Good Sister
Good Sister
Author: Ayasa

Prolog

Desahan terdengar jelas pada setiap sudut ruangan. Gadis itu kesulitan menutup mulutnya yang terus mengeluarkan suara, apalagi menahan diri untuk tidak melakukannya. Tubuhnya terimpit di antara tembok dan sebuah dada bidang, tangannya terkunci oleh sepuluh jari-jari yang panjang begitu pula kakinya yang dilingkari oleh kaki jenjang lain. Pergerakan sangat sulit untuk dilakukan. Ia juga diserang kemiskinan oksigen, lantaran tempat pertukarannya tengah dibuat jengah oleh orang yang sama. Ia kesulitan memberi penolakan, karena tiap kali ia mencoba bicara, ia digagalkan oleh sepasang bibir yang terus menolak lepasnya ciuman.

Tidak satu atau dua kali gadis itu mencoba mencari kebebasan dengan mendorong orang yang menginvasinya mundur. Namun semua yang ia lakukan berujung kegagalan. Semakin dia memberontak, ia semakin menyesalinya. Respon yang ia terima setelah itu adalah ketidakbebasan yang bahkan berakhir menyakitkan.

Akar-akar rambutnya terasa sakit karena terus tertarik dan terulur. Genggaman berubah menjadi cengkraman, tangannya tidak bisa bergerak bahkan terasa begitu nyeri. Ia lelah mencoba untuk tetap berdiri tegap. Lehernya juga sakit karena terus dipaksa mendongak ke atas. Belum lagi perasaannya yang bercampur aduk, mengingat siapa orang yang tengah menciumnya sebegitu kasar ini.

Namanya Luna. Seorang gadis berusia delapan belas yang sekarang masih berada di tahun kedua sekolah menengah atas. Kepribadiannya biasa saja, bukan tipe sanguinis yang akan mendominasi. Intelektualnya juga standar, bukan siswa berprestasi kebanggan sekolah ataupun seorang pengacau yang langganan ruang Bimbingan Konseling. Dia hanya seorang siswi sekolah biasa, kecuali satu hal. Dia cantik. Kecantikan seseorang memang relatif, tetapi dia cukup pantas menyandang gelar itu. Ia juga baik, terbukti dengan banyaknya teman yang senang berada di dekatnya.

Baru-baru ini ada sedikit perubahan dalam hidupnya. Dia yang sejak kecil dibesarkan oleh seorang ibu tunggal, sekarang telah memiliki keluarga baru. Ibunya menikah dengan seorang duda kaya, sebuah keberuntungan karena seketika keadaan keluarga mereka menjadi lebih baik. Lagi, impiannya memiliki saudara laki-laki terwujudkan, karena sang ayah baru ternyata mempunyai seorang anak yang usianya beberapa tahun lebih tua darinya. Seorang kakak yang akan melindunginya, impian masa kecil yang dulunya mustahil itu akhirnya terwujud.

Namun, Luna harus dikejutkan dengan apa yang ia alami saat ini. Kakak barunya itu, dia orang yang sedang menciumnya dengan penuh nafsu.

“Kakak!”

Sebuah kata berhasil lolos dari mulutnya, ia melenguh karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit di punggung, tangan, dan bibirnya. Kakinya gemetar, terlalu ketir untuk berdiri lebih lama lagi. Akhirnya ada sedikit kebebasan ia terima, karena sang kakak mau memberikan jeda pada ciumannya.

Luna hampir terjatuh jika tidak ada sang kakak yang memeluknya. Dia kesulitan bernapas, apalagi berdiri. Mungkin bukan pilihannya bersandar pada dada sang kakak, tetapi ia tidak bisa menahan beban tubuhnya hanya untuk sebentar.

“Ada apa?” Suara lelaki itu cukup berat, terdengar sela-sela katanya disisipi oksigen dan karbondioksida yang bertukar cepat. Itu menjelaskan bukan hanya Luna yang kesulitan bernapas karena aktivitas tadi. Namun, berbanding terbalik dengan Luna, ia memasang ekspresi senang dengan senyum kecil di bibirnya. “Kau suka dengan ciumanku?” Nada bicaranya diubah menjadi lebih rendah, menyentuh titik sadar Luna segera.

Gadis itu menyadari posisi dirinya berada dalam pelukan si kakak, dengan cepat ia mendorong dada lelaki itu menjauh darinya. Tidak banyak jarak yang terjadi, karena gerakan mundurnya tertahan oleh tembok dan sang kakak yang terlalu kuat untuk berpindah jauh hanya karena dorongan kecilnya.

“Kakak, mengapa menciumku?”

Pria yang dipanggilnya kakak itu tertawa, seperti apa yang didengarnya adalah lelucon terlucu. “Kau bertanya mengapa?” Pertanyaan dibalik pertanyaan, Luna tersentak saat tiba-tiba pria itu kembali mendorongnya ke tembok, menarik dagunya ke atas seraya menempatkan dirinya kembali dalam ketidakbebasan.

Luna berjinjit ketika dagunya diangkat terlalu tinggi. Kekhawatirannya menjadi ketika kakak yang dikenalnya beberapa bulan itu terlihat begitu menakutkan, menyeringai menatapnya dengan penuh konotasi. “Mulai sekarang kau harus menuruti semua yang aku katakan. Kau mengerti?”

“Tapi—“

“Peraturan pertama, tidak boleh ada kata ‘tapi’.”

Luna mencoba untuk mendorong lelaki itu menjauh sekali lagi, namun ia gagal. Dia terlihat semakin menakutkan. Napas Luna mencekat seraya cengkraman di dagunya semakin menyakitkan.

“Peraturan kedua, tidak boleh ada penolakan.” Pria itu melanjutkan narasinya tanpa peduli.

“Kakak, aku harus segera pulang. Mama akan mencariku.”

“Peraturan ketiga, kau akan kuperkosa jika kau melawanku.”

Seketika jantung Luna hampir terjatuh. Matanya membulat setelah mendengar kalimat sang kakak. Mereka terlalu mengerikan sampai ia tak bisa berkutik.

Seringai berubah menjadi senyuman yang dipaksa bersahabat, cengkraman melemah dan berakhir, pipi Luna diusapnya lembut. “Kalau kau menurut, aku mungkin akan bersikap baik padamu.”

To be continued

by Ayasa

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Felicia Aileen
nice opening cant wait to read the next chapter.. boleh kasih tau akun sosmed ga ya soalnya pengen aku share ke sosmed trs tag akun author :)
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status