LOGINA hell-recycle world within the modern world, designed for death or near-death individuals. With the greenhouse effect resulting in instability in hell, access to hell becomes restricted, and the game keeps the new souls busy while offering them a second chance to return to their lives before death, depending on their performance. A six-digit cash prize is awarded to the winning participants, with rewards ranging from reversed choices and time manipulation to wealth and more. The 100 Doors Challenge System was designed purposely for this world, to keep the growing audience (already existing souls) entertained. Chosen participants must die beautifully at each door. The fancier and more tragic the death, the higher the views. The story alternates between real-world broadcast control rooms, digital death arenas, and fragmented dreamlike worlds designed from Author Willa’s traumas, fears, and regrets and those of the participating ghosts. 100 Doors: Die Fabulously for the Audience. This story contains graphic adult themes, including explicit sexual content, psychological tension, dark humour, trauma, and scenes of coercion and moral ambiguity. It explores mature, disturbing, and emotionally intense situations within a fantasy-system setting. Reader discretion is strongly advised.
View More"Heh, mau apa kamu datang lagi ke sini? Kamu pikir kita bank yang bisa terus kamu pinjami uang, hah?"
"Pergi sana! Datangi saja kuburan ayah kamu, gara-gara dia ngurus kamu hidupnya jadi ga jelas! Bahkan harus meninggal di usia yang masih muda." "Kita juga sama, lagi gak pegang uang sama sekali, kamu cantik jual saja tubuh kamu mungkin bakal banyak om-om genit yang bakal ngelirik kamu!" Semua ucapan-ucapan itu masih selalu terngiang di kepalaku. Aku tersungkur di pusara ayahku. Tanahnya masih terlihat basah walaupun sudah satu tahun berlalu sejak kecelakaan tragis itu terjadi. Duniaku serasa hancur berkeping-keping sepeninggal ayah. Bahu tempatku bersandar kini hilang bersama asa yang hanya menjadi abu hitam dan terbang ke udara. Aku tidak tahu lagi harus ke mana membawa langkah ini pergi. Semua orang yang kuanggap saudara seakan tutup mata dan telinga ketika aku datang meminta pertolongan. Bahkan mereka mengusirku terang-terangan dan tidak pernah menganggap keberadaanku. "Zi-la ha-nya ingin a-yah ba-ngun, Zila ng-gak sang-gup, yah! Zila ng-gak kuat seperti yang orang-orang lihat! Zila ha-rus apa sekarang, yah?" Aku semakin terisak. Bagaikan ditimpa sebuah bongkahan batu besar dada ini sesak dan bergemuruh. Ingin rasanya kumenyusul ayahku, kalau saja aku tidak ingat Danur, keponakanku yang sedang berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Memang naif, tapi dengan beban berat yang harus kupikul kini, rasanya aku lelah untuk hidup. Rasanya ujian tidak henti datang kepadaku. Ditinggal ibu sejak bayi, kini ayahku pun pergi untuk selamanya, dengan meninggalkan hutang yang baru kutahu setelah beliau meninggal. Kuliah yang terancam D.O gegera belum bisa melunasi biaya semester yang sudah membengkak, sekarang harus ikut memikirkan biaya untuk operasi Danur yang jumlahnya sangat fantastis. Ya Allah, indah sekali ujian untukku saat ini. Kumeraup udara sebanyak yang kubisa dan menghembuskannya kembali perlahan, kemudian mengatur ritme napasku untuk bisa lebih tenang. Walaupun masih terisak, setidaknya perasaanku sudah lebih baik usai tadi aku luapkan segala kemelut di dalam hati. "Sebenarnya siapa Zila, yah?" Awalnya aku tidak pernah peduli siapa ibuku selama ayahku masih menyayangiku, tapi kini setelah ayahku pergi, semua orang seolah menyadarkanku tentang keberadaan sosok wanita yang harusnya kupanggil ibu. Rahasia apa yang selama ini ayah sembunyikan dari Zila? Kenapa semua orang memperlakukan Zila seperti ini?" Arghhh ... aku menangkup wajahku, tangisku kembali pecah. Aku sedikit menyesali kenapa ayah membawa rahasia itu rapat-rapat hingga mati. Tak terasa, aku cukup lama berada di pusara ayah. Dari matahari terik, hingga langit berubah jingga. Setelah dirasa kembali tenang, dan cukup meratapi nasibku, aku bangkit berdiri. Tekadku untuk melanjutkan hidup semakin menguat. Aku tidak boleh lemah! Aku tidak ingin ma4ti k0nyol hanya karena masalah seperti ini. "Ayah, Zila akan cari tahu siapa Zila sebenarnya. Ayah tenang di sana, ya! Zila janji, Zila akan baik-baik saja di sini." Aku menyusut air mata yang sedari tadi tak henti membasahi pipiku. Diakhiri dengan sebuah d'oa, dengan berat kucoba untuk melangkahkan kakiku meninggalkan tempat ayahku tinggal dalam keabadian. Namaku Azila Meina Zahrain. Umurku saat ini menginjak 20 tahun dan di umurku ini aku masih mencari kebenaran tentang siapa sosok ibuku masih menjadi misteri, meski bagiku dia telah m4ti. Semasa hidupnya ayahku tidak pernah berkata hal buruk tentang ibu dan tidak pernah mengajarkanku untuk membencinya. Ayahku benar-benar menguburnya rapat bahkan hingga ia meninggal dunia. Dering ponselku terus berbunyi. Sebuah nomor tidak dikenal kembali menghubungiku. Untuk kesekian kalinya aku mengabaikan panggilan tersebut. Karena kuyakini itu adalah nomor para debt kolektor yang terus saja mengejarku. Ting! Sebuah notifikasi pesan baru saja masuk ke aplikasi hijau. Aku kembali mengabaikan ponselku, aku lelah, benar-benar lelah dengan situasi ini. Akan tetapi, rasa penasaranku lebih tinggi ternyata setelah terdapat dua pesan masuk di sana. Kali ini aku bergegas membuka pesan yang baru saja masuk. Ternyata sebuah pesan yang sedang kunantikan kedatangannya. [Assalamu'alaikum.] [Saya sudah terima laporan, ginjal kamu sehat dan cocok. Besok siang, jam dua, saya tunggu di kantor saya untuk membicarakan masalah pembayarannya. Sehingga operasi bisa segera dilakukan. Terimakasih.] "Alhamdulillah." Aku bersorak girang setelah membaca pesan yang masuk. Seminggu lalu, aku mendapatkan sebuah tawaran dari temanku. Katanya ada saudaranya yang sedang sakit dan harus segera mendapatkan donor ginjal. Bila cocok, bayaran yang ditawarkannya sangat menggiurkan bisa untuk melunasi semua hutang-hutangku dan tentunya bisa untuk operasi Danur. Aku bersyukur setidaknya aku tidak harus menjual diriku kepada para pria hidung belang. 'Zila minta maaf, yah! Hanya ini jalan satu-satunya yang bisa Zila lakukan,' ujarku dalam hati usai merasa senang sesaat. Gegas, aku pun membalas pesan tersebut dengan senyum terukir di bibir. [Baik, saya pasti akan datang tepat waktu. Saya harap pembayarannya sesuai dengan kesepakatan di awal.] [Ok, saya tunggu! Senang bisa bekerja sama.] *** Kubuka mata perlahan, menghirup udara sebanyak yang kubisa. Bersyukur aku masih diberi kehidupan setelah tidur malam yang hanya sekitar satu sampai dua jam saja. Mata ini rasanya tidak bisa terpejam, semalaman aku terus memikirkan nasib diriku setelah nanti hanya memiliki satu ginjal. Aku beranjak dari tempat tidur, merapikannya, dan mulai membersihkan diri sebelumku mengadu pada Sang Pemilik Hari. "Udah bangun, Neng?" Sapa Bi Nani sesaat setelahku membuka pintu kamar. "Iya, Bi. Maaf semalam Zila pulang larut. Kemarin setelah pulang dari makam ayah, Zila ke rumah teman buat nyiapin lamaran kerja," ucapku bohong pada Bi Nani. "Lho, emangnya kamu mau kerja? Bagaimana dengan kuliahmu?" ujar Bi Nani cemas setelah mendengar kalau aku akan bekerja. "Zila ambil cuti dulu, lagian Zila masih belum bisa membayar uang semester yang semakin membengkak, Zila malu," kataku memberi penjelaskan kepada Bi Nani. Bi Nani adalah adik perempuan almarhum ayahku,. Beliau yang sudi menampungku setelah kepergian ayah. Umurnya tidak berbeda jauh dengan almarhum ayah, mungkin hanya terpaut dua sampai tiga tahunan. Ia mempunyai dua orang anak. Anak sulungnya, ikut suaminya merantau di pulau Kalimantan. Sedangkan anak bungsunya, Danur, kini tengah sakit dan harus segera melakukan operasi. Bi Nani tidak membalas perkataanku. Ia malah mengajakku masuk ke kamarnya. Nampak di dalam sana, Danur sedang tertidur pulas di sebuah kasur berukuran 120*100 centimeter tanpa dipan di sana. Bi Nani membuka pintu sebuah lemari baju yang terbuat kayu. Aku hanya memperhatikan apa yang Bi Nani lakukan tanpa berani bertanya padanya. Tidak berselang lama, Bi Nani mengajakku duduk dan mengeluarkan sebuah kotak hitam yang kutaksir usia kotak itu sudah cukup tua. "Mungkin sudah waktunya kamu tahu asal-usul kamu, Neng! Di dalam kotak ini, ada sebuah kalung yang akan menunjukkan siapa kamu sebenarnya," ujar Bi Nani, sambil menyerahkan sebuah kalung. Pada kalung ini, terdapat sebuah liontin berinisial huruf yang sama dengan awalan namaku. "Apa ini, Bi? Dan maksud Bibi tentang asal- usulku? Zila tidak mengerti." Aku tertegun mendengar ucapan Bi Nani. Sambil memegang kalung pemberian Bi Nani, sejuta pertanyaan menari-nari di pikiranku. "Jadi, dulu ... almarhum ayahmu, bekerja sebagai supir pribadi di sebuah keluarga kaya. Bibi tidak tahu pasti ada kejadian apa di rumah majikan ayahmu. Yang jelas setelah beberapa bulan ayahmu bekerja di sana, ia pulang dengan membawa seorang bayi mungil cantik dengan sebuah kalung di lehernya. Dan bayi itu --"Willa stared at the words. She was the only one who could see it, but funny enough, the system had already chosen a side.“So, even you want me dead?” she hissed. “Too bad. Not you or them can bring me down.”Willa glanced over at the dining section where Mr. Kang was sorting out some documents with the late-night guest, who was none other than Kim Min-jun. He was the family’s attorney, but his heart and soul were entangled with Seori and their daughter Yuna.Ji-ah had long found out about their little secret, and the fact that they were married and no one knew only made it worse. Kim Seori and Kim Min-jun shared the same surname, so no one would have guessed.Willa’s lips pressed together as she reached for her juice and quietly sipped it.Revealing her identity at such a crucial moment would make everything fall apart. Seori and Min-jun would forge the signature of Mr. Kang, kill the servants and Ji-ah, then everything would go to them.“No,” Willa thought. “I can’t let that happen.
By nightfall, all was in place. Hani had to return to ensure the other souls played their part well, and now someone new had come to the house.The doorbell of the Kang mansion went off, and a staff member hurried to answer.“Mame Kim,” the staff member smiled, ushering the night guest inside.Everyone was already ready for bed, and as they descended the stairs in their nightwear, they froze seeing the august guest.“Seori!” Mrs. Kang’s lips spread as she rushed forward into the arms of her best friend. “Finally, you’ve decided to come back,” she teased, and Seori could only laugh.“How have you been, and how is my girl?” Kim Seori asked, glancing over to the stairs.“Ji, ”“There you are!” Kim Seori slightly pushed her friend as she made space for the little devil who ran into her arms.“I’ve missed you so much, Aunt,” Yuna whispered as tears swelled, and soon she broke down in little sobs.Mrs. Kang could only roll her eyes. One thing Yuna was known for was her extravagance, but so
Ji-ah did not linger longer; she stormed her way out, and Yuna couldn’t be more pissed.“Wow… so the system’s pet now has some guts,” a voice resounded behind her. Aria’s fist folded as she turned, and it was none other than Laura.“We have to get rid of her,” Aria whispered. “But how?” Laura sighed, sitting down. “She appears to know too much, and honestly, I see her becoming the true heiress if we do not act now.”Laura whispered, “If only I could get married to Elias before the truth comes out, then even with the DNA, nothing can be done. I will be the legal wife of Elias and inherit everything, and the Kangs can have their precious daughter.”Laura thought for a while; they needed the best plan, one that wouldn’t fail.“And what do I get?” she asked, and instantly Aria’s face darkened.“What do you mean by what do you get?” she snapped. “I am your friend. I’ve always shared everything with you. You should do this for me, for our friendship,” she hissed.Laura’s lips curled.“I a
After Yuna stormed to her room, the environment was suddenly too quiet and uncomfortable. Hani’s eyes dug into her plate as she continued eating as if nothing had happened. Mrs. Kang’s lips stretched, but her hands vibrated as she struggled to be steady, while Mr. Kang just stared at the young lady before him. In a way he couldn’t understand, his closeness and affection towards Ji-ah confused him. He was not a man who didn’t cherish his home. On the contrary, he was the type to do anything for his wife and daughter, and extra-marital affairs were out of it, but Ji-ah… he could pick parts of himself in her. Her love for medicine, softness of heart, and even her excellence in physics were everything like him.Yuna wasn’t wrong when she said he created time for Ji-ah, because weirdly, he could not bring himself to be absent. Every time he watched her get congratulated, receive awards, and even praise, he wanted to scream and tell the world, “That’s my girl.” But how could he? Ji-ah was
Players sat quietly, examining the new addition to their souls. The mark did not look ordinary; every flower was painted with precision and style, the outlining great and the ink was thick enough in the right spots. But other than its beauty and mystery, it came with something else.It couldn’t be
Sunrays peeked through the light curtains. On the bed, a figure yawned and then stretched lazily, burying herself deep into her pillow as the alarm screamed for the second time.Still, she didn’t move.From outside, thundering steps echoed closer, and as the door slammed open, a furious-looking wom
Cheers echoed in the background, followed by thundering claps and giggles, yet there was no one there. The ballroom was empty. Only Elias and Willa remained.Willa’s eyes darted around, fear flickering within them. Her breath came heavy and uneven; the silence pressing against her chest threatened
The bus halted before the next stop, and the doors opened, revealing Dracula’s Castle. Willa’s eyes beamed with familiarity. This was no ordinary world; she had written every word, every description, and every character. The world was built on her imagination, but seeing it in person took her breat






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.