SANG PENANTANG WURAKE

SANG PENANTANG WURAKE

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-08-24
Oleh:  Thato KentOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
3Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Karena aku hanya seorang anak yatim, para Wurake itu berkonspirasi demi merebut semua yang kumiliki. Tapi biarkan saja, dan lihat bagaimana caraku merebut kembali semuanya. Aku menantang mereka semua, dan tidak ada seorang pun yang terlepas dari pembalasanku!

Lihat lebih banyak

Bab 1

Ditolak Bidan

"Kakakku su-su-sudsh mau melahirkan!" ucapku terbata-bata, masih dengan napas tersengal-sengal setelah berlari kencang sejauh tiga kilometeran.

"Terus, kalau sudah mau melahirkan memangnya kenapa?" sahut Bu Marwiyah, seorang bidan kampung yang rumahnya paling dekat dengan gubuk kami.

"Kakakku bilang, dia minta tolong dibantu melahirkan, Bu," jawabku menirukan ucapan Zarima, saat dia memintaku untuk datang menemui wanita lima puluhan ini.

"Kalian punya uang berapa?" tanyanya lagi.

Kebetulan aku sedang mengantongi uang. Cepat kurogoh saku, mengeluarkan kresek kecil berisi semua 'harta' yang kumiliki lalu menyerahkannya dengan penuh semangat.

"Ini Bu, semuanya ada dua puluh tujuh ribu."

"Apa?"

Bu Marwiyah menjerit, lengking seperti orang terluka. Aku yang tidak berpikiran sama sekali bahwa dia akan merespon sekeras itu, tanpa sadar seret ke belakang, jantung pun serasa mau lompat keluar dibuatnya.

Belum sempat menguasai diri, dia sudah kembali berkata; "Pulang kasih tau si Rima, bayar di muka!"

"Kalau kalian tidak punya uang, apalagi rumah kalian jauh di hutan sana, tidak usah kembali lagi!"

"Ba-baik, Bu," jawabku, dan langsung berlalu dari hadapannya.

Begitu meninggalkan halaman rumahnya, kembali kupacu langkah, berlari sekuat tenaga.

Untuk mencapai gubuk kami yang berdiri sunyi di tengah 'hutan' sana, aku harus melintasi jalan raya pedesaan sekira dua kilometer dari rumah Bu Marwiyah barusan, kemudian satu kilometeran jalan setapak yang berada dalam hutan adat.

Tiba di gubuk, aku tidak langsung naik, tapi lebih dulu berdiam di kolong, menajamkan pendengaran hingga beberapa saat lamanya.

Gubuk kami ini adalah gubuk panggung. Tinggi kolongnya sekira dua meter. Untuk naik ke gubuk, kami harus menapaki lima anak tangga yang terbuat kayu gelondongan seukuran lengan orang dewasa.

"Sepertinya dia belum melahirkan," gumamku kala tak mendengar adanya suara tangis bayi atau semacamnya.

Setelah itu, aku pun naik ke gubuk. Berpijak pada anak tangga ke-tiga, barulah aku menyapa; "Assalamualaikum, Kak!"

"Mana Bu Marwiyah?"

Separuh badanku belum berada dalam jangkauan tatapannya, tapi Zarima sudah menyongsongku dengan pertanyaan penuh harap begitu. Dia bahkan tidak lagi membalas salam yang kuucapkan.

Sebelum menimpali, aku lebih dulu mengambil tempat di sampingnya.

"Bu Marwiyah belum datang, Kak. Tadi itu dia minta aku untuk datang kasih tau kamu dulu. Katanya, bayar di muka. Kamu ada uang?"

"Ada ada! Itu, cari di bawah tikar itu, bawa saja semuanya!"

Zarima sambil mengarahkan sedikit wajah pada sebuah tikar anyaman daun pandan muara yang tergeletak di salah satu sudut ruangan. Tanpa menunggu, sigap kuraih teplok, lalu menerangi sekitar tikar dimaksud.

"Hati-hati Bary, jangan sampai kita kebakaran;" ucapnya tiba-tiba.

Diam-diam kuhela napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan-lahan. Dalam hatiku, kasian ya Zarima ini. Dalam kondisi darurat begini, dia masih sempat berlagak tenang-tenang saja?

Tapi sepertinya dia mulai menyadari gelagatku, Tanganku memang gemeteran. Nyala teplok dalam genggaman pun sampai meliuk-liuk seperti tertiup angin karenanya.

Namun, bagaimana mungkin aku bisa berlagak tenang-tenang saja, sedangkan di gubuk ini hanya ada aku dan dia?

Tempat tinggal kami ini hanyalah sebuah gubuk reyot peninggalan almarhum ayahku. Berdiri di tengah ladang tua. Salah satu sisinya berbatasan langsung dengan hutan adat, sedangkan tiga sisi lainnya adalah ladang-ladang terbengkalai yang sudah sekian lama tidak dijamah manusia.

Tetangga terdekat adanya jauh di desa sana, kira-kira satu kilometer dari sini. Bisa dibayangkan bagaimana sekiranya Zarima ini sudah keburu melahirkan sebelum bidannya datang!

"Di mana uangnya, Kak?" tanyaku pada Zarima yang tengah berbaring terlentang dengan kedua lutut ditegakkan. Aku tidak melihat adanya uang yang dia bicarakan.

"Yang kain hitam itu, Bary! Cepatlah sedikit, kayaknya ini waktunya tidak lama lagi!" jawabnya.

Kain hitam? Cepat kucari kembali uangnya. Kali ini aku mencarinya dengan jauh lebih teliti dari sebelumnya. Dan, ketemu.

Kantung uangnya ternyata adalah potongan kain yang dia jahit segi empat. Ada tali sepatu pada salah satu sisinya.

"Berapa ini, Kak?" tanyaku sambil menautkan kembali teplok ke paku yang tertancap di salah satu tiang gubuk.

"Seratus tujuh puluh delapan kalau aku tidak salah hitung. Turunlah cepat. Hati-hati uangnya jangan sampai tercecer di jalan!" ujarnya mewanti-wanti.

"Baik, Kak!" balasku dan langsung menuju pintu, menuruni tangga gubuk, sebelum kemudian kembali memacu langkah.

Tok tok tok!

"Siapa?" Itu suara Bu Marwiyah.

"Aku, Bu, Bary!" jawabku.

Aku lalu sempatkan diri beruku; berjongkok dengan kedua tangan menumpu di lutut, sekadar untuk menetralisir deru pernapasan yang rasa-rasanya sudah pun berada di ambang tenggorokan. Berlari kencang secara bolak-balik dalam keadaan panik begini, ternyata memang luar biasa melelahkan!

"Astaga anak ini, sudah mau jam satu dia masih datang juga?"

Bu Marwiyah membuyarkan konsentrasiku. Sadar dia sudah pun berdiri tepat di hadapanku, cepat aku tegakkan badan.

"Ini uangnya, Bu. Kak Rima bilang, ambil saja semuanya!" Aku sambil menyerahkan kantung uang Zarima.

Bu Marwiyah menyambutnya, tapi tatapannya justru terpaku ke wajahku. "Berapa ini?" tanyanya setelah itu.

"275, Bu. Tapi itu sudah termasuk ...."

"275? Kurang ajar!"

Plak!

Selain tidak lagi menunggu sampai aku merampungkan perkataan, Bu Marwiyah justru melempar kantung uang ke wajahku. Lagi-lagi dia melakukannya dengan sangat tiba-tiba, sampai-sampai aku tidak punya kesempatan sama sekali walau sekadar untuk menghindar atau bagaimana.

"Bu, ke-ke-kenapa ....."

"Kenapa apanya, ha?" pangkasnya sengit. "Suruh si Rima kasih belorot sendiri saja anaknya! Kalian pikir ongkos melahirkan itu berapa, ha? Kalian pikir sama murahnya dengan waktu kalian buka celana lalu baku tindis?"

"Dasar anak-anak mesum. Pulang sana, awas kalau kamu sampai berani datang ganggu aku lagi!"

Brak!

Bunyi bantingan pintu itu menjadi akhir dari dialog kami. Setelahnya, aku hanya bisa tercenung di tempat seraya menatap pintu rumahnya dengan tatapan yang berangsur-angsur nanar.

Cukup lama, sebelum kemudian aku berjongkok, menjumput kantung uang barusan, lalu beredar dengan perasaan yang entah seperti apa menggambarkannya.

Sepuluhan meter membelakangi halaman rumah Bu Marwiyah, air mata yang sedari barusan sudah coba kutahan-tahan, pada akhirnya menetes juga.

"Ya Allah, Kak, kenapa kita ... astaga, Kak Rima?"

Separuh jiwaku seperti sedang melayang entah kemana di ketika ini. Tapi begitu terbayang Zarima yang mungkin sudah tidak sabar menunggu, cepat kuseka air mata, lalu kembali berlari pulang.

"Mana Bu Marwiyah?" Lagi-lagi Zarima menyambutku dengan pertanyaan itu.

Aku terdiam, benar-benar terdiam. Sungguh tidak tahu lagi harus berkata apa.

Sedangkan Zarima, sepertinya dia sudah tahu berita apa yang kubawa pulang. Dia tak lagi mengulang perkataan, tidak pula .....

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status