FAZER LOGINTerluka karena pengkhianatan sang tunangan, Lily melampiaskannya dengan menenggak tiga gelas cocktail hingga mabuk. Saat tersadar, Lily mendapati dirinya berada di kamar bersama seorang pria asing bernama Arsen. Kesal karena Arsen malah menganggapnya pelacur, Lily melayangkan tamparan ke pipi pria itu. Nahasnya dua hari kemudian dia malah bertemu lagi dengan Arsen di sebuah pesta. Pria itu ternyata memiliki hubungan dekat dengan tunangan yang sudah membuat hati Lily hancur. Lily semakin dibuat tak percaya saat Arsen tiba-tiba saja malah menawarkan sebuah pernikahan kontrak padanya. “Pernikahan kontrak? Kenapa kamu tiba-tiba menawarkan pernikahan?” tanya Lily. “Kalau bukan menikah denganku, pria yang pertama kali tidur denganmu, siapa yang akan menerimamu menjadi istri?” balas Arsen dingin.
Ver maisSuara deru mesin mobil yang memasuki pelataran rumah menandakan kedatangan Arsen. Begitu pintu utama terbuka, Lily sudah berdiri di sana menyambutnya. Arsen melangkah masuk, membiarkan Lily mengambil alih tas kerja dan jas yang baru saja ia lepaskan dari bahunya.Belum sempat Lily menanyakan bagaimana harinya, Arsen sudah menahan kedua bahu istrinya dengan raut wajah tegang."Sayang, aku minta izin untuk langsung lanjut bekerja lagi," ucap Arsen cepat. "Ada urusan penting yang harus aku lakukan saat ini juga."Kening Lily berkerut. Matanya menatap wajah suaminya lekat-lekat. "Apa ada masalah yang serius?"Arsen menghela napas pendek, mengusap puncak kepala Lily sekilas. "Ada sedikit masalah dengan produk baru kita. Tunggu sebentar ya, biarkan aku mengurus ini dulu."Melihat gurat kelelahan sekaligus keseriusan di wajah suaminya, Lily menganggukkan kepalanya pelan. "Ya sudah, kamu selesaikan saja dulu urusan pekerjaan. Aku akan menemani Audrey dan Ace di kamar."Arsen mengangguk setuju
Suara nada panggil terdengar mengalun dari ponsel di telinga Arsen selama beberapa detik. Sore ini, suasana ruang kerjanya terasa sangat tenang. Arsen memutar kursinya menghadap ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota, menunggu panggilannya dijawab."Halo, Sayang?" Suara Lily akhirnya terdengar dari seberang sana.Arsen menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi kulitnya. Jari-jarinya mengetuk pelan permukaan lengan kursi. "Kamu di mana sekarang? Bagaimana hasil kunjungan hari ini? Apa Audrey mau bersekolah di sekolah yang kalian kunjungi tadi?"Terdengar hembusan napas yang cukup panjang dari ujung telepon. "Masih sama. Dia masih tidak mau."Mendengar jawaban istrinya, Arsen memijat pelan pangkal hidungnya. "Ya sudah. Kalau begitu, mulai besok kamu tidak usah lagi mempedulikan mau Audrey. Biar aku saja yang akan memilihkan sekolah untuknya.""Tapi, Sayang...” Lily terdengar mencoba menahan, nadanya menyiratkan keraguan. "Kita sudah sepakat untuk membiarkan
Langkah kaki Arsen dan Lily menuruni anak tangga terdengar seirama, mengantarkan keduanya menuju ruang makan yang sudah dipenuhi aroma roti panggang. Di meja makan, Risha dan Adhitama sudah duduk mendampingi Audrey dan Ace yang tengah mengunyah sarapan mereka.Arsen menarik kursi untuk Lily, membiarkan istrinya duduk lebih dulu sebelum ia sendiri mengambil tempat di sebelahnya. Setelah mengoles selai pada rotinya, Arsen menatap kedua mertuanya."Bund, Pa," panggil Arsen, menghentikan denting sendok di meja. "Lusa kita sudah pindah ke mansion. Kebetulan, aku sudah menyiapkan sebuah pesta kecil di sana. Aku mengundang beberapa kolega terdekat untuk datang."Mendengar hal itu, gerakan tangan Risha yang sedang mengaduk teh langsung terhenti. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap Adhitama lekat-lekat. Keduanya saling bertukar pandang dalam diam selama beberapa detik, seolah sedang menyampaikan pesan yang tak terucap.Risha kemudian menoleh kembali pada Arsen dan Lily dengan senyum yang sed
Lily mengerjap cepat. Otaknya memutar kembali kejadian semalam. Ia sangat yakin seratus persen bahwa dirinya dan Arsen sama sekali tidak melakukan apa pun. Mereka hanya tidur, dan satu-satunya guncangan hebat yang terjadi hanyalah saat Arsen secara tiba-tiba membalikkan tubuhnya ke atas kasur hingga permukaannya membal.Perlahan, Lily berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan sang putra. Ia menangkup kedua lengan mungil Ace sambil memaksakan senyum santai."Tidak ada gempa, Ace," jawab Lily selembut mungkin, berusaha mengendalikan nada suaranya agar terdengar meyakinkan. "Semalam kan kita tidur bertiga. Ada Papa, Mama, lalu ada Ace di tengah. Mungkin karena kita tidur bersama-sama, kasurnya jadi terlalu berat, lalu bergoyang saat Papa atau Mama bergerak."Lily menatap mata bulat putranya, berharap alasan logis buatannya itu bisa langsung diterima oleh akal pikiran anak berusia prasekolah di depannya.Namun, alih-alih mengangguk paham, kening Ace justru semakin berkerut dalam. Ia
Cahaya Matahari siang masuk melalui celah korden kamar Lily dan Arsen yang tertiup angin. Mereka masih nyaman berdua, saling berpelukan setelah pergulatan panas yang selalu berakhir menciptakan peluh di kening. "Kita harus mandi, sebentar lagi harus pergi menjemput Ace dan Audrey," ucap Lily.
Di rumah Dini. Dini kedatangan Diana di rumah yang membawakan banyak makanan. Bahkan Diana sekarang sangat perhatian dan sayang kepadanya. Walau Dini tahu, sikap Dini saat ini semata-mata karena kehamilannya, apalagi Diana juga sempat mendiamkannya saat program bayi tabungnya gagal, tapi Dini
Jepang, satu tahun kemudian. Arsen mengajak Lily dan kedua anaknya pergi ke makam sang mama. Mereka sudah ada di tempat pemakaman, berdiri menatap nama ibu Arsen yang tertulis di sana. “Ma, kami datang lagi. Tapi sekarang Audrey sudah punya adik.” Arsen menoleh pada Audrey yang langsung mengem
Lima bulan kemudian. Usia kehamilan Lily sudah masuk sembilan bulan. Siang ini dia sedang berjalan-jalan di mall untuk menghibur Dini karena proses bayi tabungnya gagal. “Sudah, namanya juga usaha. Terkadang kegagalan memang menyakitkan, tetapi tidak mau usaha akan semakin menyakitkan. Yang terp


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Classificações
avaliaçõesMais