Gerald's Obsession
Gerald's Obsession
Author: Miafily
1. Jaminan

Viola mengeringkan rambutnya yang masih basah karena dirinya baru selesai mandi. Ia menatap jendela dan sadar betul jika ini sudah larut malam. Sudah waktunya bagi Viola untuk beristirahat dengan nyaman. Sayangnya Viola tidak bisa melakukan hal itu karena merasa cemas. Ezra—kakaknya—belum pulang. Itu tentu saja membuat Viola cemas. Apalagi dengan fakta bahwa akhir-akhir ini Ezra selalu pulang menjelang pagi dengan keadaan mabuk. Viola takut jika suatu saat nanti, Ezra membuat masalah karena kebiasaan mabuknya itu. Akhir-akhir ini, Ezra memang selalu mabuk-mabukan setelah dirinya dipecat dari pekerjaannya di sebuah pabrik. Karena ada PHK massal, Ezra pun termasuk dalam salah satu buruh yang di-PHK.

Viola menghela napas dan memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak akan tidur, tetapi menunggu kepulangan kakaknya sembari menghitung penghasilannya hari ini. Viola bekerja di konveksi dan mendapatkan gaji sesuai dengan banyaknya jahitan yang ia selesaikan perharinya. Setelah menghitungnya, Viola mencatatnya dan menjumlahkannya dengan uang yang sebelumnya ia miliki. Viola menyimpan uang tersebut dengan baik-baik dan kotak penyimpanan. Uang ini akan sangat dibutuhkan oleh Viola untuk kebutuhan hidupnya dengan sang kakak selanjutnya. Viola menatap jendela kamarnya yang masih belum ditutupi gorden. “Kenapa Kakak belum pulang juga? Apa Kakak pulang pagi lagi?” tanya Viola pada dirinya sendiri.

Namun baru saja dirinya menutup bibirnya, Viola mendengar suara ketukan pintu rumahnya. Viola segera berlari kecil menuju pintu depan. Sebelum membuka pintu, Viola memastikan siapa yang mengetuk pintu dengan mengintip dari jendela dekat pintu depan. Setelah memastikan jika dirinya mengenal orang itu, Viola pun membuka pintu. Ternyata, yang berada di depan pintu rumahnya adalah dua orang pria yang bertubuh tinggi dan kekar. Jika seorang pria yang memiliki netra cokelat gelap terlihat berdiri tegap dan dipastikan sadar sepenuhnya, maka pria satunya terlihat sempoyangan dengan dibantu oleh pria bernetra cokelat. Benar, pria yang sempoyongan karena mabuk itu tak lain adalah Ezra. Viola pun berseru, “Astaga, Kakak!”

Pria bernetra cokelat pun membantu memapah temannya untuk masuk ke dalam rumah dan menuju kamar di mana Viola sudah menyiapkan ranjang untuk berbaring. Pria bernetra cokelat membantu membaringkan Ezra di atas ranjang dan memperhatikan Viola yang melepas sepatu Ezra dan menyelimuti kakaknya itu. Setelah menyelesaikan apa yang harus mereka lakukan, kedua orang itu pun ke luar meninggalkan kamar Ezra. “Makasih, Kak Dafa. Maaf karena selalu merepotkan Kakak,” ucap Viola.

“Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang perlu aku lakukan. Tapi, bisakah kamu membujuk Dafa untuk berhenti mabuk-mabukan? Aku takut jika itu bisa membuatnya berada dalam masalah. Tadi saja, jika Farrah terlambat menghubungiku, pasti aka nada masalah besar yang terjadi,” ucap Dafa.

Dafa ini adalah sahabat dari Ezra. Viola sendiri sudah sangat mengenalnya. Viola mengangguk dan sekali berterima kasih atas apa yang sudah dilakukan oleh Dafa. Dulu, hidup Viola dan Ezra tidak sesulit ini. Namun, semenjak kedua orang tua mereka meninggal, hidup mereka terasa sangat sulit. Viola dan Ezra tidak memiliki pilihan lain untuk saling bergantung dan percaya. Pada awalnya, meskipun terasa sulit, Ezra dan Viola bisa hidup dengan baik. Hanya saja, semua itu berubah ketika Ezra dipecat dari pekerjaannya dan hingga saat ini belum mendapatkan pekerjaan kembali. Ezra tampaknya frustasi dan pada akhirnya melampiaskannya pada minuman.

“Aku sudah melakukannya, Kak. Tapi Kak Ezra masih seperti itu. Aku harap, selanjutnya aku bisa berhasil membujuk Kakak,” ucap Viola.

Dafa mengangguk. “Aku harap begitu. Aku juga akan tetap membantu dengan mecari pekerjaan yang cocok untuk Ezra,” ucap Dafa.

“Terima kasih, Kak.” Viola benar-benar tulus dengan ucapan terima kasih yang ia ucapkan tersebut.

Dafa sekali lagi mengangguk. “Cukup dengan ucapan terima kasihnya. Sekarang tidurlah. Jangan lupa kunci pintu dan jendelanya. Jika ada sesuatu, jang berpikir dua kali untuk menghubungiku,” ucap Dafa lalu mengusap puncak kepala Viola dengan lembut. Dafa tersenyum manis dengan netra cokelat yang menyorot penuh kehangatan pada Viola. Mungkin Viola memang tidak menyadarinya, tapi siapa pun yang melihat sorot mata Dafa saat ini, pasti akan sepakat jika Dafa memiliki perasaan yang dalam terhadap Viola.

***

“Kakak sudah bangun?” tanya Viola pada Ezra yang duduk di meja makan dengan tangan yang mengurut pelipisnya berulang kali.

Tentu saja, sudah dipastikan jika Ezra tengah merasa begitu pusing karena dirinya yang mabuk berat tadi malam. Viola menghela napas panjang. Hari ini, dirinya masuk siang dan memiliki waktu luang untuk sarapan bersama sang kakak serta membicarakan apa yang harus ia bicarakan dengannya. Viola menyajikan teh pahit untuk sang kakak, agar kakaknya itu bisa berpikir lebih jernih. Setelah menyesap teh tersebut, Ezra bisa berpikir lebih jernih lalu berkata, “Terima kasih.”

“Kak, ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Viola.

“Apa ini berkaitan dengan apa yang terjadi tadi malam?” tanya Ezra. Meskipun dirinya pulang dengan keadaan setengah sadar, tetapi Ezra tahu jika dirinya tidak masuk ke dalam rumah begitu saja. Pasti ada Viola yang membukakan pintu dan melihat kondisinya yang mabuk berat.

Viola pun mengangguk. “Iya, Kakak. Tolong berhenti minum-minum. Dengan melakukan hal ini, Kakak sama sekali tidak akan merasa lebih baik. Jangan menyerah, pasti ada banyak pekerjaan di luar sana. Tidak perlu terburu-buru mencari pekerjaan baru atau merasa terbebani karena kakak tidak bekerja. Aku masih memiliki pekerjaan dan bisa menopang biaya hidup kita berdua. Jadi, aku mohon berhenti pergi ke tempat itu, sebelum ada masalah yang terjadi,” ucap Viola.

Ezra menghela napas panjang. Ia mengaku salah dan merasa pantas untuk mendapatkan teguran yang lebih keras daripada ini. “Maafkan Kakak. Ke depannya Kakak tidak akan melakukan hal ini lagi,” ucap Ezra dengan penuh penyesalan. Ezra tidak menampik jika kehilangan pekerjaan membuatnya kesulitan dan merasa sangat frustasi. Hal itulah yang mau tidak mau membuat Ezra mencari sesuatu yang bisa menjadi pelarian. Lalu mabuk dan bersenang-senang di bar menjadi pilihan terbaik bagi Ezra.

Mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya, Viola pun mengangguk dengan senyuman bahagia. Setidaknya, sekarang sang kakak sudah mengetahui kesalahannya dan mau berubah. Viola baru saja akan bangkit untuk menyiapkan sarapan, sebelum dirinya mendengar seseorang yang beteriak dan mengetuk pintu rumah dengan sangat keras. Wajah Ezra berubah pucat saat mendengar hal itu. Ia pun segera bangkit dan berlari menuju pintu sementara Viola mengikuti dengan langkah ringan. Viola jelas mengernyitkan keningnya saat mendengar seseorang yang berteriak memanggil nama Ezra dengan keras.

Ezra membuka pintu dan beberapa pria berwajah menyeramkan terlihat di depan rumah mereka. Viola secara naluriah segera bersembunyi di belakang punggung sang kakak. Dengan ukuran tubuh Ezra yang lebih besar dari Viola, membuat Viola sukses menyembunyikan dirinya di sana. “Kenapa kalian datang dengan cara seperti ini ke rumahku?” tanya Ezra.

“Kami akan membawa jaminan yang sudah kau janjikan saat meminjam uang pada Bos kami,” jawab salah satu dari pria berwajah sangar.

“Jaminan? Jaminan apa yang kau maksud?” tanya Ezra sama sekali tidak mengerti.

“Sepertinya kau terlalu mabuk, hingga tidak bisa mengingat apa yang sudah kau lakukan. Kau, meminjam uang sebanyak dua puluh lima juta untuk bertaruh, dan kau kalah telak. Karena tidak bisa melunasi hutangmu, sekarang kau harus menyerahkan jaminan yang kau janjikan,” ucap pria itu lagi.

Ezra mengurut pangkal hidungnya dengan frustasi. Ternyata apa yang dikatakan oleh Viola benar. Mabuk bisa membuat Ezra berada dalam masalah. “Jadi, apa yang aku jaminkan? Apa rumah ini?” tanya Ezra setelah mengingat kejadian di mana dirinya meminjam uang, tetapi tidak bisa mengingat apa yang sudah ia jaminkan.

“Bukan. Bukan rumah, tetapi … adikmu. Kau menjaminkan adikmu,” ucap pria itu lalu secepat kilat menarik tangan Viola dan membopongnya seperti karung beras.

Tentu saja Viola terkejut dan menjerit panik. “Kakak! Kakak! Aku tidak mau pergi, Kakak!” teriak Viola sembari berontak untuk segera diturunkan. Ezra sendiri berusaha untuk menolong adiknya yang sudah dibawa pergi, tetapi semuanya sudah terlambat. Para pria yang tidak membawa Viola, bertugas untuk menahan Ezra dengan memberikan beberapa pukulan pada pria itu. Saat itulah, Ezra sadar jika apa yang ia lakukan bukan hanya menghancurkan hidupnya sendiri, tetapi juga menghancurkan hidup adiknya.

.

.

.

Hula, Mimi di sini

Buat kakak-kakak jangan lupa add karya Mimi ke library dan jangan lupa juga tinggalkan jejak sembari kasih bintang lima yaw

Sayang kalian semua!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status