Compartir

Bab 2941

Autor: Rexa Pariaman
Ewan berkata, "Bukankah seharusnya aku yang nanya hal itu ke kamu?"

"Kenapa malah tanya aku?" Nazar berkata, "Aku juga nggak tahu harus masuk dari gua yang mana."

Ewan berkata, "Bukannya kamu bisa meramal?"

"Benar juga. Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku sampai hampir lupa kalau aku bisa meramal."

Nazar buru-buru mengeluarkan tiga koin tembaga dari lengan bajunya. Dia menggenggam ketiga koin itu dengan kedua tangan sambil melafalkan mantra dalam hati.

Beberapa saat kemudian.

Nazar membuka telapa
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2949

    Bruk!Nazar tidak sanggup menahannya dan langsung berlutut di tanah. Tulang-tulang di seluruh tubuhnya terasa hampir remuk.Dewi Kembang berusaha keras melawan tekanan itu, tetapi sama sekali tidak berguna. Aura membunuh tersebut terlalu pekat, seolah mampu memusnahkan seluruh makhluk hidup di dunia. Bahkan dia pun hampir tidak mampu menahan diri untuk berlutut.Reaksi Ewan paling cepat. Begitu aura membunuh itu muncul, dia segera menjalankan Teknik Naga Ilahi Sembilan Revolusi. Namun, dia tetap tidak mampu menahannya.Tempurung lututnya nyaris hancur dan punggungnya mulai membungkuk.Bum!Tiba-tiba, sebuah Kaldron Kosmik keluar dengan sendirinya. Seolah menyadari bahwa pemiliknya sedang menghadapi bahaya, kaldron itu melayang di atas kepala Ewan dan memancarkan untaian cahaya keemasan.Seketika, Ewan tidak lagi merasakan tekanan aura membunuh tersebut. Seluruh tubuhnya terasa lega. Dia segera menarik Dewi Kembang ke sisinya."Tua bangka, cepat kemari!" teriak Ewan.Nazar tiarap di tan

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2948

    "Ada warisan di depan."Begitu selesai bicara, Nazar menjadi orang pertama yang bergegas maju.Kali ini, yang ada di sana bukan kotak kayu kecil, melainkan sebuah peti kayu berbentuk persegi. Permukaan peti kayu itu tertutup lapisan debu tebal. Jelas sekali peti tersebut sudah berada di sana sejak lama.Nazar bergegas menghampiri dan langsung memeluk peti kayu itu."Warisan ini milikku. Nggak ada yang boleh merebutnya dariku.""Nggak ada yang mau merebutnya. Buka saja dan lihat," kata Ewan.Nazar membuka peti kayu dan menunduk untuk melihat isinya. Di dalam peti itu terdapat sebuah busur sakti.Seluruh bagian busur itu berwarna hijau giok dan dipenuhi ukiran mantra. Bentuknya kuno, sekilas saja terlihat bahwa busur itu berasal dari zaman yang sangat lampau."Benar-benar harta karun."Nazar benar-benar kegirangan. Dia mengulurkan tangan untuk menggenggam busur sakti tersebut, lalu mencoba mengangkatnya dari dalam peti.Namun, busur itu tidak bergerak. Busur sakti itu bagaikan sebuah gun

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2947

    Ewan mengulurkan tangan untuk menyentuh jimat itu."Jangan sentuh jimatnya," kata Nazar."Kenapa?" Ewan bingung.Nazar berkata, "Kalau jimat itu dilepas, makhluk ini akan hidup kembali.""Kamu mau bohongin siapa? Mana mungkin patung batu bisa hidup kembali?" Ewan sama sekali tidak percaya dan langsung mencabut jimat itu."Dasar bocah tengik, kenapa kamu nggak mau dengar nasihat, sih?" Nazar mulai kesal.Ewan berkata, "Tua bangka, bukannya kamu bilang makhluk ini akan hidup kembali? Kenapa belum ada reaksi?"Nazar berkata, "Lebih baik berhati-hati. Kalau sampai benar-benar hidup kembali, kita bakal dapat masalah .... Astaga!" Nazar tiba-tiba berteriak kaget sambil menunjuk wajah binatang penjaga makam."Aku barusan melihat matanya bergerak."Mendengar ucapannya, yang lain serentak mendongak menatap mata binatang penjaga makam sambil bersiap menyerang. Mereka terus mengamatinya selama setengah menit. Namun, mata binatang penjaga makam itu sama sekali tidak bergerak.Melihat Ewan dan yang

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2946

    Begitu melihat tulisan "Warisan Kedua" di atas batu, lalu melihat Ewan memegang sebuah kotak kayu, Nazar langsung mengerti apa yang terjadi dan memaki dengan kesal."Dasar bocah tengik! Kamu menipu kami dengan mengatakan ada bahaya, tapi malah diam-diam datang sendiri untuk mencari harta. Nggak tahu malu!"Sambil bicara, Nazar merebut kotak kayu dari tangan Ewan dengan cepat. Namun setelah membukanya, dia mendapati kotak itu kosong."Bocah tengik, kamu sudah dapat warisannya?"Ewan tersenyum. "Menurutmu?""Warisan apa? Cepat keluarkan dan biarkan aku melihatnya," desak Nazar.Ewan berkata, "Sebuah Kitab Alkimia. Isinya semua tentang metode meracik pil."Awalnya, Nazar mengira Ewan mendapatkan harta yang luar biasa. Begitu mendengar bahwa itu hanya sebuah Kitab Alkimia, kemarahannya langsung lenyap."Bocah tengik, kali ini aku nggak akan mempermasalahkannya. Tapi nanti kalau kamu meracik pil, kamu harus memberiku beberapa butir.""Nggak masalah," jawab Ewan tanpa ragu.Nazar berkata, "S

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2945

    'Kalau aku menerimanya, apa aku akan terlihat terlalu nggak tahu malu?''Kalau nggak diterima ... aku juga nggak ingin melewatkan kesempatan ini. Aku harus gimana?'Untuk sesaat, Midori tidak tahu apakah dia harus menerima taruhan itu atau tidak.Saat itu, Ewan tiba-tiba menggenggam tangan Dewi Kembang dan berkata, "Vira, ayo pergi."Melihat keduanya pergi sambil bergandengan tangan, Nazar dan Midori saling berpandangan."Apa yang terjadi?" tanya Nazar.Midori menggeleng. Dia juga kebingungan. Ketika masih berada di Istana Kembang dulunya, hanya mantan ketua istana yang memanggil Dewi Kembang dengan nama Vira."Pasti ada sesuatu di antara mereka."Nazar menatap punggung Ewan dan Dewi Kembang sambil berkata pelan, "Sepertinya selama kita berpisah, ada sesuatu yang terjadi antara bocah tengik dan Dewi Kembang.""Nona Midori, aku mengerti perasaanmu. Tenang saja, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menjodohkanmu dengan bocah tengik. Tapi kalau nanti kamu mendapatkan keuntungan, ja

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2944

    Sejak Ewan tenggelam dalam pemahaman hukum langit, tatapan Dewi Kembang tidak pernah beralih darinya. Ketika melihat senyum muncul di sudut bibir Ewan, Dewi Kembang pun ikut tersenyum. Dia tahu Ewan pasti telah memperoleh sesuatu.Tak lama kemudian, Ewan membuka matanya."Tua bangka, kenapa kamu berbaring di tanah?" tanya Ewan."Ya gara-gara kamu." Nazar bangkit dari tanah sambil mengomel, "Seharusnya warisan itu milikku, tapi malah kamu yang mendapatkannya. Bikin aku kesal setengah mati. Bocah tengik, cepat berikan 100 tanaman spiritual berusia 10 ribu tahun padaku supaya kekesalanku reda."Ewan berkata, "Aku nggak punya tanaman spiritual.""Jangan coba-coba membohongiku." Nazar berkata, "Jangan kira aku nggak tahu ada banyak tanaman spiritual di dalam Kantong Kosmik milikmu. Jangan banyak omong, cepat beri aku kompensasi."Ewan berkata, "Tanaman spiritual itu akan kusimpan untuk meracik pil, jadi nggak bisa kuberikan ke kamu."Nazar merasa sangat kesal. Baru saja dia hendak kembali b

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status