INICIAR SESIÓNSetelah bencana besar meruntuhkan peradaban modern, Raja Doli Manalu, seorang pemuda sederhana, terlempar ke masa lalu yang kelam—era Kekaisaran Bakkara yang megah namun busuk. Di sini, nilai seorang manusia ditentukan oleh kasta, dan keadilan hanyalah dongeng bagi si miskin. Menyaksikan pejabat yang semena-mena dan rakyat yang terpecah dalam egoisme, Raja Doli dihadapkan pada pilihan sulit. Menjadi sastrawan terhormat yang bungkam di bawah kaki penguasa, atau mengangkat pedang demi mereka yang tertindas? Dalam dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, Raja Doli memilih jalan berdarah: menanggalkan martabatnya sebagai kaum terpelajar demi menjadi Raja Bandit yang ditakuti sekaligus dicintai.
Ver másSepasang tanganku menari lincah di atas keyboard dan mouse. Ritme ketukan yang tercipta membentuk semacam simfoni yang hidup. Cahaya layar memantul terang, dan di sana—lawan yang kuhadapi tumbang dalam semburan darah digital.
“Ha ha.” Aku tertawa pelan sambil mengangkat tanganku, meraih rokok yang terselip di sudut bibir. Asap putih keperakan telah membentuk garis panjang di udara, namun sebagai Raja Doli, aku tidak terpengaruh. Mouse tetap kugerakkan, keyboard tetap kupukul cepat dan presisi. Dengan satu gerakan singkat, rokok itu kulepaskan dan kupadamkan di asbak berbentuk unik di atas meja, sebelum jemariku kembali melesat ke atas tombol-tombol.
Tepat ketika aku hendak mengejek lawanku yang baru saja tumbang, seluruh ruangan PC administrasi—tempat aku biasa berjaga dan bekerja sebagai operator—bergetar hebat. Satu dentuman keras terdengar, mirip suara ledakan.
Suara itu menghantam telingaku, membuat kesadaranku perlahan mengabur. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang keras, begitu kuat hingga dalam hitungan detik aku tersungkur tidur di atas meja kerjaku tanpa sempat memahami apa yang sebenarnya terjadi.
*
Gunung Sibalga – Desa Parombunan
Di punggungan Gunung Sibalga, udara pagi terasa begitu jernih, seolah baru saja disaring oleh embun yang menggantung di pucuk dedaunan. Desa Parombunan, yang terhampar di kaki gunung, tampak seperti permadani hijau, di mana sawah dan kebun warga berpadu dengan sungai kecil yang berkilau diterpa sinar mentari pertama. Burung-burung berkicau lincah, menciptakan simfoni alam yang hanya bisa ditemukan jauh dari hiruk-pikuk kota.
Pepohonan rimbun menyelimuti lereng gunung, menghadirkan aroma tanah basah dan semak liar yang tumbuh bebas di antara bebatuan. Sesekali terdengar ranting patah, menandakan langkah rusa atau hewan liar lain yang menjadi penjaga sunyi hutan. Semakin tinggi mendaki, semakin sejuk angin berhembus, membawa pesan dari puncak: ketenangan, kebebasan, dan keagungan alam.
Kabut tipis berkelindan di sela lembah, menambah kesan misterius pada lanskap yang memukau. Dari atas, Desa Parombunan tampak kecil namun penuh kehidupan—rumah-rumah yang saling berdekatan, ladang yang dijaga penuh cinta oleh para petani, serta jalan tanah yang menjadi jalur harian bagi siapa pun yang ingin menyatu dengan alam.
Gunung Sibalga bukan sekadar pemandangan indah; tempat ini adalah ruang di mana hati seolah kembali menemukan akarnya: sederhana, damai, dan menyatu dengan ciptaan Tuhan. Alam berbicara dalam diam di sini, mengajarkan bahwa keindahan sejati sering tersembunyi di tempat yang belum tersentuh keramaian.
Namun itu adalah keadaan dulu, ketika Desa Parombunan masih dipimpin pemimpin lama mereka.
Kini, yang tersisa hanyalah bangunan roboh, daun dan ranting beterbangan diterpa angin. Desa itu kini kosong, sunyi, seolah menjadi desa mati tak berpenghuni. Warga setempat dipaksa meninggalkan wilayah itu oleh para bandit gunung, yang memilih bertahan di desa. Mereka menuntut persembahan dan penghormatan, mengubah tempat yang dulu damai menjadi sarang penindasan dan ketakutan.
“Ketika pemimpin lama masih ada, kita begitu kuat,” ujar pria jangkung itu, bersiap meninggalkan Desa Pegunungan Sibalga. Kantong kain seadanya tergantung di bahunya. “Bandit-bandit di sekitar desa pun harus menghormati kita.” Ia menatap rekannya, yang juga bersiap ikut pergi.
“Namun, ketika pemimpin itu meninggal, semua saudara yang tersisa malah meninggalkan pemimpin baru dan melarikan diri. Kita satu-satunya yang tersisa sekarang,” sahut rekannya, seorang pemuda dengan wajah tegas bersiluet petak.
“Tentara kerajaan pasti akan datang untuk memberantas para bandit segera. Kita bahkan tidak bisa bertahan menghadapi mereka—jika tetap di sini, kita hanya akan mati. Kita harus segera meninggalkan pemimpin baru sebelum terlambat!” teriak pemuda jangkung itu, ketakutan membayangkan kedatangan tentara kerajaan yang tak bisa dielakkan.
“Sial! Pemimpin baru baru berusia delapan belas tahun, masih terlalu muda, dan belum tahu apa-apa. Dan kalian sudah berencana meninggalkannya?!” seru seorang pria lain, yang membawa dua kantong terikat di setiap ujung tongkatnya, bersiap meninggalkan desa.
“Mereka yang ingin meninggalkannya, pergilah sekarang juga!” lanjutnya dengan semangat berkobar, sebelum melompat dan berlari meninggalkan kedua pemuda tadi.
“Oke… Kami juga akan pergi,” jawab mereka dengan tekad bulat, memutuskan untuk meninggalkan desa kelahiran mereka demi keselamatan.
Ugh…
Seorang pemuda tampan dengan kulit putih, tubuh ramping, dan rambut panjang yang terikat sebahu, duduk di atas Kursi Tahta Kedudukan sang pemimpin lama.
“Kepalaku… sakit sekali,” batinku, merasakan nyeri yang begitu menusuk hingga hampir membuat pikiranku hancur.
Kenangan demi kenangan menerobos masuk, menumpuk di otakku tanpa bisa kubendung, hingga rasa sakitnya nyaris membuat kepalaku geger.
“Apakah semua kenangan ini yang terus mengalir ke pikiranku?” gumamku, mencoba memahami apa yang terjadi.
Dunia terasa berguncang, seperti gempa yang pernah kurasakan sebelumnya. Perlahan, aku membuka mata saat rasa sakit mulai mereda.
Aku menatap ke kanan dan ke kiri, mengamati ruangan di sekitarku. Semuanya begitu berbeda dari tempatku sebelumnya. “Apakah aku… dipindahkan ke dunia lain? Atau kembali ke masa lalu…?” pikirku, pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di kepalaku, diproses oleh otak yang bisa dibilang sedikit jenius.
Seingatku, sebelumnya aku tengah bermain game strategi bernama RISE KINGDOM.
Bukankah tadi terjadi gempa dan ledakan? Lalu, bagaimana aku tiba-tiba bisa berada di sini? Bagaimana bisa aku terbangun di dunia asing yang sama sekali tidak kukenal…?
Yang lebih aneh, kenangan dan tubuh ini seolah menyatu—seakan aku menjadi pemiliknya.
Aku kini berada di sebuah desa terpencil bernama Desa Parombunan.
“Aku… ditinggalkan di sebuah rumah kumuh… dan tubuh yang kupakai saat ini adalah tubuh pemilik rumah ini…” batinku, mencoba mencerna kenyataan yang tak masuk akal itu.
Bakkara adalah sebuah negeri ras Batak yang didirikan 400 tahun lalu, dipimpin oleh seorang raja bernama Sisingamangaraja I. Di bawah kekuasaannya, terdapat 100 kota dan 10 provinsi. Kekaisaran Bakkara sendiri pernah menguasai lautan dan daratan yang luas, menjadi salah satu kerajaan terbesar pada masanya.
Istana Kekaisaran Bakkara berpusat di Provinsi Toba, sementara 10 provinsi lainnya adalah:
Provinsi Kerajaan Dairi
Provinsi Kerajaan Humbang Hasundutan
Provinsi Kerajaan Labuhan Batu
Provinsi Kerajaan Mandailing Natal
Provinsi Kerajaan Pakpak
Provinsi Kerajaan Samosir
Provinsi Kerajaan Simalungun
Provinsi Kerajaan Tapanuli Selatan
Provinsi Kerajaan Tapian Nauli
Provinsi Kerajaan Tapanuli Utara
Namun itu semua sudah lama berlalu.
Saat ini, kekuatan Kekaisaran Bakkara mulai melemah, dan rakyatnya menderita akibat perang tanpa akhir yang telah berlangsung bertahun-tahun. Mereka yang tidak mampu bertahan hidup, tak punya pilihan lain selain menjadi bandit gunung. Dunia ini kini dipenuhi oleh mereka—bandit-bandit yang menguasai pegunungan dan desa-desa terpencil. Desa Parombunan adalah salah satunya.
Ketika sang pemimpin lama masih memimpin, Desa Parombunan cukup kuat dan terkenal di Gunung Sibalga. Namun belum lama ini, pemimpin itu meninggal dunia, dan sebagian besar warga melarikan diri. Sekarang, hanya aku yang tersisa.
“Huh…” Aku menghela napas, menatap sepi desa yang dulunya ramai.
Tik… tik…
Di lereng pegunungan yang menghubungkan Kota Sibalga menuju Pegunungan Parombunan, rombongan itu bergerak membelah sunyi. Raja Doli berkuda dengan suhu tubuh yang masih terasa panas membara—sisa energi dari pertarungan hebat tadi—sementara para bawahannya mengikuti dari belakang, mencoba menikmati semilir angin pegunungan yang bertiup sepoi-sepoi namun membawa rasa dingin yang nyaris tak tertahankan.Di sepanjang jalan, Raja Doli menatap lurus ke depan, sesekali mendongak ke langit yang luas, merenungi rangkaian kejadian gila yang baru saja ia lalui. Rasa penasaran akhirnya memuncak, ia menoleh ke arah pemuda gagah yang berkuda di sampingnya."Zilong, orang yang kau cari... apa itu Liu Bei Tiga Bersaudara?" tanya Raja Doli memecah keheningan."Tentu saja!" jawab Zilong singkat, namun penuh keyakinan."Bagaimana kalian bisa bertemu satu sama lain untuk pertama kalinya?" Raja Doli bertanya lagi.Meskipun ia tahu sejarah besar Daratan Cina tentang persaudaraan Liu-Guan-Zhang dan kesetiaa
Ketegangan di atas jembatan itu mencapai puncaknya. Jadin, yang sudah sekarat dan bersimbah darah, masih saja mencoba mempertahankan egonya yang hancur."Dan sebagainya... Apa kau percaya pada keadilan?" Raja Doli mengulangi pertanyaannya. Kali ini, suaranya tidak lagi gemetar; aura yang menggebu-gebu keluar dari tubuhnya, menekan udara di sekitar jembatan hingga terasa menyesakkan."Uhuk...!" Po Jadin terbatuk darah, namun ia masih memaksakan diri untuk bertumpu pada lututnya yang gemetar. Ia mencoba bangkit dari keterpurukan untuk yang kesekian kalinya, sebuah sisa-sisa harga diri dari seorang penguasa bar-bar.Raja Doli menatapnya dengan pandangan menghina. "Gelar Serigala di pundakmu memang tidak sia-sia, Jadin. Tapi hari ini, aku akan memberimu kehormatan baru: seekor harimau yang ditebas mati. Kau seharusnya bangga, gelarmu naik tingkat tepat di saat ajal menjemputmu. Lihatlah dunia untuk terakhir kalinya..."
Suasana di atas jembatan yang hancur itu mencekam. Angin berembus kencang, membawa aroma besi dan darah yang beradu di udara. Di tengah jembatan tanpa pagar yang tersisa, Raja Doli dan Meurah Po Jadin—sang Kesatria Serigala—saling mengunci pandangan."Berjuanglah, kawan...!" seru Zilong dari kejauhan, suaranya teredam oleh dentuman langkah kuda yang menjauh, meninggalkan dua petarung itu dalam duel penentuan nasib dan kehormatan.Raja Doli memantapkan kakinya. Keraguan di matanya kini perlahan memudar, berganti dengan api tekad yang menyala. Ia sadar, pedang miliknya adalah satu-satunya jalan untuk menebus harga diri yang sempat terinjak.Hah.... Raja Doli membuang napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Di sisi lain, Po Jadin terlihat menahan perih yang luar biasa. Lengannya yang terluka parah terus mengucurkan darah segar yang membasahi lantai jembatan, namun cengkeramannya pada gagang Storm A
Di tempat lain, Bangsa Tamiang sudah mengejar para pasukan dan para sukarelawan dari Kota Sibalga, dan melarikan diri ke segala arah.Mayat berserakan di atas tanah seperti bangkai hewan yang tak berarti, terkena panah di kepala dan dada tepat mengenai jantung, tangan dan kaki yang terpisah, serta daging - daging kuda yang baru saja ditebas dan disembelih."Apa Meurah kesulitan melawan para bandit itu?" gumam Buaeh kepada Benghingas dan mereka menatap dari kejauhan."Beghingas, bagilah beberapa pasukan kita, selebihnya, ikuti aku untuk membantu Meurah Jadin!" lanjutnya menyeru."Siap....!"Di kejauhan sana Meurah Po Jadin saat ini, sedang dihadapkan pada lawan yang sedang memberikan pertempuran sengit padanya.Meskipun statusnya "Prajurit Pemula", gerakan Zilong tidak bisa dibilang amatir. Saat ia bergerak, tombaknya mengeluarkan suara desingan yang menyerupai ribuan b
Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar."Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-t
Beberapa hari kemudian, pemandangan di sudut Desa Parombunan telah berubah. Balai medis yang baru—bangunan kayu yang kokoh dengan aroma kayu pinus yang segar—akhirnya selesai berdiri. Berkat jaringan dagang Uli Sinaga, rak-rak di dalamnya kin
Jadin tertegun sejenak. Ia memandangi Raja Doli dengan tatapan bingung dan sedikit geli, seolah berhadapan dengan orang gila. "Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanyanya, suaranya sarat akan kebingungan yang bercampur curiga.Raja Doli memaksakan sebuah senyum lebar, meski keringat sebesar jagung t
Suasana di dalam markas mendadak riuh saat rombongan itu masuk. Dumang Saruksuk, yang masih bersantai menikmati tuaknya di bawah pohon, mengernyitkan dahi melihat iring-iringan yang dibawa bawahannya."Birong, aku menyuruhmu hanya untuk mengusir mereka, tidak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas