Ojol Menantu CEO
Ojol Menantu CEO
Author: Meyyis
Dikira Gembel

Seorang pemuda dengan tinggi rata-rata orang Indonesia, ah tidak. Sebenarnya, dia tergolong tinggi bagi orang Indonesia. Tingginya seratus tujuh puluh delapan senti meter. Dengan lingkar pinggang proporsional sekitar tujuh puluhan. Kulitnya sawo matang dengan wajah oval dan rambut cepak khas lelaki Idonesia. Dia sangat manis dan memukau. Senyum menawan dengan lesung pipi di sebelah kiri membuat dirinya menjadi idola dari kalangan penumpang, terutama wanita. Namun, tidak demikian hari ini.

“Pak, maaf. Saya mau menemui ibu Eliana Calandra Callista,” ijin pemuda itu. Ah, lupa memperkenalkan diri. Pemuda itu bernama Bayu Siswanto. Mungkin namanya kedengaran sangat “ndeso” kalau anak sekarang bilang. Tapi, di balik nama itu mengandung hoki. Dengan nama itu pula, dia mencapai apa yang orang lain sulit capai.

“Siapa kamu mau ketemu dengan bu Eliana? Kau seorang ojol? Mau meminta bantuan?” tanya satpam. Satpam itu mencibir dengan menunjuk-nunjuk lengan kanan Bayu, sehingga lelaki itu terdorong ke belakang. Duh, pak satpam. Baru menjadi satpam saja belagu.

“Maaf, Pak. Tapi saya di suruh beliau untuk menunggu di sini.” Satpam intu menilik lelaki itu ke atas ke bawah. Lelaki itu mengenakan sepatu merek terkenal yang limites edition. Akan tetapi, sekarang ‘kan banyak merek KW. Maka satpam itu menghinanya kembali. Rupanya, dia sesombong itu. Baru saja menjadi satpam sudah belagu setinggi langit.

“Sepatumu adidas? Cuih, model seperti kamu mengenakan sepatu adidas? KW berapa?” Ojol itu hanya diam saja, sambil tersenyum. Dia sebenarnya tidak ingin meladeni orang iseng seperti itu, namun dia harus bertemu istrinya di sana. Istrinya minta di jemput, dia pingin naik ojol katanya. Dia memang berbeda. Istrinya tersebut bahkan sangat suka naik motor. Katanya, sangat romantis dari pada naik mobil.

“Ada apa ini?” Seorang lelaki tinggi gagah mengenakan kemeja putih dengan dasi biru menyambangi mereka. Sepatunya yang mengkilap, diduga lelaki itu memiliki jabatan yang penting di hotel tersebut. Rambutnya, klimis kalau bahasa jawanya kimit-kimit. Menambah macho dan berkelas lelaki itu.

“Ini, Pak. Ada ojol mangkal di sini. Entah tahu dari mana, kenal di mana, atau ngaku-ngaku saja, mau ketemu sama bu Eliana.” Lelaki itu kemudian menunjuk ke arah Bayu. Sedangkan pria rapi tersebut kini juga memandang rendah ke arah ojol itu. Dia memandang ke atas ke bawah. Kemudian memutari tubuh lelaki itu.

“Kau? Kau mencari bu Eliana? Ada urusan apa?” tanya sang lelaki rapi itu. Dia menatap penuh curiga pada lelaki berjaket warna hujau bergaris hitam itu. Oh, mungkin lelaki rapi itu adalah seseorang yang memiliki jabatan penting di hotel itu. Buktinya dia berseragam rapi dengan dandanan yang klimis.

Bang Ojol Bayu Siswanto sekarang berada di hotel Green Palapa yang ada di pusat kota Jakarta. Katanya, hotel itu kelas internasional. Tarif semalam hotel itu seharga UMR Jakarta. Sangat mahal untuk kantong orang biasa.

“Saya disuruh menunggu beliau.” Ojol itu memegang pergelangannya sendiri dan di letakkan di depan perutnya. Kepalanya terus menunduk, seolah-olah merasa rendah diri.

“Eh, ada apa, Beb?” Seorang wanita menyambangi mereka. Wanita itu baru saja keluar dari mobil warna merah miliknya. Sepatu hak tinggi yang dia pakai menimbulkan suara tutukan yang terdengar berirama.

“Mas Bayu? Kau? Kau Bayu ‘kan? Hahaha, dari dulu sampai sekarang tidak berubah ya? Tetap saja, motor butut dan tukang ojek. Oh, aku lupa. Sekarang pakai seragam, berarti ojol, ya?” tukas wanita itu. Wanita itu adalah Miranda Greysila manatan pacarnya dulu. Orang tua Miranda menolak mentah-mentah kehadirannya, waktu tahu dia hanya tukang ojek. Padahal, Bayu sudah menabung untuk melamar Miranda. Akan tetapi, saat dia ke rumah untuk menyampaikan maksudnya, tiba-tiba dirinya menolak untuk menerima lamarannya, berikut orang tuanya.

Sakit hati Bayu. Akan tetapi, mau diapakan lagi? Semua sudah takdir. Mungkin Miranda bukan jodohnya. Bayu menyadari kekurangannya. Dia memilih mengikhlaskannya saja.

“Pergi kau dari sini! Jadi ini lelaki yang kau maksud? Lelaki lemah, lelaki miskin? Kau memang tidak pantas bersanding dengannya. Ayahmu memilih calon yang tepat yaitu aku. Lihat perbedaan aku dan dia.” Lelaki itu mengacungkan jempolnya ke bawah. Dia tidak henti-hentinya menghina sang ojol tersebut. Namun bang ojol tetap diam saja, tanpa membalasnya.

“Ya, Beb. Mana pernah dia mengajak aku jalan-jalan ke tempat bagus.”

“Iya, Dik. Aku memang tidak pernah mengajakmu ke tempat bagus. Tapi, kau tahu? Aku berusaha mati-matian untuk mengumpulkan uang demi pernikahan kita. Aku tidak menyangka, bahwa kau mata duitan. Kau selalu menilai dengan uang,” Ucap Bayu. Rasa sakitnya masih bertahan hingga hari ini, walau dia sudah merelakannya.

Plak ... sebuah tamparan mendarat di wajah Bayu, sampai kelima jari wanita itu tergambar jelas di pipinya.

“Ada apa ini?” tanya seorang wanita berjilbab dengan gaun berwarna hijau tosca. Dia adalah Eliana. Dia direktur keuangan yang mengelola hotel itu, namun jarang masuk kantor karena dia memantau dari rumah.semua staf keuangan langsung terhubung dengan CCTV dan laporang kebanyakan dilakukan digital. Akan tetapi sesekali akan pergi ke hotel. Dia langsung meraih tangan sang ojol, kemudian menciumnya.

“Ini, tukang ojol ini merusak pandangan dengan mangkal di sini. Katanya mau bertemu dengan bu Eliana. Tapi, mana mungkin? Saya yang meneger di sini saja belum pernah bertemu dengannya, dia mau sok-sok an menemuinya. Ini pasti mau minta sumbangan, kalau tidak menipu,” tukas lelaki klimis itu. Oh, iya dia bernama Stefan Hadinata. Dia memang meneger pemasaran di hotel tersebut.

“Anda siapa berani

menjastifikasi seseorang. Dia memang ojol, tapi dia manusia. Anda tidak bisa seenaknya memutuskan. Memangnya pemilik hotel melarang ojol masuk hotel?” gertak Eliana. Rupanya, Stefan belum menyadari, bahwa yang dia ajak bicara adalah Eliana seorang direktur keuangan, putra dari pemilik hotel Gran Palapa.

“Saya manager di sini. Saya yang bertanggung jawab atas kelancaran semua pelanggan dan keamanan seluruh wilayah. Kalau ada ojol seperti ini, ‘kan merusak pemandangan.” Rupanya, Stefan Hadinata belum menyadari interaksi wanita itu dengan ojol itu, padahal jelas-jelas dia bersalaman dan mencium tangannya. Wanita itu berarti seseorang yang berarti bagi ojol itu. Lagi pula, Stefan tidak tahu, jika wanita cantik di depannya adalah Eliana.

“Oh, pak menager yang terhormat, siap-siap kamu dipecat kalau begitu. Hotel ini tidak butuh pegawai sombong macam kamu.” Wanita itu sudah merasa marah di atas angin. Dia ingin rasanya menyumpal mulut lelaki itu dengan appaun.

“Kau siapa berani mengancam-ancam?” tukas Stefan.

 "Dik, sudahlah. Jangan di ladeni. Kita pergi. Katanya mau minta nasi liwet Mbok Jum? Ayo kita makan saja. Sudah lapar,” ajak Bayu.

“Tidak, Mas. Dia harus tahu siapa kamu dan siapa dirinya,” kesal Eliana.

“Sayang, tolong!” Bayu menarik tangan Eliana yang akan menampar Stefan. Sedangkan Stefan juga sudah siap melayangkan tamparan pada Eliana. Mererka saling melempar pandangan sengit. Eliana sangat tidak suka pada perangai Stefan yang suka merendahkan orang lain. Dia mengancam lelaki busuk itu, untuk di pecat. Dia akan menggunakan kuasanya kali ini.

“Kali ini, aku memaafkanmu, karena perintah suamiku. Jika lain kali kamu berulah. Habis kamu!” Eliana menggandeng tangan suaminya, kemudian menuju ke motor yang di parkir di depan.

“Beb, sebenarnya bu Eliana itu siapa? Terus, kalau yang dia cari ibu Eliana, jadi? Itu ibu Eliana, Beb.” Miranda menganalisa.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Meyyis
Terima Kasih untuk yang mau membaca novel ini saya ucapkan. Dukung terus ya gaes agar saya semangat untuk melanjutkan.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status