LOGINSelama sebelas tahun, Lily Shopia terpaksa merobek gaunnya, berbicara dengan dinding, dan bertingkah tidak waras di rumahnya sendiri. Menjadi "gila" adalah satu-satunya cara agar dia tidak dilenyapkan oleh ibu tiri dan saudara tirinya yang ambisius. Namun, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-21, sang ayah berencana merebut paksa seluruh saham warisan ibunya dan menjebloskannya ke Rumah Sakit Jiwa untuk selamanya. Waktu bermainnya sebagai badut telah habis. Lily pun mencari cara agar bisa keluar dari rumah megah itu untuk membalas dendam.
View MoreSuara langkah kaki terdengar mendekat di lantai dua. Semakin lama, suara langkah itu semakin cepat dan membuka kasar pintu tawanan di ujung ruangan. Dia Jesika, anak Nyonya Lyora yang selalu menyempatkan diri untuk datang menemui Lily. Bukan karena simpati melainkan untuk memastikan agar saudara tirinya tetap gila di bawah pengawasannya.
"Makanannya sudah datang, cepat datang dan habiskan. Jangan membuat lantai kamarmu menjadi kotor." Brak! Suara nampan aluminium yang dibanting ke lantai berbunyi nyaring, disusul suara tawa terkekeh puas dari dua orang wanita. Lily tetap berjongkok di sudut kamarnya yang remang-remang. Rambutnya yang panjang tampak kusut masai, menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Tangannya memegang sebuah boneka kain usang tanpa mata, sementara mulutnya meracau membisikkan kata tanpa arti yang terdengar mengerikan. "Lihat dia, Ma," cibir Jesika, saudara tirinya yang tampil memukau dengan gaun desainer terbaru. "Sepuluh tahun berlalu, dan dia masih saja betah bicara dengan dinding. Rasanya menggelikan mengingat sepasang tangannya yang kotor itu memegang kendali terbesar di perusahaan Papa." Ibu tirinya, yang berdiri di ambang pintu dengan melipat tangan, mendengus sinis. "Biarkan saja dia gila, Jes. Justru karena dia gila, kita bisa hidup seperti ratu di rumah ini." Lily mendengarkan, namun tak ada emosi di wajah lesunya. "Gadis sialan, hanya karena ibumu menyimpan warisan jadi papa harus bersusah payah mengurus perempuan sialan yang bau dan kotor sepertimu!" "Makan! Jangan sisakan karena ini jatah makan terakhirmu hari ini, haha haha!" Menjadi satu-satunya Nona Muda yang diperkenalkan disetiap acara oleh orangtuanya membuat Jesika sangat puas dan di atas awan. Dia sangat membenci Lily meski saudari tirinya itu bertingkah seperti orang tak waras. "Abaikan dia, Jess. Makan atau tidak, itu bukan urusan kita. Lebih baik, kita segera turun. Papa bilang malam ini ada tamu agung yang sangat penting bagi bisnis kita datang berkunjung. Kita harus menyambutnya dengan sempurna." "Tamu agung! Siapa, Ma?" tanya Jesika penasaran. "Alvian Adhitama. Dia adalah satu-satunya penerus dari keluarga Adhitama Group. Pria paling berpengaruh di kota ini. Jika Papa bisa mengamankan investasinya, posisi perusahaan kita tidak akan tergoyahkan lagi." "Oh ya?" "Ya, dan kabar baiknya, Pak Alvian juga masih single loh, belum punya pacar atau tunangan." Raut wajah Jesika tampak bersinar. Dia dan ibunya memang selalu tertarik dengan segala kemewahan, termasuk pasangan yang kaya raya. Tentu saja jika berhasil mendekati Alvian, maka status mereka akan semakin dihormati di wilayah itu. "Oke tuh, Ma. Aku harus bilang Papa agar mau mengenalkan kami. Mama harus bantu aku, agar Alvian melirik aku nanti." "Tentu saja sayang, ayo cepat kita keluar dan bersiap." Klek. Srek. Suara pintu kayu yang tebal itu dikunci dari luar. Dua lapis selot besi sengaja dipasang untuk memastikan nona muda yang gila tidak bisa berkeliaran. Begitu derap langkah kaki di lorong luar benar-benar menghilang, keheningan mencekam langsung menguasai kamar tersebut. Secara perlahan, gumaman aneh dari bibir Lily berhenti. Boneka kain usang di tangannya diletakkan dengan rapi di atas lantai. Lily menegakkan tubuhnya, dia berdiri dengan anggun dan menatap keluar jendela. Tatapan matanya yang semula kosong, dalam sekejap berubah menjadi setajam mata penuh dendam. 'Alvian Adhitama akan datang ke sini?' Lily membatin. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Ini bukan sekadar kebetulan, ini adalah peluang emas yang dikirimkan takdir. Dia berjalan mendekati nampan makanan yang tergeletak di lantai. Bau obat penenang yang menyengat langsung tercium oleh hidungnya yang sensitif. Selama sebelas tahun, sejak ibunya meninggal secara misterius dan wanita ular itu datang membawa anaknya, Lily telah belajar cara bertahan hidup. Menjadi gila adalah satu-satunya perisai yang dia miliki agar tidak dilenyapkan secara kejam. Lily menumpahkan makanan beracun itu ke lubang toilet, lalu membilasnya tanpa ekspresi. Dia harus memanfaatkan kesempatan malam ini. Dia harus membuat Alvian menyadari keberadaannya, atau kesempatan untuk pergi tak akan pernah terwujud. ** Satu jam kemudian, di aula utama kediaman keluarga Malik yang megah, suasana tampak sangat formal. Malik, ayah kandung Lily, berkali-kali menyeka keringat dingin di dahinya meski ruangan itu ber-AC penuh. Di seberang meja sofa, duduk seorang pria dengan setelan jas hitam yang dijahit sempurna. Alvian Adhitama. Pria itu memancarkan aura dominan yang mencekam, seolah dia adalah pesona tertinggi yang sedang menginspeksi wilayah kekuasaannya. Tatapan matanya tajam, dingin, meski begitu dia tetap tenang bijaksana. "Tuan Alvian, suatu kehormatan besar bagi kami karena Anda sudi datang bertamu malam ini," ujar Malik dengan nada menjilat. "Proyek kerja sama yang saya tawarkan kemarin, jika Adhitama Group bersedia mendanai—" "Aku datang ke sini bukan untuk mendengar basa-basi, Tuan Malik," potong Alvian. Suaranya berat, dan penuh penekanan yang membuat Malik langsung terbungkam. "Aku hanya tertarik pada bisnis yang bersih. Dan aku mendengar, saham mayoritas perusahaanmu sebenarnya bukan milikmu, melainkan milik mendiang istrimu yang diwariskan pada putrimu." Mendengar hal itu, wajah Malik dan istri barunya langsung menegang. Jesika yang duduk di samping ibunya mencoba tersenyum manis untuk mencuri perhatian Alvian, namun pria itu bahkan tidak meliriknya sama sekali. "Ah... itu... putri saya, Lily..." Malik berdehem gugup. "Dia... sayangnya tidak bisa mengelola bisnis. Dia mengalami gangguan jiwa sejak kecil, Tuan Alvian. Sangat disayangkan. Besok, pihak pengadilan akan meresmikan hak wali penuh atas saham itu kepada saya demi kelangsungan perusahaan." Alvian menyipitkan mata. Tepat setelah Malik menyelesaikan kalimatnya, sebuah keributan besar terdengar dari arah tangga utama. "Lepaskan! Hahaha! Burung-burung itu mau terbang!" Prang! Sebuah vas bunga kaca yang mahal jatuh dari lantai dua, hancur berkeping-keping di dekat area ruang tamu. Para pelayan berteriak panik, mencoba mengejar sesosok gadis yang berlari turun dengan tawa melengking yang aneh. Itu Lily. Dia mengenakan gaun putih longgar yang sedikit robek di bagian bawahnya, rambutnya berantakan, dan wajahnya kotor tercoret oleh abu rokok. Dia bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan akal, melompat-lompat menuruni tangga. "Lily! Apa yang kamu lakukan?! Pelayan, cepat seret dia kembali ke kamarnya!" bentak Malik, wajahnya memerah menahan malu yang luar biasa di hadapan Alvian. Ibu tirinya dan Jesika langsung memasang wajah prihatin yang dibuat-buat. "Maafkan putri tiri saya, Tuan Alvian. Penyakit gilanya memang sering kambuh seperti ini," Nyonya Lyora berucap dengan nada sedih yang palsu, berusaha mendapatkan simpati. Lily terus tertawa, dia berlari mengitari ruangan. Pecahan beling yang berserakan dipijaknya tanpa merasa kesakitan. Darah mengotori lantai. Namun, Lily tetap ceria dan tersenyum. Larinya sangat terukur. Dia sengaja menabrak sudut meja dekat dengan tempat Alvian duduk, membuat cangkir kopi Alvian sedikit bergoyang. "Auw!" Lily terjatuh di lantai, tepat di bawah kaki Alvian. Dia mendongak, memeluk lututnya sendiri, lalu menatap Alvian dengan mulut yang bergumam tidak jelas, seolah takut melihat pria asing itu. "Sialan! Seret dia sekarang!" teriak Malik tertahan. Dua pelayan berbadan besar langsung maju dan mencengkeram lengan Lily dengan kasar. Saat tubuh gadis gila itu ditarik paksa untuk berdiri, rambut panjangnya yang kusut tersingkap. Pada detik itulah, mata Lily dan Alvian bertemu secara langsung. Hanya satu detik. Lily menatap lurus ke dalam manik mata Alvian dengan tatapan yang sangat jernih, dingin, dan penuh arti. Itu adalah tatapan seorang wanita yang sedang menantangnya. Alvian, yang sejak tadi bersikap acuh tak acuh, tiba-tiba menegakkan punggungnya. Alisnya bertaut samar. Sebagai pria yang terbiasa membaca ribuan orang di dunia bisnis, dia tahu persis. Gadis dihadapannya ini unik. "Lily, kembali ke kamarmu!" Tuan Malik menariknya paksa, namun Alvian justru ikut melangkah menghampiri gadis itu. "Papa! Papa aku mau boneka!" "Papa! Mainlah denganku!" "Haha haha!" Suara tawa Lily melengking tajam membuat semua orang terus menatapnya. "Kakak ganteng!" Lily tanpa ragu bergelayut di tangan Alvian. "Hey! Jangan menyentuhnya!" Tuan Malik dan Jesika kompak melotot segan pada Alvian. Namun, pemuda itu hanya diam, memperhatikan tangannya yang terus direngkuh oleh Lily. Pegangan gadis itu tidak kuat, juga tidak menyakiti. "Kakak ganteng, mainlah denganku!" "Aku tidak punya teman!" Tuan Malik dipenuhi keringat dingin. "Lily! Lepaskan dia!" Jesika berusaha tidak mengumpat melihat kelancangan saudara tirinya. "Tidak mau! Aku mau main dengan kakak ganteng!" Tuan Malik mengepalkan tangan, dan saat itu juga para pelayan menyeret Lily kembali ke lantai atas dengan kasar. "Ayo, Nona Lily. Kami antar ke kamar." "Hey, hati-hati. Kakinya terluka." Semua orang terpaku untuk sejenak. Ucapan Alvian membuat semua mata menatap kaki Lily. Suara tawa gadis itu kembali menggema. Alvian terus menatap punggungnya hingga gadis itu menoleh dan tersenyum. "Baik, Tuan. Kami pasti akan mengobatinya." "Aku tidak mau ke kamar, aku mau main di taman!" "Aku mau menangkap kupu-kupu!" "Kupu-kupu yang lucu!" "Nona, jangan banyak bergerak. Kita obati dulu kakinya ya." Pelayan terus membujuk. "Tidak mau!" Meski demikian, Lily tetap dibawa pergi. Di ruang tamu, Malik berulang kali membungkuk meminta maaf. "Saya benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan Alvian. Gadis gila itu benar-benar merusak suasana." Alvian mengangguk santai. "Oh iya, kenalkan ini putriku, Jesika. Dia satu-satunya putri kami yang akan bergabung dengan perusahaan." Jesika tersenyum bahagia mengulurkan tangan. Alvian menyambutnya dengan tatapan biasa saja. "Halo, Pak Alvian." Nyonya Lyora tampak puas melihat perkenalan mereka. Jabatan tangan mereka terlerai dan Alvian memasukkan kembali tangannya ke saku celana. "Setelah melihat apa yang terjadi, aku rasa aku akan mempertimbangkan investasiku setelah melihat keputusan pengadilanmu besok pagi, Tuan Malik." "Tapi, Tuan... Anda tak perlu meragukan kami." Tanpa menunggu jawaban, Alvian melangkah keluar dari rumah mewah tersebut dengan kawalan para pengawalnya. Tuan Malik tak berdaya. Dia pun hanya bisa pasrah dan menatap geram ke lantai dua. "Pa! Ini semua gara-gara Lily. Papa jadi nggak bisa kerja sama dengan Alvian!" Malik mengepalkan tangan. "Pa, serahin Lily sama aku!"Pintu lift eksekutif berdenting halus, lalu terbuka memperlihatkan koridor lantai paling atas Adhitama Tower yang terlapisi karpet tebal. Atmosfer di ruang ini terasa begitu mencekam, jauh berbeda dari kebisingan wartawan di lantai dasar tadi.Di ujung lorong, dua pintu kayu mahoni besar menuju Ruang Rapat Utama terbuka lebar. Di dalam sana, puluhan anggota dewan direksi, tim kuasa hukum, serta wajah-wajah tak asing sudah berkumpul.Alvian tidak melepaskan jemari Lily. Pria itu menggenggamnya makin erat, seolah menyalurkan seluruh kekuatannya. Lily melirik genggaman itu sekilas, lalu membuang pandangan ke depan, menegakkan bahunya dan memasang raut wajah dingin tanpa celah.Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruangan, seluruh percakapan terhenti seketika. Puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka berdua.Di ujung meja rapat oval yang panjang, Tuan Adhitama duduk di kursi pimpinan. Wajah wibawanya tampak mengeras, dengan sepasang mata tajam yang menatap putra tunggalnya dan L
Lily terkekeh hampa, menyandarkan separuh tubuhnya pada daun pintu. Tatapannya meneliti wajah Alvian—mencari celah kebohongan di balik sorot mata pria yang tampak lelah namun teramat kaku itu."Ratu?" ulang Lily dengan nada mengejek yang dingin. "Jangan menggunakan istilah manis untuk menutupi kebutuhan strategimu, Alvian. Katakan saja yang sebenarnya: tanpa kehadiranku, postingan buku nikahmu cuma akan dianggap gertakan kosong oleh dewan direksi dan Tuan Adhitama."Alvian mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Rasa bersalah semalam membakar dadanya, namun keteguhan sikap Lily hari ini membuktikan bahwa benteng pertahanan istrinya sudah terkunci dari dalam. Pria itu menahan diri untuk tidak memangkas jarak atau menyentuh jemari Lily yang terkepal di balik gaun tidurnya."Terserah bagaimana kamu menilai niatku, Lily," sahut Alvian dengan suara rendah yang ditahan mati-matian agar tetap stabil. "Tapi di Jakarta, Paman Bregas dan Aluna sudah menyiapkan dokumen pembatalan hak waris atas namam
Mobil rental yang dipesan Lily membelah kegelapan malam pesisir, meninggalkan rumah kolonial yang baru beberapa jam lalu menyandang status sebagai rumah pengantin mereka. Di dalam kabin mobil yang hening, Lily menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Air mata yang sempat dia tahan di hadapan Alvian kini meluncur bebas, membasahi pipinya yang dingin.Setibanya di rumah lamanya, Bi Inah yang kaget melihat kepulangan Lily tanpa Alvian langsung menyambutnya dengan cemas. Namun Lily hanya mengulas senyum tipis yang dipaksakan."Loh Non, kok datangnya sendiri?""Nggak apa-apa, Bi. Aku cuma mau tidur di kamarku sendiri malam ini," bisik Lily parau sebelum melangkah naik ke lantai dua."Non, baik-baik saja?"Lily mengangguk sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.Dia melempar tasnya sembarangan lalu merosot di balik pintu, Lily memeluk kedua lututnya. Ingatannya berputar keras pada ucapan Alvian beberapa bulan lalu di rumah Dokter Wira—kalimat yang terpatri jelas di ingatannya tentang 'pert
Alvian mengusap puncak kepala Lily dengan lembut, menikmati raut kebingungan yang bercampur haru di wajah istrinya."Alvian, kamu tidak perlu melakukan ini. Aku tidak kekurangan apapun.""Aku tahu, rumah ini bentuk pertanggungjawabanku sebagai suamimu, meski dalam ikatan yang kita sebut sebagai kerja sama ini, aku tetap ingin memberikannya."Lily menatap lembaran sertifikat itu dengan dada yang berdesir. Mata indahnya berkaca-kaca, memandang Alvian yang kini tak hentinya menatap wajahnya."Ada apa?"Alvian menggeleng sendu."Tidak ada, ayo masuk."Lily patuh, dia mengikuti kemana Alvian pergi. "Mari, Nyonya, Tuan. Saya siapkan teh hangat dan camilan sore dulu," pamit seorang pelayan menatap hormat.Alvian mengangguk. Dan mereka langsung naik ke lantai dua.Alvian terus berada di sisinya seolah takut jauh dari Lily."Dalam ikatan yang kamu sebutkan sebagai sandiwara ini, apakah ada yang ingin kamu perjelas?" tanya Lily."Ya, aku ingin selama kontrak kita kamu menjadi dirimu sendiri."






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.