LOGINTerluka karena pengkhianatan sang tunangan, Lily melampiaskannya dengan menenggak tiga gelas cocktail hingga mabuk. Saat tersadar, Lily mendapati dirinya berada di kamar bersama seorang pria asing bernama Arsen. Kesal karena Arsen malah menganggapnya pelacur, Lily melayangkan tamparan ke pipi pria itu. Nahasnya dua hari kemudian dia malah bertemu lagi dengan Arsen di sebuah pesta. Pria itu ternyata memiliki hubungan dekat dengan tunangan yang sudah membuat hati Lily hancur. Lily semakin dibuat tak percaya saat Arsen tiba-tiba saja malah menawarkan sebuah pernikahan kontrak padanya. “Pernikahan kontrak? Kenapa kamu tiba-tiba menawarkan pernikahan?” tanya Lily. “Kalau bukan menikah denganku, pria yang pertama kali tidur denganmu, siapa yang akan menerimamu menjadi istri?” balas Arsen dingin.
View MoreArsen membuang napas kasar. Hembusan udara terdengar berat dari sela bibirnya. Ia menyandarkan punggungnya dengan keras ke sandaran kursi kulitnya, lalu menatap asistennya dengan kening berkerut dalam."Apa yang sedang hits sekarang?" tanya Arsen, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja. "Apa ada tren lamaran yang baru? Atau tren memberi kejutan? Cari apa pun itu, Thom. Aku butuh referensi secepatnya."Thomas menegakkan postur tubuhnya, mengangguk tanpa ragu sedikit pun. "Baik, Pak. Saya akan segera mencarinya dan melakukannya untuk Anda.""Terima kasih."Setelah mendengar ucapan dari atasannya, Thomas melangkah mundur, membalikkan badan, dan berjalan keluar dari ruangan. Bunyi klik dari pintu yang tertutup rapat menjadi penanda bahwa Arsen kini sendirian.Mata laki-laki itu perlahan turun, tertuju pada ponsel pipih yang tergeletak diam di atas meja. Ia meraih benda itu, menatap layarnya yang gelap selama beberapa detik, sebelum akhirnya bergumam sendiri di tengah kehenin
"Iya, Tante itu ngeliatin Papa terus," jawab Audrey dengan suara khas anak kecilnya. Mulut mungilnya sedikit mengerucut ke depan, menandakan ia sedang mengingat kejadian kemarin dengan serius. "Terus, kata Ace, Tante itu juga nggak bolehin Mama naik lift, ya? Ace bilang Tante itu ngehalangin jalan Mama." Mendengar rentetan kalimat yang meluncur begitu saja dari mulut putrinya, tangan Lily yang baru saja hendak meraih jepit rambut untuk dirapikan terhenti seketika. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia menatap wajah polos putrinya dari pantulan cermin meja rias di hadapannya. Audrey dan Ace masih kecil, tapi Lily sungguh tidak menyangka kalau ternyata mereka sudah bisa mengamati keadaan sekitar dengan begitu tanggap. Ace bahkan menaruh perhatian penuh pada insiden kecil di depan lift kemarin, padahal saat itu Lily merasa sudah berusaha keras bersikap santai agar Ace tidak merasa ada yang aneh. Lily menarik napas pelan, berusaha keras menutupi rasa kagetnya
Hari berikutnya Aroma roti panggang dan kopi hangat masih mengepul tipis di atas meja bundar. Arsen duduk di sisi Lily, sementara Tama dan Risha duduk berhadapan dengan mereka berdua. Lily meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan kecil sebelum membuka suara. "Bund, Pa, rencananya kami akan pulang ke mansion. Para pekerja sudah selesai membersihkan semuanya kemarin." Gerakan tangan Risha yang sedang mengoleskan selai stroberi langsung terhenti. Garis wajah wanita paruh baya itu berubah mendung. Pandangannya bergantian menatap Lily dan Arsen dengan raut sayu. "Apa tidak bisa kalian berdua dan anak-anak tinggal di sini saja lebih lama? Rumah ini rasanya jadi ramai sekali semenjak ada Audrey dan Ace." Mendengar keluhan sang Bunda, Arsen dan Lily spontan saling melempar tatapan. Arsen tersenyum tipis seraya meletakkan garpunya. "Sebenarnya aku juga ingin seperti itu, Bund. Di sini anak-anak ada yang menemani. Lily bahkan sempat punya rencana ingin menjual saja mansion itu ."
Malam Hari Pintu kamar mandi berderit pelan saat Arsen melangkah keluar. Pria itu mengalungkan handuk kecil di leher, menyeka sisa tetesan air di rambutnya yang basah. Pandangannya langsung menyapu ke sekeliling kamar yang temaram, mendapati ranjang berantakan yang hanya dihuni oleh satu orang."Di mana Audrey dan Ace?" tanya Arsen seraya melemparkan handuk ke sandaran kursi.Lily menoleh dari posisinya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Sebuah buku tertutup perlahan di atas pangkuannya. "Mereka tentu saja di kamar Oma Opanya. Mana mau balik ke sini kalau sudah bermain bersama Papa."Mendengar itu, sudut bibir Arsen tertarik membentuk seringai tipis. Matanya berbinar jahil. "Bagus. Kalau begitu, malam ini kita bisa bebas bermesraan tanpa gangguan."Tanpa menunggu balasan, Arsen langsung melangkah cepat dan naik ke atas kasur. Tubuhnya menindih sisi kasur hingga membal pelan, sebelum kedua lengannya terulur melingkari pinggang ramping Lily. Ia menarik tubuh istrinya merapa
Cahaya Matahari siang masuk melalui celah korden kamar Lily dan Arsen yang tertiup angin. Mereka masih nyaman berdua, saling berpelukan setelah pergulatan panas yang selalu berakhir menciptakan peluh di kening. "Kita harus mandi, sebentar lagi harus pergi menjemput Ace dan Audrey," ucap Lily.
Di rumah Dini. Dini kedatangan Diana di rumah yang membawakan banyak makanan. Bahkan Diana sekarang sangat perhatian dan sayang kepadanya. Walau Dini tahu, sikap Dini saat ini semata-mata karena kehamilannya, apalagi Diana juga sempat mendiamkannya saat program bayi tabungnya gagal, tapi Dini
Jepang, satu tahun kemudian. Arsen mengajak Lily dan kedua anaknya pergi ke makam sang mama. Mereka sudah ada di tempat pemakaman, berdiri menatap nama ibu Arsen yang tertulis di sana. “Ma, kami datang lagi. Tapi sekarang Audrey sudah punya adik.” Arsen menoleh pada Audrey yang langsung mengem
Lima bulan kemudian. Usia kehamilan Lily sudah masuk sembilan bulan. Siang ini dia sedang berjalan-jalan di mall untuk menghibur Dini karena proses bayi tabungnya gagal. “Sudah, namanya juga usaha. Terkadang kegagalan memang menyakitkan, tetapi tidak mau usaha akan semakin menyakitkan. Yang terp


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore