7 Days With The Cursed Lycan King

7 Days With The Cursed Lycan King

last updateLast Updated : 2026-07-09
By:  Pavora Ongoing
Language: English
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
13Chapters
443views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

She went looking for a story. She found a curse. Kelsey Jones is a desperate reporter chasing an anonymous tip about a dead crypt in the Carpathian Mountains, and the moment she touches the ancient dagger inside it, she triggers something that hasn’t moved in a hundred years. Now she’s trapped in a gothic castle with the most dangerous creature in the hidden world, a Lycan King so cursed he kills to survive and shifts into a monster by night. He looks at her like he’s seen her before. Like he’s been waiting. Like she belongs to him. She has seven days before the curse becomes permanent. She has a glowing dagger that can end him. And she is slowly, terrifyingly, forgetting every reason she had to leave. The question isn’t whether she’ll survive him. The question is whether she’ll want to. Seven days. Two souls. One impossible choice. And a love so old it survived death itself — only to face something far more terrifying: THE TRUTH.

View More

Chapter 1

The Last Chance

"Lo naksir abang gue?"

Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran.

Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah.

Meskipun Aksa terpaut usia beberapa tahun lebih tua, Bita tidak pernah bisa membohongi perasaannya sendiri. Logikanya tahu Aksa terlalu tinggi untuk digapai, namun hatinya tak bisa dipungkiri.

Perasaan yang jelas tidak akan pernah ia rasakan pada Vino, adik kandung Aksa yang ugal-ugalan dan terkenal sebagai playboy kelas kakap. Cowok menyebalkan yang sekarang sedang bersandar di tiang teras dengan tangan bersedekap.

"Beneran naksir?" tanya Vino sekali lagi.

Bita melotot. "Siapa bilang? Nggak jelas!"

"Lebih nggak jelas elo, Ta." sembur Vino. “Mendung begini lo siram tanaman.”

Bita merutuk dalam hati, meraba daun kaktus yang malang di pot plastik. "Suka-suka aku, ini namanya kasih sayang!"

"Kasih sayang mata lo peyang," sahut Vino santai.

Langkah kakinya mendekat, memungut selang yang tergeletak di rumput, dan menyingkirkannya. "Orang waras mana yang nyiram tanaman mendung-mendung.”

"Ya suka suka aku lah?!" Bita mendengus, melengos menjauh demi menyembunyikan rona merah di pipinya. "Mau mendung atau hujan badai sekalipun, apa urusannya sama kamu?"

Vino lalu membalikkan tubuh Bita agar menghadapnya. "Sejak kapan lo suka sama abang gue, Ta?"

"Siapa yang suka Mas Aksa? Aku nggak suka!" Bita meledak dan langsung membuang muka.

"Kalo nggak suka kenapa pipi lo merah?"

Bita mengepalkan tangan, mendaratkan pukulan bertubi-tubi di lengan Vino demi mengalihkan rasa malunya, namun cowok itu bergeming, membiarkan Bita meluapkan kekesalannya. "Kamu tuli apa gimana? Dibilang nggak suka ya nggak suka!"

"Masih mau ngelak?" Mata Vino menyipit jahil. "Siapa yang tadi senyum-senyum kayak orang kasmaran kalo gitu?"

Bita mendorong Vino yang terus-terusan menggodanya sampai hampir-hampir tubuh itu terjungkal ke belakang. ”Yang ada kamu yang dari tadi senyum-senyum nggak jelas!"

Bita heran kenapa anak-anak perempuan di kampusnya selalu heboh membicarakan Alvino Anggara Kusuma, dan berbondong-bondong ingin menjadi kekasihnya.

Di mata Bita, cowok di depannya ini racun! Dan sepatutnya racun, Vino memang harus dijauhi demi selamat bukannya malah berebut mendekat.

“Tahu peribahasa punuk merindukan bulan? Nah, persis kayak gitu tampang lo. Sedih, merana, kasihan," ejek Vino tanpa perasaan.

Sorot mata Vino mengerling jahil, membuat bulu kuduk Bita mendadak meremang. Ada kilat berbahaya di sana yang sudah Bita hapal luar kepala. “Kamu jangan macem-macem, ya, Vin!"

"Mas Aksa! INI ADA YANG—"

Bita melompat, tangannya bergerak cepat membekap mulut Vino rapat-rapat. "KAMU GILA, YA?!" desisnya panik sembari menoleh takut-takut ke rumah seberang.

Vino melepaskan tangan Bita dari wajahnya sambil terbahak puas. "Katanya nggak suka, kok panik?”

Tidak bisa mengelak, Bita memilih bungkam.

Vino mendecak pelan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Gue nggak nyangka selera lo se-membosankan Mas Aksa."

"Bagiku dia nggak membosankan," gumam Bita tidak mau Aksa diremehkan, meski oleh adiknya sendiri. "Mas Aksa pria yang nggak neko-neko, sopan, dan dewasa. Menurutku, semua itu jauh dari kata membosankan. Lebih menarik dari.. kamu."

"Tapi, Ta," lanjut Vino, nadanya berubah lebih serius, membuat Bita mendongak. "Dia nggak sebaik yang lo lihat di depan orang tua kita. Di kampus, dia punya dunianya sendiri."

Bita mengerutkan kening, tidak suka dengan arah pembicaraan ini. "Mas Aksa itu baik, disiplin. Nggak kayak kamu, playboy!”

“Oh, he's worst. Mainnya halus. Perempuan yang ada di sekeliling dia... lo tahu sendiri tipikal mahasiswi kedokteran atau hukum yang selalu terlihat sempurna. Anggun, berkelas, wangi."

Vino menjeda kalimatnya, matanya bergerak turun-naik, menilai penampilan Bita dari atas sampai bawah tanpa ekspresi.

"Maksud kamu?" Bita mulai merasa tersinggung.

Vino menghela napas pendek, "Lo bahkan nggak masuk ke dalam radar tipenya."

Kalimat itu telak menghantam ulu hati Bita.

"Bukan cuma nggak masuk kriteria, Ta. Dilirik sebagai seorang wanita dewasa aja nggak akan pernah," tambah Vino, suaranya terdengar dingin namun jujur. "Rambut dikuncir asal, setelan baju apa adanya. Lo lebih mirip adik kandungnya dibanding yang bisa diajak kencan."

Bita menatap penampilannya sendiri dengan muram. Apa yang dikatakan Vino tidak sepenuhnya salah, dia memang terlihat terlalu kekanak-kanakan jika disandingkan dengan Aksa.

“Emang iya?”

Vino terdiam. Tatapan mengejeknya seketika lenyap begitu melihat bahu Bita yang merosot lesu. Laki-laki itu menatap Bita lekat-lekat selama beberapa detik, sebelum sorot matanya berubah, menggelap dengan intensitas yang berbeda.

Bita melangkah mundur saat Vino tiba-tiba memangkas jarak di antara mereka. "K-kamu mau ngapain?"

“Lo pernah pacaran gak sih, Ta?”

Bita mendengus pedas, menepis kecanggungan yang mendadak merayap. "Kan kamu yang gagalin semua! Mana ada cowok yang mau sama aku kalau kamu selalu bertingkah kayak aku ini adik kamu?"

"Gue?" Vino menaikkan sebelah alisnya.

"Iya." Bita menyalak. "Harusnya kamu kasih aku kompensasi karena udah bikin aku jomblo."

Aroma maskulin yang berat dari tubuh Vino mendominasi indra penciuman Bita, saat laki-laki itu Lagi-lagi mengikis jarak, membuatnya mendadak sulit bernapas.

"Kalau gitu, mau gue ajarin, nggak?" bisik Vino.

Bita mengerjap, mencoba menahan dadanya yang bergemuruh. "Ajarin apa?"

“Ajarin bercinta.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
13 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status