MasukSeharusnya Argus hanya bekerja sebagai ART di rumah pamannya, namun batasan profesional itu runtuh saat Miya, tantenya terus menggodanya demi mencari kepuasan yang tak dia dapatkan dari suaminya. Godaan itu ternyata tak berhenti di sana, karena ketiga sepupunya pun mulai menunjukkan gelagat yang sama. Apakah Argus mampu bertahan dengan semua godaan yang ada atau malah ikut terjerumus ke dalamnya?
Lihat lebih banyak“Ahh, enak, Gus. Lebih keras lagi, Gus. Hnghh.…”
“Tante yakin? Mau lebih keras lagi?”
“Iya, Gus. Ahhh… makin keras makin enak… uhhh…”
Walaupun ragu, aku tetap menuruti permintaan Tante Miya. Aku tekan punggungnya lebih kuat dengan tangan kasarku yang biasa kerja kasar di desa.
Sebenarnya aku takut tenaga dalamku ini akan menyakitinya, tapi melihat Tante Miya yang malah makin mendesah keenakan, sepertinya dia sangat menikmati servis gratis ini.
Akhir-akhir ini Tante Miya memang sering mengeluh badannya gampang pegal. Sebagai keponakan yang menumpang hidup, aku cukup tahu diri. Menawarkan jasa pijat adalah bentuk balas budi paling minimal yang bisa kulakukan.
“Harusnya kamu buka jasa pijat aja, Gus. Soalnya pijatanmu enak banget. Bikin badan Tante yang awalnya tegang jadi rileks,” puji Tante Miya sambil tiba-tiba berbalik posisi, berbaring menghadapku.
Tante Miya baru saja selesai mandi. Tubuhnya hanya dibalut handuk putih yang lilitannya sengaja dilonggarkan— katanya sih, supaya kulitnya bisa bernapas. Tapi aku yang justru sesak napas melihat belahan dan gundukan yang menyembul di balik kain itu.
Aku menelan ludah susah payah melihat pemandangan ini.
Perlu kuakui, di usia 40 tahun, tubuh Tante Miya masih seperti gadis 20 tahunan. Semok, mulus, dan wangi bunga semerbak yang bikin otak mungilku ini mendadak korsleting.
Aku yakin pria manapun tidak akan sanggup menolak pesona Tante Miya.
“Saya nggak ahli mijet, Tan. Lagian kerjaan yang sekarang juga sudah enak, gajinya UMR. Lumayanlah buat ditabung,” balasku, berusaha mengalihkan pandangan agar pikiranku tidak makin liar. Tanganku mulai bergerak perlahan, memijati bahu Tante Miya yang kaku.
“Eh, jangan salah, Gus. Penghasilan jadi terapis pijat juga gak sedikit loh. Apalagi kalau pelanggan puas sama pelayanan kamu, kemungkinan bisa dapat tip banyak. Tapi ya terserah kamu saja, toh kamu yang menjalani.”
Minggu lalu, aku diterima jadi Office Boy di perusahaan ternama. Walaupun cuma jadi OB, gaji UMR Jakarta bagiku yang orang desa ini sudah terasa sangat tinggi.
Maklum, sejak lulus SMA aku cuma kerja serabutan di kampung. Orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat aku masih SMP, membuatku hidup tanpa dukungan materi.
Beruntung, Paman Karyo, saudara almarhum ayahku, mau menampungku di rumah mewahnya ini. Aku jadi bisa menghemat uang kos dan makan. Ditambah lagi, aku bisa masuk ke perusahaan itu berkat rekomendasi langsung Paman Karyo. Jalur orang dalam. Itulah sebabnya aku merasa sangat berutang budi padanya.
Dan di sinilah aku sekarang, duduk di pinggir kasur memijati istri pamanku sendiri.
Paman Karyo sedang di luar kota dan ketiga sepupuku juga ada urusan di luar. Rumah ini benar-benar sunyi, kecuali suara desahan Tante Miya yang makin lama makin terdengar aneh.
Saat aku sedang fokus memijat bahunya, tiba-tiba tangan lembut Tante Miya memegang tanganku, lalu menariknya ke atas bagian paling kenyal menawan tubuhnya.
“Ehh??”
Aku tersentak. Ini kali pertama aku memegang bukit wanita. Meski terhalang kain handuk, sensasi kenyalnya terasa sangat nyata di telapak tanganku.
“Pijat di bagian sini juga, Gus...” bisiknya serak. Tangannya menuntun tanganku untuk meremas bagian kenyal itu.
Aku benar-benar tak berkutik. Otakku mendadak lumpuh, dan tanganku bergerak mengikuti kemauan Tante Miya, mulai meremas bukit itu dengan perlahan.
‘Anjrit... kenyal banget woiii!’ batinku menjerit histeris.
Aku pun meremas untuk kedua kalinya, hendak memastikan bahwa ini bukan mimpi.
“Argus…” panggilnya lagi. Suaranya kian serak, sementara matanya yang sayu menatapku cukup dalam.
Aku bukan anak kecil lagi. Aku pria 25 tahun yang normal. Kalau dilihat dari tatapannya, Tante Miya mungkin ‘kepengen’ main denganku. Tapi aku buru-buru menepis pikiran jorok itu.
Aku menghormati Tante Miya sama seperti aku menghormati almarhum ibuku. Apalagi Paman Karyo sudah sangat baik. Tidak mungkin kan aku 'pagar makan tanaman'?
Buru-buru aku menarik tanganku.
“Kenapa, Gus? Capek?” tanya Tante Miya lembut.
“Eng-enggak, Tan... tapi anu... saya kebelet! Perut saya mendadak mules, permisi!” alibiku sambil ngibrit keluar kamar.
Aku kabur dari kamar itu seolah dikejar setan. Bisa gila aku kalau lama-lama di sana.
Di balik celana, 'adik kecilku' sudah bangun sepenuhnya, bahkan sudah di ujung tanduk.
“Aduh, duhhh, jangan keluar sekarang dong! Masa baru pegang yang kenyal-kenyal aja sudah mau muncrat!” bisikku pada diriku sendiri sambil memegangi selangkangan yang menegang hebat.
Aku memang punya penyakit aneh: burungku gampang sekali terangsang kalau melihat cewek cantik. Dan gara-gara memegang 'bukit' Tante Miya tadi, si LUKMAN— begitu kunamai burungku yang artinya LUcu, Kuat, dan MANja— sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
Aku harus mengeluarkannya sekarang juga!
Karena mengira para sepupuku masih di luar, aku tanpa ragu membuka ritsleting celana bahkan sebelum sampai di toilet belakang.
Sambil berjalan, tanganku sudah mulai bekerja mengelus-elus si Lukman.
Tepat di depan toilet, tanganku sudah siap membuka pintu. Namun, pintu itu terbuka sendiri sebelum sempat kusentuh. Seseorang membukanya dari dalam dengan cepat.
“Akhhh!!”
Aku teriak kaget, tapi orang di dalam jauh lebih kaget.
Mbak Masha, sepupuku berdiri di sana dengan wajah syok.
Dan si Lukman? Dia berdiri dengan gagah tepat di depan mata Mbak Masha yang membelalak sempurna.
“Sejak kapan Bapak pelihara? Kok kemarin-kemarin saya nggak pernah lihat sih waktu datang ke rumah?”“Baru juga kemarin saya beli dari marketplace! Lumayan, Gus, dapat harga miring! He he he,” jawab Pak Kai lagi seraya tertawa khas bapak-bapak.“Oalah! Mantul itu, Pak! Mantap betul! Yo weslah, saya lanjut jalan ya, Pak.”“Wokeh, Gus! Itu pacarmu jagain baik-baik ya!” goda Pak Kai.Aku hanya tersenyum malu-malu, begitupun dengan Masha, wajahnya sudah tampak memerah karena malu. Sepertinya, semua warga komplek sudah pada tahu kalau aku dan Masha berpacaran.Setelah berpamitan pada Pak Kai, kami pun melanjutkan langkah kembali ke rumah. Masha melirikku dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang tak terhingga."Denger kan kata warga? Kamu harus jagain aku terus!” goda Masha.“Jelas dong! Aku bakal jagain kamu sekalipun hari kiamat datang!” balasku bercanda, disambut tawa r
Masha yang masih dipapah oleh Novaria dan Karina melangkah pelan memasuki rumah.Aroma harum pembersih lantai dan tatanan rumah yang rapi menyambut kedatangan kami.Setelah memastikan Masha berbaring dengan nyaman di kamarnya, aku pun meletakkan barang-barangnya di dekat lemari, lalu hendak keluar."Argus, kamu mau ke mana?" tanya Masha, menahan langkahku.Aku menoleh sambil memamerkan senyum tipis. "Aku mau masak, Sayang. Aku mau bikin menu spesial buat menyambut Ratu Rumah yang akhirnya pulang.""Wah, beneran, Mas? Asik!" seru Novaria girang. "Emang Mas Argus mau masak apa hari ini?""Ada deh, rahasia," balasku sambil mengedipkan mata, membuat Novaria tertawa kecil sementara Masha menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku, wajahnya merona bahagia.Aku mulai sibuk di dapur. Daging sapi segar yang tadi sempat kubeli di minimarket dekat rumah sakit kuiris tipis-tipis, hendak membuat beef teriyaki favorit Masha, lengkap dengan hidan
Tante Miya tak lantas bergerak memutar kunci. Wanita di hadapanku itu justru makin mengikis jarak, menatapku dengan binar mata yang memohon dan keputusasaan yang begitu kentara. Napasnya naik turun beriringan dengan kain bajunya yang masih basah dan menempel di dada."Sebelum kita keluar, plis... kasih Tante ciuman dulu," bisik Tante Miya dengan suara yang bergetar penuh harap. Tangannya bergerak melingkari pinggangku. "Cuma sekali aja, Argus... biar Tante terhibur. Tante janji, habis ini Tante nggak bakal cemburu lagi atau ganggu kalian kalau lagi mesra-mesraan."Aku terpaku. Tatapan matanya yang memelas dan desakan situasi di toilet sempit ini membuat pertahananku goyah. Ada rasa kasihan yang terselip, bercampur kekhawatiran jika dia makin nekat dan membuat keributan yang terdengar sampai ke luar.Helaan napas berat lolos dari bibirku. Akhirnya aku pun luluh.Aku memiringkan wajah, mendekatkan diri, lalu mendaratkan bibirku di bibirnya.Tante Miy
Aku dan Masha refleks menoleh ke arah meja kecil di sudut ruangan. Gelas berisi air mineral di tangan Tante Miya tumpah, menyiram bagian depan bajunya hingga basah kuyup dan menempel ketat di tubuhnya."Ya ampun, Tante! Kok bisa tumpah gitu?" seruku kaget.Tante Miya memegang bajunya yang basah, lalu mendongak menatap lurus ke arahku dengan raut wajah memelas dan helaan napas yang terdengar berat. Jemarinya sibuk mengibas-ngibaskan kain bajunya yang basah."Aduh... Tante ceroboh banget deh, Gus," gumam Tante Miya dengan suara pelan dan mendayu, matanya terus menatapku tanpa berkedip. "Argus... Tante basah kuyup begini, ada tisu atau handuk kecil nggak di dekat kamu?""Ada, Tan. Bentar,” jawabku seraya meraih kotak tisu di samping ranjang dan memberikannya ke Tante Miya.Belum sempat Tante Miya mengelap air di bajunya, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang suster melangkah masuk membawa perlengkapan medis."Selamat pagi. Saya cek tanda-tanda vital Bu Masha sebentar ya," sapa suster ra
Begitu pun dengan Mbak Masha, matanya yang semula sayu-sayu mengantuk langsung melotot segar begitu melihat kami.Menyadari tatapan mematikannya, aku langsung peka dan buru-buru melepaskan tangan Karina. Aku lalu menjauh satu langkah, panik dan ingin segera klarifikasi sebelum dia salah paham.Tapi
Novaria hanya diam. Dia tidak meringis ataupun marah. Selama seminggu aku di sini, dia memang yang paling tertutup. Jarang berinteraksi dengan kakak-kakaknya, apalagi dengan ibu tirinya. Waktunya lebih banyak habis di dalam kamar setelah pulang kuliah.Nova menatapku dengan mata bulat yang jernih,
Saat ini, aku hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisku. Suasananya membuatku merinding, persis seperti suasana mencekam di ruang BK setelah aku tertangkap basah merokok di belakang sekolah."P-paman... maaf kalau saya ada salah selama tinggal disi
Wajah Karina yang tadinya merah karena malu, mendadak berubah jadi senyum menyeringai yang licik. Dia melipat tangan di dada, membuat tank top ketat yang dipakainya semakin menjiplak bentuk tubuhnya yang sintal.Mataku yang nakal refleks melirik ke dadanya sebentar, lalu kembali menatap matanya den






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat