Pewaris Muda Terkaya

Pewaris Muda Terkaya

last updateLast Updated : 2026-02-13
By:  Zila AichaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Brian Jones, seorang mahasiswa miskin di Universitas WestCliff yang tidak pernah dianggap sebagai manusia oleh teman-temannya, dikhianati oleh pacarnya dan juga kehilangan kakeknya karena kecelakaan. Namun, setelah mengalami penderitaan selama bertahun-tahun, tiba-tiba ia terbangun di tempat yang baru dan diberitahu oleh kakeknya yang sebenarnya bahwa ia adalah satu-satunya pewaris dari seorang pengusaha sukses di negara tersebut.

View More

Chapter 1

Bab 1

Brian Jones, mahasiswa jurusan manajemen bisnis terburu-buru membereskan barang-barangnya lalu memasukkan semuanya ke dalam tas ransel usang miliknya.

Begitu yakin tidak ada barang-barang yang tertinggal, dia segera berjalan keluar. Tapi, ketika dia baru hampir mencapai pintu, seseorang menabraknya entah disengaja atau tidak.

Buku besar yang Brian bawa terjatuh dan sebagian kertas pun jatuh berserakan. 

"Heh, miskin. Apa kau tidak melihat ketika berjalan?"

Brian hanya memandang sekilas pada orang yang telah menabraknya. Seorang gadis cantik menatap dirinya dengan jijik. Itu Ellen Thomas, salah satu teman seangkatan dirinya yang berasal dari keluarga kaya. 

Ayahnya adalah seorang pemilik bisnis advertising. Tak heran gadis itu menjadi angkuh dan sombong.

"Maaf, aku tidak sengaja, Ellen."

Begitulah yang terjadi. Meskipun Brian tidak bersalah, dia tetap menjadi orang yang harus terlebih dulu meminta maaf. 

Dia hanya berpikir, orang miskin sepertinya memang harus mengalah meskipun tidak melakukan kesalahan sekalipun. Hal ini demi membuat posisinya aman di kampus itu.

Dia hanyalah seorang anak miskin dari keluarga kalangan kelas bawah yang begitu beruntung memiliki otak yang brilian sehingga bisa masuk ke University of WestCliff yang merupakan sebuah kampus paling bergengsi di kota tempat dia tinggal.

Kampus itu sangat terkenal dan memiliki standard penerimaan yang begitu tinggi. Akan tetapi, meskipun biaya pendidikan di kampus itu sangat mahal, mereka juga menyediakan berbagai beasiswa untuk para mahasiswa yang tidak mampu tapi memiliki kemampuan akademik yang sangat bagus. 

Brian Jones menjadi salah satu yang berhak mendapatkan beasiswa itu dan saat ini dia sudah menjadi mahasiswa tahun kedua. Dia juga berhasil mempertahankan nilainya hingga tak pernah kehilangan beasiswa. 

"Dasar ceroboh!" Sang gadis mendengus keras lalu berjalan melewatinya begitu saja.

Brian mendesah, berusaha bersabar. Tanpa menunda lagi, ia segera berjongkok, mulai memungut barang-barangnya yang terjatuh.

"Perlu bantuan, Jones?" 

Brian menengadah dan melihat Jim Denver tengah menyeringai kepadanya sembari bersedekap. Belum sempat Brian membalas ucapannya, dia sudah melihat Jim berniat menginjak salah satu kertasnya. 

Dengan cepat Brian mencegahnya dengan menahan kaki Jim, "Jangan, Jim! Kertas ini penting."

"Singkirkan tangan kotormu dari kakiku!" Jim menatap kesal saat kakinya dipegang oleh Brian.

Brian melepaskannya dan segera mengambil kertas yang tersisa. 

"Siapa yang mengizinkanmu memegang kakiku?"

Brian tak menjawab dan memilih menghindar. Namun, lagi-lagi ia harus menerima perbuatan tidak menyenangkan dari teman sekelasnya saat Jim dengan sengaja menyenggolnya hingga kertas penting Brian pegang jatuh kembali.

"Selamat berjuang, miskin!" 

Jim tersenyum mengejek lalu berjalan mendahuluinya. 

Brian menahan rasa kesal dan hanya mengertakkan gigi. Oh, tapi dia sadar jika dia tidak memiliki banyak waktu untuk mengeluh. Ia lalu memungut kertas-kertas itu lagi dan segera berlari menuju kantin C.

University of WestCliff memiliki tiga kantin dan kantin C terletak di bagian selatan. Brian buru-buru menaruh tasnya dan memakai celemek bertuliskan namanya.

Seorang wanita berusia tiga puluh tahunan menghela napas lega saat melihat Brian sudah bersiap-siap. "Akhirnya, kau datang juga. Aku sudah hampir gila di sini." 

"Maaf, Abi. Aku terlambat beberapa menit." Brian mulai melihat kertas pesanan di atas meja.

"Apa mereka mengganggumu?" 

"Seperti biasanya." 

Abigail Smith terlihat prihatin, "Ah, lawan saja kalau begitu."

"Berhadapan dengan anak-anak keluarga kaya? Aku hanya akan mendapatkan masalah lainnya, Abi." Brian menggelengkan kepala, tidak setuju dengan ide Abigail.

"Well, kau memang hanya memiliki dua pilihan, Brian. Pertama, kau melawan mereka. Kedua, membiarkan. Kalau memilih yang kedua ya berarti kau harus siap setiap saat diganggu oleh mereka."

"Tidak masalah untukku. Lagi pula, aku hanya harus bertahan 2 tahun lagi. Tidak akan lama."

"Yah, jika itu pilihanmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa." Abigail menyerah dan mulai menyiapkan pesanan.

Brian pun mengantarkan pesanan itu pada orang yang memesannya.

Pria muda itu begitu cekatan saat menjalankan pekerjaannya. Meskipun banyak yang menghina dirinya karena memiliki pekerjaan sebagai seorang pelayan di kantin kampus, Brian tak pernah menggubris mereka.

Yang dibutuhkan oleh Brian hanyalah uang tambahan demi meringankan beban kakek angkatnya, Karl York yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih di jalan.

"Pelayan, kemari!" 

Brian berjalan mendekat. "Ya, apa kau mau menambah sesuatu?"

"Ya, beri aku cheese burger dua porsi!"

"Oke, lima menit lagi akan siap."

Brian menuju Abigail dan mengatakan tambahan pesanan itu. Setelah itu, ia berkali-kali dipanggil oleh oleh para pelanggan yang sama dan Brian pun mulai bingung.

"Apa kau mengenalnya? Sepertinya dia sedang mengerjaimu." Abigail menatap curiga pada laki-laki muda yang duduk bersama dengan beberapa temannya itu.

"Itu Edward Stein. Aku hanya tahu namanya tapi tidak satu jurusan dengan dia."

Abigail menaikkan alis kanan, "Lalu, apakah kau pernah berbuat salah kepadanya?"

"Tidak."

"Kau yakin?" Abigail melirik ke arah Edward yang terlihat beberapa kali tersenyum mengejek ketika ia mengarahkan pandangan pada Brian.

"Tidak pernah seyakin ini, Abi. Aku benar-benar hanya tahu namanya."

Abigail menyentuh dagunya, "Kalau begitu dia mungkin hanya suka mengganggu anak-anak dari keluarga bawah. Ah, sayang sekali!"

"Kenapa?" Brian menatap heran sambil membersihkan meja kasir.

"Wajahnya sangat tampan."

Brian memutar bola mata malas. Berikutnya ia pun mendengar Abigail mengoceh tiada henti tentang pemuda kaya itu hingga jam kerja Brian berakhir.

Jam kerjanya memang tidak tentu, tapi sudah pasti di saat dia sudah selesai dengan kelasnya. Dia juga sangat bersyukur memiliki bos yang begitu baik hati seperti Abigail Smith.

"Pulanglah!" 

"Kau mengusirku, Abi?"

"Iya."

Brian tertawa renyah. "Baiklah, aku akan datang besok."

Abigail memberi anak muda itu sekantong makanan. "Untukmu dan Karl."

Brian tersenyum penuh terima kasih, "Ah, kau sangat baik sekali. Terima kasih."

"Tak perlu begitu." Abigail mengibaskan tangan.

Dengan hati riang, Brian meninggalkan area kantin dan berjalan menuju tempat parkir, di mana sepedanya diparkir. Area parkir bagian selatan itu tampak sepi karena hari sudah cukup sore. Brian sangat menyukai suasana itu karena dia tidak perlu lagi berhadapan dengan anak-anak kaya yang sering mengganggunya.

Namun, kesenangannya terganggu saat dia sampai di tempat parkir. Ia berhenti berjalan, tampak kaget melihat pemandangan yang tersaji di depannya.

Tak jauh darinya, seorang gadis sedang bermesraan dengan seorang laki-laki muda yang dikenal oleh Brian. Edward Stein, seorang pemuda keluarga kaya yang sempat mengganggunya di kantin beberapa waktu yang lalu.

Sialnya, bukan hanya pemuda itu saja yang dia kenal tapi juga gadis yang menjadi partner Edward itu. 

"Diana, apa yang sudah kau lakukan?" 

Edward dan Diana memisahkan diri dengan begitu santai. Diana menoleh kepadanya. "Astaga, kau Brian. Mengganggu saja."

Brian terbelalak kaget. "Mengganggu? Apa maksudmu? Kau bermesraan dengan pria lain saat kita sedang berpacaran. Kau-"

"Kita putus saja." Diana Reid berkata dengan tenang.

"Putus? Tapi, aku tidak salah apa-apa. Kau yang berselingkuh. Bagaimana bisa kau melakukan hal ini kepadaku?"

Edward tertawa mengejek. "Siapa yang mau berpacaran dengan pecundang sepertimu? Diana sudah memilihku. Terima saja!"

Emosi Brian pun meningkat. Tanpa diduga oleh Edward, Brian meninju Edward.

"Brian! Berhenti!" Diana memekik kaget.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status