Compartilhar

18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud
18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud
Autor: Dream

Bab 1

Autor: Dream
Tiga tahun menikah, tetapi Imelda Deandra tidak kunjung mendaftarkan pernikahan kami secara resmi.

Hari ini adalah tonggak sejarah bagi penerbangan Imelda yang ke-1.000, sekaligus menjadi kali ke-17 dia berjanji untuk pergi bersamaku mencatatkan pernikahan kami.

Namun, di pesta perayaan itu, saat aku dipaksa minum anggur oleh atasannya langsung, Imelda justru sibuk saling mengambilkan makanan dan meminumkan anggur dengan pilot laki-laki yang dimentorinya.

Aku hampir pingsan karena minum dalam keadaan demam tinggi, tetapi Imelda tidak menoleh ke arahku sedikit saja.

Banyak rekan kerja di perusahaan yang menghela napas dan berdecak. Mereka menatapku dengan tatapan mata yang penuh rasa iba, seakan merasa pengorbananku tidak sepadan.

Siapa pun yang melihat pasti tahu, demi siapa aku tetap meminum anggur, meski dalam keadaan sakit.

Akan tetapi, setelah pesta perayaan berakhir, Imelda yang seharusnya pergi bersamaku ke kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, kembali membatalkan janjinya.

Imelda memarkir mobil di depan restoran, lalu dengan satu tangan, dia menghalangiku yang hendak masuk ke mobil.

"Deon tadi sudah banyak mewakiliku minum anggur. Aku akan mengantarnya pulang. Kamu naik taksi saja ya."

"Pendaftaran pernikahan sore ini sepertinya nggak bakal keburu. Kita bicarakan lagi lain hari." Setelah berkata seperti itu, Imelda sama sekali tidak peduli dengan reaksiku. Dia bergegas turun dari mobil, lalu dengan sangat hati-hati memapah Deon untuk duduk di kursi penumpang depan.

Delapan tahun pacaran, tiga tahun menikah, ini sudah ke-17 kalinya Imelda menunda pendaftaran pernikahan kami demi Deon.

Biasanya dalam situasi seperti ini, amarahku sudah meledak, berteriak histeris dan mencecarnya dengan pertanyaan, siapa sebenarnya suaminya dan siapa tadi yang benar-benar pasang badan melindunginya dari desakan minum anggur?

Namun, kali ini, aku hanya tersenyum tipis. "Oke, kalian hati-hati di jalan."

Mendengar ucapanku, Imelda tertegun sejenak. Dia merasa agak heran dengan sikapku yang begitu tenang hari ini. Namun, sesaat kemudian, Imelda kembali bersikap dingin seperti biasa dan berkata, "Nanti waktu pulang, aku akan membelikanmu hadiah sebagai kompensasi."

Setelah berkata seperti itu, Imelda langsung memacu mobilnya pergi. Sebelum pergi, dia bahkan masih sempat-sempatnya menutupkan kaca jendela mobil untuk Deon, khawatir jika angin akan mengganggu Deon yang sedang mabuk itu.

Sebelumnya, Imelda tidak pernah membiarkan ada sisa bau alkohol sedikit pun di dalam mobilnya.

Setiap kali aku selesai minum mewakilinya, meskipun itu di musim hujan yang begitu dingin, Imelda akan membuka seluruh kap mobilnya lebar-lebar, apalagi sekadar menutup jendela.

Sekarang, aku baru menyadari, itu semua hanya karena orang yang berada di dalam mobil itu adalah aku.

Tengah hari di Kota Hosana begitu terik, hingga membuat sekujur tubuh dibanjiri keringat. Namun, entah mengapa hatiku terasa begitu dingin.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memasukkan kembali kartu keluarga ke dalam tas.

Aku tahu, sudah waktunya bagiku untuk melepaskan delapan tahun jalinan asmara ini.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 12

    Jika hal ini terjadi tiga tahun lalu, aku pasti akan menolak keputusan perusahaan ini, meski perusahaan menawarkan gaji dan jabatan yang lebih tinggi.Namun, setelah tiga tahun berlalu, luka di hatiku sudah sembuh total.Oleh karena itu, aku menerima keputusan perusahaan tersebut dengan senang hati.Sehari sebelum kembali ke tanah air, aku mengirim pesan WhatsApp kepada Alan Alfian, mantan rekan kerja sekaligus sahabatku.[Aku besok pulang. Gimana kabar Pak Gerry dan yang lainnya?]Begitu mendengar kabar aku akan pulang, sahabatku itu langsung heboh bukan main. Dia mengobrol denganku sampai tiga jam penuh, seakan dia ingin aku segera naik pesawat dan sampai di tanah air saat itu juga.Keesokan harinya, pesawat mendarat.Sahabatku itu adalah orang pertama yang langsung berlari menghampiriku. Manajer dan beberapa rekan kerjaku di masa lalu, juga ikut menyambutku.Waktu tiga tahun sudah membuat mereka terlihat tua.Namun, begitu melihatku, mereka semua terlihat terkejut.Itu karena, selam

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 11

    Keesokan harinya, Imelda terbang kembali ke tanah air.Namun, seperti yang dikatakannya, Imelda hanya mengambil rute penerbangan ke Nevora. Hampir setiap minggu, Imelda tiba di Nevora. Setiap kali itu pula, dia akan berdiri di depan pintu rumahku sepanjang malam, tetapi aku tidak pernah sekali pun membukakan pintu untuknya.Lama-kelamaan, kehidupanku di Nevora perlahan mulai berjalan normal. Aku mendapatkan lisensi menyelam, lisensi terbang dan lisensi paralayang.Di musim panas, aku pergi ke Sungai Mataya.Di musim dingin, aku pergi ke Pegunungan Ardel.Bahkan, di akhir tahun itu, aku terpilih sebagai karyawan terbaik tahunan di maskapaiku, sekaligus menjadi kepala pramugara untuk seluruh divisi maskapaiku di Nevora.Selama masa ini, ada banyak gadis yang berinisiatif dan terang-terangan mulai mengejarku. Namun, tak satu pun dari mereka yang kugubris.Hati yang pernah terluka, meski sudah sembuh, bekas lukanya akan tetap ada.Bagiku, karier adalah yang utama.Setelah itu, untuk waktu

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 10

    Sementara itu, aku sudah sampai di bandara Nevora dengan selamat.Begitu mendarat, belasan rekan kerja dari maskapai negara ini langsung menyambutku dengan hangat.Ini ketiga kalinya aku datang ke Nevora.Harusnya, aku tidak begitu mengenal atau memahami kota ini. Namun, melihat segala sesuatu yang asing di sekitarku ini, aku justru merasa sangat rileks.Itu karena aku tahu, mulai hari ini, aku hanya perlu hidup untuk diriku sendiri.Di negaraku, aku bisa menjadi yang terbaik di maskapai penerbangan selama tujuh tahun berturut-turut. Di sini pun, aku bisa melakukan hal yang sama.Bukan hanya itu saja, banyak hal yang tidak sempat aku lakukan saat bersama Imelda, kini bisa aku masukkan ke dalam rencana.Bermain ski, mendaki gunung, terjun payung, pergi melihat aurora borealis, banyak sekali hal yang lainnya ….Namun, di luar dugaan, tepat di hari keduaku di Nevora, sewaktu aku pulang kerja dan sampai di rumah, Imelda muncul di hadapanku.Sebagai seorang pilot, Imelda tidak pernah minum

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 9

    "Apa?""Imelda, kamu bilang apa? Kamu mau ambil rute penerbangan ke Nevora? Aku nggak salah dengar, 'kan? Bukannya dulu kamu pernah bersumpah nggak bakalan mau terbang ke Nevora lagi seumur hidupmu? Lima tahun lalu gara-gara hal ini, aku sampai harus mengajukan permohonan khusus ke kantor pusat buat kamu dan malah kena semprot habis-habisan."Belum sampai satu menit setelah Imelda mengirimkan pesan singkatnya, sebuah panggilan telepon masuk. Di ujung telepon, terdengar suara yang penuh dengan rasa terkejut dan tidak percaya.Lima tahun lalu, sejak penerbangan Imelda ke Nevora mengalami kecelakaan, Imelda mengajukan permohonan ke kantor pusat untuk tidak akan pernah terbang lagi ke Nevora. Jika kantor pusat tidak menyetujui permintaannya, Imelda lebih memilih untuk mengundurkan diri.Kejadian ini diketahui oleh semua orang lama di maskapai tersebut pada saat itu.Namun, sekarang, Imelda justru mengajukan diri secara sukarela untuk mengambil penerbangan ke Nevora. Bagaimana mungkin hal i

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 8

    Tiga jam kemudian, senja mulai turun. Imelda meninggalkan bandara dan berkendara pulang ke rumah.Sesaat setelah memasuki pintu, dia menggantung pakaiannya seperti biasa, lalu menyadari adanya bekas yang tertinggal di balik pintu akibat bingkai foto yang jatuh.Pandangan Imelda tertuju pada tempat sampah di dekatnya.Serpihan kaca yang hancur dan foto kami berdua masih berada di dalam tempat sampah itu.Imelda perlahan berjongkok, lalu mengambil foto tersebut dari dalam tempat sampah.Menatap latar dalam foto itu, Imelda baru tersadar jika foto tersebut diambil delapan tahun lalu saat aku dan dia pergi menonton konser bersama.Imelda juga teringat akan janji yang pernah dia ucapkan padaku di lokasi konser itu delapan tahun yang lalu.Tampaknya, seakan sejak dia menjadi mentor Deon, Imelda tidak pernah lagi menemaniku pergi menonton konser sekali saja. Rasanya seakan sejak saat itulah, Imelda perlahan-lahan mulai menjauh dariku.Namun, meski demikian, Imelda tetap tidak habis pikir meng

  • 18 Kali Janji, Tak Sekali Terwujud   Bab 7

    Setelah keluar dari kantor para kru kabin, Imelda duduk terdiam di bandara selama tiga jam penuh.Selama tiga jam itu, sambil menatap setiap sudut di dalam bandara, berbagai kenangan yang tak terhitung jumlahnya melintas di benaknya.Delapan tahun yang lalu, pertama kali kami berdua bertemu adalah di gerbang pemeriksaan keamanan.Saat itu adalah momen pertama kalinya Imelda beralih tugas dari staf darat menjadi kru kabin pesawat.Saking bersemangatnya, Imelda tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Kondisi mentalnya agak kurang baik. Bahkan, dia sampai menjatuhkan kartu identitas karyawannya ke lantai saat melewati pemeriksaan keamanan.Akulah yang membantu Imelda memungut kartu identitas itu, sehingga membuatnya terhindar dari melakukan kesalahan fatal.Baru setelah kejadian itulah, kami berdua saling mengetahui nama masing-masing.Sejak saat itulah, Imelda sering mengajakku makan camilan di malam hari di bandara, setiap kali dia selesai bertugas.Sekali, dua kali.Hingga akhirnya,

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status