MasukSelama sebelas tahun, Lily Shopia terpaksa merobek gaunnya, berbicara dengan dinding, dan bertingkah tidak waras di rumahnya sendiri. Menjadi "gila" adalah satu-satunya cara agar dia tidak dilenyapkan oleh ibu tiri dan saudara tirinya yang ambisius. Namun, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-21, sang ayah berencana merebut paksa seluruh saham warisan ibunya dan menjebloskannya ke Rumah Sakit Jiwa untuk selamanya. Waktu bermainnya sebagai badut telah habis. Lily pun mencari cara agar bisa keluar dari rumah megah itu untuk membalas dendam.
Lihat lebih banyakTuan Malik mengelus dadanya yang berdebar kencang, lalu mengisyaratkan istri dan anaknya untuk menyusul ke lantai atas dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.Sementara itu, Alvian melangkah mantap menaiki tangga sembari menggenggam erat tangan Lily. Langkah kakinya terasa berat bukan karena lelah, melainkan karena rasa geram yang terus menumpuk di dadanya. Ucapan Lily soal kamar loteng yang penuh tikus tadi terus berputar di kepalanya. Pria itu menatap punggung kecil Lily yang berjalan santai di sampingnya, membayangkan bagaimana gadis ini bertahan hidup di rumah yang begitu besar namun seperti neraka.Lily melihat semuanya, semua tata letak benda dan masuk ke kamarnya.Ruangan itu memang dipoles dengan sangat cantik, dinding bernuansa pastel, kasur berukuran king size dengan sprei sutra, hingga balkon pribadi yang menghadap ke halaman depan. Sangat berbeda jauh dengan loteng kumuh tempat Lily dikurung selama sebelas tahun."Nah, Lily sayang... ini kamar barumu," ujar Lyora yang
Langkah kaki Wira terhenti di ambang pintu. Di dalam kamar, Lily sedang duduk di tepi ranjang. Jemari lentiknya yang biasa melipat origami biru kini bertumpu rapi di atas pangkuannya. "Ehmm, boleh saya masuk?" Lily menoleh menatap Wira. Sorot matanya sama sekali tidak mencerminkan seorang penderita gangguan jiwa."Kamu sengaja melarang Alvian masuk?" tanya Wira seraya menutup pintu rapat-rapat lalu berjalan mendekat dengan tas medisnya.Lily tak langsung menjawab. Dia menatap pintu sejenak, memastikan tidak ada bayangan yang mengintai, sebelum akhirnya berbicara."Alvian terlalu mudah ditebak jika sedang emosi, Dokter. Jika dia ikut masuk, dia pasti akan melarangku pulang ke rumah itu."Wira menghentikan gerakannya yang hendak mengeluarkan stetoskop. Dia menatap Lily lekat-lekat. "Kamu tahu rumah kediaman Malik itu neraka, Lily. Kenapa kamu malah bersikeras masuk kembali ke sarang serigala?""Karena bukti penggelapan harta ibuku dan racun saraf itu ada di brankas ruang kerja ayahku
"Tuan, apa saya tidak salah dengar?" Bu Ratna menatap pilu dengan kepala tertunduk. "Anda akan menyerahkan Nona Lily kepada keluarganya?" "Ya." Alvian tahu, pelan-pelan semua orang di villa itu mulai menyayangi Lily. Meski dia terlihat gila, Lily tak pernah menyakiti siapapun. "Tapi, Tuan!" "Bu Ratna, setelah ku pikir-pikir. Tetap menahan Lily di sini akan membuat ayah atau orang luar berpikiran yang tidak-tidak. Sebelum hal itu terjadi, lebih baik kita cegah saja." "Lalu, bagaimana jika non Lily disiksa lagi?" "Tenang saja, aku akan mengutus seseorang untuk menjaganya." Bu Ratna paham lalu melangkah mundur. Di lantai atas, Bi Inah juga mendengar semuanya. Dia dengan cepat menemui Lily yang sejak tadi melipat kertas origami. "Nona! Nona, aku dengar Tuan Alvian akan memulangkan kita ke rumah Tuan besar." Lily menatapnya tenang. "Nona, bagaimana ini? Kita harus segera kabur!" Lily menggelengkan kepala. "Tidak, Bi. Kita tidak boleh kabur. Aku yang meminta Alvian m
Baru saja Tuan Malik mengingatkan putrinya, suara bel pintu rumah terdengar nyaring. Ketiga orang itu saling menatap, perasaan khawatir kini bersarang di dada. "Nggak mungkin, itu ngga mungkin orang-orangnya Alvian kan, Pa?" Tuan Malik mematung ditempatnya. Dia dan istrinya tahu betul bagaimana kuasa keluarga Adhitama, mereka tak pernah main-main dalam memberi pelajaran. "Jesika! Kamu benar-benar! Bisa ngga, dalam sehari kamu ngga nyusahin mama dan papamu?" "Ma! Aku mana tahu jika keluarga Alvian sehebat itu." Suara bel semakin bersahutan, mau tak mau pelayan datang membukakan pintu. "Selamat pagi." "Pagi, maaf cari siapa?" Pelayan itu bertanya dengan nada sopan. "Kami di sini untuk bertemu dengan Tuan Malik." Seorang pria berjas rapi mengantarkan sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan segel logo firma hukum Adhitama. Penasaran dengan siapa yang datang, Tuan Malik pun keluar diikuti oleh anak dan istrinya. "Saya sendiri, ada apa ya?" Amplop itu di serahkan, Tuan Malik












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.