di balik kain yang robek, namun napasnya yang berat dan tersendat membuat Reno panik. Kulit pucat Nara berkilat lembab oleh keringat dingin.“Bertahanlah, Nara…” bisiknya, suaranya sarat dengan kelelahan dan kekhawatiran yang mendalam. Ia tak lagi merasakan pedih di luka-luka tangannya, atau darah hangat yang masih menetes dari pelipisnya. Yang ada hanya Nara—perempuan yang sudah terlalu lama dihancurkan, bukan oleh musuh, melainkan oleh obsesi kejam orang-orang yang mengklaim diri mereka berkuasa.Reno menuruni tangga darurat kapal dengan kehati-hatian yang menyakitkan, menjejakkan kaki ke derma
Last Updated: 2025-10-29
Chapter: Bab 134. SiapaTubuh Reno menegang, reflek seketika. Ia memutar kepala perlahan, sorot matanya yang lelah langsung mengeras.Sosok itu—hanya beberapa meter jauhnya—berdiri diam. Siluet yang terserap pekat oleh kabut panas, sesekali tertelan oleh kilatan jingga dari sisa api yang masih merayap. Sebagian wajahnya tersorot, dan itu cukup.Wajah yang dikenalnya.Terlalu dikenal.Air asin bercampur jelaga menetes dari rambut sosok itu, menodai jaket kulit yang kini compang-camping, seolah baru saja diseret keluar dari perut reruntuhan. Namun yang membuat napas Reno tersangkut adalah tatapan mata itu—sepasang iris yang kosong, tak lagi membawa gejolak kebencian maupun harapan, hanya kehampaan yang dingin, sepi, seperti laut dalam di tengah malam.“…Kau…” Reno mencoba berbicara, tapi tenggorokannya tercekat, serak karena asap. “Mustahil… kau seharusnya…”“—mati?” Sosok itu memotong, suaranya pelan, senyumnya tipis, lebih menyerupai ejekan lembut daripada sapaan. “Sayangnya, dunia tak semurah itu, Reno.”Ia
Last Updated: 2025-10-26
Chapter: Bab 133. Neraka Dalam Gudang“Nara!” teriak Reno, suaranya bukan lagi teriakan pertempuran, melainkan jeritan putus asa seorang pelindung.Tak ada jawaban—hanya gemuruh api yang memakan kayu, desis nyala yang seolah mengejek, dan napas Reno sendiri yang terasa tajam dan menyesakkan di tenggorokan.Ia menerjang ke dalam kepulan asap, bau hangus memedihkan mata dan bensin menusuk hidungnya. Panas itu terasa menghanguskan harapan, bukan sekadar membakar kulit. Setiap langkahnya adalah pertaruhan, sepatu berdecit di lantai yang retak, yang sudah mulai menyerah pada amukan api.Di dekat tumpukan peti, ia melihat Nara. Kursi rodanya terguling, lambang ketidakberdayaan yang menyayat, tubuhnya setengah jatuh. Selimut yang menutupi adalah satu-satunya pelindung yang kini tinggal abu di sisi tubuhnya. Reno tanpa berpikir meraih tubuh itu, mengangkatnya dalam pelukan protektif, merasakan bobot ringan dan rapuh yang harus ia selamatkan.“Tahan, Nar—tahanlah sebentar,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri, mencari kekuatan
Last Updated: 2025-10-20
Chapter: Bab 132. ApiSuara ombak menghantam batu karang di kejauhan, kini terdengar lebih dekat, seperti detak jam yang memperingatkan waktu yang hampir habis. Angin laut yang dingin membawa aroma asin, bercampur anyir karat dan samar bau darah. Dita baru saja mengunci rapat pintu besi gudang tua itu, dan bunyi klik yang mematikan itu terasa seperti pukulan ke dada Reno. Di luar, hujan rintik telah berubah menjadi gerimis yang menusuk, memantulkan cahaya kuning pucat dari lampu mobil yang menyala redup, menciptakan ilusi suram.Reno terhuyung dan berlutut di tanah lumpur. Bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena beban kegagalan yang menindihnya. Napasnya tersengal, seperti paru-parunya penuh air dingin. Jari-jarinya yang gemetar memegang pistol, benda dingin yang kini terasa tidak berguna.Di belakangnya, Rayan merintih, suaranya tercekat oleh rasa sakit yang dalam. Ia bersandar di pohon pinus yang basah, darahnya menetes, menciptakan noda gelap yang dengan cepat diserap oleh tanah liat. Udara di
Last Updated: 2025-10-13
Chapter: Bab 131. Gema yang MenghinaTok… tok… tok.Suara ketukan itu datang begitu pelan, tapi energinya cukup untuk membekukan darah di pembuluh nadi Reno. Dunia terasa terdistorsi. Angin malam seolah menahan napasnya, dan derik jangkrik menghilang total. Yang tersisa hanyalah denting halus dari kuku Dita yang menyentuh permukaan logam mobil, sebuah ritme yang dingin yang mengumumkan kedatangan kematian.Reno memejamkan mata, hanya sepersekian detik, memaksa paru-parunya untuk mengingat cara bernapas yang benar. Di sebelahnya, Rayan menatap dengan mata kosong, kulit wajahnya pucat pasi. Ia tak hanya takut; ia merasa bodoh. Mereka berdua baru saja menyadari bahwa bersembunyi di bagasi mobil hanyalah pindah dari satu kandang ke perut binatang buas yang sudah kenyang—dan binatang itu tahu persis di mana mereka berada.Langkah kaki Dita terdengar semakin dekat. Setiap injakan tumitnya yang rapi beradu dengan tanah lembap, menciptakan gema yang menghina di keheningan malam. Ia tidak terburu-buru, dan justru ketenangan yang
Last Updated: 2025-10-10
Chapter: Bab 130. Udara Malam Seketika MambekuMobil melaju membelah malam, menembus jalan pesisir yang sepi dan lembap. Hujan baru saja usai, menyisakan embun tebal di kaca jendela dan aroma asin laut yang terasa menusuk. Di dalam bagasi yang gelap, Reno dan Rayan nyaris tak berani bernapas, menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Suara mesin mobil, derit roda yang melewati genangan air, dan detak jantung mereka sendiri berpadu menjadi satu kesunyian yang mencekam.Reno berusaha keras menatap melalui celah sempit di penutup bagasi. Ia hanya bisa melihat pantulan samar cahaya lampu jalan yang sesekali menyinari kursi belakang—siluet tempat Dita dan Nara duduk. Setiap detik terasa seperti jam. Pikirannya berlari kencang, menyadari bahwa salah perhitungan sekecil apa pun bisa menjadi akhir hidupnya.Dari earset kecil yang terpasang di telinganya, suara Phantom terdengar lirih, hampir seperti bisikan dari dimensi lain.“Kau masih hidup, Reno?”Reno menjawab dengan suara tercekat, “Masih. Kami di bagasi. Mobil ber
Last Updated: 2025-10-09