Compartir

Bab 2705

Autor: Rexa Pariaman
Dewi Kembang mengangguk. "Aku setuju."

Sunnata ikut berkata, "Aku juga setuju."

"Kalau begitu, bersiaplah menyerang! Nanti aku akan menghitung satu, dua, tiga. Saat hitungan tiga, kita menyerang bersama."

Nazar menoleh ke arah Sunnata dan Dewi Kembang, lalu berteriak pelan, "Satu ... dua ... tiga!"

Sret! Sret!

Sunnata dan Dewi Kembang langsung bergerak pada saat yang sama. Sedangkan Nazar bukan saja tidak ikut menyerang, dia malah mundur beberapa langkah, menyilangkan kedua tangan di dada, lalu
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2707

    Sedangkan Midori dan Dewi Kembang, aura di tubuh mereka jelas meningkat pesat. Mereka kini hanya tinggal selangkah lagi untuk mencapai tingkat maharaja.Sebaliknya, Koji, Sunnata, dan Nazar tidak memperoleh peningkatan sebesar itu. Sebab tingkat kultivasi mereka memang sudah sangat tinggi, semuanya telah menjadi ahli tingkat maharaja.Namun bagaimanapun juga, ini adalah Teratai Salju Purba. Khasiatnya sangat luar biasa dan tetap memberikan manfaat besar untuk memperkuat tubuh mereka.Setelah selesai bermeditasi, rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Mereka melewati tanah lapang itu, lalu tiba di depan sebuah gunung, di mana sekali lagi mereka menemukan sebuah gerbang perunggu."Biar aku saja."Nazar dengan sadar melangkah maju. Setelah mengutak-atiknya beberapa saat, dia berhasil membuka gerbang perunggu itu.Di balik gerbang, suasananya gelap gulita. Keadaan begitu sunyi hingga mereka bahkan bisa mendengar napas satu sama lain."Semuanya hati-hati." Ewan mengingatkan, lalu memimpi

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2706

    Yang berbicara adalah Sunnata.Sunnata berkata, "Ewan yang membunuh ular-ular kecil itu. Teratai salju ini memang pantas menjadi miliknya."Dewi Kembang teringat pertarungannya melawan ular-ular kecil tadi. Sampai sekarang dia masih merasa ketakutan."Kalau bukan karena Ewan menyelamatkanku, aku pasti sudah digigit ular-ular itu. Aku nggak keberatan kalau dia mengambil teratai salju ini."Karena tidak punya pilihan lain, Nazar hanya bisa menoleh kepada Zayn, Koji, dan Midori."Bagaimana dengan kalian?" tanya Nazar. "Nggak mudah bagi kalian bisa sampai ke sini. Setelah susah payah, akhirnya kita menemukan Teratai salju Purba. Jangan bilang kalian sama sekali nggak tergoda.""Aku tahu hubungan kalian dengan bocah sialan itu baik. Tapi harus kukaish tahu, kalau kalian memakan Teratai Salju Purba ini, tingkat kultivasi kalian bisa langsung meningkat."Zayn berkata, "Senior Sunnata benar. Bos yang telah mengatasi bahaya tadi. Jadi Teratai Salju Purba ini memang seharusnya menjadi milik Bos.

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2705

    Dewi Kembang mengangguk. "Aku setuju."Sunnata ikut berkata, "Aku juga setuju.""Kalau begitu, bersiaplah menyerang! Nanti aku akan menghitung satu, dua, tiga. Saat hitungan tiga, kita menyerang bersama."Nazar menoleh ke arah Sunnata dan Dewi Kembang, lalu berteriak pelan, "Satu ... dua ... tiga!"Sret! Sret!Sunnata dan Dewi Kembang langsung bergerak pada saat yang sama. Sedangkan Nazar bukan saja tidak ikut menyerang, dia malah mundur beberapa langkah, menyilangkan kedua tangan di dada, lalu berdiri sambil menikmati tontonan."Bajingan, kamu menjebak kami?"Sunnata langsung murka.Namun, saat dia dan Dewi Kembang menyadari bahwa mereka telah ditipu, semuanya sudah terlambat. Karena mereka sudah lebih dulu melancarkan serangan kepada ular-ular kecil itu, sementara ular-ular tersebut juga langsung melakukan serangan balasan yang sangat ganas.Tubuh ular-ular itu memang kecil. Namun, mereka sangat lincah dan kecepatannya luar biasa. Bahkan seorang ahli tingkat maharaja seperti Sunnata

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2704

    Semua orang berdiri di depan gerbang perunggu itu dengan wajah dipenuhi kegembiraan. Di hadapan mereka terbentang sebuah tanah lapang. Tepat di tengah tanah lapang itu tumbuh sekuntum teratai salju raksasa.Teratai salju itu besarnya setara dengan sebuah rumah.Saat ini bunga itu sedang mekar sempurna. Setiap kelopaknya memancarkan cahaya putih sebening kristal, bagaikan sebuah mutiara bercahaya raksasa.Aroma bunganya begitu harum dan menyegarkan. Hanya menghirupnya sedikit saja, rasa lelah di seluruh tubuh mereka langsung lenyap, serta membuat pikiran dan tubuh terasa sangat segar."Teratai Salju Purba!"Nazar menjerit kegirangan, lalu melangkah cepat ke depan."Tua Bangka, hati-hati. Bisa jadi ada bahaya," ingat Ewan."Bocah sialan, apa kamu kira aku kurang membaca sehingga gampang dibohongi? Kukasih tahu ya, Teratai Salju Purba ini pasti akan menjadi milikku!" Setelah berkata demikian, tubuh Nazar melesat bagai kilat menuju teratai salju itu.Dewi Kembang mengikuti tepat di belakan

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2703

    "Aku mengerti perasaan kalian. Bagaimanapun juga, tanaman obat sebanyak itu sekarang semuanya jatuh ke tanganku. Nggak apa-apa. Kalau kalian masih kesal, kalian bisa melampiaskannya kepadaku."Nazar mengepalkan tinjunya. "Bocah sialan, kamu serius?""Tentu saja serius. Hanya saja ...." Ewan berkata sambil tersenyum tipis, "Aku nggak menjamin kalau aku nggak akan membalas."Sialan kamu!Semangat Nazar langsung sirna. Raut wajah Sunnata juga berubah menjadi merah karena menahan marah."Bocah sialan, benar katamu. Kalau bukan karena bantuanmu, kami memang nggak mungkin bisa menyeberangi jembatan batu.""Tapi kalau nggak ada bantuanmu, kami juga akan kembali melalui jalan semula dan nggak akan menghadapi bahaya apa pun. Artinya, kamu sama sekali tidak menyelamatkan nyawa kami.""Seumur hidup, orang yang paling kubenci adalah orang yang memonopoli semuanya sendiri. Jalan kita sudah berbeda, jadi nggak perlu lagi berjalan bersama. Mulai sekarang kita berpisah jalan. Aku mau putus hubungan de

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2702

    Ewan berteriak keras. Dalam sekejap, seluruh ladang tanaman obat itu langsung tersedot masuk ke dalam Kantong Kosmik miliknya."Kaya! Aku jadi kaya ...." Ewan tampak sangat gembira.Dengan tanaman obat spiritual berusia seribu tahun sebanyak ini, si Kecil tidak akan kekurangan makanan lagi.Barulah pada saat itu semua orang benar-benar sadar. Ternyata sama sekali tidak ada bahaya. Alasan Ewan menyuruh mereka tetap berdiri di tempat hanyalah agar lebih mudah baginya untuk menyapu bersih seluruh ladang tanaman obat itu."Licik!" maki Dewi Kembang dengan kesal."Bocah sialan, cepat keluarkan tanaman obat itu. Kalau nggak, aku akan bertarung mati-matian denganmu!" Nazar menyingsingkan lengan bajunya, lalu berlari ke hadapan Ewan dengan sikap seolah siap bertarung."Bahkan lebih licik dariku. Ini benar-benar nggak bisa dibiarkan." Sunnata juga ikut maju. Dari raut wajahnya, tampaknya dia juga siap menyerang Ewan.Bagaimanapun juga, ada ratusan tanaman obat spiritual berusia seribu tahun di

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status