MasukSeven nights with the devil to pay a debt. One truth that will burn the world down. Sienna Blackwood was never part of the deal until her step-brother gambled with her life to save his own. Now, she is collateral in a brutal game of revenge. The collector is Dante Moretti, a billionaire with a fifteen-year grudge and a thirst for Blackwood blood. He doesn't want her money; he demands seven nights of her total surrender. But in the shadows of a Manhattan penthouse, hatred turns into a lethal obsession. When a syndicate ambush forces them to flee, the contract becomes a race for survival across the Atlantic. Hunted for the three-year-old secret heir in their arms, Sienna and Dante must navigate a world of blood oaths and forced alliances. In a game where every kiss is a tactical error, Sienna must decide: is her step-brother’s rival the monster who shattered her life, or the only man who can save it?
Lihat lebih banyakAku telah bersumpah atas nama Allah akan komitmenku kepada umat. Komitmen paling suci dan agung bahwa aku harus menyelamatkan mereka dari apa pun yang mengancam kami. Semua ancaman, mulai dari setan terkecil hingga yang paling biadab, harus kami singkirkan.
Semua untuk umat.
Itulah yang sedang kuperjuangkan.
Aku yakin bahwa semua ini akan berhasil.
Karena Allah bersama kami.
Aku tidak pernah meragukan hal tersebut. Bagaimanapun kita ada di sini untuk membela-Nya. Membela-Nya menghabisi musuh besar-Nya, setan raksasa bernama Amerika Serikat.
Karena Amerika Serikat adalah setan raksasa yang telah menzalimi umat-Nya, membuat semua hamba-Nya berada dalam penderitaan. Dan mereka harus membayar harga dari semua perbuatannya.
Mereka telah menyebarkan hukum-hukum buatan manusia ke seluruh dunia, dan membuat umat Islam menderita selama puluhan tahun. Amerika telah mendeklarasikan perang kepada Allah dan Rasul-Nya.
Aku merasa menyesal. Bagaimanapun juga aku pernah ditipu oleh mereka. Aku memang bodoh ketika itu. Bodoh karena mempercayai tipu daya setan.
Dulu aku adalah seorang sekutu mereka. Aku menjadi boneka mereka untuk melawan Soviet dalam delapan tahun penuh penderitaan di Afganistan. Kukorbankan segala yang kumiliki, bahkan kurelakan jika nyawaku yang menjadi taruhannya. Semua karena kupikir bahwa mereka adalah sahabat sejati.
Aku salah.
Mereka, sekutu yang telah kuanggap saudaraku sendiri, mengkhianatiku.
Mereka yang telah bersamaku dan kudampingi hingga mempertaruhkan nyawaku sendiri, kini beralih menyerangku.
Perang Afganistan telah usai bertahun-tahun silam. Setelahnya, Amerika adalah musuh kita. Tahun ini, tidak ada lagi alasan, aku bersumpah bahwa seluruh Amerika akan menderita penuh kesakitan.
Amerika harus menerima akibat dari perbuatan mereka. Perbuatan mereka terhadapku, dan terhadap umatku. Yang mereka khianati bukan hanya kita, tapi juga seluruh dunia.
Dunia menderita, karena Amerika. Umat Islam menderita, karena Amerika. Sekarang menjadi tugas kita untuk mengenyahkan mereka.
Kita telah berhasil menghancurkan Soviet, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa melakukan hal yang sama terhadap Amerika.
Tinggal menunggu waktu, semuanya akan tercapai. Tidak ada yang bisa mengalahkan kita, karena Allah bersama kita semua. Amerika memang kuat, tapi Allah jauh lebih kuat. Karenanya aku tidak pernah takut untuk berperang dengan Amerika. Walaupun saat ini aku tidak memiliki armada sekuat mereka, aku tetap tidak memiliki rasa takut kepada Amerika.
Dulu sejumlah orang mengatakan bahwa aku adalah orang tolol. Tentu saja mereka tidak pernah berani mengatakannya langsung di depan wajahku.
Tapi kemudian mereka mendapati bagaimana Amerika menyakiti umat kita. Mereka menginvasi Irak dengan alasan menyelamatkan Kuwait. Aku tahu bahwa itu semua adalah karena minyak. Walaupun para ulama palsu justru mendukung dan memuji langkah Amerika ini.
Persetan dengan perkataan mereka, bahwa itu adalah tentang penyelamatan masyarakat Kuwait atas kediktatoran Iraknya Saddam Hussein. Aku sendiri tidak habis pikir, kenapa masyarakat internasional masih saja mempercayai alasan Amerika.
Saat ini bagi mereka akulah yang tolol karena menantang Amerika secara langsung.
Siapakah yang lebih tolol?
Apakah aku yang berjuang dengan konkret atau mereka yang hanya diam memandang kebiadaban Amerika?
Mereka buta mata dan buta hati. Sudah jelas apa yang dilakukan Amerika dalam menghancurkan umatku, yang juga umat mereka.
Apakah mereka tidak melihat?
Apakah mereka tidak menyadari?
Amerika hanya memanfaatkan kita untuk kepentingan mereka.
Sementara ulama-ulama palsu yang membangun rezim Saudi hanyalah boneka-boneka Amerika. Mereka diam saat Amerika menyerang negara-negara Islam, tapi bereaksi saat kami yang berjuang.
Wahai ulama-ulama palsu, di manakah hati nurani kalian?
Siapakah yang Muslim, kami ataukah Amerika dan pendukung-pendukungnya?
Bukankah darah orang-orang kafir adalah halal?
Ulama macam apa yang membiarkan orang-orang kafir menguasai Mekkah dan Madinah?
Ulama macam apa yang diam saja melihat Palestina ditindas?
Takutlah kepada Allah, Sheikh!
Tidak akan ada kemenangan melawan orang-orang kafir kecuali dengan jihad. Tidak juga ada gunanya berdiplomasi. Semua hanya akan berakhir dengan jihad dan mengangkat senjata.
Tidak ada artinya semua yang kita lakukan untuk mereka. Pada akhirnya, semua kembali pada kepentingan negaranya. Kita pun disingkirkan karena tidak lagi dibutuhkan. Dulu, mereka membutuhkan kita untuk menghancurkan Soviet. Kini, sasaran mereka berbeda.
Sudah jelas bahwa tidak ada itikad baik sama sekali dari Amerika. Siapa pun yang menjadi teman mereka, harus belajar dari apa yang kita alami. Hanya ketika kita mendukung apa yang menjadi kepentingannya, mereka mendukung kita dan memfasilitasi semua yang kita minta. Setelah mereka mendapatkannya, mereka menghancurkan kita. Saat ini kita sudah tidak berguna bagi mereka. Mereka sudah memiliki keinginan baru.
Amerika menginginkan minyak Irak.
Lagi-lagi, negara Muslim menjadi sasaran mereka.
Kebencianku mulai tumbuh dan terpusat. Kita harus membangun pasukan kita untuk membuat Amerika membayar semua yang telah mereka lakukan terhadap kita. Umat harus bersikap seperti sebuah tubuh manusia yang terintegrasi. Jika salah satu terluka, maka yang lain harus ikut menderita. Umat tidak akan berhasil jika memulai perang langsung dengan Amerika.
Kita harus berperang dengan menggunakan cara lain. Tidak mungkin mengandalkan tentaraku, yang walaupun jumlahnya sudah sangat banyak, tentu takkan sebanding dengan jumlah tentara Amerika. Tapi bagaimanapun perang harus segera dimulai. Amerika adalah bencana bagi dunia. Pemusnahan mereka tidak lagi bisa ditawar-tawar. Semuanya demi umat.
Semula kupikir bahwa aku bisa menggunakan bom nuklir. Tapi risikonya terlalu besar, setelah kupikirkan matang-matang. Walaupun kita telah mempersiapkan pabrik untuk membuat senjata tersebut, sepertinya mustahil mengembangkannya tanpa diketahui oleh Company.
Mata dan telinga mereka ada di semua tempat. bahkan jarum jatuh di seberang lautan pun bisa mereka ketahui. Semua teknologi dan metode mereka telah kupelajari, oleh karenanya aku telah menyimpulkan bahwa kita tidak mungkin bergerak di permukaan.
Kita harus bergerak dalam kebisuan.
Kita harus bergerak dalam kegelapan.
Kusadari bahwa kekuatan mereka ada pada ekonominya. Aku akan sangat senang untuk menghancurkannya. Akan kugunakan sebagian besar sumber dayaku untuk menyerang kekuatan utama mereka.
Sumber perdagangan mereka ada di New York. Dari sana semua transaksi dunia dikendalikan. Juga menjadi lumbung ekonomi utama Amerika melalui imbalan-imbalan transaksi haram yang mereka lakukan. Itu juga yang menjadi devisa utama dalam menunjang ekonominya.
Tanpa penopang ekonomi mereka itu, Amerika akan lumpuh. Mereka akan dpenuhi gelandangan dan pengemis. Amerika akan memohon kepada kita untuk sekerat roti demi mengganjal perut setiap rakyatnya.
Percayalah, itu akan terjadi.
Umat hanya tinggal menunggu waktu.
Di Amerika Serikat, pasukan kita telah mencapai kemajuan yang masif dalam merencanakan sebuah serangan krusial. Akan sangat menarik bagiku untuk menyaksikan langsung bagaimana misi kita diselesaikan. Semuanya akan berlangsung dramatis, secepat kilat, dan tidak mereka duga.
Pusat ekonomi Amerika, dan bahkan juga dunia, akan kita hancurkan hingga luluh lantak. Aku ingin segera melihatnya, bagaimana orang-orang mereka terkejut dan menjadi miskin hanya dalam sekejap mata. Biarkan mereka merasakan pedihnya kemiskinan, menggelandang di jalanan yang dingin pada musim salju, tanpa ada seorangpun yang tertarik untuk menolong mereka.
Karena merekalah yang mencari penyakit. Merekalah yang membuat masalah dengan kita. Karena itu kita menyerang mereka.
Setelah serangan, dunia tidak akan sama dengan sebelumnya, sama sekali tidak. Amerika tidak akan pernah memandang rendah pada kita. Lalu aku akan kembali ke tempatku, memonitor semuanya, dan merencanakan serangan berikutnya.
Serangan yang pasti jauh lebih besar.
Serangan yang pasti akan semakin mengguncangkan dunia.
Amerika akan tahu bahwa mereka telah salah dengan memusuhi kita. Mereka meremehkan kita, dan segera setelahnya akan menyesal. Tapi pada saatnya nanti, semua itu sudah terlambat. Tidak ada ampun bagi mereka, walaupun mereka menangis melolong-lolong.
Sekarang aku tinggal mempersiapkan semuanya.
Semua istriku akan mengikutiku ke tempatku. Bersembunyi untuk menemukan ketenangan, sehingga aku akan dapat lebih tenang memikirkan serangan selanjutnya. Kami akan aman di tempat kami. Di sini aku bisa menyusun konsep dan rencana dengan tenang. Suasananya memungkinkanku untuk berpikir jernih setiap saat, baik itu pagi, siang, maupun malam. Aku tahu bahwa kejayaan kami akan segera tiba. Kita hanya perlu fokus dan terus berjuang.
Semoga aku bisa segera memulainya. Semua yang kubutuhkan sudah kumiliki. Pasukanku sudah lengkap, mereka semua juga telah menjadi loyalisku. Apa pun yang kukatakan, mereka pasti akan mematuhiku. Karena mereka tahu, bahwa semua yang kuperintahkan adalah demi kebaikan mereka. Ini bukan tentang diriku, semua bukan untuk pribadiku. Tapi untuk diri mereka sendiri. Aku adalah perantara mereka untuk berjihad, yang akan membawa mereka semua ke surga. Mereka akan berterimakasih padaku untuk jalan jihad yang telah kuberikan.
Jihad kami melawan iblis.
Jihad kami melawan Amerika.
"Isabella," Sienna repeated. "You knew Maria. Were her friend.""Best friend. We met at university. Art program. Both young. Ambitious. Dreaming of careers. Recognition. Impact through our work.""What happened?""Life. Maria met Alessandro. Fell deeply in love. He was magnetic. Powerful. Intense. Everything she'd never experienced. She chose him over art school. Over her dreams. Over everything we'd planned.""Did you resent her for that?""At first. I thought she was throwing away her talent. Her potential. For a man. For conventional life. But watching them together. Seeing how he looked at her. How she glowed. I understood. She'd found something more important than recognition. She'd found love."Isabella moved through the gallery. Touching frames. Remembering."She kept painting. Never stopped. But privately. For herself. For Alessandro. For Dante. Not for galleries or critics. Just for expression. For joy.""Then she got sick.""Cancer. Aggressive. Terminal. She knew early. Mon
Dante couldn't move. Surrounded by his mother's paintings. By her vision. Her talent. Her soul preserved in color and canvas."I don't remember this," he said quietly. "Her painting. I was so young when she died. Only seven. I remember her smile. Her warmth. Reading to me. But not this. Not her art.""Maybe she kept it private. Personal. Something just for her.""Or maybe my father hid it. After she died. Too painful to see. To display. To be reminded of what he'd lost."Sienna studied the paintings. The technical skill. The emotional depth. The mastery evident in every brushstroke."She was extraordinary. Truly gifted. These aren't amateur work. These are museum quality.""Really?""Yes. The composition. The use of color. The emotion conveyed. Your mother could have been a professional artist. Exhibited internationally. Been recognized.""Why didn't she?""Maybe she chose family instead. Chose to be your mother. Alessandro's wife. Private life over public recognition."Dante touched
Back in the Azores. Home. But with new knowledge. New property. New mystery."We need to see it," Dante said. "The villa. Whatever my father left. We need to understand what he intended.""Should we bring the kids?""Not yet. Let's explore first. Make sure it's safe. Assess what needs to be done. Then we can bring the family."They left Gabriel with Marta. The other kids at school. Drove north. Following coordinates. GPS guiding them to remote coastline.The road deteriorated. Paved became gravel. Gravel became dirt. Civilization fading. Wilderness taking over."Are you sure this is right?" Sienna asked. "There's nothing out here.""The coordinates are exact. It should be just ahead."Then. They saw it.Gates. Iron. Ornate. Old but maintained. Locked but not rusted. Someone had been caring for this place. Keeping it protected.Dante had the key. From the safe. Along with the deed. It fit perfectly.The gates opened. Revealing a long driveway. Overgrown but passable. Leading to.The vi
"The day you truly became a man."Dante could not stop thinking about it. What day? What moment? What did Alessandro mean?His eighteenth birthday? MIT graduation? First major business deal? Something else entirely?"There is a problem," Sienna said. "Your father’s old office. It was sold years ago. After his death. When you liquidated assets. You do not have access anymore.""Then I need to get access. Find the current owner. Explain. Convince them to let me search."It took days. Tracking down ownership. Corporate entities. Shell companies. Finally, a name. A contact. A meeting.The current owner was a tech entrepreneur. Young. Wealthy. Sympathetic when Dante explained."Your father’s safe? Still there? That is wild. Yes, absolutely. Come search. I am curious what is in it too."The office was different. Renovated. Modernized. But the bones were the same. Dante remembered. His father sitting behind the desk. Cold. Imposing. Unreachable."The bookshelf," Dante said. "Elena said behin
The jet touched down in Vienna just as the sky began to pale.Dante stepped onto the tarmac with Elena asleep against his chest. Sienna walked beside him, Leo’s small hand locked in hers. Six armed men fanned out around them. Franz’s security. Alert. Silent. Efficient.Franz was waiting near the ha
Dante couldn't stop staring at her stomach."It's not going to start showing for weeks," Sienna laughed. "You know that, right?""I know. I just..." He touched her belly gently. Reverently. "There's a person in there. Our person.""Our person," she repeated. Smiled. "I like the sound of that."They
"We're leaving. Now."Dante's voice was ice. Final. He was already moving. Grabbing essentials. Making calls.Sienna stood frozen. Staring at the photo on his phone. Her and Leo. Smiling. Unaware they were being hunted."Sienna. Move." Dante's hand on her shoulder snapped her back. "We don't have t
Dante sent the warning within the hour.Encrypted messages to every member of the New Order. Twenty-three people across twelve countries. All of them targets now.**"Lorenzo Santini is alive. He's planning attacks on Council members. Increase security immediately. Trust no one. More details to foll












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.