Stampel Kepemilikan

"Grace!"

Kualihkan pandangan pada sumber suara. Di sana, Jo tampak berdiri mengepalkan kedua tangannya. Matanya memerah dengan deru napas yang seolah-olah tengah memburu, menahan amarah. Kudorong pria bertubuh tambun itu menjauh agar terlepas dari kungkungannya. Meski energi gairahnya masih kuisap perlahan. Meski akulah yang memancingnya sedari awal.

Jo mulai melangkah, mendekati kami yang sedari tadi telah sibuk mengulur gairah dalam keremangan pagi. Dalam sekian detik, ia melayangkan bogem mentah pada si tua keladi. Tubuh tambunnya meringkuk di tanah, darah segar mengalir dari kedua lubang pernapasan.

"Kurang ajar!"

"Kau yang tak tahu diri, Pak Tua!"

Otot-otot dari lengan Jonathan yang kekar tampak menegang. Telunjuknya yang mengacung pun terlihat gagah.

"Siapa kau hingga berani memukulku?" tanya si Tua Keladi yang bangkit sembari membetulkan ikat pinggang.

Entah mengapa aku tertawa. Sepertinya akan ada drama kolosal yang tayang secara langsung.

"Grace milikku! Tak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya selain aku!"

Mendengar ucapan Jonathan, membuatku merasa begitu diinginkan. Baru kali ini, seorang pria dengan lantang mengakui kepemilikan atas diri ini. Entah lancang atau tidak, tapi rasanya tak ada yang salah. Hati pun terasa berbunga saat ia dengan senang hati mengakuiku sebagai miliknya.

"Lalu, mengapa kaubiarkan ia berjalan pulang sendirian dalam keadaan mabuk, huh?"

"Aku tak butuh pertanyaanmu! Dia seumuran dengan anak gadismu, kan? Kautahu itu!"

Rupanya mereka mengira aku dalam keadaan tak sadar karena minuman beralkohol rendah. Sementara Jo masih asyik mendebat si tua bangka, dengan cepat kulangkahkan kaki meninggalkan keduanya. Masa bodoh dengan perdebatan mereka, aku hanya ingin terbang bebas selayak hati yang tengah terbang tinggi dalam angan.

Lantas, kukerutkan kening sembari kembali menoleh ke belakang. Melihat Jo berkacak pinggang di depan si tua bangka. Ada apa ini? Mengapa aku merasa begitu bahagia, padahal ia hanya meracau dalam perkelahian karena hendak membela. Terlebih, ia dalam pengaruh alkohol, 'kan?

"Lihatlah, dia meninggalkanmu!"

"Itu karenamu!"

Aku tak lagi tahu apa yang diperbuat Jo pada si tua bangka. Setelahnya hanya lengkingan panjang memilukan yang terdengar, lalu tak lama jemariku seakan-akan menghangat. Kutatap tangan yang telah tergamit lengan kekar.

Jonathan, ia di sampingku. Berjalan beriringan sembari menggenggamku erat. Tiba-tiba saja kerongkonganku kering kerontang. Kutelan air ludah dengan susah payah.

"Kenapa kau berkelahi dengannya?" tanyaku sembari membuang pandangan.

"Kau telah kuselamatkan! Setidaknya katakan terima kasih, Nona."

"Ah, baiklah jika kau memaksa. Terima kasih, Jo."

"Kau sedang panas?"

"Tidak juga, aku hanya iseng saja untuk melayaninya."

Sontak, ia mengempas tanganku begitu saja. Lalu memegang kedua bahuku erat, menyejajarkan wajah dan menatapku lekat. Seakan-akan penuh tanda tanya sebelum akhirnya ia berteriak kesal. 

"AH! Gila!"

Kukerutkan kening saat melihat Jonathan tampak frustrasi. Tangan kirinya berkacak pinggang, sedangkan tangan kanannya menghantam sebuah penyekat rumah.

"Ada apa? Tanganmu tak sakit?"

"Iseng katamu?"

Lihatlah, kini wajahnya diperam tanya. Kedua matanya melotot sempurna, sedang warna hazelnya berkilau ditempa pantulan cahaya lampu nun jauh di sana.

"Iya," jawabku cepat sembari kembali berjalan. Aku tak ingin terpaku melihatnya.

"Apa kau tak lagi punya harga diri, Grace?"

"Harga diriku lebih tinggi dari apa pun, Jo, jangan pertanyakan itu!"

"Lalu mengapa kau menikmatinya? Disentuh pria hidung belang yang tak kaukenal. Mengapa tak kaucoba saja denganku, huh?!"

"Siapa bilang aku menikmatinya? Baru saja hendak kuberi ia pelajaran saat tiba-tiba kaudatang menghancurkan rencana yang telah matang."

"Ah, kau benar-benar gila rupanya!"

"Kau telah berjanji untuk membawaku berkeliling kota, bukan? Kutunggu pagi nanti, di depan kafe kemarin."

"Kau tak memberiku waktu untuk istirahat, huh?"

"Sedari tadi, kau telah tidur dalam ketidaksadaran. Kini waktuku untuk memejamkan mata barang sekejap."

Lalu tak lagi kudengar suara baritonnya yang khas. Aku melangkah pulang lalu bersiap kembali untuk bertemu dengannya. Seharian menjaganya dan saat bulan bersinar terang dengan senang hati akan kuhisap seluruh darah yang kini masih kubiarkan mengalir dengan tenang.

Setidaknya aku butuh tidur untuk memeluruskan badan, melepas segala penat akibat aktivitas remeh yang sering dilakukan.

Mentari kembali menyapa saat kubuka mata perlahan. Kantuk yang masih mendera, membuatku sedikit sulit membuka mata dengan lebar. Jam masih menunjuk angka tujuh, saat kulangkahkan kaki gontai untuk membersihkan diri.

Jam delapan tepat, aku sudah duduk di dalam kafe tempatku bertemu Jo untuk kali pertama. Tanpa diduga, ia keluar dari salah satu ruang karyawan tak jauh dari tempatku duduk. Aku berdecak kesal, karena kondisinya yang masih amburadul.

"Kau tidur di sini?"

"Yah," jawabnya.

"Kau kenal pemilik kafe ini?"

"Akulah pemilik kafe ini, Nona."

Takdir yang mengesankan. Ia tahu banyak hal mengenai Rose karena ialah pemilik kafe sekaligus tetangganya. "Jangan-jangan, kafe semalam juga milikmu?"

Ia mengangguk sebelum akhirnya menenggak habis minuman yang baru saja disajikan pramusaji. "Hei, itu pesananku, Owner!"

"Diamlah, Grace! Tunggu di sini, aku akan segera kembali."

Tanpa kujawab, ia telah berlalu pergi. Kulihat ia berbisik pada seorang pramusaji lalu punggungnya menghilang di balik ruangan yang lain. Sementara aku kembali melihat ke jendela kaca, mengamati seorang ibu paruh baya yang sedang menggandeng puterinya. Lantas menghilang di balik pintu toko mainan, meninggalkan Rose yang kembali menatap jalanan yang ramai kendaraan berlalu-lalang.

Tak lama, sebuah gelas plastik telah disajikan pramusaji di meja. "Ini pesanan dalam bentuk take away, Kak. Semoga berkenan."

Kuulas senyum sebelum ia pergi berlalu, meninggalkan segelas minuman dingin yang mulai berembun. Tak butuh waktu lama, Jo kembali datang dengan penampilan yang lebih segar. Sesegar air yang hendak menetes dari anak rambutnya. Begitu memesona. 

"Ayo, kita pergi!"

Berjalan kaki bersama mangsaku sendiri terasa kian aneh. Ada yang membuatku canggung. Jika saja bukan untuk kepentinganku nanti malam, tak 'kan sudi aku melangkah dengan pria di depan umum. Pada siang hari pula.

Sesampainya kami di halte, tak perlu menunggu lama, bus kota pun tiba. Kendaraan umum itu tampak besar dari biasanya. Ah, iya benar, ada dua lantai rupanya.

Bus berhenti tepat di depan kami berdua. Lantas, Jonathan menggamit jemariku dan menariknya pelan. Ia menuntunku hingga duduk di lantai atas tanpa atap. Tak ada seorang pun di sini, padahal cuaca sedang cerah.

Angin berembus meniup anak rambut  yang susah payah kukendalikan. Tangan kekar itu meraih sesuatu, lalu mengumpulkan rambutku dalam satu genggaman. Sedetik kemudian, kembali ia lepaskan. 

"Apa yang kaulakukan, Jo?"

"Aku ingin menguncir rambutmu, tetapi saat leher jenjangmu terekspos aku jadi ragu."

"Mengapa? Bukankah itu tampak indah?"

"Tentu saja indah, tapi tak baik untuk tontonan publik."

"Boleh kutanyakan sesuatu, Jo?"

Kulihat ia mengangguk sembari terus menatap jalanan di bawah. Segala pemandangan kota terlihat mengesankan saat dinikmati dari bus tingkat tanpa atap. Seakan terbang tapi tak melelahkan, pun terasa lebih lambat.

"Siapa Jean?"

Lantas, ia menoleh dengan cepat sembari menatapku lekat. Iris cokelat hazelnya kembali membuatku bergeming dalam sekejap.

"Dia wanita yang paling kucintai dan kurindukan, Grace," ujarnya tanpa mengalihkan pandangan.

Entah apa yang terjadi, tapi tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang sakit dalam dada. Kuraba dada perlahan, saat Jo tak lagi menatapku lekat. Tak ada luka apa pun, tapi mengapa aku merasa ada yang terperih di sana? Di dada.

Kualihkan pandangan pada jalanan yang tampak lengang, sembari menahan gejolak yang ada. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba mataku panas dan berair. Semua memburam sama halnya dengan kaca yang mengembun setelah badai salju datang menerpa. 

Inikah badai dalam hidup? Telah satu abad kujalani hidup tanpa badai, bahkan tanpa air mata. Kini, untuk kali pertama dalam hidup sebagai manusia setengah dewi, aku menangis. Lekas kuusap kasar ujung mata, lalu menatap angkasa luas. Berharap air bening itu kembali masuk ke lubangnya dan tak lagi keluar. 

Ada apa denganku? 

Setelah berhasil mengontrol diri, kembali kupanggil ia perlahan. "Jo?"

"Iya?"

"Tadi saat berkelahi dengan si tua bangka, kau mengatakan bahwa aku hanya milikmu. Apa aku sepenting Jean bagimu?"

"Apa maksudmu, Grace? Bukankah kau adalah temanku? Sudah pasti aku akan membela temanku meski harus berbohong. Jean jauh lebih penting bagiku. Rasanya aku tak mampu hidup tanpanya."

Senyumnya terulas begitu saja, menunjukkan sebuah ketulusan. Kini, kuarahkan pandangan pada jendela kaca. Tak lagi mampu kubendung air bening yang kini merinai hebat. Menganak sungai hingga sampai ke muara dagu yang terus membasah. Menyisakan luka yang tak kasat mata.


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status