LOGINAndini Prameswari, istri dari pengusaha berkuasa di daerah Kurta, dia hidup dalam bayang-bayang kekerasan dan kepura-puraan. Di malam ulang tahun pernikahannya yang kedua, dia kembali menyaksikan pengkhianatan suaminya dan di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan cinta lamanya, Narendra Evans Khile. Cinta itu salah di mata dunia, tapi justru membuatnya merasa hidup kembali. Apakah dia akan terus menjadi istri yang teraniaya demi nama baik keluarga… atau berani bangkit dan memilih cinta sejatinya?
View MoreAndini Prameswari Winarto berdiri mematung di balik pintu kamar 1508, kamar VVIP yang rencananya akan digunakan untuk dia dan sang suami menghabiskan malam pada saat pesta anniversary pernikahan mereka.
Di lantai bawah hotel Estrella, pesta masih berlangsung. Tawa riang dari sebagian besar tamu undangan yang menikmati kemeriahan pesta, seakan membungkus kenyataan pahit yang Andini rasakan. Andini kembali menatap jam tangan Cartier yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul 20.49. Radit yang ditunggu oleh dirinya dan semua orang belum juga muncul. Hatinya berkata lain, dia yakin keterlambatan Radit malam ini untuk menghadiri pesta mereka, pasti disembunyikan di balik ruangan ini. Setelah ragu-ragu sejenak, Andini lalu memantapkan hatinya untuk membuka pintu ruangan itu menggunakan kunci duplikat yang ada di dalam tas tangannya. Dia membuka perlahan. Tidak lebar, hanya selebar lima jari. Tapi itu cukup untuk melihat apa yang ada di dalam. Dia tidak masuk, hanya berdiri di depan pintu. Tapi dari celah yang cukup kecil itu berhasil membuat seluruh dunia Andini runtuh dalam hitungan detik. Apa yang dilihatnya saat itu berhasil membuat darahnya berdesir, nafasnya terasa tercekat di tenggorokan. Terlebih lagi saat desah penuh kenikmatan itu kembali melewati rongga pendengarannya. “Aahh! Ehhm,” “Oohh, teruskan sayang.” Lenguh panjang penuh kelembutan yang saling bersahutan, racauan penuh kenikmatan. Semuanya itu terdengar dari suara yang sama, tubuh yang sama, pengkhianatan yang sama. Seketika tubuh Andini terasa panas seperti terbakar. Adegan yang selama dua tahun belakangan ini, berusaha dia kubur rapat-rapat kini muncul kembali tepat di depan matanya. Persis bahkan tak ada yang berubah sama sekali. Seperti mimpi buruk yang diputar ulang, kini takdir itu kembali memastikan hatinya benar-benar hancur. “Ooh, Radit… lebih cepat, sayang… lebih cepat.” Wanita itu mendesah tanpa malu, seolah-olah dunia memang hanya milik mereka berdua saja. Kedua mata Andini menyempit. Pupil matanya menggelap, dan tubuhnya gemetar hebat. Karena mendengar suara pintu dibuka, Radit terkejut dan menoleh. Dia melihat istrinya berdiri, menatap ke arahnya. Namun, dia tidak beranjak dari peraduan itu. Dengan gerak santai, dia hanya menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan sang kekasih. Sementara wanita di sampingnya menatap marah ke arah Andini, seakan sorot matanya ingin menelan Andini hidup-hidup. “Apa kamu nggak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk, ya?” Sorot matanya penuh kebencian. Andini hanya membalas dengan senyum tipis, lalu beralih menatap Radit. “Kado anniversary kedua, ternyata perselingkuhan lagi, ya? Bagus sekali.” Setelah mengatakan kalimat itu, tanpa menunggu reaksi mereka, Andini langsung menutup pintu kembali. Dia berdiri mematung di depan pintu yang tertutup itu. Seketika Andini merasa seperti ada batu besar yang tiba-tiba menindih dadanya. Begitu sesak, dan membuatnya sedikit kesulitan bernapas. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tanpa terasa, kuku-kukunya yang runcing menancap dan hampir melukai telapak tangannya sendiri. Lalu, dia melangkah cepat meninggalkan tempat itu. Menuju lift, lalu tangannya memencet tombol buka, lalu masuk dengan cepat sambil menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya. Andini kembali memasuki ruangan dimana pesta anniversary pernikahannya sedang berlangsung. Dengan langkah anggun, Andini melangkahkan kakinya ke pojok ruangan. Orang bilang, alkohol bisa memberi sedikit ketenangan bagi orang yang meminumnya. Jadi, dia sengaja meneguk sedikit sampanye agar tangannya tidak terlihat gemetar. Lalu mencoba untuk mengubur kenyataan pahit yang baru saja di lihatnya. “Andin .…” Suara tegas seseorang mengagetkannya dari arah belakang. Dia buru-buru menoleh. “Radit masih ada urusan penting. Kamu diminta untuk menghandle semua tamu yang hadir. Ingat, jangan membuatnya kecewa,” kata Sanjaya Winanto, mengingatkan putrinya. Ibunya berdiri di samping dan tersenyum menenangkan. “Dengarkan Mami, sayang. Semua yang kamu lakukan ini untuk kebahagiaan kita semua.” ‘Urusan penting?’ Urusan penting dengan kekasihnya. ‘Kebahagiaan kita?’ Yang dikatakan ibunya mungkin benar. Semua ini memang demi kebahagiaan semua orang, demi reputasi, politik, bisnis, dan nama baik. Sayangnya, dia tidak termasuk dalam kata “kita” yang disebut ibunya tadi. Mendengar ucapan dari kedua orang tuanya itu, batin Andini tertawa miris. Hari ini adalah pesta perayaan anniversary kedua pernikahannya dengan Raditya Mahesa, pewaris tunggal dari keluarga terpandang yang sangat berpengaruh di daerah Kurta. Kilauan lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom Hotel Estrella. Ruangan hotel bintang lima itu sengaja didekorasi dengan begitu mewah. Karena hari ini bukan sekadar perayaan cinta, tetapi juga ajang politik demi memuluskan ambisi Radit untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah di Kurta. Tubuh semampai Andini tampak anggun dalam balutan gaun berwarna champagne. Kalung berlian rose gold melekat indah pada lehernya, menambah kesan sempurna sebagai istri calon pemimpin daerah. Andini harus tersenyum anggun, tubuhnya harus tetap berdiri tegak, langkahnya juga harus terlihat elegan. Selama dua tahun, dia sudah sangat terlatih memainkan peran sebagai istri sempurna di hadapan publik. Di depan publik, dia adalah perempuan paling beruntung, memiliki suami yang mencintainya begitu besar dan memberikan semua kemewahan dunia. Tapi kenyataannya? Andini menghembuskan nafas kasar, mencoba membuang sedikit rasa sesak yang dia rasakan. Lalu dia kembali meneguk sampanye yang masih tersisa di tangannya. Berjalan menghampiri beberapa tamu, dan menyambut mereka dengan ramah. Tak kuat lagi rasanya untuk Andini bersandiwara. Perlahan, dia menyelinap keluar dari ballroom dan menuju pintu darurat. *** Musik menghentak keras di dalam klub malam yang berada di bagian sisi lain lantai bawah Hotel Estrella. Andini duduk di kursi paling pojok. Merasakan kepalanya sedikit pusing, Andini lebih memilih tidak meminum apapun lagi saat berada dalam klub malam itu, dia hanya duduk sambil menopang dagu. Pikirannya tidak kacau, hanya saja hatinya terasa sangat lelah. Dia merasa lelah bukan karena perselingkuhan suaminya di malam anniversary pernikahan mereka, karena kejadian seperti ini bukan yang pertama kali, tetapi saat ini dia mulai merasa lelah karena benar-benar hanya menjadi pajangan saja. Dirinya tak ubah seperti boneka porselen yang dipajang begitu cantik di sebuah etalase, hanya untuk dijadikan pelengkap. Dan itu kenyataannya, dirinya hanyalah pelengkap untuk status Radit. Hubungan mereka tak lebih dari citra demi kekuasaan. Selama ini, dia sudah terlalu diam dan mengalah. Tapi malam ini, sepertinya dia benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Andini mulai merasa risih ketika dia menyadari ada beberapa pasang mata yang menatapnya dengan tatapan nakal. Maka dia memutuskan untuk pergi. Sudah lewat pukul sembilan malam. Dia tidak tahu harus ke mana. Rasanya tidak mungkin jika dia pulang ke rumah atau kembali lagi ke pesta. Jadi, dia memutuskan untuk terus berjalan tanpa tujuan. Andini melangkah di jalanan remang. Ada sedikit perasaan takut menghinggapi pikirannya. Di sebuah tikungan jalan, tiba-tiba Andini menghentikan langkahnya. Di sisi kanan jalan, dia melihat sebuah gedung yang menarik perhatiannya. Sebenarnya gedung itu memang sudah lama berdiri di situ, tetapi yang menarik perhatiannya adalah tulisan di atas gedung itu Galeri Lukis. “Sejak kapan ada galeri lukisan di tempat ini?” tutur Andini pelan sambil mengerutkan kening. Dia mulai berpikir, bukankah beberapa minggu lalu, dia pernah lewat di tempat ini, tapi galeri lukis ini belum ada. Apa tempat ini baru saja dibuka? Andini memang sangat tertarik dengan dunia seni lukis. Bahkan itu adalah hobi serta impiannya sejak kecil untuk menjadi seorang pelukis ternama. Andini melangkah menuju galeri lukisan itu, yang kebetulan masih buka. Begitu langkah kakinya memasuki galeri seni itu, aroma cat minyak bercampur dengan wangi kayu furniture klasik memenuhi indra penciumannya. Seketika saja, Andini merasa jiwanya seperti ditarik untuk masuk ke dalam dimensi lain.Hujan turun perlahan di pemakaman keluarga Khile. Bukan hujan yang mengguyur deras dan memaksa orang berlari untuk mencari perlindungan. Bukan pula hujan yang dipenuhi kilatan petir seperti malam-malam penuh amarah di masa lalu. Hanya gerimis tipis. Yang jatuh pelan, satu per satu, tapi cukup membuat suasana alam seperti ikut menahan napas dan merasakan suasana yang selama ini diselimuti kebisingan kini akhirnya berakhir. Di antara deretan batu nisan yang basah, dua liang kubur sengaja digali berdampingan. Nama nisan pertama terukir jelas nama Widia Khile. Dan nama nisan yang kedua tentunya untuk Ferdy Khile. Tidak ada iring-iringan besar. Tidak ada karangan bunga berlapis-lapis dengan pita nama pejabat. Tidak ada pidato panjang yang memuja jasa atau menutupi dosa dengan kata-kata indah. Yang ada hanya beberapa orang yang berdiri dalam diam. Diam yang bukan berarti memaafkan, melainkan hanya ingin mengakui satu kenyataan pahit, bahwa di balik kejahatan yang terencana rapi, am
Tawa Widia Khile yang tadinya terdengar samar kini pecah di ruang sidang. Bukan tawa kecil yang penuh sindiran seperti biasanya. Bukan pula tawa dingin seorang perempuan berkuasa.Ini tawa keras. Melengking. Patah-patah.Tawa yang lahir dari pikiran yang tak lagi mampu mengendalikan dirinya sendiri.Beberapa orang terlonjak kaget. Hakim mengerutkan dahi. Petugas keamanan refleks merapat. Karena untuk kali ini sejak puluhan tahun, Widia Khile akhirnya merasakan kehilangan satu hal yang selalu dia miliki selama ini yaitu kendali atas suatu kebenaran.“Kalian…” suaranya bergetar, napasnya memburu, “Kalian semua mulai berani menghakimiku?!”Tangannya yang diborgol bergetar hebat.Bukan karena takut pada hukuman, melainkan karena sesuatu kenyataan besar di dalam kepalanya mulai pecah.“Aku yang menjaga keluarga ini!” teriaknya. “Aku yang menyapu bersih setiap noda dari semua kesalahan! Aku yang memastikan nama Khile tetap berdiri!”Matanya menyapu ruang sidang. Tapi tatapannya tidak fokus.
Tidak ada kekuasaan yang benar-benar abadi. Yang ada hanyalah kebohongan yang terlalu lama dibiarkan berdiri, sampai akhirnya beratnya sendiri menariknya jatuh ke tanah.Ruang sidang utama Pengadilan Negeri siang itu tidak penuh, tapi udara di dalamnya terasa sangat padat. Bukan oleh manusia, melainkan oleh ketegangan yang berlapis-lapis. Lampu putih menggantung tinggi, dingin, tidak memihak siapapun. Bangku pengunjung diisi oleh wajah-wajah serius jaksa, pengacara, aparat, dan beberapa orang yang paham betul bahwa apa yang akan terjadi malam ini tidak akan berhenti di ruang sidang ini saja.Naren berdiri di barisan depan. Jas hitamnya rapi, ekspresinya kosong. Tidak ada amarah yang tersisa, tidak juga kepuasan. Yang ada hanyalah fokus penuh, seperti algojo yang tahu ayunannya harus tepat sekali, dan selesai.Di belakangnya, Kenzo berdiri tegak. Di sisi lain, Jessica duduk dengan punggung lurus. Tidak lagi terlihat sebagai korban yang diseret opini publik, tapi sebagai saksi hidup ya
Sang waktu tidak pernah benar-benar adil pada orang-orang yang menyimpan rahasia. Cepat atau lambat segala sesuatu kebusukan yang disembunyikan perlahan akan mengeluarkan aromanya juga.Di sebuah restoran kecil dengan lampu temaram dan hanya dua meja yang masih digunakan, Naren duduk menghadap jendela. Jas hitamnya kali ini tidak dipakai untuk menegaskan status, melainkan untuk menutup niat.Wajahnya tenang, terlalu tenang, seperti permukaan laut sebelum badai besar menelan kapal. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 23.17.Karina terlambat dua belas menit.Ketika pintu kayu berderit pelan dan perempuan itu masuk, Naren tidak menoleh. Dari aroma parfum yang menyeruak dia sudah tahu siapa yang datang.Nafas Karina berhembus tidak teratur. Langkahnya ragu, seolah setiap lantai yang diinjak adalah pengadilan kecil bagi kesalahan yang dia kumpulkan selama bertahun-tahun.Karina menghampiri meja tempat dimana Naren menunggunya, dia menarik kursi pelan lalu duduk di seberangnya.“






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews