3. Oleh oleh

"Jodoh itu sudah ada yang ngatur, Bu. Jangan terlalu di ambil hati,"

"Ratna--"

Bunyi motor masuk ke dalam pagar membuat ibu memilih berhenti berkata, pandangannya beralih ke pintu, seakan sedang menunggu. 

Rizal masuk ke dalam rumah dengan wajah kesal. Di tangannya tergenggam satu kresek besar berwarna merah dengan logo sebuah toko, yang kemudian ia letakkan dengan kasar di lantai dekat kaki Ratna.

"Ada apa, Zal. Kamu sepertinya sedang kesal." Ibu bertanya saat melihat muka masam putra kesayangannya. 

Rizal terdiam, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali sambil mendengus, tatapan matanya menatap tajam ke arah Ratna yang juga sedang menatapnya dengan tenang.

Sepertinya tak ada niat untuknya menjawab pertanyaan sang ibu suri.

"Habis belanja di mini market, Zal? Waah banyak uang rupanya, biasanya di pasar, nyari yang murahan," ujar sang ibu, yang sepertinya sedang menyindir sang menantu. Tak perduli meski pertanyaannya tadi tidak dijawab oleh Rizal.

Ibu mendekat dan memilih duduk di kursi dekat Ratna, tangan beliau terulur membuka kresek yang anaknya baru saja letakkan.

"Wah, kebetulan di rumah gula, kopi, sampo dan odol udah pada habis. Belum beli. Ini, Ibu ambil ya, Zal." Ibu meminta, sambil mengeluarkan barang yang baru saja anaknya beli, mata beliau langsung berbinar.

"Ratna, ambilkan aku kresek, ini mau aku bawa pulang," suruh sang ibu mertua pada menantunya yang sedang duduk di dekatnya.

Tak menjawab, Ratna bangun dari duduknya ke arah dapur, untuk memenuhi permintaan ibu mertuanya. 

"Tapi, Bu ...."

"Nggak pa-pa kok, ibu malah senang kalau bawa ini saja buat oleh-oleh." Ibu segera memotong ucapan Rizal yang sepertinya hendak protes.

"Bukan seperti yang biasanya Ratna bawa ke rumah, nggak ada mereknya sama sekali, kelihatan murahan. Kalau ini kan beda. Bermerek. Bisa aku banggain nanti ke tetangga."

Di dapur, Ratna yang mendengar pembicaraan antara anak dan ibu, hanya bisa tersenyum, entah apa yang membuatnya seperti sangat bahagia, saat ini. Padahal apa yang di katakan ibu mertuanya sangat pedas sekali.

"Ini, Bu ...." Ratna memberikan kresek putih yang ia bawa dari dapur. Seperti permintaan ibu mertuanya tadi.

"Nggak jadi, aku bawa aja semuanya, lagian stock di rumah sudah hampir habis kok." Ibu mertuanya menolak kresek yang ia sodorkan, dan dengan santainya membawa kresek berisi barang yang tadi Rizal beli, keluar dari pintu.

"Ayo, Zal. Anterin ibu pulang!"

Tidak seperti biasanya, kali ini pandangan suaminya fokus pada kresek yang di bawa ibu.

"Zal, ayooo!" Ibu berteriak lagi dari luar rumah.

Rizal tak menjawab, namun dengusan suaranya yang berat tanda dia benar benar kesal saat ini. Tampak berat sekali Rizal  melangkah keluar rumah menyusul ibu yang sudah keluar lebih dulu. 

"Jangan lupa, gula dan kopi habis." Dengan suara pelan seperti sedang berbisik, Ratna berpesan  saat Rizal melewati dirinya yang berdiri di ambang pintu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status