Nyai Jamanika melihat ada banyak pendekar dan ratusan prajurit yang berdiri di hadapannya. Pemandangan tersebut membuatnya jengkel Dia tak suka kalau harus dikeroyok oleh lawan yang jumlahnya lebih banyak.
Penyihir wanita itu pun lalu mengeluarkan lagi salah satu dari ilmu kesaktian yang dia miliki.
“Awas, sepertinya nenek peot itu hendak mempergunakan suatu ajian!” ujar Patrioda memperingatkan pada yang lain.
Sejenak mereka hanya terpaku menyaksikan Nyai Jamanika yang tampak memainkan gerakan bunga silat. Kemudian nenek tua itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Energi sihirnya pun terpencar meluas.
Walau kekuatan itu tak dapat dilihat oleh mata telanjang, tapi semua orang bisa merasakan kalau bulu kuduk mereka merinding, ada aura kegelapan yang kuat sedang ditebarkan oleh Nyai Jamanika.
“Sihir apa lagi ini?” Alindra mengerutkan kening sambil bersiap dengan kuda-kuda silatnya.
Senopati Wibisana tiba-tiba
“Gusti Patih,” pekik Senopati Taraka. Teriakannya itu membuat yang lain pun jadi ikut kaget.Semua mata pendekar kini tertuju pada Tubagus Dharmasuri. Sungguh tak diduga kalau orang sekuat dia ternyata juga bisa kalah. Padahal Tubagus Dharmasuri adalah yang paling sakti di antara yang lain. Dengan susah payah, Senopati Taraka pun cepat-cepat bangkit. Dia tergopoh-gopoh menghampiri sang patih yang tampaknya mengalami luka dalam.Sewaktu tadi Dewa Kalajengking menembakkan sinar merah dari telapak tangannya, Tubagus Dharmasuri adalah yang berada di posisi paling depan di antara para pendekar, maka wajarlah kalau dirinya yang paling kuat terkena terpaan energi penyihir itu.Sambil berusaha mengontrol nafas, Tubagus Dharmasuri mengangkat tangan kirinya, Senopati Taraka langsung tahu kalau patih itu minta dibantu untuk berdiri.“Bertahanlah, Gusti!” ucap Senopati Taraka seraya menaruh lengan Tubagus Dharmasuri di tengkuknya, dia pun menolongnya untuk bangun.Tubuh orang tua itu ternyata lu
Napas Patrioda berdengus bak banteng yang baru masuk ke dalam arena. Dia tak hirau lagi dengan apa pun di sekitarnya, sebab perhatiannya saat ini cuma tertuju pada satu titik, yaitu Dewa Kalajengking yang sebentar lagi akan dia terkam! Tanpa berkedip, Patrioda menatap sosok besar yang berdiri setinggi dua tombak itu. Dia rasa kalau dirinya harus berlari dan melonjak ke udara bila ingin mencakar tubuh Dewa Kalajengking dengan kukunya.Patrioda pun berseru, “Akan kuselesaikan semuanya sekarang! Terimalah ini, Jurus Cakar Naga Mencabik Gunung! Hiyaaa!”Bak Macan tutul yang kelaparan, Patrioda bergerak secepat angin. Dengan lonjakan kaki yang kuat di tanah, tubuhnya pun lalu membubung tinggi untuk menjangkau badan Dewa Kalajengking.Musuhnya itu sama sekali tak berkelit, Dewa Kalajengking malah membentangkan tangannya lebar-lebar, seolah mempersilahkan Patrioda yang hendak menyerangnya. Dengan bengis, kedua cakar Patrioda yang serupa bara api pun serta merta langsung mencarik kulit Dewa
Alindra dan Damayanti akhirnya kembali pulih setelah tadi terkena pukulan ekor dari Dewa Kalajengking. Semua pejuang kerajaan pun berkumpul di belakang Patrioda. Mereka masih belum mengambil tindakan, selain hanya jadi penonton untuk sementara waktu.Senopati Wibisana yang sebelumnya jauh tertinggal di belakang kini juga turut bergabung dengan yang lain. Melihat kondisi Alindra sudah dapat berdiri setelah diobati oleh Mpu Bhiantar, dia pun merasa lega, tapi walau demikian, dia tak ingin kalau Alindra sampai kenapa-napa lagi.“Sebaiknya kau jangan ikut bertarung dulu, Alindra. Sebab tenagamu pasti banyak terkuras setelah menggunakan Jurus Delapan Mahkota Teratai Jingga. Simpan dulu sisa kekuatanmu untuk pemulihan seutuhnya.”Kata-kata itu membuat Alindra tersipu malu. Pipinya pun tiba-tiba menjadi merah. Baru kali ini dia temukan kalau ada lelaki yang sangat perhatian pada dirinya. “Benar apa yang dikatakan oleh gusti senopati itu,” ujar Mpu Bhiantar menasehati Alindra. “Kalau kau mem
Mpu Bhiantar menyandarkan tubuh Alindra di bawah pohon. Dia berusaha menyalurkan energinya untuk mengobati murid dari adik seperguruannya itu.Patrioda yang melihat kalau Alindra dan Damayanti telah dikalahkan oleh Dewa Kalajengking rupanya jadi merasa penasaran, dia ingin pula untuk menguji kemampuannya sendiri, apakah dia sanggup bertarung melawan si penyihir itu.Dengan dada busung dan jiwa berani, Patrioda mendekati Dewa Kalajengking, terjadilah kemudian saling tatap di antara keduanya.Melihat muka Patrioda yang cacat akibat bekas cakaran Jimbalang Loreng, Dewa Kalajengking memandangnya sinis. Dia tak suka dengan ekspresi wajah yang Patrioda tunjukkan. Ditambah lagi gesture badan Patrioda juga memperlihatkan kalau dia ingin menantang.“Bocah ingusan. Lagakmu seperti orang yang bosan hidup. Kedua temanmu tadi telah remuk aku hajar. Sekarang apa dirimu juga ingin merasakannya?”Patrioda mengepalkan kedua belah tangan. Dengan sikap berdiri menyamping, dia mulai membuka kuda-kuda dan
Dewa Kalajengking melihat bahwa Mpu Bhiantar berusaha menolong Alindra, dia akan membawanya ke tepi agar segera diobati. Hal itu tentu saja tak akan dibiarkan oleh Dewa Kalajengking, maka dia pun lekas melompat dan hendak menyerang Mpu Bhiantar.“Jangan pikir kalian bisa lolos! Hiyaaat!”Dengan sangat jelas, Mpu Bhiantar melihat bahwa penyihir itu sedang menuju ke arahnya, bak kelelawar yang terbang di kegelapan, Dewa Kalajengking melayang tanpa menjejak tanah. Keadaan ini benar-benar bahaya sekali, Mpu Bhiantar pun memeluk pundak Alindra kuat-kuat dengan tangan kanannya, dia takut kalau Alindra sampai lepas darinya.Damayanti yang paham kalau Mpu Bhiantar dan Alindra saat ini tengah dalam bahaya langsung melakukan tindakan. Serta merta dia pun membidik si Dewa Kalajengking dari jarak jauh, lalu melepaskan tiga anak panah beracun.Meski dalam kesuraman hutan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan, tapi Dewa Kalajengking memang mempunyai insting yang tajam, dia dapat menyadari kalau a
Jatuhnya Nyai Jamanika ke dalam perut bumi disaksikan langsung oleh Dewa Kalajengking. Kini hanya tinggal dia sendirian saja yang masih bertahan. Tapi walau demikian, menaklukkannya tetap bukanlah hal yang mudah. Pertarungan itu belum selesai. Dewa Kalajengking sekarang melepaskan jubah hitam yang dari tadi dia kenakan. Dilemparnyalah jubah itu ke tanah hingga dirinya kini tak lagi mengenakan baju sama sekali.Semua orang bisa menyaksikan tubuh Dewa Kalajengking yang kurus dan pucat seperti mayat. Dia benar-benar terlihat menyeramkan. “Apa lagi yang hendak penyihir itu lakukan?” batin Tubagus Dharmasuri merasa aneh. Dia menduga kalau sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.Melihat sang patih dan Senopati Taraka yang masih belum selesai menghadapi lawan mereka, maka Mpu Bhiantar dan para pendekar yang lain pun segera ikut bergabung untuk membantu keduanya.Sekarang ada tujuh orang pendekar yang berdiri di hadapan Dewa Kalajengking, yaitu Tubagus Dharmasuri, Senopat