LOGIN"Mama akan membantumu agar istrimu puas di atas ranjang. " Bimo frustrasi karena terus dihina dan direndahkan istrinya setiap hari karena hanya mampu bertahan selama 3 menit dalam satu ronde permainan. Demi memuaskan hasrat sang istri, Bimo akhirnya menerima tawaran mama mertuanya agar dapat memuaskan hasrat istrinya di atas ranjang. Awalnya hanya pijatan dan pemberian ramuan khusus, sampai akhirnya mama mertuanya ikut turun tangan mengajari Bimo secara langsung. Apa jadinya saat tak hanya mama mertuanya saja, tapi Bimo juga mendapatkan bantuan dari kakak ipar dan adik iparnya?
View MoreAroma keringat bercampur dengan parfum mawar samar memenuhi udara kamar pasca pergulatan yang melelahkan. Di bawah temaram lampu, kulit Sella berkilap peluh, namun desah nafasnya yang tidak teratur bukanlah tanda kepuasan, melainkan amarah tertahan.
“Ahh, Mas, jangan keluar dulu dong!” Sella mendesah kecewa saat Bimo, suaminya, cepat keluar sebelum dia dapat meraih klimaksnya. Bimo melepaskan penyatuan mereka dengan perasaan bersalah karena lagi-lagi sudah membuat sang istri kecewa. Padahal sebelum bercinta, dia sudah meminum obat kuat agar bisa melayani nafsu Sella yang cukup tinggi. Namun tampaknya, usahanya masih sia-sia. Bimo memeluk Sella dan mencoba menghiburnya. “Sayang, maafkan aku. Aku sudah minum obat kuat untuk memuaskanmu, tapi aku malah mengecewakanmu. Kita coba lagi besok, ya?” “Ck, cuma segitu kemampuanmu, Mas?! Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya klimaks!” seru Sella, kesal setelah Bimo melepaskan penyatuan berdua. “Aku iri mendengar cerita temanku yang baru menikah dengan suami bulenya di Australia itu! Setiap hari temanku selalu mendapatkan kepuasan dari suaminya!” “Maafkan aku, Sella. Aku sudah berusaha melakukan apa saja agar bisa memuaskanmu di atas ranjang. Aku sudah minum obat kuat dan melakukan gym dua minggu sekali di tengah kesibukan pekerjaanku yang lumayan padat. Aku…” Belum selesai Bimo bicara, Sella sudah lebih dulu menyelanya. “Aku capek, Mas! Milikmu selalu loyo dan lemas sebelum aku dapat meraih puncak! Masih mendingan aku main sama timun dan terong sekalian!“ hina Sella sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu tidur dengan posisi berbalik memunggunginya. Bimo hanya bisa terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah dan malu setelah mendengar keluhan istrinya. Dengan langkah gontai, ia turun dari ranjang lalu memakai pakaiannya dengan cepat sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar. Bimo berjalan menuju ruang tamu dengan langkah berat. Ia memilih untuk menghidupkan laptopnya demi mengalihkan rasa malunya karena gagal memberikan kepuasan pada istrinya. Sebenarnya, pikirannya benar-benar kacau dan ia sama sekali tidak dapat berkonsentrasi mengingat pertengkarannya dengan Sella barusan. Namun, ia tidak bisa menunda pekerjaannya karena besok adalah deadline tugas kantornya. Baru saja layar laptopnya menyala, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang mendekat dari arah dapur. “Bimo, kamu belum tidur, Nak?” suara lembut itu memecah kesunyian. Mayang, mama mertuanya, muncul sambil membawa secangkir kopi hangat yang aromanya langsung tercium oleh Bimo. Fokus Bimo seketika teralihkan pada kemolekan tubuh Mayang yang menggoda. Meskipun sudah berkepala empat, mertuanya itu terlihat seperti wanita umur 30-an. Darahnya berdesir ketika melihat dua tonjolan yang tercetak sempurna di balik daster mini yang dipakai wanita itu. Bimo bisa menebak bahwa Mayang tidak memakai bra sama sekali. Saat sang mertua menunduk meletakkan kopi di atas meja, dia dapat melihat bukit kembarnya dari balik kerah daster yang terbuka. Bukit ranumnya terlihat sangat besar dan menantang, lebih besar dari milik istrinya—ukurannya diperkirakan 38 cup D. Rasa bersalah langsung menyergapnya. Dia lekas memalingkan pandangannya ke arah lain, tidak seharusnya dia menatap mertuanya seperti tadi. “Te… terima kasih, Ma,” ucap Bimo dengan suara tergagap. Mayang tersenyum lembut. “Iya, sama-sama, Nak. Apa kamu habis bertengkar lagi dengan Sella?” Pertanyaan dari Mayang itu membuat Bimo ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Apakah Mayang mendengar pertengkaran mereka barusan? Harga dirinya benar-benar runtuh di hadapan mama mertuanya itu. Mayang kemudian melangkah perlahan ke belakang Bimo dan mulai menyentuh pundaknya. “Kamu kelihatannya sangat capek dan tertekan, Bimo. Sini, biar Mama bantu pijat sedikit supaya pikiranmu bisa lebih rileks. Jangan terlalu dimasukkan ke hati ucapan Sella, mungkin dia hanya sedang lelah.” “Ti… tidak usah, Ma, aku tidak apa-apa kok. Lagian ini sudah malam, Mama istirahat saja,” tolak Bimo dengan suara bergetar karena gugup. Dia merasa kurang pantas jika mama mertuanya itu memijatnya di tengah malam begini. Namun, Mayang seolah tidak menerima penolakan tersebut dan tetap mulai memijat punggung Bimo dengan gerakan yang mantap namun lembut. Tangan Mayang terasa begitu halus, namun setiap sentuhannya membuat seluruh tubuh Bimo bergetar karena rasa tak nyaman. “Gimana, Nak Bimo? Pijatan Mama terasa enak, kan?” tanya Mayang dengan nada yang sangat pelan dan menenangkan di telinga Bimo saat pijatannya sudah merambat ke area punggungnya. “Iya, Ma… enak sekali,” jawab Bimo lirih, pijatannya memang nikmat hanya saja dia kurang menikmatinya lantaran yang memijatnya adalah mama mertuanya sendiri. Ia mencoba fokus pada layar laptop, namun pikirannya sudah tidak berada di sana lagi. “Mama punya cara supaya Sella berhenti marah,” bisik Mayang pelan di sela pijatannya. “Kalau kamu mau… Mama bisa membantumu agar Sella puas di atas ranjang.”Bimo sedih melihat Tiara menangis seperti ini karena merindukan dirinya. Namun dia tidak dapat berbuat apapun saat ini selain duduk di atas kursi di samping adik iparnya.Kedua bahu Tiara terlihat bergetar saat memunggunginya. Terdengar isakan kecil dari bibir wanita itu, membuat hatinya semakin hancur dan ingin sekali merengkuhnya dengan erat.“Ceritakan bagaimana sosok Pak Bimo di matamu? Kenapa kamu sangat kehilangan dirinya?” tanya Bimo, berharap Tiara akan berhenti menangis.Tangisan Tiara perlahan-lahan mereda. Cukup lama Bimo menunggunya untuk berbicara.“Kak Bimo…dia adalah sosok pria idaman yang selama ini aku inginkan meskipun dia adalah suami kakakku dan lebih mencintai mamaku…”ucap Tiara tanpa menoleh sama sekali ke belakang.Tiara menyedot-nyedot ingusnya beberapa kali. “Kak Bimo memiliki sosis yang sangat jumbo. Tidak ada pria lain yang memiliki batang berurat dan besar seperti dia. Jadi aku tidak akan melakukannya denganmu. Aku hanya mengizinkan Kak Bimo untuk memasuki
Perintah Mayang seketika langsung mematahkan sisa pertahanan Bimo. Rasa canggung dan takut yang dirasakan olehnya kini berganti dengan hasrat membara yang makin tak terkendali.“Baik, Nyonya…” sahut Bimo sambil memegang erat kedua pinggul montok Mayang, menarik tubuh mama mertuanya itu agar lebih merapat ke arahnya, lalu membenamkan miliknya sedalam mungkin.PLOK! PLOK! PLOK!“AAAHHH! SSSHHH!! BIMO!” pekik Mayang tertahan, jemarinya mencengkram erat sprei ranjang saat Bimo menghujamnya brutal dalam posisi menungging.Aroma cairan gairah memenuhi udara kamar, bercampur dengan suara benturan kulit mereka. Mayang merem melek menikmati setiap hentakan dari Bimo. Sensasi hangat dan tebal yang memenuhi goa kenikmatannya membuat tubuh wanita itu gemetar hebat.“Terus, Bimo... gede banget punyamu... genjot terus!” erang Mayang semakin liar, sengaja menggesekkan pantatnya berlawanan arah dengan sodokan Bimo.Bimo makin kesetanan mendengarnya. Kedua tangannya meremas kuat kedua bongkahan pant
Cahaya senter itu menyorot langsung ke arah Bimo. Bimo langsung panik karena takut dikira maling oleh Security di apartemen ini.Datuk menggerakkan tangannya membentuk sebuah lingkaran portal lalu menarik tangan Bimo untuk masuk ke dalam sana.“AHKKK!!” teriak Bimo saat dirinya terlempar ke dalam portal tersebut lalu jatuh di atas lantai yang dingin.GEDEBUK!! “AWWW!!” ringis Bimo kesakitan saat hidungnya mencium lantai. Dia perlahan bangkit dan melihat Mayang tengah tertidur di atas ranjang dengan kedua paha terbuka lebar, memperlihatkan hutan rimbanya yang tidak tertutup apapun.Glek! Bimo menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat pemandangan indah di depannya. Miliknya mendadak berkedut-kedut di bawah sana. “Bimo cucuku, sudah lama kamu tidak menyelam ke dalam lembah kenikmatan mama mertuamu. Ayo langsung masuk dan cobloskan milikmu ke dalam sana hehe,” tawa Datuk Maringgi tanpa memperlihatkan wujud aslinya.“Tidak Kek, aku tidak akan menyentuh Mama tanpa diminta olehnya,
“B-bukannya ini kamar apartemennya Prof.Malik?!” tanya Bimo ingin memastikan.“Prof. Malik? Maaf tidak ada nama orang itu tinggal disini. Saya hanya tinggal seorang diri dan tidak mengenal nama orang tadi. Maaf, saya lagi goreng telur di dalam. Permisi,” setelah mengatakan hal itu, pria tadi kembali menutup pintunya cukup keras tepat di depan wajahnya Bimo.Bum! Hati Bimo semakin gusar saat mengetahui kenyataan bahwa Prof.Malik sudah pindah dari apartemen ini. Dia menangkap adanya banyak keanehan yang terjadi disini namun sialnya dia tidak kunjung menemukan jawaban.Di waktu yang bersamaan, tiga berkas cahaya muncul di hadapannya. Cahaya itu berubah menjadi wujud Datuk Maringgi dan kedua khodam harimaunya yang sudah lama tidak terlihat.“KAKEK?!” Bimo reflek memeluk erat Kakek leluhurnya itu dengan mata berkaca-kaca. Dia pikir Datuk dan kedua khodam harimaunya tidak akan pernah muncul di hadapannya lagi.Datuk mengelus punggung Bimo dengan lembut. “Cucuku, sudah lama kita tidak berju












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore