Share

AMORAGA - 7

You make me confused, scared, and sorry at the same time. You make this strange feeling develop without knowing the reason.

.

.

Happy Reading

        

Amora menghentakkan kakinya beberapa kali. Ia melirik jam dipergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 4 sore. Pak Sam belum sampai ke sekolah. Padahal Amora sudah mengantuk dan ingin sekali langsung merebahkan tubuhnya di kasur.

"Ah, Pak Sam gak asik. Gue ngantuk bener ini," gerutu Amora sambil mengucak matanya yang terasa berat. Amora memang menunggu Pak Sam di warung Mpo Jamilah yang berada di belakang sekolah. Kebetulan, ia habis menemani Gita mengambil alat musik di ruang eskul yang terletak dekat taman belakang. Karena malas berjalan jauh, lebih baik ia meminta dijemput di gerbang belakang. Saat tengah sibuk mengomel karena Pak Sam yang belum kunjung datang, Amora mendengar suara ribut tak jauh darinya. Bukan Amora Natasha namanya jika tidak kepo. Ya, sekarang jiwa kepo nya muncul. Amora berjalan mendekati suara yang ternyata berasal dari samping warung Mpo Jamilah. Matanya mendadak terbuka lebar saat melihat Raga yang tengah dipukuli. Tentu saja itu Raga. Tas hitam merk LOUIS VUITTON, dan jam tangan yang Amora kenali. Itu pasti Raga. Amora yakin. Melihat Raga terkapar tak berdaya, Amora mencoba mengumpulkan keberanian. Ia mengigit bibir bawahnya beberapa kali. "Duh, gue harus samperin, nih. Gue berani." Amora meyakinkan dirinya. Ya, meskipun sebenarnya ia takut.

Cewek itu mengambil langkah cepat setengah berlari menghampiri Raga. "Raga!" teriak Amora yang membuat ketiga cowok berpakaian norak itu menghentikan aksinya memukuli Raga. Pakaian mereka memang norak. Celana dan jaket jeans, lalu kaos bercorak yang terkesan ramai, serta gelang-gelang aneh yang Amora yakini pasti mereka membelinya di tukang aksesori gerobak yang suka lewat di depan sekolah. Ah, pokoknya norak.

"Raga, lo gapapa?" tanya Amora sambil memegang lengan Raga yang sudah lecet karena tergores aspal. Cowok itu sempat terkejut dengan kedatangan Amora.

"Raga, kok, lo diam aja? Jawab, dong! Jangan kaya patung pancoran gini. Ah, gak lucu!"

Alih-alih menjawab Amora, Raga malah menatap Jeha dan kedua anak buahnya. Jeha terlihat menyunggingkan senyum sinisnya, membuat Raga geram.

"Siapa, nih? Cewek lo, Ga? Kok, gak bilang gue?"

Raga mencoba berdiri dengan sisa tenaganya. Ia memegangi lengan kanannya sambil meringis. Amora juga ikut berdiri. Raga menarik lengan Amora agar berdiri di belakangnya. "Jangan sentuh dia. Urusan lo cuma sama gue," ucapnya dengan penuh penekanan.

Cowok bernama Jeha itu tertawa keras. Sungguh lucu melihat Raga melindungi seorang cewek. Setahunya, Raga bukan orang yang akan peduli dengan cewek, kecuali Mamanya.

"Sejak kapan kelemahan lo jadi nambah gini? Geng Baskara, dan siapa nama lo, cantik?" tanya Jeha melirik Amora yang bersembunyi di belakang Raga.

Amora dengan percaya diri memasang wajah sinis. "Amora. Kenapa?!"

Raga melirik Amora sekilas, sebelum akhirnya kembali menatap Jeha yang kini tengah tersenyum kepada Amora. "Lo sama kaya Raga. Suka ngegas. Kapan nginjak rem nya? Nanti nabrak, loh."

"Idih, bocah ngelawak. Dikata lagi acara stand up comedy kali. Kurang minum aqua kayaknya. Jadi ngelandur. Besok kalo enggak tahu di mana beli aqua, gue anterin, deh. Sekalian, hitung-hitung menolong orang kesusahan. Lumayan, nambah pahala." Amora tertawa mendengar perkataannya barusan. Emang cakep bener dah gue kalo masalah ngebacot kayak gini.

Raga yang mendengar jawaban Amora hanya tersenyum simpul. Sesaat ia melupakan rasa sakitnya. Amora mrmberinya kekuatan. Meskipun tangan kanannya seperti mati rasa, tapi ia masih punya tangan kiri untuk memberikan sebuah pukulan ke wajah Jeha. Cowok itu tersungkur ke aspal. Sudut bibirnya berdarah.

"Itu hadiah, karena lo udah bikin Amora ketawa." Satu pukulan mendarat untum kedua kalinya. "Dan yang ini hadiah karena lo berhasil bikin gue bonyok."

Kedua anak buah Jeha hendak menghajar Raga, namun suara deru motor terdengar menghampiri mereka. Empat motor terparkir tak jauh dari tempat Amora dan Raga. Salah satu cowok memakai jaket hitam menghampiri kedua anak buah Jeha. "Lo mukul orang yang lagi gak bisa adu jotos, itu namanya pengecut, Bro. Kalo Raga lagi gak cedera, kalian gak akan berani walaupun sekadar nunjukin muka."

Jeha bangkit. Ia menyeka darah segar yang ada di sudut bibirnya. "Bukan pengecut, tapi cerdik."

Cowok bernama Ghandi itu tertawa sinis. "Definisi cerdik bagi lo itu rendah, Jey. Gue gak tahu, lo jadi sebego ini setelah ditendang dari Baskara."

"Sial!" Jeha hendak melayangkan pukulan ke arah Ghandi, namun dengan cepat Raga menahan lengan cowok itu.

"Ingat! Urusan lo sama siapa? Lo gak boleh nyentuh salah satu anggota Baskara selain gue." Raga sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Jeha melihat itu di wajah Raga. Jika sudah seperti ini, lebih baik Jeha mundur. Ia akan mencari waktu di mana Raga lengah seperti tadi. Ya, memang benar. Jeha hanya berani melawan Raga karena saat ini cowok itu sedang dalam keadaan tidak bisa membalas pukulannya. Tapi melihat Raga memukulinya sekeras tadi, Jeha yakin, amarah Raga sudah berada dipuncaknya. Itu tandanya, ia harus segera mengakhiri apa yang sudah ia mulai. Raga akan berubah menjadi iblis jika amarahnya mulai tak terkendali.

"Oke. Hanya lo. Tapi gue pastikan, gue akan rebut geng Baskara. Ah, dan satu lagi. Gue juga akan merebut Amora. Dia target baru gue."

Jeha tersenyum sinis sebelum akhirnya pergi dengan motornya diikuti kedua anak buahnya. Raga memejamkan matanya sejenak. Ghandi yang melihat itu langsung mengusap bahu Raga pelan. "Tahan, Ga. Jangan dilepas. Lo pasti bisa nahan."

Raga merenggangkan kepalan tangannya. Ia menghela napas panjang. Matanya kini beralih ke arah cewek yang tengah kebingungan. Raga menghampiri Amora. Matanya melirik seragam Amora yang terkena darah dari lengannya, kemudian beralih menatap Amora tajam. Tentu saja Amora tidak terima ditatap seperti itu. Memangnya dia melakukan kesalahan apa? Harusnya Raga menatapnya dengan tatapan terharu, karena Amora telah menolongnya dari ketiga cowok norak tadi.

"Apa? Kenapa lihatin gue gitu?" tanya Amora, sinis.

Raga tidak menjawab. Ghandi dan beberapa cowok yang tidak Amora kenal terlihat menahan tawa. Amora jadi tambah kesal. "Kenapa belum pulang?" tanya Raga dengan ekspresi datar.

"Ya gue mau pulang. Gak sengaja denger ribut-ribut di samping warung. Karena gue manusia berkepekaan tinggi, jadi gue samperin. Eh, ngelihat lo lagi di gebukin gitu kayak maling, gue mana tega?"

"Jadi, lo khawatir?" kali ini Raga terlihat mengulum senyumnya. Ya, meskipun sangat tipis sampai hampir tidak terlihat. Namun, mata Amora cukup jeli untuk melihatnya.

"Enggak tega, bukan khawatir. Gue yakin, telinga lo masih berfungsi dengan baik."

Raga mendengkus, lalu menarik tangan Amora begitu saja. Raga menghampiri Ghandi lalu mengulurkan tangannya. "Gue minjem motor lo."

"Tapi ... tangan lo?" Ghandi melirik ke arah kedua tangan Raga. Tangan kanan yang terlihat ada sedikit lebam, dan tangan kiri yang terluka.

Raga tersenyum simpul. "Gue masih bisa bawa motor. Tangan kanan gue udah gak terlalu sakit. Nanti langsung gue obatin, kok."

Seperti hewan peliharaan yang menurut dengan majikannya, seperti itulah Ghandi yang dengan cepat memberikan kunci motor tanpa berkata apapun. Amora heran, harusnya Ghandi tidak memberikan kunci motornya pada orang lain begitu saja. Ya, harusnya bertanya ke mana Raga akan membawa motornya. Tapi yang Ghandi lakukan justru sebaliknya.

Raga memberikan helm pada Amora. Cewek itu masih diam. Akhirnya, Raga sendiri yang memakaikan helm itu. Amora sempat ingin protes, namun saat melihat luka disudut bibir Raga, ia urungkan.

"Ayo naik!"

"Mau ke mana?"

Raga menatap Amora tanpa ekspresi. "Ke tempat yang mau gak mau akan menjadi tujuan lo mulai hari ini. Markas Baskara."

Markas Baskara? Artinya markas geng motor yang beberapa menit lalu datang menghampir mereka? Eh, tapi tunggu dulu. Amora menyentuh tas Raga, membuat cowok itu menaikkan sebelah alisnya. "Lo lagi gak bermaksud buat nyulik gue, kan?"

Raga tertawa mendengkus. "Coba kasih gue alasan, kenapa gue harus nyulik lo?"

Amora menggaruk alisnya. "Ya enggak ada alasannya, sih. Yaudah, tapi kenapa gue diajak ke markas maskara?"

"Baskara," kata Raga membetulkan.

"Iya pokoknya itu."

"Karena lo harus tanggung jawab. Lo udah ikut campur masalah gue sama cowok tadi. Jadi ... ikut gue sekarang, atau gue harus pake cara memaksa?"

Amora memutar bola mata malas, lalu naik keboncengan Raga. Motor itu melaju menembus angin sore yang begitu sejuk. Rambut Amora yang panjang tentu saja bergerak ke sana-sini mengikuti embusan angin. Tidak ada percakapan selama perjalanan. Lebih tepatnya, Amora malas bicara. Angin sore membuat rasa kantuknya semakin berat. Tak sadar, Amora sudah tertidur dengan menjadikan punggung Raga sebagai sandaran. Ayo maki gue. Maki aja sesuka kalian. Yang jelas gue ngantuk dan gak ada pilihan lain selain bersandar di punggung Raga. Masa bodo sama ekspresi cowok itu. Yang penting gue bisa tidur.

Tidak seperti dugaan Amora. Raga terlihat biasa saja, seolah tidak terkejut saat Amora bersandar di punggugnya. Setelah tiga puluh menit, mereka sampai disebuah rumah. Raga menggoyangkan tubuhnya, berniat membangunkan Amora. Bagus saja, cewek itu langsung bangun saat merasakan guncangan kecil Raga. Amora mengucak matanya. Lumayan, tidur selama 20 menit. Tanpa mendengarkan Raga, Amora langsung turun dan berajalan ke arah pintu. Cewek itu mengaggukkan kepalanya beberapa kali. "Lumayan, untuk tempat yang lo sebut markas. Menurut gue, ini lebih pantas disebut rumah kedua."

"Markas Baskara memang rumah kedua buat gue. Ayo masuk!"

*** 

Amora melangkahkan kakinya masuk ke dalam markas Baskara. Suasana sejuk langsung menyapa Amora. Jika kalian ingin tahu, markas ini benar-benar markas terbagus yang Amora temui. Setahunya, markas di novel-novel yang Amora baca selalu saja ada di rumah kosong, tempat rongsokan, atau tempat-tempat tak terpakai. Tapi markas ini, seperti markas yang ada di drama korea boys before flower tempat berkumpulnya F4. Amazing.

"Duduk dulu. Gue mau ke belakang. Lo mau minum apa?"

"Eng, kalo gak ngerepotin, sih, gue penginnya susu dikasih es batu yang udah di getok jadi kecil-kecil biar gue gampang ngunyahnya. Tapi kalo ngerepotin, air putih juga gapapa. Yang penting dikasih es batu."

"Makanannya?"

"Boleh minta makan juga? Oke, karena gue gak terlalu lapar, gue mau cemilan, apa aja yang rasa cokelat. Kalo bisa, sih, cake."

"Oke."

Tak lama, Raga datang membawa segelas susu dengan es batu yang sudah dihancurkan agak halus dan potongab cake cokelat di atas piring dengan sendok kecil disampingnya. Persis seperti permintaan Amora. Cewek itu menatap Raga tak percaya. "Gila. Ini markas apa kafe? Yang gue mau ada semuanya."

Raga tidak menjawab. Ia malah duduk disebelah Amora sambil menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata. Amora, sih, tidak terlalu peduli. Ia sibuk memakan cake cokelat yang menurutnya sangat enak. Persis seperti yang sering dibelikan Pak Sam untuknya. Setelah selesai menghabiskan cake nya, Amora mengusap perutnya yang kekenyangan. Makan makanan manis memang bisa membuat bahagia. Kalian harus coba.

"Udah?"

"Eh?"

Raga menyodorkan kotak p3k di depan Amora. "Tanggung jawab lo dimulai dari ngobatin luka gue."

Amora mengdengkus. Baru saja mood nya membaik karena makan cake cokelat, sekarang mood nya kembali jelek saat Raga meminta dirinya menjadi perawat dadakan.

"Tangan kanan gue sakit, gak bisa digerakin. Susah buat gue ngobatin lukanya sendiri."

Cih, padahal tadi bisa ngendarain motor. Sepik bae lo, bule setan!

"Mau bayar gue berapa? Gini-gini, keahlian gue mengobati luka harus dibayar."

Raga terkekeh. "Gue bayar pake hati gue, gimana?"

"Gak usah! Makasih!"

Raga mengusap dadanya yang agak sesak. Ia sempat memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang menyerangnya itu. Untungnya, Amora tidak menyadari itu.

Amora mulai mengeluarkan kapas dan alkohol untuk membersihkan luka Raga. Dimulai dari luka di lengan kirinya, lalu dahinya, yang terakhir sudut bibir. Amora, sih, biasa saja. Tapi tidak bagi Raga. Raga berusaha menahan debaran jantungnya agar Amora tidak bisa mendengarnya. Melihat Amora dengan telate mengobati lukanya, Raga tersenyum. "Ngapain lo senyum? Kesenengan karena dapet perawatan VIP dari gue?"

"Mulut lo, tuh, Ra. Bisa enggak, sehari aja gak ngegas ngomongnya?"

"Bisa. Tapi kalo ngomongnya sama lo bawaannya pengin ngegas mulu. Abis muka lo ngeselin. Gemes pengen gue cekik."

"Pshyco."

"More than that."

Saat itu, Ghandi dan juga yang lain baru saja sampai. Mereka langsung berhenti melangkah saat melihat Raga sedang diobati oleh Amora. Raga yang menyadari itu langsung menoleh, begitupun Amora.

"Udah, Ra," kata Raga sambil menghetikan Amora yang tengah mengelap tangan kirinya. Amora, sih, menurut saja.

"Ra. Kenalin, yang ini Ghandi-ketua Baskara," tunjuk Raga pada salah satu cowok berjaket hitam yag tadi sempat membantu Raga.

"Sebelahnya Ethan, Rasya, Ugha, sama Saka."

Keempat cowok itu melambaikan tangan seraya tersenyum ke arah Amora yang dibalas senyuman singkat oleh cewek itu.

"Mereka adalah beberapa dari anggota Baskara."

"Beberapa? Jadi masih banyak lagi?"

Raga mengangguk. "Jumlah kami ada 50 orang. Tapi, kami terbagi jadi beberapa kubu. Kita berenam adalah salah satu kubu tertinggi di Baskara."

Amora masih mendengarkan. Ya, meskipun ia tidak tahu apa niat Raga memberitahunya tentang hal itu.

"Mungkin lo bertanya-tanya, kenapa gue ngasih tahu ini sama lo."

Fix, Raga punya indera keenam. Tahu bae, lagi.

"Itu karena tanpa sadar, lo udah masuk ke dunia kami. Jeha-nama cowok yang tadi mukulin gue di belakang sekolah. Dia mantan anggota Baskara, dan dia salah satu anggota di kubu kami. Ada satu kejadian yang buat gue harus nendang dia keluar dari Baskara. Dia ga terima dan berniat balas dendam. Dia mau merebut Baskara. Dan sekarang, dia nargetin lo, Ra. Lo jadi target dia yang kedua."

"Lah, kenapa gue?"

Ghandi yang sejak tadi diam langsung angkat bicara. "Karena lo ada di sana waktu Raga dipukulin. Tanpa lo sadari, lo udah masuk ke lingkaran antara Baskara dan Raga."

Amora terdiam. Sedetik kemudian ia menyesali keputusannya untuk membantu Raga. "Kok, lo, gak bilang, sih, Ga? Tahu gitu, kan, gue enggak sok-sokan nolongin lo. Ah, nyesel gue sekarang."

Raga tertawa pelan, membuat Amora tambah sebal. "Lo cuma dijadikan sasaran oleh Jeha. Tapi, selama lo berada di dekat gue dan berada di sekitar anggota Baskara, lo akan aman."

"Ah, modus lo! Akal-akalan lo aja ini, mah. Gue gak percaya."

Raga menyilangkan kedua tangannya. "Terserah, kalo lo gak percaya. Tapi kalo lo digangguin Jeha, jangan minta tolong gue."

"Sebenernya lo itu siapa, sih? Di sekolah sok jadi anak Nerd yang sok pinter. Di luar sekolah sok make ikut geng-gengan segala. Ampe digebukin lagi."

"Gue Saraga Imanuel."

"Gue juga tahu nama lo!"

Raga tertawa pelan, begitu juga kelima cowok yang ada dihadapannya. Menyebalkan!

***

Related chapters

DMCA.com Protection Status