Share

Milliader Itu Mencintaiku!
Milliader Itu Mencintaiku!
Author: roomiegallery

01 Pertemuan yang Tidak Terduga (1)

Author’s POV

Naomi tidak pernah mempercayai sebuah kebetulan. Yang ia yakini, semuanya sudah dirancang dan diatur oleh Yang Maha Kuasa untuk saling bertemu atau saling menjauhi. Waktu terus berjalan dan roda kehidupan terus berputar. Tidak ada yang bisa membalikkan sebuah waktu karena Yang Maha Kuasa sajalah pemegang kendali kehidupan.

Dan sekarang ini dia diperhadapkan oleh seorang pria gagah yang tengah mendudukkan dirinya di depan pintu rumahnya. Pria itu tampak terengah-engah dengan nafas yang begitu cepat. Gadis mungil itu mendekat kepada sosok pria bermata tajam itu dan melihatnya melihatnya dari atas dan bawah, sebuah penampilan yang membawanya ke masa-masa putih abu-abu.

Pria itu belum menaikkan kepalanya, namun gadis itu sudah tahu siapa pria itu. Melihat sepasang kaki yang tengah melangkah kepadanya, pria itu mengangkat kepalanya dan alangkah kagetnya begitu ia melihat gadis mungil itu tengah menatapnya dengan datar dan dingin,

Pria itu adalah Alexander Louis, seorang pria yang berpenampilan bak dewa di sekolah Naomi dahulu sekaligus seorang pria yang pernah menempati posisi tertinggi di hati Naomi. Tatapan yang sama serta pembawaan yang masih terbawa saat kedua mata cokelat mereka bertemu. Rasanya persis ketika keduanya pertama kali bertemu. Tidak ada yang menyangka jika pria itu tiba-tiba masuk ke rumah gadis itu dengan nafas yang terengah-engah seakan seseorang tengah mengejarnya.

Gadis itu menatap pria itu dengan dingin seakan ia baru saja terciprat air dingin, sangking dinginnya, pria itu hampir tidak mengenal gadis itu untuk sementara waktu.

“Nao-mi?” panggil pria itu, membuka percakapan keduanya untuk pertama kalinya setelah sekian lama keduanya tidak bertemu,

“Apa yang kau lakukan disini?” ujar gadis itu dengan dingin,

“Aku tidak menyangka ini rumahmu,”

“Tidak menyangka katanya?” batin gadis itu dengan heran.

“Keluarlah dari rumahku,” perintah gadis itu yang langsung digelengkan pria itu,

“Tidak untuk saat ini, Naomi. Aku khawatir mereka masih berada di sekitar sini,” ujarnya sembari mengintip dibalik pintu. Gadis itu mengernyitkan dahinya, apa maksudnya dengan mereka dan sebenarnya apa yang sedang terjadi?

“Aku bilang keluar,”

Pria itu menggeleng,”Ku mohon, please. I’m begging you,

Gadis itu tidak sepenuhnya bisa menolak pria itu karena ia masih memiliki rasa khawatir dengan apa yang sekarang ini gadis itu lihat dari pria itu. Namun kekhawatiran gadis itu ia sembunyikan dan ia tutup erat-erat dengan maksud ingin melupakan pria yang pernah menyakitinya itu,

“Mana sih dia ini,” ujar seseorang yang terdengar dari luar.

Pria itu tersentak begitu ia mendengar suara bariton itu yang terdengar sangat dekat dengannya. Gadis itu bisa melihat jika pria itu tampak panik dengan suara tersebut. Dan kepanikan pria itu semakin terlihat begitu seseorang mengetuk-ngetuk pintu rumah Naomi dengan suara bariton yang mengatakan ‘permisi’ kepada sang pemilik rumah, yakni Naomi.

Penasaran dengan apa yang terjadi, gadis itu melangkah dan memegang knop pintu, bermaksud untuk membukakan pintu untuk suara bariton itu. Alex memegang kaki gadis itu dan menggeleng dengan cepat, namun gadis itu malah dengan sengaja menghentakkan kakinya hingga pria itu hampir tersungkur,

Dan Naomi benar-benar membukakan pintu untuk suara bariton itu, sementara Alex yang tersungkur itu terlihat pasrah terhadap gadis itu. Begitu gadis itu membuka pintunya, ia menemukan dua banci yang berdandan menor tengah menunggunya untuk bersuara,

“Mbak, ada lihat pria bersetelan jas hitam tidak?” tanya salah satu banci itu dengan sopan,

“Setelan hitam? Mereka mencari Alex?” 

Gadis itu mengangguk,”Aku melihatnya dia sedang berlari kesana,” ujarnya sambil menunjuk sebuah lorong yang berada di sebrang rumahnya. Kedua banci itu mengangguk mengerti dan berterimakasih kepada gadis itu.

Setelah kedua banci itu pergi, gadis itu kembali masuk ke dalam rumahnya, mendapatkan pria itu yang sedang terduduk di samping pintu. Kedua mata mereka saling beradu, namun berbeda dengan pria itu, gadis itu seakan tidak menginginkan ucapan terimakasih dari pria itu.

“Terimakasih, Naomi. Kau benar-benar menyelamatkanku,”

Gadis itu melihat tampilan pria itu yang urak-urakan. Sepertinya banci itu mengejarnya karena pria ini sangatlah tampan, tidak heran banci-banci itu mengejarnya seakan ia adalah mangsa yang empuk untuk para banci itu,

“Aku baru tahu sekarang kau bermain dengan banci,” ledek gadis itu dengan senyuman remehnya,

“Siapa bilang aku mainannya banci. Aku masih normal tau! Mereka aja yang tiba-tiba ngejar aku. Mungkin karena aku terlalu tampan makanya mereka menargetkanku,” ujarnya, membuat gadis itu seakan menatapnya dengan penuh ejekkan.

“Kau bangga dengan hal itu? Wah, impressive,” ujarnya dengan angkuh. Pria itu kemudian berdiri, hendak menghampiri gadis itu. Namun gadis itu tampaknya tidak ingin berurusan banyak terhadap pria itu, terlihat dari dia yang memundurkan tubuhnya dari pria itu. Menyadari hal itu, pria itu berhenti melangkah dan memilih untuk diam di tempatnya.

“Pergilah sebelum mereka kembali,” ujar gadis itu, berupaya untuk berbalik dari pria itu. Namun, belum sempat ia melangkah, pria itu menahan tangannya, seakan memintanya untuk bersamanya untuk sementara waktu.

“Kau tidak berniat untuk berkata sesuatu setelah perjumpaan kita yang sudah lama ini?” ujar pria itu dengan sangat. Semua ini adalah salah pria itu yang membuat gadis itu semakin dingin dengannya. Jikalau saja ia dengan cepat menyadari perasaannya, sudah pasti ia akan terus bersama dengan gadis ini hingga detik ini juga.

Percintaan yang dimulai dari taruhan memanglah bukan hal yang tabu untuk beberapa orang dan kelompok. Pada saat itu, Alex hanya memainkan peran seorang pria yang terlihat sangat mencintai Naomi hingga pada akhirnya gadis itu pun luluh dengan segala tipu daya pria itu hingga keduanya tidur bersama.

Tentu saja Alex memenangkan taruhan tersebut dan ia mendapatkan uang yang berlimpah setelahnya. Alex sengaja membuat gadis itu mencintainya dengan sangat, sebelum dia mencampakkan gadis itu seakan ia adalah mainan yang sudah rusak. Tidak hanya sampai disitu, gadis itu menjadi bahan fantasi liar teman-teman pria itu karena beberapa foto tak senonoh yang pria itu sebarkan ke teman-temannya.

Gadis itu mengetahui semuanya saat ia hendak mencari pria itu untuk pulang bersama dengannya. Dan secara tidak sengaja, gadis itu mendengar semua yang menjadi perilaku busuk pria itu dengan teman-temannya. Seketika itu juga, perasaannya terhadap pria itu mendingin. Dengan urat malu yang sudah putus, gadis itu menghampiri mereka dan merobek semua foto-foto tersebut lalu melemparkan semua foto tidak senonoh itu kepada Alex.

Hari itu adalah hari yang tak terlupakan bagi gadis itu. Hari itu juga yang mengubah gadis itu yang semakin tidak percaya dengan pria manapun.

“Naomi…” panggil pria itu dengan lembut. Hingga saat ini ia menyesali apa yang menjadi perilakunya dan begitu gadis itu meninggalkannya, disaat itulah ia perlahan mulai menyadari perasaannya yang sesungguhnya. Namun nasi sudah menjadi bubur, gadis itu pindah sekolah dan tidak lagi bertemu dengan pria itu.

“Pergi,” ujarnya dengan enggan berbalik kepada Alex.

“Maafkan aku, Naomi…” lirihnya dengan sangat. Gadis itu berusaha untuk tidak mengguncangkan dirinya terhadap apa yang dikatakan pria itu katakan. Baginya, apapun yang pria itu katakan, semuanya itu hanyalah sebuah kebohongan belaka, seperti apa yang pernah ia lakukan dulu kepadanya.

Semuanya palsu.

“Aku tidak ingin mendengar apapun darimu,” ujarnya, sebelum pria itu melangkah untuk menghadang gadis itu berjalan. Ia ingin gadis itu melihat betapa menyesalnya ia dengan apa yang sudah ia lakukan kepada gadis itu. Ia memegang kedua tangan gadis itu, namun gadis itu menghentakkan kedua tangannya seakan tangan pria itu adalah penyakit sampar yang akan menular kepadanya,

“Maafkan aku,”

“Aku sudah memaafkanmu,” ujar gadis itu. Mendengar dari apa yang dikatakan oleh gadis itu, raut wajah pria itu menunjukkan kelegaan seakan beban yang ada dipundaknya sudah diangkat. Namun meskipun begitu, ekspresi gadis itu tidak menunjukkan kehangatan apapun.  

“Jadi, pergilah.” Ujar gadis itu, melewati pria itu yang masih berdiri di depannya.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Saputri
Mampir thoorr
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status