Chapter: Antara Iya dan TidakShana menarik tangannya perlahan dari genggaman ibunya.“Aku bukan pion,” ulangnya lebih pelan, tapi lebih tegas.Ibunya tidak langsung menjawab. Ia menatap kosong ke depan beberapa detik, seolah sedang menimbang antara kejujuran dan harga diri.“Kamu pikir Mama menikmati ini?” akhirnya ia berkata. “Menyusun langkah. Menghitung peluang. Mengawasi siapa mendekat dan siapa menjauh?”Shana menunduk.“Aku tahu Mama takut,” katanya lirih. “Tapi aku juga takut.”“Takut kehilangan dia?” tanya ibunya cepat.Shana menggeleng pelan.“Takut kehilangan diriku sendiri.”Kalimat itu membuat ibunya terdiam.“Aku merasa seperti sedang dilatih untuk menaklukkan seseorang,” lanjut Shana, suaranya tetap terkendali. “Diajari kuat. Diajari membaca situasi. Diajari mengendalikan emosi. Tapi tidak pernah diajari bagaimana rasanya dicintai tanpa strategi.”Ibunya menarik napas panjang.“Kehidupan tidak sesederhana itu, Shana.”“Justru karena tidak sederhana, aku tidak mau memulainya dengan kepalsuan.”Ibunya
Terakhir Diperbarui: 2026-02-20
Chapter: 75. Maaf?Dengan satu gerakan yang tenang namun berani, Maya mulai membuka sabuk celana Arion—Tiba-tiba tangan Arion bergerak refleks.Bukan kasar. Tidak menolak dengan keras. Hanya spontan, seperti seseorang yang disentuh saat berada di antara sadar dan mimpi.Jemarinya terangkat dan mencengkeram lembut rambut Maya.“May…” suaranya parau, berat oleh kantuk dan kelelahan.Maya berhenti. Tangannya membeku di tempatnya. Ia mendongak perlahan, menatap wajah Arion yang kini membuka mata setengah.“Nanti saja,” lanjut Arion pelan, napasnya masih tidak stabil. “Aku mau tidur dulu.”Ada jeda.“Kamu ini kebiasaan,” gumamnya lemah, hampir seperti keluhan yang diselipi senyum tipis.Maya menahan napas sejenak. Biasanya, Arion tidak pernah menolak. Biasanya, ia akan menariknya tanpa banyak kata, menjadikan sentuhan sebagai pelarian dari beban yang tidak ingin dibicarakan.Hari ini berbeda.“Kamu yakin?” tanya Maya lirih, bukan tersinggung—lebih seperti memastikan.Arion mengangguk kecil, masih memegang ke
Terakhir Diperbarui: 2026-02-17
Chapter: 74. MayaRumah besar Maya selalu terasa seperti ruang tunggu yang mewah namun netral. Tempat ini tidak terlalu hangat hingga membuat seseorang ingin menetap selamanya, tapi juga tidak terlalu asing hingga membuat orang sungkan untuk masuk. Baginya, ini adalah zona penyangga—sebuah dermaga bagi kapal-kapal yang nyaris karam. Dan pagi ini, kapal itu bernama Arion.Arion terkapar di sofa panjang ruang tengah. Posisinya berantakan, jauh dari citra pria tangguh yang biasanya ia bangun di hadapan dunia. Satu lengannya terjatuh lemas hingga jemarinya menyentuh lantai parket yang dingin. Napasnya berat, tidak teratur, sesekali tersendat seolah dalam tidurnya pun ia masih harus mendaki tanjakan yang curam. Sepatunya masih setengah terpasang, kontras dengan karpet bulu yang mahal. Jaketnya tergeletak mengenaskan di lantai, dilempar tanpa sisa tenaga begitu tubuhnya menyerah pada tarikan gravitasi.Ia tidur seperti orang yang baru saja lolos dari peperangan dan tidak punya pilihan lain selain pingsan.Di
Terakhir Diperbarui: 2026-02-14
Chapter: 73. Bahakan Aku Bukan Pemain CadanganArka Madya Raka memilih bangku panjang di bawah bayangan gedung tua fakultas, sebuah sudut yang cukup strategis untuk berpura-pura sedang menunggu seseorang—padahal ia hanya sedang berusaha menjinakkan riuh di kepalanya sendiri.Pagi sudah matang. Matahari mulai menyengat, membawa serta aroma aspal panas dan sisa embun yang menguap. Suara langkah kaki yang terburu-buru, tawa pecah para mahasiswa, hingga deru motor yang lalu-lalang terasa seperti gangguan yang terlalu bising bagi pikirannya yang sedang kusut.Arion tidak muncul. Itu satu hal.Tapi yang lebih mengusik napasnya: Shana juga tidak ada.Arka melirik jam di pergelangan tangannya. Jarumnya sudah jauh melewati jam biasanya Shana melangkah masuk dengan wajah setengah waspada dan tas yang tersampir asal di bahu. Biasanya, seberapa pun hancurnya hari Shana, gadis itu selalu muncul. Selalu ada.“Hari ini lengkap,” gumam Arka, suaranya nyaris tertelan angin. “Dua-duanya hilang.”Ia menyandarkan siku ke lutut, mengunci jemarinya era
Terakhir Diperbarui: 2026-02-11
Chapter: 72. Sama Perempuan Lain Bisa, Kenapa Sama Aku Tidak?Pagi itu, suara cangkir yang diletakkan terlalu pelan justru terdengar paling keras.Ibu Shana duduk berhadapan dengan putrinya di meja kecil dekat jendela. Cahaya pagi masuk setengah-setengah, terpotong tirai tipis yang belum sepenuhnya disibakkan. Udara masih dingin, tapi bukan itu yang membuat suasana terasa kaku.Shana memeluk cangkirnya dengan dua tangan. Kopinya sudah diminum seteguk, lalu dibiarkan. Matanya tidak benar-benar menatap ibunya—lebih sering melayang ke pantulan kaca, ke bayangan dirinya sendiri yang tampak sedikit lebih pucat dari biasanya.“Kamu kelihatan capek,” kata ibunya akhirnya. Nada suaranya lembut, hampir keibuan sepenuhnya, seolah tidak ada lapisan lain di baliknya.Shana mengangguk kecil. “Biasa.”Hening sebentar. Jenis hening yang bukan kosong, tapi penuh kata-kata yang menunggu giliran keluar.Ibu Shana menarik napas, lalu menyandarkan punggung ke kursi. “Arion nggak kelihatan,” katanya, seolah itu sekadar observasi ringan.Shana mengangkat bahu. “Dia p
Terakhir Diperbarui: 2026-02-09
Chapter: 71. Kemana Bajingan ItuArion sudah duduk di balik kemudi terlalu lama. Begitu lama hingga ia merasa seolah dirinya telah menjadi bagian dari mesin itu sendiri.Mesin mobil menderu halus, getarannya merambat ke telapak tangannya yang mati rasa. AC bekerja dengan setia, meniupkan hawa dingin yang menusuk tulang, namun tubuhnya tetap tak bergerak. Di luar sana, lampu-lampu parkiran apartemen memantul di kaca depan, memanjang seperti garis-garis lelah yang tidak punya ujung. Dunia di luar sana tampak kabur, seperti lukisan cat air yang terkena hujan.Ia menatap lurus ke depan, namun pikirannya tertinggal jauh di belakang—pada jam-jam yang baru saja berlalu, pada malam yang belum benar-benar selesai.Kenapa kepalaku terasa seberat ini? batinnya.Kelopak matanya terasa seperti timah. Ini bukan sekadar kantuk karena kurang tidur; ini adalah jenis kelelahan yang menekan dari dalam tengkorak, membuat setiap keputusan—bahkan sekadar menginjak pedal gas terasa seperti investasi yang terlalu mahal untuk diambil.“Kalau
Terakhir Diperbarui: 2026-02-08
Chapter: Bab 135. Bayangan TerakhirUdara malam di pelabuhan itu berat dan lembab, beraroma asin laut bercampur dengan sisa-sisa bau logam serta debu jelaga dari kapal yang baru saja berangkat. Lampu-lampu dermaga yang bergetar tertangkap kabut tipis, tampak seperti bintang yang kelelahan dan hampir tenggelam.Di atas dek kapal yang kini tinggal puing-puing, Reno mendekap tubuh Nara. Kehangatan tubuh perempuan itu terasa meresap di balik kain yang robek, namun napasnya yang berat dan tersendat membuat Reno panik. Kulit pucat Nara berkilat lembab oleh keringat dingin.“Bertahanlah, Nara…” bisiknya, suaranya sarat dengan kelelahan dan kekhawatiran yang mendalam. Ia tak lagi merasakan pedih di luka-luka tangannya, atau darah hangat yang masih menetes dari pelipisnya. Yang ada hanya Nara—perempuan yang sudah terlalu lama dihancurkan, bukan oleh musuh, melainkan oleh obsesi kejam orang-orang yang mengklaim diri mereka berkuasa.Reno menuruni tangga darurat kapal dengan kehati-hatian yang menyakitkan, menjejakkan kaki ke derma
Terakhir Diperbarui: 2025-10-29
Chapter: Bab 134. SiapaTubuh Reno menegang, reflek seketika. Ia memutar kepala perlahan, sorot matanya yang lelah langsung mengeras.Sosok itu—hanya beberapa meter jauhnya—berdiri diam. Siluet yang terserap pekat oleh kabut panas, sesekali tertelan oleh kilatan jingga dari sisa api yang masih merayap. Sebagian wajahnya tersorot, dan itu cukup.Wajah yang dikenalnya.Terlalu dikenal.Air asin bercampur jelaga menetes dari rambut sosok itu, menodai jaket kulit yang kini compang-camping, seolah baru saja diseret keluar dari perut reruntuhan. Namun yang membuat napas Reno tersangkut adalah tatapan mata itu—sepasang iris yang kosong, tak lagi membawa gejolak kebencian maupun harapan, hanya kehampaan yang dingin, sepi, seperti laut dalam di tengah malam.“…Kau…” Reno mencoba berbicara, tapi tenggorokannya tercekat, serak karena asap. “Mustahil… kau seharusnya…”“—mati?” Sosok itu memotong, suaranya pelan, senyumnya tipis, lebih menyerupai ejekan lembut daripada sapaan. “Sayangnya, dunia tak semurah itu, Reno.”Ia
Terakhir Diperbarui: 2025-10-26
Chapter: Bab 133. Neraka Dalam Gudang“Nara!” teriak Reno, suaranya bukan lagi teriakan pertempuran, melainkan jeritan putus asa seorang pelindung.Tak ada jawaban—hanya gemuruh api yang memakan kayu, desis nyala yang seolah mengejek, dan napas Reno sendiri yang terasa tajam dan menyesakkan di tenggorokan.Ia menerjang ke dalam kepulan asap, bau hangus memedihkan mata dan bensin menusuk hidungnya. Panas itu terasa menghanguskan harapan, bukan sekadar membakar kulit. Setiap langkahnya adalah pertaruhan, sepatu berdecit di lantai yang retak, yang sudah mulai menyerah pada amukan api.Di dekat tumpukan peti, ia melihat Nara. Kursi rodanya terguling, lambang ketidakberdayaan yang menyayat, tubuhnya setengah jatuh. Selimut yang menutupi adalah satu-satunya pelindung yang kini tinggal abu di sisi tubuhnya. Reno tanpa berpikir meraih tubuh itu, mengangkatnya dalam pelukan protektif, merasakan bobot ringan dan rapuh yang harus ia selamatkan.“Tahan, Nar—tahanlah sebentar,” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri, mencari kekuatan
Terakhir Diperbarui: 2025-10-20
Chapter: Bab 132. ApiSuara ombak menghantam batu karang di kejauhan, kini terdengar lebih dekat, seperti detak jam yang memperingatkan waktu yang hampir habis. Angin laut yang dingin membawa aroma asin, bercampur anyir karat dan samar bau darah. Dita baru saja mengunci rapat pintu besi gudang tua itu, dan bunyi klik yang mematikan itu terasa seperti pukulan ke dada Reno. Di luar, hujan rintik telah berubah menjadi gerimis yang menusuk, memantulkan cahaya kuning pucat dari lampu mobil yang menyala redup, menciptakan ilusi suram.Reno terhuyung dan berlutut di tanah lumpur. Bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi karena beban kegagalan yang menindihnya. Napasnya tersengal, seperti paru-parunya penuh air dingin. Jari-jarinya yang gemetar memegang pistol, benda dingin yang kini terasa tidak berguna.Di belakangnya, Rayan merintih, suaranya tercekat oleh rasa sakit yang dalam. Ia bersandar di pohon pinus yang basah, darahnya menetes, menciptakan noda gelap yang dengan cepat diserap oleh tanah liat. Udara di
Terakhir Diperbarui: 2025-10-13
Chapter: Bab 131. Gema yang MenghinaTok… tok… tok.Suara ketukan itu datang begitu pelan, tapi energinya cukup untuk membekukan darah di pembuluh nadi Reno. Dunia terasa terdistorsi. Angin malam seolah menahan napasnya, dan derik jangkrik menghilang total. Yang tersisa hanyalah denting halus dari kuku Dita yang menyentuh permukaan logam mobil, sebuah ritme yang dingin yang mengumumkan kedatangan kematian.Reno memejamkan mata, hanya sepersekian detik, memaksa paru-parunya untuk mengingat cara bernapas yang benar. Di sebelahnya, Rayan menatap dengan mata kosong, kulit wajahnya pucat pasi. Ia tak hanya takut; ia merasa bodoh. Mereka berdua baru saja menyadari bahwa bersembunyi di bagasi mobil hanyalah pindah dari satu kandang ke perut binatang buas yang sudah kenyang—dan binatang itu tahu persis di mana mereka berada.Langkah kaki Dita terdengar semakin dekat. Setiap injakan tumitnya yang rapi beradu dengan tanah lembap, menciptakan gema yang menghina di keheningan malam. Ia tidak terburu-buru, dan justru ketenangan yang
Terakhir Diperbarui: 2025-10-10
Chapter: Bab 130. Udara Malam Seketika MambekuMobil melaju membelah malam, menembus jalan pesisir yang sepi dan lembap. Hujan baru saja usai, menyisakan embun tebal di kaca jendela dan aroma asin laut yang terasa menusuk. Di dalam bagasi yang gelap, Reno dan Rayan nyaris tak berani bernapas, menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Suara mesin mobil, derit roda yang melewati genangan air, dan detak jantung mereka sendiri berpadu menjadi satu kesunyian yang mencekam.Reno berusaha keras menatap melalui celah sempit di penutup bagasi. Ia hanya bisa melihat pantulan samar cahaya lampu jalan yang sesekali menyinari kursi belakang—siluet tempat Dita dan Nara duduk. Setiap detik terasa seperti jam. Pikirannya berlari kencang, menyadari bahwa salah perhitungan sekecil apa pun bisa menjadi akhir hidupnya.Dari earset kecil yang terpasang di telinganya, suara Phantom terdengar lirih, hampir seperti bisikan dari dimensi lain.“Kau masih hidup, Reno?”Reno menjawab dengan suara tercekat, “Masih. Kami di bagasi. Mobil ber
Terakhir Diperbarui: 2025-10-09