INICIAR SESIÓNDituduh mandul oleh sang suami, karena dalam pernikahan selama lima tahun tak sekali pun Ratna hamil. Membuatnya harus mengalami hari- hari yang tak menyenangkan. Ratna Chalondra di perlakukan tidak adil oleh suaminya, bahkan disiksa hanya karena tak mau melakukan apa yang suaminya inginkan. Beruntung Ratna dikelilingi oleh sahabat yang sangat menyayanginya. Saling bahu membahu mengembalikan kepercayaan diri Ratna. Selamat menikmati perjuangan hidup seorang Ratna, yang menunggu seseorang untuk men- Cintanya Tanpa Tapi.
Ver más"Mbak, pengantinya mana kok enggak keluar-keluar. Apa memang gini caranya orang kota?" tanya Nur. Ia sudah merasa pegal duduk terlalu lama dan sudah tak sabar ingin mencicipi prasmanan.
Sejak datang di acara pernikahan Excel, Nur sudah merasa lapar melihat makanan yang begitu menggugah selera meski sebelum berangkat mereka sudah sarapan, namun ia teringat ucapan sang kakak bahwa mereka boleh makan kalau akad sudah selesai. "Enggak juga sih, di undangan akad kan jam sembilan. Ini udah jam sepuluh lima menit," balas Lia sembari melihat jam di pergelangan tangannya. Satu bulan yang lalu setelah wisuda, Nur Cahyani tiba di jakarta bersama kedua orang tuanya. Ia berniat untuk melanjutkan kuliah di kota besar itu dan meraih cita-cita untuk menjadi dokter. Bermodal uang tabungan selama mengonten, tekadnya sudah bulat untuk meraih kesuksesannya. Apalagi kedua orang tuanya sangat mendukung, di tambah sang kakak ipar juga berjanji akan membantu memberi tambahan dana. Tetapi, untuk saat ini orang tua Nur sudah kembali pulang ke desa untuk mengurus ternak. "Bang," ujar Lia menyenggol lengan sang suami. "Hemm," balas Heri sembari menatap ke arah sang istri. "Coba Abang masuk deh, temui Excel. Kok dia enggak keluar-keluar, takutnya ada sesuatu yang terjadi," seru Lia. "Ya udah, kalian mau ikut apa di sini aja?" tanya Heri siap untuk beranjak dari duduknya. Hari ini Nur di ajak kakaknya menghadiri pesta ulang tahun Excel, di sebuah gedung hotel bintang lima. Nur bersama Lia dan Heri duduk di ruang tamu, menunggu akad yang yang tak kunjung di mulai, walau sudah satu jam menunggu. Dengan cepat Nur menyahut, "Aku ikut. Di sini entar malah kayak orang hilang." Tentu saja Nur merasa asing di tempat seperti ini, sebab ia yang dari desa terbiasa dengan suasana sederhana bukan mewah seperti yang ia rasakan saat ini. Akhirnya Lia juga ikut bangkit dan berjalan beriringan menuju ruang ganti pengantin. Sesaat sampai di depan pintu yang tertutup tak rapat, Nur berserta kedua kakaknya mendengar erangan prustasi dari dalam. "Argh....Gila! Sumpah Vero benar-benar gila! Ma, Vero pergi, dia membatalkan pernikahan ini," serunya dengan keras bahkan suara itu terdengar gemetar. Nur memandang kedua kakaknya, bertanya lewat kode mata. Lia dan Heri kompak menggeleng tanda bahwa mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. "Apa maksudmu, Xel? Bagaimana bisa...?" Terdengar suara perempuan yang sangat jelas shock. "Keluarga mereka mempermalukan kita! Bagaimana bisa mereka membiarkan ini terjadi?" Suara lelaki menyusul terdengar sangat geram. "Mas, sepertinya mereka sedang terkena masalah. Pengantin wanita kabur, kasihan sekali Om Excel, hatinya pasti sangat hancur dan keluarganya bakalan menahan malu yang sangat besar," ucap Nur dengan lirih menatap ke arah Heri dan Lia. "Kamu benar, Nur. Kasihan Excel, ntah kenapa bisa-bisanya Vero kabur di hari pernikahan. Padahal setahuku mereka saling mencintai," balas Heri merasa iba. "Masuk aja, Mas, coba hibur om Excel, dia pasti sangat terpukul," pinta Nur yang langsung mendapat anggukan oleh Heri. Heri langsung mendorong pintu itu dengan lebar dan mengucapkan salam, "Assalamualaikum, permisi." Seketika Excel dan mama papanya langsung menoleh ke arah pintu. Nur melihat raut-raut wajah prustasi tersebut. Kedua mata Excel memerah tanda ia sangat marah, entah kenapa hatinya terasa sangat perih. "Maaf, Om, Tante, kami lancang masuk. Kami tidak sengaja mendengar obrolan kalian. Apa benar Vero kabur dan membatalkan pernikahan ini, apa masalahnya?" tanya Heri dengan hati-hati. Excel menggeleng dan meraup wajahnya prustasi. "Aku tidak tahu, Pak. Sepertinya dia memang sudah merencanakan semua ini! Entah apa salahku?" Tiba-tiba, seorang sepupu Excel mendekat dan memberitahu bahwa penghulu sedang menunggu keputusan mereka. Excel terdiam, menatap Nur yang berdiri di samping Lia. Dalam tekanan yang menyiksa, muncul ide nekat yang tiba-tiba melintas di pikirannya. Tanpa banyak berpikir, Excel mendekati Lia dan Nur. "Bu Lia, aku tahu ini gila, tapi... bolehkah aku menikahi Nur sebagai pengganti Vero?" Wajah Lia berubah kaget, begitu juga Nur yang terperangah dengan permintaan mendadak itu. "Apa? Maksudmu... Excel, jangan sembarangan ngomong kamu. Ini tidak mungkin terjadi!" ujar Lia. "Dengarkan aku, Bu Lia. Aku tahu ini mendadak, tapi aku yakin Nur orang yang baik. Aku butuh dia," balas Excel memohon. Tanpa izin, Excel meraih tangan Nur, membuat gelombang dahsyat pada rongga dada gadis berpakaian kebaya kalem berwarna pastel itu. Kebaya sederhana dengan bordir halus di sepanjang lengan dan bawahnya menambah kesan anggun, meski Nur merasa jauh dari sosok yang bisa menggantikan Veronika. "Nur, ini mungkin sedikit aneh. Tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam aku benar-benar serius mengajak kamu menikah. Sekali lagi aku tanya sama kamu, maukah kamu menikah denganku Nur Cahyani?" Excel mengulang pertanyaan yang belum Nur jawab sejak tadi. Kedua mata Nur membola, ia tak menyangka Excel akan tahu nama panjangnya. Ia mengamati kedua mata Excel secara dalam, tak ada sedikitpun keraguan dari mata lelaki itu. "Aku mau, Om, nikah sama kamu," balas Nur membuat Lia dan Heri spontan menoleh ke arahnya tak percaya. "Nur..! Jangan main-main kamu!" pekik Lia melotot. Nur tak menghiraukan kakaknya dan menatap Excel dengan senyum misterius, "Tapi, ada syaratnya!""Sudah siap?" tanya Delon, pada Aldo yang memasukkan semua perlengkapan istri dan dirinya ke dalam tas ransel yang Mak bawa tadi dari rumah.Terlihat Aldo menganggukkan kepalanya sekilas. Menjawab pertanyaan Delon.Hari itu hari ke empat setelah Ratna bangun dari tidurnya, dan dokter yang menangani Ratna sudah memberikan izin untuk pulang."Pak Ri, yang tas itu, nanti tolong di bawa ke rumah, ya. Jadi kita cuma bawa tas yang ini aja."Aldo menunjuk tas yang lebih besar untuk di bawa pak Ri yang mengiyakan perintah majikannya, serta langsung membawa pergi setelah sebelumnya pamit lebih dulu pada Aldo dan Ratna."Nanti kau pakai saja mobilku, Do. Aku bisa pakai taxi online nanti."Delon menyodorkan tangannya yang sedang memegang kunci mobil."Terima kasih," ucap Aldo, tangannya ikut maju mengambil kunci yang disodorkan Delon."
Terlanjur, dokter Siska sudah memencet tombol di atas kepala Ratna, memberitahukan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada pasien."Apa yang kau lakukan?" tanya Aldo yang masuk ke dalam ruangan dengan raut wajah marah. Tangannya mengepal menahan geram."A-aku ...." jawab Siska yang tergagap, kaget! Wajahnya pucat seketika."Bang ...."Seperti tak percaya Aldo mendengar Ratna memanggilnya, seketika itu juga ia menoleh ke arah istrinya dan baru menyadari kalau perempuan yang ia cintai sudah bangun dari tidur panjang."Yang ...."Aldo mendekat ke arah Ratna, menggenggam tangan istrinya erat, dan menciumi setiap inci wajah perempuan yang sangat ia cintai.Membuat dokter Siska seketika itu juga mundur perlahan menuju pintu.Hampir saja dirinya menabrak beberapa dokter dan perawat yang berdatangan mendekati Ratna, dan mem
"Mas, baju yang mau di bawa yang mana?" tanya Mak siang itu.Mak sengaja di antar pak Ri untuk mengantarkan baju bersih yang akan di pakai Aldo, di rumah sakit. dan membawa balik baju yang sudah kotor untuk Mak cuci di rumah.Tanpa bicara, Aldo yang dengan wajah sangat menampakkan kesedihan, memberikan baju yang sudah ia lipat dalan paperbag yang lumayan besar pada Mak."Mbak gimana, Mas?" tanya Mak, dengan tangan terulur menerima paper bag dari Aldo."Masih tidur, Mak. Tolong doain, ya. Biar bisa cepat pulang ke rumah." Aldo sedikit tersenyum, senyum yang terlihat terpaksa."Iya, Mas. Saya dan Mak selalu berdoa semoga Mbak dan si kembar cepat pulang, biar rumahnya ramai." Pak Ri yang tadinya hanya terdiam mendengarkan, kali ini ikut membuka suara.Sudah sebulan lebih pasca kecelakaan, Ratna tak sadarkan diri. Terbaring lemah dengan beberapa
"Apa tidak sebaiknya kalau kamu, aku antar saja, Yang?" usul Aldo saat melihat istrinya mengambil kunci mobil, pagi itu setelah sarapan bersama."Tidak usah, aku baik baik saja, kok!" jawab Ratna yang mendekat untuk mencium pipi, dan punggung tangan kanan suaminya."Tapi perutmu sudah tak memungkinkan untuk menyetir, Yang ...."Jelas saja Aldo sangat khawatir dengan kondisi Ratna, yang memaksa menyiapkan sendiri acara tujuh bulanan si kembar yang rencananya akan di laksanakan seminggu lagi."Perutku tidak masalah kok, Bang. Asalkan kau tidak lagi terlalu mempermasalahkan," ujar Ratna, yang terus melangkah melewati dapur menuju ruang garasi.Setelah sebelumnya meminta Mak untuk membuka pintu garasi dan juga pintu pagar.Sambil mengikuti istrinya dari belakang, Aldo hanya bisa mengambil nafas panjang dan mengembuskannya dengan kasar.&n
"Sudah datang, Yang?" tanya Aldo yang sedang duduk di depan tv, sambil memangku buku tebal di pahanya. Saat merasa ada seseorang yang tiba tiba sudah mencium pipinya dari belakang."Iya ...." jawab Ratna, yang kemudian melangkah di samping Aldo, setelah tadi mencium pipi dan ke
Ratna terus mengulang pertanyaan yang sama hingga membuat dokter Agni sedikit gemas."Hei! Saya serius, Bu! Anda hamil. Selamat ya ...."Masih banyak lagi pesan yang dikatakan oleh dokter di depannya yang sedang membersihkan perut Ratna dari gel tadi. Namun,
"Nay, kamu kenapa?" tanya Ratna, saat tangan membuka pintu di ruangannya.Ini hari pertama Ratna kembali ke kafe setelah dua hari menemani Aldo di rumah."Aku nggak tahu, mungkin masuk angin," jawab Nay, wajahnya basah, dan terlihat menahan sesuatu yang seper
"Kamu nggak makan? Serius?" tanya Aldo setelah selesai menelan makanan yang tadi di dalam mulutnya kemudian ia dorong dengan cara meminum air mineral, hingga terasa kerongkongannya yang lega."Kenapa?" tanya Ratna, bersuara pelan dengan penuh perhatian."Kala












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Calificaciones
reseñasMás