登入Di dalam kamar mandi, Ewan dan Mini berpelukan erat, berciuman dengan penuh gairah.Mini tidak memiliki banyak pengalaman. Setiap gerakannya tampak malu-malu dan kaku. Justru karena kepolosan dan kekakuan itulah, Ewan merasakan sensasi kesegaran yang berbeda.Suasana menjadi makin membara. Saat perasaan keduanya mencapai puncaknya, Mini tiba-tiba mengangkat kepala dan menatap Ewan dengan serius. "Ewan, kamu benar-benar menyukaiku?"Ewan mengangguk. "Ya, suka.""Seberapa besar rasa sukamu?""Mau tahu?""Mau."Tubuh Ewan bergerak."Ah ...!" Mini menjerit pelan. Air mata langsung mengalir karena rasa sakit.Ewan menghapus air mata Mini dengan lembut, lalu bertanya dengan suara hangat, "Sakit sekali?""Mm." Mini mengangguk pelan."Nggak apa-apa, nanti juga akan terbiasa." Ewan kembali menggunakan jurus andalannya.Tak lama kemudian, alis Mini berkerut rapat. Dari mulutnya keluar rintihan-rintihan penuh penderitaan, tetapi perlahan nada suaranya mulai berubah, seolah rasa sakit itu telah be
Tiara melanjutkan, "Dulu, kamu selalu ceria dan bahagia. Sejak Sekte Hyang dihancurkan dan Sida gugur dalam pertempuran, aku jarang melihat senyuman di wajahmu.""Kalaupun tersenyum, kebanyakan cuma senyum yang dipaksakan. Hanya saat melihat Ewan, matamu kembali berbinar.""Kita tumbuh bersama sejak kecil. Kita bukan cuma saudari, tapi juga sahabat terbaik. Karena itu, aku ingin kamu bahagia selamanya."Mini begitu terharu hingga matanya berkaca-kaca. Dia berjalan menghampiri Tiara dan menggenggam tangannya. "Kak, terima kasih."Tiara tersenyum. "Bodoh, kenapa berterima kasih padaku? Oh ya, di mana Ewan?""Dia ada di ...." Baru saja Mini mengucapkan beberapa kata, dia langsung menutup mulutnya. Dia sadar telah keceplosan."Aku tahu dia sudah datang." Tiara berkata, "Dia ganggu kamu tadi?"Mini segera menyangkal, "Nggak kok ....""Sudahlah, nggak perlu dijelasin. Aku nggak bakal nyalahin kamu. Aku cuma ingin kasih tahu kamu, banyak gadis yang mengincar pria seperti Ewan, jadi kamu harus
Mini memang tidak mengenakan banyak pakaian. Dalam beberapa gerakan saja, dia sudah melepaskan pakaian luarnya, hanya menyisakan sehelai pakaian tipis.Dalam sekejap, jantung Ewan berdebar hebat. Dia benar-benar terkejut melihat pemandangan di depan."Mini, jangan begini, cepat pakai bajumu kembali.""Masa kamu nggak menginginkannya?"Saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki pelan dari luar. Ewan tahu ini gawat.Benar saja, detik berikutnya suara Tiara terdengar dari luar pintu. "Mini, sudah tidur?"Mini yang seperti kelinci ketakutan langsung menghentikan gerakannya dan buru-buru menjawab, "Ini mau tidur.""Kenapa pintunya masih terbuka?""Ada apa, Kak?""Memangnya aku nggak boleh cari kamu kalau nggak ada urusan?"Setelah berkata demikian, Tiara mendorong pintu hingga terbuka."Jangan ...."Hampir pada saat yang sama, Ewan menggambar sebuah jimat penghilang dan menyembunyikan sosoknya di udara dengan cepat.Setelah masuk, Tiara menyalakan lampu kamar. Melihat pakaian Min
Mini terus menggeleng."Kalau begitu, kasih tahu aku, apa yang harus kulakukan supaya kamu mau maafin aku?" Ewan melepaskan tangannya.Mini melirik Ewan, lalu cepat-cepat menunduk dan berkata dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar, "Aku menginginkanmu."Ewan tidak langsung memahaminya. "Maksudnya gimana?""Aku bilang, aku menginginkanmu." Setelah berkata begitu, Mini langsung menyerbu ke dalam pelukan Ewan. Bahkan dia sengaja meletakkan tangan Ewan di pinggangnya. "Pak Ewan, coba rasakan lagi."Ewan mulai panik. Dalam situasi seperti ini, sangat mudah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.Sebenarnya, dia sudah lama tahu Mini menyukainya. Hanya saja, dia tidak berani menghadapi perasaan itu secara langsung. Ada dua alasan utama.Yang pertama karena Tiara. Tiara dan Mini tumbuh bersama sejak kecil, jadi sudah seperti saudari kandung.Dia sudah memiliki Tiara. Kalau sekarang dia juga mendapatkan Mini, apa yang akan dipikirkan Tiara? Apakah Tiara akan marah kepadanya? Apakah hubunga
Demi Tuhan, Ewan benar-benar tidak sengaja. Karena Tiara bilang akan membiarkan pintu terbuka untuknya, dia langsung mengira orang yang berbaring di dalam kamar adalah Tiara. Siapa sangka, ternyata itu Mini.Sebenarnya ini juga salah Ewan. Kalau dia berpikir sedikit saja, dia pasti akan mengerti bahwa hubungan Tiara dan Mini sangat dekat. Karena Tiara pindah keluar, tentu Mini juga akan ikut bersamanya.Selain itu, kalau tadi saat masuk dia memperhatikan dengan lebih teliti, kesalahpahaman seperti ini tidak akan terjadi.Namun, Mini sama sekali tidak bereaksi dan masih asyik bermain ponsel. Sambil bermain ponsel, dia berkata, "Kak, pelan-pelan dong, geli ...."Jelas, dia mengira yang masuk ke selimutnya adalah Tiara. Dia belum menyadari bahwa itu adalah seorang pria.Mini melanjutkan, "Oh ya, Kak, kita sudah pindah rumah. Kamu sudah beri tahu Pak Ewan belum?"Ewan tidak berani bersuara, bahkan bergerak pun tidak berani.Mini melanjutkan lagi, "Atau aku kirim pesan saja ke dia?""Kak, k
"Jangan noleh. Kalau nggak, kucungkil matamu!"Wanita ini benar-benar galak."Dinda, bukan maksudku ngomeli kamu, tapi kamu juga harus perbaiki sedikit sifatmu. Dengan temperamen seperti itu, pria mana yang berani nikahin kamu?""Bukan urusanmu.""Kalau bukan aku yang peduli, siapa lagi? Kalau nggak berubah, yang rugi nanti dirimu sendiri.""Jangan terlalu percaya diri. Aku nggak mungkin suka sama kamu.""Kalau nggak suka sama aku, kenapa tidur di sini?""Diam!"Ewan tiba-tiba berbalik. Detik berikutnya, dia langsung tercengang. Dinda sudah berpakaian rapi! Bukankah katanya wanita butuh waktu lama untuk berpakaian? Kenapa dia bisa secepat itu?Dinda mendorong Ewan menjauh, lalu berjalan ke luar. Saat sampai di pintu, Dinda kembali menoleh ke arah Ewan."Aku peringatkan kamu, apa yang terjadi hari ini harus kamu kubur rapat-rapat. Kalau sampai Bu Lisa tahu, aku akan hajar kamu habis-habisan.""Cewek, kamu ngancam aku?"Tubuh Ewan bergerak secepat kilat dan langsung muncul di depan Dinda







