Batu Akik Penakluk Wanita

Batu Akik Penakluk Wanita

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-02-03
Oleh:  LailielaOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
10Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Terlahir dari seorang wanita malam yang sakit dan tinggal di sudut paling kumuh pinggir kota, Bayu Saputra hanyalah kuli kasar yang tak pernah dianggap ada. Wajah tidak menarik dan aura suram membuat para wanita menjauh, hingga suatu malam ia menolong pria tua misterius yang memberinya sebuah batu akik. Batu itu bukan batu biasa. Dari situ takdirnya berubah. Wajahnya berubah, ia mendapatkan kekuatan melampaui nalar, dan auranya membuat para wanita yang dulu menghina kini justru mendekat dan menginginkannya. Dari pria terhina, ia bangkit menjadi sosok yang disegani.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Langkah cepat menggema dari dalam gang sempit.

Tap … tap!

Seorang pemuda menerobos lorong lembab ketika fajar belum menyingsing. Langit masih gelap kebiruan, lampu-lampu jalan berkedip. Udara dingin terasa di permukaan kulit.

Ia berjalan cepat hampir seperti berlari dengan nafas teratur dan bahu tegap. Bajunya lusuh, kusut, penuh jejak kerja kasar. Bawah sandalnya yang tipis menghantam aspal retak, memercik genangan air sisa hujan semalam.

Dengan kepala tertunduk, tapi matanya tajam mengawasi jalan di depan. Wajahnya jauh dari kata tampan, rahang keras, kulit kusam, ekspresi dingin yang membuat orang enggan menatap lama. Rambut gondrongnya terurai menutup sebagian wajah, seperti sengaja dipasang sebagai topeng untuk menutupi kejelekan wajah itu.

Dari gang gelap menuju jalanan lebar, ia melangkah tanpa ragu.

Meski pagi belum datang.

Tapi dia sudah bergerak, untuk mengais rejeki lebih awal sebelum ada yang mendahuluinya.

Begitu tiba, keramaian pasar langsung menyergap. Pikap-pikap berdatangan membawa sayur dan buah dalam keranjang besar.

Bayu segera berlari menghampiri. Ia lega karena tiba lebih awal.

“Bayu! Angkat ini dulu. Saya mau buka lapak!” teriak Pak Tejo.

“Siap, Pak!”

Tanpa banyak bicara, Bayu memanggul karung, mengangkat keranjang, lalu mondar-mandir mengantar barang ke tiap lapak dari penjual lainnya juga. Sampai semuanya siap jualan.

Beberapa saat kemudian, Pak Tejo menyodorkan uang yang sudah digulung.

“Nah, ini upahmu.”

“Wah … makasih Pak!” Bayu meraihnya. Matanya berbinar lalu membuka gulungan uang yang ternyata bernilai tiga puluh ribu rupiah.

Keringat membasahi tubuh Bayu hingga bajunya menempel di kulit. Nafasnya naik turun lebih cepat seiring teriknya siang yang kian meninggi. Ia berjalan menuju tempat penjual beras, di mana para buruh sibuk mengangkat karung-karung yang baru dipasok. Saat namanya dipanggil, Bayu segera ikut memanggul beras itu tanpa banyak bicara.

Sayangnya kali ini Bayu salah langkah saat memanggul beras.

Ujung kaki Bayu tersangkut sesuatu.

Sebuah batu kecil yang menonjol dari permukaan tanah tak terlihat karena rambutnya menghalau penglihatan.

Tubuhnya oleng, keseimbangannya jadi tidak stabil.

Bugh!

Dua karung beras yang dipikulnya terhempas keras. Dirinya juga ikut tersungkur ke tanah. Salah satu karung robek di bagian bawah putih-butir beras mengalir keluar, berserakan di atas tanah kotor.

Ia menahan nafas sebentar, dengan cepat menutupi lubang di karung.

Lalu suara menggelegar.

“HAH! Kamu gimana sih?!” bentak Tarji dari depan toko. “Yang bener dong angkatnya! Lihat tuh! Berasnya berserakan!”

Telunjuk Tarji seakan menancap ke arah Bayu.

Sementara Bayu sudah berlutut sebelum makian selesai. Tangannya bergerak cepat, memunguti butiran beras yang tercampur di tanah.

“Maaf, Pak. Saya bereskan sekarang.”

“Maaf, maaf! Kalau gini siapa yang rugi?!” Tarji turun dari teras toko, wajahnya merah. “Cepat bersihin! Hari ini kamu nggak dapat upah! Dengar?!”

Bayu diam, kembali menunduk. Jemarinya tetap bekerja.

“Dan sisa beras yang rusak itu kamu ganti!” lanjut Tarji tajam.

Butiran beras menempel di telapak tangan Bayu yang kasar. Keringat mulai turun dari pelipisnya, bukan karena panas melainkan karena tekanan.

Di sekelilingnya, para buruh lain hanya melirik sekilas. Lalu kembali mengangkat karung masing-masing. Tak ada yang membantu ataupun mendekat, mereka terlalu sibuk bekerja keras dan lebih hati-hati agar tidak seperti Bayu.

Meski begitu Bayu tetap bertanggung jawab. Membereskan dan memberikan uang ganti rugi pada Tarji. Lalu membawa beras yang tidak layak jual itu.

Hingga hari semakin sore kini sudah waktunya Bayu untuk pulang ke rumah. Ia memikul sekarung beras tadi untuk dibawa pulang.

Jalanan pinggiran kota memiliki banyak gang sempit yang tampak hidup dengan cara yang kotor. Di balik bayangan tembok lembab, sepasang pria dan wanita saling berhimpitan di dalam salah satu gang yang dilaluinya. Desahan tak tertahan, bisikan serak, gerakan tergesa-gesa membuat suara gesekan kulit. Udara terasa berat oleh bau keringat dan parfum murahan tercium.

“Hmmh … ya! Lebih dalam lagi!” suara desahan itu semakin terdengar jelas. Suara decakan terdengar dari tubuh yang beradu semakin cepat.

Bayu mendengar semuanya dengan jelas bukan sekadar suara, tetapi juga suasana yang menyertainya. Ia bahkan sempat, tanpa sengaja, bertatap mata dengan para pelacur yang sedang melayani di gang kotor itu. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mengabaikannya, atau setidaknya berpura-pura tak peduli. Bayu menunduk, langkahnya dipercepat, tak berani menoleh lagi.

Namun tetap saja, ia tergoda. Kerap menarik sudut matanya untuk melirik sekilas tentang sesuatu yang sering ia lihat, karena itu membuatnya tidak bisa menahan rasa penasaran.

Akhirnya ujung matanya sempat melirik lekukan tubuh yang menggoda, bahkan pakaian dari wanita itu tanggal dari tubuhnya. Wajahnya basah karena keringat tetapi justru itu menjadi semakin menggairahkan. Ia menatap Bayu dengan wajah cantik yang sedang merasa kenikmatan.

Gluk!

Bayu hanya menelan ludah, lalu kembali menunduk. Jantungnya berdebar begitu cepat saat menyaksikan adegan itu. Meski dalam keramaian hal-hal tidak senonoh itu sudah dianggap biasa di sana.

Saat melewati rumah yang dipenuhi para pelacur, Bayu tetap berjalan menunduk. Akan tetapi, mata-mata di sekitarnya tak melewatkannya begitu saja. Tatapan hina dan merendahkan mengiringi langkahnya.

Viona pelacur yang dikenal sombong berdiri paling depan. Tubuhnya terawat dan mencolok, membuatnya selalu merasa berada di atas yang lain. Berbeda dengan Mila, gadis berusia dua puluh tahun yang masih tampak pemalu. Ia belum melayani siapapun; malam pertamanya masih dianggap “barang mahal” oleh Mami Riska, mucikari licik yang mengatur semuanya dengan hitung-hitungan dingin.

Viona melirik dengan sudut matanya. “Lihat pria menjijikkan itu,” desisnya. “Paling jelek di gang ini. Bagaimana bisa Mbak Sari melahirkan anak seperti itu?”

“Padahal dulu almarhum mbak Sari adalah pelacur paling cantik nomor satu di sini. Tapi bisa-bisanya dia melahirkan anak sejelek itu!” timpal yang lain.

“Sudah,” sela Mila pelan, gadis muda yang masih tampak canggung.

“Nanti dia dengar.” Mila melirik Bayu sekilas, lalu berpaling cepat ada ragu, ada takut. Di matanya, Bayu terlihat menyeramkan.

Bayu Saputra adalah anak dari seorang pelacur bernama Sari. Hingga detik ini, tak seorang pun tahu siapa ayah biologisnya. Dulu, Sari dikenal sebagai pelacur paling cantik dan paling laris di tempat itu, tetapi ia baru saja meninggal akibat penyakit yang dideritanya.

Hari mulai gelap. Bayu tetap melanjutkan langkahnya berjalan pulang.

Bruk!

Sebuah gerobak pedagang terguling tepat di depan Bayu. Perhiasan murahan dan batu-batu akik berhamburan ke jalan.

Tanpa pikir panjang, Bayu berjongkok dan membantu memungutinya satu per satu. Seorang pria tua berambut putih ikut menunduk, wajahnya penuh rasa syukur karena ada yang mau membantunya.

“Terima kasih, Nak. Banyak yang lihat, tapi cuma kamu yang mau bantu,” ucapnya tulus.

“Sama-sama, Pak. Hati-hati, jalannya nggak rata,” jawab Bayu singkat sambil membantu menegakkan dan mendorong gerobak ke sisi jalan.

Pria tua itu lalu membuka kotak kecil di gerobaknya. Ia mengambil sebuah batu akik kecil berwarna kebiruan dan meletakkannya di telapak tangan Bayu, lalu menutupkan jarinya.

“Terimalah. Hanya batu biasa … siapa tahu ada gunanya.”

Bayu baru akan menolak. “Pak, ini—”

“Sudah,” potongnya lembut.

Tanpa menunggu balasan, pria tua itu mendorong gerobaknya pergi.

Bayu berdiri diam, menatap batu kecil di genggamannya yang terasa aneh tapi terasa dingin, seolah menyimpan sesuatu.

Detik berikutnya, batu itu memantulkan cahaya bulan dan tiba-tiba bersinar kebiruan.

Silau hingga ia refleks memejamkan mata. Saat membuka mata lagi, batu itu kembali tampak biasa, kusam, tidak istimewa.

Namun dalam dadanya berdebar keras.

Ia mencengkram dada, nafasnya tercekat. Dari telapak tangannya, sensasi seperti sengatan listrik menjalar cepat ke lengan, lalu ke seluruh tubuh.

Singkat tapi membuat nafasnya tercekat seolah hampir terputus. Tapi jelas Bayu merasa sesuatu yang baru saja berubah dalam dirinya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status