Melupa Rasa
Melupa Rasa
Author: Kier
Chapter 1: ABIMANA HATTALA

Dddrrtt...ddrrrtt...

Ponsel yang bergetar, dan decakan kesal seorang pria dibelakang kemudi, membuat sang supir  diam-diam melirik penumpang istimewa yang sedang duduk dibelakangnya melalui kaca spion dalam mobilnya. Seorang pria tampan dengan kisaran usia 30-an. Setelan hitam formalnya semakin memperjelas kesan profesionalnya serta tampilannya  yang menawan. Bahkan sebagai sesama pria dengan kisaran usia yang tidak jauh berbeda , dalam hati sang supir juga berdecak kagum dengan sosok yang beberapa menit yang lalu baru ia jemput dari bandara internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Seorang yang baru saja menyelesaikan gelar doktornya di bidang sistem informasi di Nanyang Technological University di Singapura, dan akan segera menjadi dosen baru di universitas tempatnya bekerja. Ya, seseorang yang akhirnya ia ketahui bernama Abimana Hattala.

Tidak ada kesan buruk saat supir muda ini pertama kali bertemu dengannya ketika menjemputnya di bandara. Untuk seseorang dengan latar pendidikan yang cemerlang seperti itu, ia cukup ramah dengan mengobrol sedikit, menanyakan namanya serta kondisi kota Palembang ini yang menurut pengakuannya baru kali ini ia menginjakkan kaki disini. Senyuman manisnya yang menawan semakin menguatkan kesan ramahnya. Namun decakan kesalnya barusan tiba-tiba menimbulkan kesan yang berbeda.

"Menyesal? Hh..aku bahkan sudah tiba ditempat ini. Aku sudah lama menunggu saat-saat seperti ini," ujar pria itu dingin ketika ia memutuskan mengangkat teleponnya. Kemudian hening sesaat. Sang supir diam-diam melirik lagi, memperhatikan sorot mata tajam pria itu yang tetap mengarah ke satu objek yang tengah dipegangnya. Sebuah artikel di majalah bisnis mengenai salah satu perusahaan skincare yang menggunakan salah satu selebgram cantik dan terkenal di ibukota sebagai brand ambassador terbaru produknya.

"Wanita itu ada disini..." gumamnya pelan, namun tetap dingin. Sang supir diam-diam bergidik ngeri dalam hati. Dari nada suara dinginnya serta sorot mata tajamnya, sepertinya ia menyimpan agenda rahasianya sendiri. Ia berharap, semoga saja itu hanya agenda pribadinya, dan tidak ada hubungannya dengan universitas dimana ia, dan pria itu akan bekerja. Semoga saja yang dikatakan Profesor Royyan Gunardi bahwa kedatangan sang doktor muda ini akan membawa asa bagi universitas mereka itu benar adanya 

Ya. Memang akan membawa asa, bukannya bala.

"Pak, kita sudah sampai," sela sang supir begitu mereka sudah sampai tujuan. 

"Oh," pria itu menatap keluar sebentar. "Nanti kita bicara lagi," ujarnya di telepon untuk mengakhiri pembicaraannya. 

Sang supir turun lebih dahulu kemudian bergegas membukakan pintu untuk tamu kehormatannya dan menpersilahkannya turun dengan sopan. Pria itu tersenyum sambil mengucapkan terimakasih. Lalu ia menghela nafas sambil menatap teguh sebuah gedung yang berdiri kokoh dihadapannya. Gedung yang akan mempermudah tujuan tersembunyinya.

Universitas Bina Darma.

"Ayo masuk, Pak. Profesor Royyan sudah menunggu Anda didalam,"

Pria itu, Abimana, mengangguk, kemudian mulai melangkah pasti kedalam.

Entah ini bagian rencana Profesor Royyan atau bukan, hanya saja sesaat setelah memasuki gedung, Abimana langsung berubah menjadi  kikuk dengan sambutan 'berbeda' yang ia dapat. Sambutan berupa lirikan kagum bahkan mesum, bisik-bisik mencurigakan, senyuman mencari perhatian dari sekian banyak deretan mahasiswi yang dengan setia berjejer di sepanjang lorong yang ia lalui. Ia berdecak kesal dalam hati. Yang benar saja, ia bukan seorang superstar yang sedang berjalan di karpet merah! Langsung dikagumi sekian banyak mahasiswi jelas samasekali tidak termasuk dalam wacananya. Karena ia hanya butuh dikagumi oleh salah satu mahasiswi saja.

Ya, satu mahasiswi yang ia gadang-gadang akan memberi jalan atas rencananya.

Abimana memutuskan berhenti melirik deretan mahasiswi itu. Mengabaikan mereka, dan langsung menghilangkan sikap kikuknya. Ia kembali menatap fokus ke depan. Masih dengan sorot mata tajamnya yang justru dianggap cool oleh para mahasiswi itu. Mereka justru makin kegirangan dan sibuk cari perhatian, dan Abimana tetap memutuskan untuk mengabaikan.

"Ya...kau memang selalu seperti itu..."

Dan diantara sekian banyak mahasiswi, salah seorang diantaranya justru menatap Abimana dengan tatapan dingin yang sama. Ia menggumam pelan sekali lagi. Lirih, dan dengan suara tertahan yang menyakitkan.

"Dan aku masih membencimu..."

***

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Felicia Aileen
nice opening.. boleh kasih tau akun sosmed ga ya soalnya pengen aku share ke sosmed trs tag akun author :)
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status