MasukTerluka karena pengkhianatan sang tunangan, Lily melampiaskannya dengan menenggak tiga gelas cocktail hingga mabuk. Saat tersadar, Lily mendapati dirinya berada di kamar bersama seorang pria asing bernama Arsen. Kesal karena Arsen malah menganggapnya pelacur, Lily melayangkan tamparan ke pipi pria itu. Nahasnya dua hari kemudian dia malah bertemu lagi dengan Arsen di sebuah pesta. Pria itu ternyata memiliki hubungan dekat dengan tunangan yang sudah membuat hati Lily hancur. Lily semakin dibuat tak percaya saat Arsen tiba-tiba saja malah menawarkan sebuah pernikahan kontrak padanya. “Pernikahan kontrak? Kenapa kamu tiba-tiba menawarkan pernikahan?” tanya Lily. “Kalau bukan menikah denganku, pria yang pertama kali tidur denganmu, siapa yang akan menerimamu menjadi istri?” balas Arsen dingin.
Lihat lebih banyakLily tersenyum tipis, matanya menatap tenang ke arah wanita di hadapannya. Mulutnya baru saja terbuka untuk membalas ucapan itu, namun pintu lift eksekutif di balik tubuh wanita itu bergeser terbuka.Wanita ber-pakaian rapi itu melirik pintu lift yang terbuka, lalu kembali menatap Lily dengan pandangan bersedekap. "Kalau mau naik, pakai lift karyawan di sebelah sana. Jangan sembarangan masuk ke area eksekutif," cetusnya seraya mengibaskan tangan ke arah lorong samping.Lily hanya diam. Ia menatap wanita itu tanpa emosi, lalu menggeleng pelan. Ia tidak berniat berdebat atau memanjangkan urusan.Seorang petugas keamanan berbadan tegap yang melihat ketegangan dari balik meja resepsionis bergegas mendekat. Langkah kakinya terdengar terburu-buru menghampiri Lily."Ada ada masalah, Bu?" tanya petugas itu dengan wajah cemas.Lily mengibaskan tangannya pelan, lalu menggeleng. "Tidak ada masalah, Pak," jawabnya lembut. Ia menunjuk pintu lift yang mulai tertutup rapat. "Siapa wanita tadi?"Petu
Begitu pintu kaca otomatis gedung ARS Company bergeser terbuka, hamparan lobi marmer yang luas langsung menyambut langkah Arsen. Tangan besarnya menggenggam erat jemari mungil Audrey. Gadis kecil itu mengerjap beberapa kali, memutar kepalanya ke kanan dan kiri, menatap bingung pada orang-orang berseragam rapi yang berlalu-lalang. Seketika, langkah para pekerja di lobi terhenti. "Selamat pagi, Pak Arsen," sapa beberapa karyawan serempak, menundukkan kepala dengan hormat. Thomas yang kebetulan sedang berada di lobi, melangkah cepat menghampiri mereka dengan senyum lebar. "Selamat datang kembali, Pak. Dan... selamat pagi, Nona Kecil." Audrey tidak membalas sapaan Thomas. Ia justru mendongak, menarik pelan ujung jas papanya dengan kening berkerut. "Papa, apa ini kantor Papa?" tanyanya dengan suara polos yang menggema pelan. Arsen menoleh. Ia langsung melepaskan genggamannya lalu berlutut, menyejajarkan pandangannya dengan sang putri. Tangan kanannya terayun, menunjuk ke sekeliling
Arsen perlahan menurunkan Ace dari gendongannya, menapakkan kaki mungil bocah itu kembali ke atas lantai yang dingin. Ia berlutut menyamakan tinggi badannya dengan sang putra, lalu menepuk pelan bahu kecil Ace. "Papa ke kamar Kakak dulu, ya? Papa harus bicara dengan Kak Audrey," ujar Arsen, suaranya lembut namun terdengar tegas. Ia mendongak, menatap Lily yang berdiri di sampingnya dengan gurat kecemasan yang kentara di wajah cantiknya. "Aku tidak bisa membiarkan dia terus-menerus merajuk seperti ini. Dia harus sarapan." Lily menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui ucapan Arsen. "Iya, tenangkan dia dulu. Aku akan membawa Ace ke bawah." Lily kemudian meraih jemari mungil Ace dan menggenggamnya erat. "Yuk, Ace, kita ke bawah menemui Oma dan Opa. Mereka pasti sudah menunggu kita." "Ayo!" sahut Ace riang, langsung melupakan rasa herannya tentang sang kakak dan menarik tangan Lily menuju arah tangga. Arsen mengawasi punggung istri dan anaknya hingga mereka menghilang di balik kel
Keesokan paginya, sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang sudah rapi. Arsen berdiri di depan cermin besar, merapikan kerah kemeja kerjanya yang tampak sangat pas di tubuh tegapnya. Lily berjalan mendekat dari arah belakang. Ia meraih kedua ujung dasi yang menggantung pasrah di leher Arsen, lalu mulai menyatukannya dengan gerakan tangan yang cekatan. Namun, sembari jari-jarinya bergerak membentuk simpul, Lily menyipitkan kedua matanya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Arsen seolah sedang menyelidiki sesuatu yang mencurigakan. Arsen yang menyadari tatapan itu hanya diam menanti. Alih-alih merasa terintimidasi, sudut bibirnya justru terangkat. Tangan kanannya bergerak naik, menyentuh lembut dagu Lily, menuntun wajah cantik istrinya itu agar mendongak lebih tinggi. Arsen memiringkan kepalanya sedikit, bersiap untuk mendaratkan satu ciuman hangat di bibir Lily. Namun, dengan gerakan kilat, Lily langsung memalingkan wajahnya ke samping, menghindar.
Arsen melihat tatapan cemas dari sorot mata Lily, dia semakin memeluk erat Lily lalu membalas, “Ternyata lelah juga jika harus menghandle dua perusahaan sekaligus.” Arsen melihat Lily yang langsung memundurkan kepala saat mendengar ucapannya, sebelum Lily bicara, Arsen sudah lebih dulu kembali ber
Setelah bertemu dan bermain bersama Audrey, akhirnya Axel berpisah dengan Audrey. Axel sudah berada di dalam mobil bersama David, mereka kini menuju rumah karena masih banyak hal yang harus dibereskan sebelum mereka pergi. Axel menatap gantungan boneka yang Audrey berikan, lalu dia menoleh pa
Audrey akhirnya mendapatkan hadiah yang diinginkannya. Saat berdiri di depan meja kasir menunggu pembayaran selesai, Audrey terus tersenyum senang. Namun, ketika dia ingat kalau hadiah yang dipilihnya, adalah hadiah perpisahan untuk Axel. Audrey menoleh ke Lily yang baru saja melakukan pembayar
Lily diam tak membalas ucapan Arsen.“Kenapa kamu diam, apa kamu mau marah?” tanya Arsen saat melihat Lily sejak tadi memberi reaksi apa pun.“Untuk apa aku marah? Memangnya David siapa dalam hidupku?” balas Lily dengan cepat.Mendengar balasan Lily, Arsen langsung memulas senyum. Berpindah posisi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak